Kepada kitab suci kita mengimani, bahwa selembar teks suci, mampu menaklukkan sepi, yang meraung dalam ruang hati tak bertepi.

K I T A B

by on 07:40
Kepada kitab suci kita mengimani, bahwa selembar teks suci, mampu menaklukkan sepi, yang meraung dalam ruang hati tak bertepi.

Terharu. Bukan karena baju baru atau menemukan komunitas baru. Tetapi baru bertemu teman yang tidak baru. Mungkin terakhir kali kita bertemu ketika tahun baru. Dengan kondisi yang benar-benar baru di tempat baru masing-masing. Kami secara sengaja ikut serta disebuah acara yang baru dalam aksi, namun tidak benar-benar baru dalam ide.
Selain itu, aku sangat terharu bertemu seorang teman baru dari negara matahari baru, terbit. Namanya Haruna, tapi orang-orang baru sering memanggilnya hanura. Tidak salah orang-orang baru memanggilnya hanura, karena memang nama itu tidak baru bagi rakyat Indonesia. Tapi sedikit baru dalam tata letak huruf. Hanura, bukan partai baru. Tapi Haruna, mahasiswa baru penerima darmasiswa.

Terharu Haruna

by on 07:38
Terharu. Bukan karena baju baru atau menemukan komunitas baru. Tetapi baru bertemu teman yang tidak baru. Mungkin terakhir kali kita bert...


Di ujung jalan ini, tampak seorang nenek sedang berkomat-kamit dengan sebuah Al-Qur’an kecil ditangannya. Aku melewatinya dengan tersenyum ke arahnya, namun sang nenek tampak serius dengan aktivitasnya sehingga tak menghiraukan aktivitas sekitar. Sampai aku kembali dengan melewati jalan yang sama, nenek tersebut masih berada di tempat yang sama dengan aktivitas yang tak berbeda.
Salam kuhaturkan kepadanya, dan dijawab dengan lengkap oleh sang nenek dengan wajah tersenyum.
“Nenek semangat sekali, sejak tadi siang saya lewat sini hingga pulang, nenek masih saja di tempat ini. Nenek sedang apa?”
“Saya sedang berusaha menghafalkan Al-Qur’an nak.”
“Kenapa nenek masih semangat menghafalkan sedangkan fisik dan pikiran sudah menurun. Kenapa tidak menghabiskan waktu dengan anak, cucu dan mungkin menikmati hari tua dengan harta yang telah nenek kumpulkan sejak muda?”
“Saya takut kesepian nak, jika diberi umur panjang oleh Tuhan. Sedangkan kenikmatan sehat dan kemampuan fisik tak lagi ada, siapa yang menemani saya dan apa yang akan saya lakukan di masa itu? Anak dan cucu akan sibuk dengan aktivitas dan keluarga barunya masing-masing serta harta tak akan lagi berguna. Masih beruntung jika tak jadi rebutan. Selagi penglihatan masih ada meskipun sudah kabur, saya berusaha menghafalnya nak walaupun tak seluruhnya. Akan lebih menyakitkan lagi bagi saya, jika nafas ini masih berhembus sedangkan mata tak mampu lagi membaca dan telinga tak bisa lagi mendengar, tidak ada aktivitas yang bisa saya lakukan.”
Tak ada kata yang bisa kuucapkan mendengar penjelasannya.
“Oleh karena itu nak, selagi masih muda coba hafalkan sedikit demi sedikit. Tak perlu bercita-cita menjadi hafid atau mendapatkan keberuntungan sebab hafalanmu. Cukup takutlah jika kamu diberi umur panjang sedangkan kamu tak mempunyai bekal sama sekali. Suka tidak suka, masa itu pasti akan datang, semoga hidupmu selalu terjaga oleh Al-Quran.
“Aaaamiiin.” (Dengan wajah berkaca-kaca)
“Ingat! Sesibuk apapun, jangan sampai lupa mengulang dan membaca Al-Qur’an, walupun hanya satu ayat. Status hafid tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana kamu membiasakan diri mengulang-ulang hafalan yang telah ada setiap hari. Sama halnya dengan status juara dalam olah raga tidaklah penting, yang terpenting kamu membiasakan berolah raga agar fisikmu senantiasa diberi kesehatan. Juga berprestasi dalam dunia akademik tidaklah terlalu penting, yang terpenting bagaimana caranya kamu bisa mendengar keluhan dari masyarakat dengan sabar dan membersamai mereka dalam menyelesaikan permasalahan.”
“Ya, Nek. Terima Kasih. Assalamu’alaikum!”
“Waalaikumussalam. Semoga hidupmu selalu mendapatkan keberuntungan dan keberkahan dari Yang Maha Kuasa.”
“Aaaamiiin.”


Tidak hanya Bahasa Indonesia, tetapi juga Bahasa daerah.
Tidak hanya Bahasa Arab, tetapi juga Bahasa Inggris.
Tidak hanya puasa, tetapi juga olah raga.
Tidak hanya beragama, tetapi juga melestarikan budaya.


Kebanggaan dan kesombongan adalah dua hal yang berbeda,
sama dengan kesederhanaan dan kemiskinan adalah dua hal yang tak bisa disamakan.

B E D A

by on 06:59
Kebanggaan dan kesombongan adalah dua hal yang berbeda, sama dengan kesederhanaan dan kemiskinan adalah dua hal yang tak bisa disamak...

Bermula dari facebook, saya menemukan beberapa informasi yang cukup bagus. Beberapa form pendaftaran agenda baik local, nasional, maupun internasional tersedia begitu banyak. Tanpa pikir panjang, saya pun mengisi setiap form yang tersedia tanpa memikirkan tingkat kemampuan diri, karena menurut saya setiap sesuatu itu akan memberikan pengalaman yang akan meningkatkan kualitas bagi siapa saja yang mau dan berani mencoba.
Suatu hari saya mendapatkan email bahwa saya diterima dalam sebuah acara konsultasi dan pelatihan pendidikan bahasa asing di Kantor General Consultan Amerika Serikat. Walaupun letaknya di Surabaya, saya sempat kesulitan menemukan alamat kantor tersebut. Tetapi dengan bantuan google map, kesulitan itu bisa diatasi. Sebuah tempat yang nyaman dan terpencil, membuat saya berprasangka yang tidak-tidak. Mungkin pemilihan tempat itu untuk menghindari aksi mahasiswa ketika terjadi gesekan antara pemerintahan Indonesia dan Amerika Serikat.
Sesampai di tempat tersebut, saya segera memasuki wilayah kantor ini. Saya bilang wilayah karena tidak hanya sepetak atau beberapa petak ruangan. Tetapi tempat ini begitu luas, bisa jadi seukuran dua kali lapangan sepak bola. Untuk sampai ke ruangan tempat berlangsungnya acara, peserta harus melalui tiga pemeriksaan. Yang pertama pemeriksaan di pos penjagaan luar, di sini cuma ditanya tujuan dan keperluan datang ke tempat ini. Dari pos penjagaan luar ini kemudian diarahkan menuju pos penjagaan kedua. Di sini hanya ditanya identitas diri, dan semua barang bawaan dilucuti. Setelah itu masuk ke sebuah ruangan penitipan dan ditukar dengan identitas diri yang disediakan oleh pihak keamanan. Di pos ketiga ini peserta harus melewati metal detector. Peserta yang berada tepat di depan saya membunyikan alat tersebut. Ternyata sabuknyalah yang membuat alat tersebut berbunyi. Seketika itu saya khawatir kalau sabuk yang saya kenakan terdeteksi dan harus melepasnya, itu tandanya saya harus memegangi celana selama acara berlangsung. Tapi syukurlah tidak terdeteksi. Kekurangan ukuran celana di pasaran, tidak ada ukuran yang pas buat saya. Kalau panjangnya pas, lingkar perutnya kebesaran. Kalau ukuran perutnya pas, panjangnya kependekan alias nyingkrang, hehehehe. Nasiblah, syukuri saja ciptaan sang Ilahi.
Dari pos penjagaan ketiga, peserta menuju tempat berlangsungnya acara. Lumayan jauh tempatnya dengan melewati hamparan rumput dan pepohonan yang begitu indah dan tertata rapi. Namun, yang mengusik saya adalah adanya seorang pribumi yang dipekerjakan di sana. Miris saya melihatnya, tidak sepantasnya di negeri sendiri diperlakukan seperti itu.
Sesampai di tempat yang dimaksud, saya segera mengambil tempat sekiranya tidak ada yang menghalangi pandangan saya. Narasumber, Miss. Jennifer, berbicara dengan semangat. Namun sayang sekali tidak banyak yang bisa saya pahami. Kemampuan bahasa Inggris saya belum mumpuni, tapi tak apalah yang penting tetap semangat untuk belajar. Peserta diberi masing-masing majalah forum guru bahasa Inggris dan beberapa informasi pendidikan di Amerika Serikat. Dan juga sebuah kartu nama yang berisi beberapa alamat untuk konsultasi pendidikan di Amerika Serikat. Di akhir acara, kita berfoto bersama dan saling berinteraksi. Mayoritas peserta adalah para dosen, hanya beberapa yang masih mahasiswa. Dua orang yang saya kenal cukup baik bahasa Inggrisnya, saya pun meminta contact person beliau-beliau untak menjadi teman belajar.
Ketika keluar ruangan peserta harus kembali melewati beberapa pos penjagaan. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok. Satu kelompok terdiri dari lima orang dan harus bergantian. Mengambil barang bawaan dengan menukarkan identitas yang diberikan petugas ketika masuk. Kemudian kami mengabadikan momen ini dengan berfoto di depan tempat ini. Banyak hal di dalam sana, tetapi semua barang bawaan harus ditinggal di tempat penitipan. Sehingga tak ada satu gambar pun yang bisa diambil.


Surabaya, 7 Mei 2013


Jasad tanpa roh itu zombie
Roh tanpa jasad itu casper
Olahraga tanpa puasa itu bohong
Puasa tanpa olahraga itu bahaya


Jika bukan karena iman terhadap titah Tuhan, manusia seluruh dunia pun tidak akan mampu mengatur atau bahkan memusnahkan suatu bangsa yang nenek moyangnya makan makanan surga, ‘manna wa salwa’. Torah (Taurat) kitab sucinya. Sinagoge tempat ibadahnya. Tefilah cara beribadahnya. Sabat hari ibadahnya. Yeshiva tempat belajarnya (semacam pesantren). Rabbi sebutan gurunya (semacam kiai). Dan Moses (Musa) nabinya.
Musa. Nabi yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an. Nabi yang membawa umatnya keluar dari tanah Mesir menuju tanah perjanjian. Kalimullah. Nabi yang Allah berdialog dengannya. Jika bukan karenanya mungkin 50 kali sehari semalam. Moddaaaar.
Hal yang sungguh menakjubkan dari bangsa ini adalah kedisiplinan menjaga makanannya. Jika Muslim diperintahkan makan makanan yang halal dan toyyib. Toyyib pasti halal dan halal belum tentu toyyib, khususnya bagi orang-orang usia senja. Maka bangsa ini diperintahkan makan makanan yang ‘kosher’, makanan yang halal sekaligus toyyib, sejak lahir.
Mengenai makanan, sungguh hari ini dalam kebimbangan. Menemani bapak rector UPN Veteran Jawa Timur dalam melatih mahasiswanya baris-berbaris sebagai pondasi dasar kedisiplinan. Hidangan yang disediakan pun luar biasa istimewa untuk para undangan. Namun, makanan itu tidak cocok bagi lidah yang biasa makan tempe goreng, tahu, ikan asin, gerih, peyek dan sego jagung. Efeknya pun . . . . .

Kosher

by on 06:44
Jika bukan karena iman terhadap titah Tuhan, manusia seluruh dunia pun tidak akan mampu mengatur atau bahkan memusnahkan suatu bangsa yan...

Membaca adalah taqwa,
Menulis adalah ibadah,
Menyampaikannya adalah dzikir,
Mempraktekkannya adalah tanda kesetiaan.
Maka,
Ketika kata tak lagi berjiwa, biarkanlah kisah berbicara
Ketika kisah tak mampu menyimpan jejak sejarah, tulis semua peristiwa
Niscaya bayangan pikiran Tuhan kan terbaca

A K S A R A

by on 10:50
Membaca adalah taqwa, Menulis adalah ibadah, Menyampaikannya adalah dzikir, Mempraktekkannya adalah tanda kesetiaan. Maka, Ke...

Agama yang tidak membuat seseorang lebih semangat dalam belajar adalah kebohongan,
Organisasi yang tidak membuat seseorang lebih cinta tanah air adalah penipuan,
Teman yang tidak membuat seseorang lebih berarti adalah kepalsuan.

S A R A N A

by on 09:51
Agama yang tidak membuat seseorang lebih semangat dalam belajar adalah kebohongan, Organisasi yang tidak membuat seseorang lebih cin...

Agama adalah apa yang kamu rasakan, bukan apa yang orang lain paksakan.
Tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini, apa yang mampu diindera adalah sesuatu yang pantas diragukan kebenarannya.
Hal yang sering dilupakan ketika mempelajari suatu agama adalah perihal dimana posisi agama lain dalam agama yang sedang dipelajari.
Preman menjadi tokoh agama lebih menenangkan dari pada tokoh agama berlagak preman.

A G A M A

by on 17:09
Agama adalah apa yang kamu rasakan, bukan apa yang orang lain paksakan. Tidak ada kebenaran mutlak di dunia ini, apa yang mampu diin...

Lagu kebanggaan penduduk Nusantara.
Tidak tercipta melalui pemuda kaya raya.
Juga bukan seorang ahli biola.
Melainkan curahan hati rakyat jelata.
Yang tak mendapatkan cintanya.
Dialah Wage Supratman.
Pergi ke pulau seberang untuk mengembara.
Menambah Rudolf untuk mengelabuhi Belanda.
Negeri yang merampok kekayaan kita.
Dan tak mau mengakuinya, apalagi mengembalikannya.
Apa yang telah mereka sita.
Dari tanah surga Zamrud Khatulistiwa.
Berawal dari Sumpah Amukti Pallapa.
Niscaya puasa sebelum terwujudnya cita-cita.
Sebagai cikal bakal Sumpah Pemuda.
Berwujud Indonesia Raya.


Pagi yang sejuk teriring dengan rintik-rintik rahmat Ilahi mengiringi langkahku menuju masjid UINSA, untuk sekedar mengulang dan menambah hafalanku. Puas bercumbu dengan kalam Illahi, aku segera bergesar menuju gedung Auditorium untuk mempersiapkan Seminar dalam rangka Dies Natalis Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Panitia yang kurang persiapan dikarenakan Libur Minggu Tenang, membuat pagi ini kalang kabut. Beberapa perlengkapan harus kami siapkan hari ini, syukurlah semua itu bisa dilewati dengan tenang. Satu per satu acara dilaksanakan dengan baik, dengan narasumber yang lucu dan menantang. Hingga penghujung acara, semua acara lancar. Aku segera kembali ke pondok, dan merebahkan tubuhku huingga rasa lelah melepaskan tubuhku. Malam hari aku menghabiskan malam dengan menontoh motivator bahasa sehingga menambah semangatku untuk belajar bahasa.   


Teringat pesan dari Pramono Anung, Sekretaris Kabinet Kerja Presiden Jokowi dalam acara Mata Najwa On Stage pekan lalu di Stadion Brantas Kota Batu bahwa yang akan memenangkan kompetisi generasi yang akan datang ialah mereka yang berani bermimpi dan fokus terhadap impian itu. Perjalanan pagi ini ibarat sebuah mimpi, keabstrakan impian masing-masing orang perlu diperjuangkan tanpa mengusik impian orang lain. Bergesekan itu pasti, tapi saling sikut dalam mewujudkan mimpi merupakan tindakan yang tidak etis terhadap diri sendiri.
Jalanan lurus berkelok dengan berbagai macam aktivitas kesibukan masyarakat Surabaya menghiasi perjalanan pagi ini (10/10). Setiap cabang jalan menyajikan pilihan arah setiap tujuan. Mereka yang baru pertama kali melalui jalanan Surabaya tentu kebingungan, tetapi bagi mereka yang sudah lama tinggal di Surabaya aneh jika masih berputar-putar untuk sampai ke tempat tujuan. Itulah situasi yang terjadi, Jl. Gub. Suryo yang sudah biasa saya lewati ternyata masih saja membuat saya berputar-putar. Google Maps pun menjadi andalan, tidak memakan waktu yang lama, SMK Rajasa tempat Ust. Mas’ud mengajar akhirnya ditemukan.
Ketika tiket sudah ada pada genggaman, saya bersama sahabat Abidin segera meluncur menuju lokasi, Hotel Grand Kalimas. Ternyata lokasi ini berada di kawasan Ampel. Setelah memarkir sepeda, kami segera masuk ke hotel dan menanyakan ruangan tempat acara berlangsung. Salah satu penjaga mengarahkan kami ke sebuah aula besar, tanpa ragu kami pun mengikuti arahan tersebut. Tetapi ketika memasuki ruangan, kami mulai curiga. Mayoritas tamu keturunan Arab dan acara ini sepertinya cocok disebut acara pernikahan. Ternyata dugaan kami benar, setelah menanyakan pada tamu yang lain, ini bukanlah acara yang menjadi tujuan kami. Dengan segera kami meninggalkan ruangan dan bertanya ke petugas lain. Akhirnya ruangan kami temukan dan menjadi peserta pertama yang datang.
Sambil menunggu undangan yang belum datang, kami menikmati hidangan snack yang telah diberikan. Beberapa menit kemudian, tekanan mental pun dimulai. Semua yang datang adalah perempuan dan sudah berusia lanjut. Tidak hanya itu, pakaian dan pernak-pernik yang digunakan menandakan mereka orang yang berada. Sambil menghabiskan jajan yang masih ada, kami menenangkan diri sejenak.
Founder sekaligus owner, Ms. Erlin kemudian menjelaskan panjang lebar terkait travel ini. Mendengarkan penjelasan beliau, saya hanya bisa berangan-angan memberangkatkan kedua orang tua saya ke tanah suci. Entah kapan angan-angan tersebut menjadi kenyataan. Di akhir acara, panitia membagikan doorprize. Gelombang pertama sahabat Abidin yang maju mendapatkan voucher makan. Kemudian gelombang kedua, giliran saya yang mendapatkan hadiah. Tapi, tau nggak apa hadiahnya? Hijab.
Melanjutkan perjalanan hari ini, saya menghadiri pameran pendidikan Kanada yang diselenggarakan di Hotel Sheraton. Menghadiri acara-acara seperti ini setidaknya membuat selangkah lebih dekat untuk mewujudkan mimpi melanjutkan pendidikan. Tidak ada kebaikan di dunia ini melainkan menerima pendidikan di seluruh hidup. Suasana hotel yang mewah, tenang dan nyaman, membuat setiap pengunjung fokus terhadap penjelasan narasumber. Banyak kampus-kampus yang datang dari Kanada. Sebagian mereka menggunakan bahasa pengantar bahasa Inggris. Sambil menyelam, minum air. Sambil mencari informasi, saya belajar bahasa Inggris.
Dilanjutkan perjalanan malam hari, saya mengunjungi Pameran Seni Lukis Indonesia 2015 yang diadakan di JX International. Dekatnya lokasi dari kediaman membuat saya memutuskan untuk berjalan kaki. Bersama sahabat Ibad menyusuri gang kecil yang menjadi akses utama ketika dulu masih baru. Memasuki gedung megah dengan tampilan lukisan di beberapa stan, membuat saya takjub. Betapa indahnya lukisan karya putra bangsa. Yang menjadi ciri khas dari berbagai jenis aliran dan teknik melukis, alam Indonesia sebagai objek utama. Detail dan teliti. Menggambarkan kekayaan alam Nusantara.
Tingkat kekaguman berbanding lurus dengan kefokusan. Semakin besar kekaguman terhadap hasil sebuah lukisan, semakin besar pula goncangan kefokusan yang selama ini ditekuni. Berkali-kali rasa kagum itu muncul dan sebanyak itu pulalah saya berkata dalam hati, “Fokus, fokus, fokus, ini bukan bidang saya.” Walaupun ada potensi diri dalam dunia lukis, tapi hal yang saya tekuni bukanlah itu. Dalam masa pertumbuhan, kemampuan dalam melakukan, menghasilkan atau menyelesaikan sesuatu sangat penting. Tapi dalam masa perkembangan, yang lebih penting adalah rutinitas dan ketekunan. Setiap manusia pasti bisa melakukan segala hal, tapi manusia adalah makhluk terbatas yang tenaga dan pikirannya tidak akan mampu menguasai segala hal. Fokus terhadap satu hal tanpa menafikan hal yang lain dan tidak memaksakan diri menguasai suatu hal hanya untuk popularitas.


Jika sekolah tidak membuatmu semakin bergairah untuk terus belajar,
apa artinya sekolah?
Jika guru hanya bisa memberi tugas dan membuatmu gelisah setiap akan belajar, tidak memberikanmu inspirasi bagaimana cara membaca, menulis dan belajar yang baik,
kau mungkin perlu mencari guru lagi.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuatmu lupa akan jam pulang.
Dan guru yang sejati adalah guru yang membuatmu lupa bahwa kau sedang belajar.

C A R I

by on 21:52
Jika sekolah tidak membuatmu semakin bergairah untuk terus belajar, apa artinya sekolah? Jika guru hanya bisa memberi tugas dan mem...

Sesama murid tak pantas memberi nilai kepada sesame murid,
karena yang pantas memberi nilai adalah guru.
Sesama makhluk tak baik memberi nilai kepada sesame makhluk,
karena yang maha memberi nilai adalah Sang Khalik.
Sesama umat beragama juga tak perlu memberi nilai kepada sesame umat beragama,
karena yang seharusnya memberi nilai adalah dzat tan kena kinaya ngapa.

S E T A R A

by on 21:46
Sesama murid tak pantas memberi nilai kepada sesame murid, karena yang pantas memberi nilai adalah guru. Sesama makhluk tak baik me...

Ketika orang tua menganggap pendidikan selesai hanya dengan peringkat terbaik
Ketika siswa menganggap yang terbaik dengan angka tertinggi
Ketika guru menganggap memanipulasi nilai sebagai hal biasa yang dibiasakan
Akan datang suatu masa, ketika sekelompok orang tidak membutuhkan semua itu
Mereka hanya membutuhkan ketauladanan dan keridhoan


Lari sendiri itu berat,
dengan bersama jadinya semangat.
Menata niat itu berat,
dengan cara dilafalkan jadinya kuat.
Dzikir sendiri itu berat,
dengan jamaah insyaallah sampai kiamat.
Mencintai Nabi itu berat,
dengan perayaan maulid insyaallah mendapat syafaat.
Berdoa sendiri itu berat,
tawassul bersama kiai insyaallah cara yang tepat
Merapatkan shaf itu kesempurnaan shalat,
‘mengganggu konsentrasi’ dengan cara ndusel sikile tanggane itu kurang tepat.
Memahami Nusantara itu berat,
bersama kiai, santri dan tentara,
insya allah mendapat berkat.

Jika sekolah tidak membuatmu semakin bergairah untuk terus belajar,
Apa artinya sekolah?
Jika guru hanya bisa memberi tugas dan membuatmu gelisah setiap akan belajar,
Tidak memberikanmu inspirasi bagaimana cara membaca, menulis dan belajar yang baik,
 kau mungkin perlu mencari guru lagi.
Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuatmu lupa akan jam pulang.
Dan guru yang sejati adalah guru yang membuatmu lupa bahwa kau sedang belajar.

B E L A J A R

by on 18:42
Jika sekolah tidak membuatmu semakin bergairah untuk terus belajar, Apa artinya sekolah? Jika guru hanya bisa memberi tugas dan mem...

Tentang sebuah nama, saya lebih memilih tidak menambah gelar. Bukan karena apa-apa, sekedar rasa malu kepada para guru kiai yang namanya biasa tapi memberikan manfaat yang luar biasa. Senjata dikeluarkan hanya ketika dibutuhkan, menghadapi penipuan dunia. Selain itu juga menjaga amanah orang tua dan keobjektifan pandangan, bahwa yang patut kita hormati adalah kemampuan, bukan selembar kertas. Juga meneguhkan nilai Pancasila, bahwa identitas kita adalah musyawarah mufakat, voting hanyalah alternative. Dengan maksud ingin mengatakan bahwa tulisan terindeks skopus hanyalah hal biasa, yang luar biasa adalah kebermanfaatannya. Dan yang patut untuk di-iri adalah keistiqomahan, yang lain hanyalah bonus.

G E L A R

by on 02:36
Tentang sebuah nama, saya lebih memilih tidak menambah gelar. Bukan karena apa-apa, sekedar rasa malu kepada para guru kiai yang namany...

Warna-warni bunga bermekaran di sudut jalan. Rindangnya pepohonan melambai-lambai dalam irama sunyi. Merah kuning hijau silih berganti sahut-menyahut di persimpangan jalan, menghasilkan indahnya nada-nada lalu lintas. Beraneka macam kendaraan saling mendahului, menjadi yang tercepat sampai tempat tujuan. Para polisi pun tak lelah dalam menjaga keamanan jalanan. Bermacam ekspresi manusia bisa kita temukan di sini. Adat dan budaya daerah masih bertahan dalam derasnya arus modernitas.
Barisan gedung pencakar langit senantiasa menghiasi langit-langit kota. Dari bangunan modern hingga klasik bisa kita temukan bertebaran di kota ini. Walaupun medernitas Surabaya tidak diragukan, tetapi pemerintah kota masih mempertahankan bangunan-bangunan klasik bersejarah. Pihak pemerintah dan swasta membentuk hubungan mutualisme dalam membangun Surabaya menjadi kota humanis.
Di Surabaya, pengunjung bisa menikmati wisata shopping. Berbagai jenis kebutuhan bisa didapatkan di mall-mall megah di tengah kota atau pasar-pasar tradisional yang berada di pinggiran kota. Belum lagi keramaian-keramaian yang sengaja diadakan oleh pemerintah maupun swasta seperti car free day dan berbagai jenis pameran. Selain itu wisata alam juga bisa kita temui di sini seperti hutan mangrove atau pantai ria Kenjeran.
Tidak lengkap rasanya apabila berkunjung ke Surabaya tidak mengunjungi icon kota ini. Museum 10 Nopember yang terletak di kompleks Tugu Pahlawan sebagai icon kota Surabaya. Ketika memasukinya kita seakan masuk ke lorong waktu yang membawa kita kembali pada masa perjuangan. Memberikan kesan kebangsaan bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Tak bisa dipungkiri bahwa Surabaya telah dikenal dan termasyhur seantero jagat raya. Tata kota yang mengagumkan membuat kota ini menarik untuk dijelajahi. Kota seribu bunga sebagai nama lain dari Surabaya. Di setiap sudut kota, kita bisa menemukan taman-taman dengan keanekaragaman bunga yang mempesona. Cocok bagi siapa saja yang menyukai bunga-bunga atau sekedar mencari kesunyian dan ketenangan pikiran ketika bosan dengan keramaian Surabaya.
Ketika sang surya mulai berselimut awan, mega merah menampakkan kegagahannya. Berkolaborasi dengan gemerlap lampu dari gedung-gedung pencakar langit dan sorot lampu kendaraan yang menyatu dalam keindahan malam. Semakin malam Surabaya semakin ramai dengan tampilan-tampilan budaya di gedung Cak Durasim atau di komples Balai Pemuda, tempat mengeksplor ketrampilan dan pertunjukan adat budaya daerah. Anak-anak dan orang tua berkumpul menjadi satu untuk berlatih atau sekedar menyaksikan pertunjukan. Di sepanjang jalan juga bertebaran penjaja kuliner khas Surabaya, lontong balap, nasi goreng jancuk, hingga olahan semanggi. Kita bisa menikmati kuliner Surabaya dengan merasakan romantisme malam kota ini. Dan juga pernak-pernik Surabaya bisa Anda dapatkan di Cak Cuk Surabaya.
Surabaya kota strategis yang bisa diakses dengan menggunakan transportasi apa saja. Terminal Bungurasih sebagai pintu masuk transportasi bus dan angkutan umum roda empat lainnya. Stasiun Gubeng, Semut, dan Pasar Turi sebagai gerbang transportasi kereta api. Bandara Juanda atau Pelabuhan Tanjung perak menjadi tempat wisatawan asing pertama kali menginjakkan kaki di Surabaya. Semuanya tersedia di Surabaya, akses antarlokasi pun bisa dipilih dengan transportasi modern atau tradisional. Mungkin jika sewaktu-waktu Anda ingin mengunjungi Surabaya,
Dari keindahan pulau Jawa khususnya kota Surabaya, kita bergeser ke Aceh. Propinsi paling ujung wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Daerah yang dikenal dengan julukan Serambi Mekkah. Tanah yang pernah diluluhlantakkan oleh gelombang tsunami. Dan eksotisme Pulau Weh yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Seringkali saya membayangkan bisa duduk-duduk di pantai Pulau Weh. Menikmati segarnya air kelapa dan semilir angin sembari menyaksikan deburan ombak yang berduyun-duyun menggulung pantai serta mega merah yang mengantarkan burung-burung kembali ke sarangnya.
Sejak lama saya ingin mengunjungi Aceh. Menikmati indahnya Pulau Weh dan bergumul dengan masyarakat setempat. Mengunjungi masjid Raya Baiturrahman sebagai satu-satunya bangunan yang tetap berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan yang dihancurkan gelombang tsunami. Mempelajari jejak-jejak Islam sejak kerajaan Samudra Pasai dan merasakan lebih dekat tragedi bencana tsunami di Museum Tsunami Aceh.


Dalam kesendirian kutermenung, sembari mengotak-atik gadget yang dewasa ini semakin memperluas wilayahnya dalam menguasai alam pikiran manusia. Tiba-tiba muncul sebuah pengumuman akan dilaksanakannya sebuah acara oleh komunitas Maiyah. Maiyah merupakan sebuah komunitas yang diasuh oleh Cak Nun, panggilan akrab dari seorang budayawan Nusantara, Emha Ainun Nadjib. Komunitas ini tersebar di seluruh wilayah Nusantara dengan memiliki nama forum berbeda di setiap kota yang diadakan setiap bulan. Padhang Bulan di Jombang, Bangbang Wetan di Surabaya, Gambang Syafaat di Semarang, Yogyakarta dan Kenduri Cinta di Jakarta. Namun, yang membuat saya sempat kaget agenda kali ini di luar forum yang memang telah rutin setiap bulannya. Melihat alamat tempat dilaksanakannya acara, saya teringat oleh salah sahabat, Dicky, yang rumahnya berada di sana, Pagerwojo, Sidoarjo. Tanpa pikir panjang, saya segera menghubunginya sekaligus menyampaikan keinginan hati untuk berkunjung ke rumahnya.
Keterbatasan pengetahuan tak membuat saya takut menjelajahi Nusantara. Setali tiga uang dengan perjalanan menuju acara ini, dengan bantuan sahabat Dicky akhirnya kami bisa sampai ke tempat tujuan. Namun, acara kali ini tidak sebesar acara-acara yang memang sudah rutin digelar. Secangkir kopi menemani malam ini. Sebelum meninggalkan lokasi, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi pesarean Mbah Ali Mas’ud untuk sekedar mengetahui napak tilas kehidupan beliau.
Waktu subuh semakin dekat, saya bersama sahabat Dicky menikmati hidangan sahur di rumahnya. Teras yang begitu luas menjadi saksi bisu persahabatan kami. Selepas makan sahur, kami bergeser menuju rumah sahabat Furqon yang tak jauh dari sini. Sepanjang perjalanan tidak satu pun kendaraan yang melintas, udara pagi pun cukup menggetarkan tubuh kami. Di tengah perjalanan, kami terjebak kemacetan bahkan ditutupnya jalan raya akibat kebakaran yang terjadi. Kebakaran tersebut ketika saya menulis cerita ini menjadi trending topic di Jawa Pos. Kami harus memutar jalan dan beberapa menit kemudian sampai di depan rumah sahabat Furqon. Tak ada cahaya satu pun yang terlihat, hanya dari beberapa kendaraan yang kebetulan melintas.
Tepat sebelum salat subuh dikumandangkan, listrik kembali normal sehingga cahaya pun bertebaran di mana-mana. Kami pun menunaikan salat Subuh secara berjamaah di masjid yang menurutku cukup megah. Masjid ini terletak tepat di depan rumah sahabat Furqon. Ternyata tidak hanya bangunannya, tetapi bacaan Al-Qur’an sang imam cukup meneduhkan hati. Selepas itu, kami mengobrol banyak hal tentang perkuliahan kami selanjutnya dan juga menelorkan rencana untuk berkunjung ke Syaikhona Kholil, Bangkalan.
Menjelang terbitnya sang surya, saya bersama sahabat Dicky kembali ke rumah untuk mempersipkan diri mengikuti halaqah linguistik di rumah salah satu dosen Pendidikan Bahasa Arab, Ust. Nasir Abd. Rahman. Sayup-sayup mata ini mendengarkan penjelasan beliau tentang macam-macam makna, maklum saja semalaman belum sempat istirahat. Setelah halaqah, kami mengikuti pelajaran Bahasa Arab dan saya memutuskan untuk bergabung. Melelahkan memang perjalanan kali ini, tapi bertemu dengan orang-orang luar biasa memberikan energi bagiku untuk semakin menatap masa depan, melangkah pasti menggapai mimpi.


Ibarat mata uang, menulis dan retorika adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Setali tiga uang dengan Al-Khidmah dan Bangbang Wetan, Al-Khidmah dengan konsep jam'iyyah menjadikan persamaan sebagai power dan Bangbang Wetan dengan konsep ma'iyyah menjadikan perbedaan sebagai identitasnya.
Pergerakan dwi warna, hijau dan putih, menghiasi jalanan Surabaya siang ini. Cukup menyibukkan para petugas dalam menjaga ketertiban lalu lintas. Tapi sepertinya mereka lebih fokus mengawal pergerakan si hijau menuju Stadion Tambaksari. Karena si putih bergerak menuju arah Suramadu dengan tertib, berpusat di Ponpes Al-Fitrah Surabaya dalam rangkaian acara tahunan, Haul Akbar.
Diawali dengan tawassul, dilanjutkan dengan Istighsah, kemudian khatmil Qur'an, diteruskan dengan tahlil, dilengkapi dengan pujian maulidurrosul dan diakhiri dengan mauidhoh hasanah oleh Habib Umar bin Abdullah Al-Jailany min Makkah Al-Mukarramah bil arabiyyah yang diterjemahkan oleh Panglima Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf dari Tegal.
Beliau menjelaskan betapa berungtungnya kita diberi kesempatan untuk hadir, berkumpul dalam majlis Rasulullah. Menenangkan jiwa, membasahi lisan dengan kalimat Laa ilaha illallah, Tiada Tuhan Selain Allah, berulang-ulang agar kita terbiasa dan mampu mengucapkan kalimat itu ketika sakaratul maut.
Lebih lanjut beliau menceritakan beratnya kehidupan rumah tangga yang dikeluhkan Fatimatus Zahra kepada Ayahnya, Muhammad SAW. Sehingga menyebabkan Fatimah ingin mengambil pembantu. Rasulullah pun menjawabnya bahwa tidak ada yang lebih baik dari mengucapkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, daripada memasukkan pembantu dalam rumah tangga.
Beliau juga menerangkan sejarah besar Isra' Mi'raj. Betapa pentingnya perintah shalat, terutama yang dilakukan dengan berjamaah. Penegasan tentang keutamaan shalat jamaah subuh yang sangat mempengaruhi kehidupan seakan menjadi sentilan, khususnya bagi dunia kampus. Salah seorang sahabat juga pernah menulis, jangan pernah menemui komunitas ini di pagi hari, karena merupakan jam tidur setelah semalaman bermain 'kopik'. Siapakah komunitas ini? tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Dinginnya malam berganti dengan hangatnya obrolan. Pekatnya secangkir kopi pun sebagai pelipur rindu, setelah lama tak berjumpa karena kesibukan masing-masing. Maka, di tempat ini lah kita kan selalu bersua. Mencurahkan kisah kehidupan di belahan bumi lain. Saling menguatkan dalam menjalani kontestasi hidup yang tiada henti.
Waghfir likullidz dzunuub, wastur likullil 'uyuub.
Shalom 'alaik.


Sengatan sinar mentari mulai terasa. Memancarkan kegagahannya di setiap penjuru bumi. Pantulan cahayanya di kaca-kaca gedung pencakar langit membuat siang ini semakin panas. Kendaraan bermotor pun tak kalah bersaing untuk memantulkannya, sembari menyepulkan asap dan memeriahkan suasana jalan raya. Keberangkatan yang telah direncanakan sejak beberapa hari yang lalu sempat menuai sedikit rintangan. Saya bersama sahabat Humam harus kembali setelah ingat bahwa surat-surat kendaraan yang kami kendarai ternyata kurang lengkap. Beruntung jarak yang kami tempuh masih tidak terlalu jauh. Setelah kembali mengambil Surat Tanda Nomor Kendaraan, kami pun berangkat dengan harapan mendapat pengalaman dan ilmu baru.
Sepanjang perjalanan, tidak ada kemacetan yang kami temui. Jalanan terlampau lengang dan beberapa kali saya melihat media sosial guna mengetahui proses administrasi di lokasi. Beberapa sahabat memang sudah datang sejak kemarin dan banyak info penting yang mereka berikan.
Jauhnya perjalanan yang harus kami tempuh membuat rasa kantuk mulai berdatangan. Beberapa kali sahabat Humam menggunakan strateginya untuk mengejutkan saya dengan harapan rasa kantuk itu hilang. Akhirnya, kami memutuskan untuk rehat sejenak di salah satu warung kopi di perbatasan Pasuruan - Malang.  Secangkir kopi hitam berhasil menghilangkan rasa kantuk dan perjalanan pun dilanjutkan.
Tujuan kami menuju lokasi tempat berlangsungnya acara. Ketidaktahuan kami atas lokasi dan jalan menuju lokasi tersebut membuat saya mengandalkan Google Maps. Ternyata setelah beberapa menit proses mencari akhirnya sampai di lokasi. Suasana di lokasi terbilang cukup sepi. Maklum saja, acara dimulai masih lama sekitar pukul 16.00 WIB, sedangkan kedatangan kami tepat pukul 12.00 WIB.
Waktu yang ada kami gunakan untuk istirahat, shalat dan mengisi energi. Proses penukaran tiket cukup mudah, antrian tidak terlalu padat. Hingga sampai sang surya mulai lingsir, pengunjung mulai berdatangan. Tiket gratis menarik 25.000 mahasiswa ke tempat ini. Beberapa hiburan di luar panggung utama juga mulai ditampilkan. Tiba-tiba di tengah keasyikan itu, pintu utama stadion Brantas tempat panggung utama telah di buka. Kami pun dengan segera mengantri.
Dari sinilah perjuangan di mulai, antrian dalam memasuki stadion tidak terorganisir dengan baik. Ribuan peserta berdesakan dan saling dorong. Beruntung di antara peserta masih ada pengertian mengingat peristiwa Mina yang terjadi pekan lalu. Dinginnya udara di kota Batu seakan menjadi panas di antara himpitan ribuan peserta.
Rasa puas tampak di raut muka setiap peserta ketika berhasil memasuki stadion. Panggung nan megah dalam stadion yang luas membuat takjub siapa saja yang menyaksikannya. Gemerlap pencahayaan lampu panggung cukup mencerahkan suasana malam hari di kota Batu. Tidak lama setelah itu, beberapa hiburan ditampilkan. Mulai dari penyanyi solo dan band menghibur ribuan penonton di dalam stadion. Najwa Shihab sebagai tuan rumah Mata Najwa pun menyapa penonton dengan riang gembira.
Satu per satu pembicara kemudian naik ke panggung. Di mulai dari kelompok seniman yang dalam kesempatan ini diwakili oleh Sujiwo Tedjo dan Lis Hartono yang lebih dikenal dengan Cak Lontong. Kehadirannya di panggung dengan gaya yang kocak. Penampilannya yang kocak ternyata berhasil menipu anggapan masyarakat luas. Kedua orang tokoh ini ternyata orang jenius ketika masih menjadi mahasiswa.
Sujiwo Tedjo adalah mahasiswa jurusan Matematika di ITB. Dia memang ahli matematika sejak masa sekolah. Tetapi, keedanannya sudah nampak sejak masa itu. Dia jarang sekali masuk sekolah tetapi ketika akan dilaksanakan ujian Matematika, rumahnya selalu penuh dengan teman-temannya yang belajar matematika kepadanya. Dalam penjelasannya dia meluruskan anggapan masyarakat umum yang selalu mengaitkan matematika dengan angka. Padahal yang dibangun dalam matematika adalah kemampuan menangkap sebuah pola dari segala sesuatu yang sebelumnya tak berpola. Dia juga sempat pindah jurusan Teknik Sipil di ITB juga karena ada anggapan bahwa mahasiswa Teknik Sipil lebih disukai perempun.
Sementara itu, Lis Hartono atau Cak Lontong adalah mahasiswa Teknik Elektro ITS. Ketika ditanya bagaimana sejarah panggilan Cak Lontong, dia menjawab dengan simpel. Cak Lontong itu dari bentuk tubuhnya yang kurus panjang seperti lontong. Dia beranggapan bahwa tekanan berbanding lurus dengan gaya. Maksudnya, ketika hidup seseorang merasa banyak tekanan, berarti dalam menjalani kehidupannya mereka terlalu banyak gaya.
Di tengah kekocakan dua seniman tersebut, muncullah dua politisi ke atas panggung. Dengan menggunakan sepeda motor jadul, Gus Ipul membonceng Pramono Anung sampai ke atas panggung. Setelah menyapa para penonton, Pramono Anung yang sekarang menjabat sebagai sekretaris kabinet pemerintahan Presiden Jokowi beranggapan bahwa sepeda tersebut mengingat memori ketika masih belajar, kehidupan itu naik-turun seperti jalan raya. Dia suka berantem sekaligus profokator dan suka tebar pesona. Awal perjalanan perpolitikannya ketika menjadi ketua BEM di ITB. Ya, dia satu almamater dengan Sujiwo Tedjo.
Sementara Gus Ipul yang sekarang menjadi wakil gubernur Jawa Timur ketika sekolah tidak serius dan dulu pernah aktif menjadi penjaga gawang. Menjadi politisi memang sedikit merepotkan, ketika beraksi dianggap pencitraan tetapi ketika diam dianggap tidak kerja. Kemudian datanglah seniman perempuan yang tidak asing lagi yaitu Syahrini. Ketika tokoh ini berbicara, seakan keempat tokoh lain terbius, entah karena apa. Panjang lebar penjelasan dari kelima pemateri tersebut diakhiri oleh kesimpulan dari Najwa Shihab.
“Keberanian adalah modal pertama. Ijazah cuma selembar kertas di atas meja. Kehidupan keras yang penuh persaingan bisa diatasi dengan kematangan dan pengalaman. Kemampuan membaca medan, kecerdikan melihat kesempatan, dibutuhkan di tengah persaingan. Fokus pada target dan cita-cita, cemooh dan ejekan lebih baik abaikan saja. Berani mengambil jalan tak biasa agar tampak mencolok dan istimewa. Tidak gampang takut oleh kegagalan, terus mencipta momen kebangkitan. Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. Keberhasilan hanya soal waktu bagi mereka yang tekadnya sekeras batu.
Usai acara kami segera meninggalkan lokasi dan menuju ke alun-alun Batu. Sembari menghirup kesejukan udara malam kota Batu, kami membersihkan jiwa dan raga. Suasana masjid yang begitu tenang seakan membawa kesejukan sanubari. Arsitektur dan ornamen masjid yang begitu megah menjadi kenangan tersendiri bagi siapa saja yang hadir.
Gemerlap pesona malam wisata alun-alun Batu bisa juga sebagai alternatif. Muda-mudi yang sedang memadu kasih banyak kita temui. Aneka jajanan makanan juga bisa kita nikmati. Di pojok alun-alun, stan paling ramai menjual aneka macam ketan. Sambil menyusun rencana esok hari, kami menikmati hidangan ketan yang telah kami pesan sebelumnya. Malam ini kami bermalam di kontrakan salah satu sahabat di sekitar UIN Maliki. Udara dingin yang menusuk tulang cukup mengganggu dan tak terasa kami larut dalam perbincangan.
Pagi harinya kami meninggalkan Malang. Dalam perjalanan pulang kami mampir di salah satu pusat oleh-oleh. Bakpao Telo, pusat oleh-oleh yang berbahan dasar telo. Keripik, bakpao hingga es krim rasa telo. Aneh memang, tapi punya sensasi tersendiri. Setiap perjalanan tentu ada hikmah tersendiri. Orang yang kita temui adalah cermin bagi diri kita sendiri. Beruntunglah mereka yang bisa mengambil pelajaran di setiap perjalanan.


Untuk mempertahankan bahasa bangsa-bangsa negara persemakmuran Indonesia, kiranya ketika berbicara dengan orang tua menggunakan bahasa daerah setempat. Tentu dengan menggunakan bahasa tingkat tinggi (halus). Namun, untuk mempelajarinya perlu kesabaran tingkat dewa, karena yang biasa kita dengar adalah bahasa tingkat rendah (kasar).
Perjalanan di negara bangsa-bangsa seperti Indonesia memang sangat menarik dan tak bosan-bosannya dilakukan. Perjalanan kali ini saya lakukan bersama sahabat Humam ke kota Bangkalan. Kota dengan perwatakan penduduknya yang terkenal kasar ini mempunyai daya tarik spiritual tersendiri, selain wisata kuliner Bebek Sinjai yang mulai mendunia. Benar memang apa yang dikatakan orang-orang tentang stan Bebek Sinjai, cukup ramai pengunjung yang datang.
Ini pertama kalinya saya berkunjung ke kota Bangkalan. Dan untuk awal yang baik, tak kusia-siakan kesempatan berkunjung ke pesarean Syaikhona Kholil, seorang ulama besar yang konon katanya adalah guru ulama besar di Pulau Jawa. Lokasi makam berada di samping masjid. Situasinya ketika itu cukup ramai, hanya beberapa tempat kosong yang terlihat di dalam masjid. Ukuran masjidnya sendiri tidak cukup luas, tetapi ornamennya yang detail dan indah memberikan kenangan tersendiri bagi siapa saja yang mengunjunginya.
Malam ini kami bermalam di rumah dosen sekaligus teman sharing Cak Zaini Tamim, dosen muda yang banyak disukai para mahasiswi. Kami bercerita panjang lebar hingga tak terasa sudah larut malam. Selama kami di rumah beliau, tak henti-hentinya suguhan makanan dihidangkan. Beberapa sudah biasa di lidah, tetapi ada juga yang masih terasa aneh.
Sejuknya embun pagi mengiri kami menuju pendopo I kabupaten Bangkalan, tempat berlangsungnya Haul Akbar Kabupaten Bangkalan. Majlis berjalan dengan lancar sesuai yang telah diagendakan, tetapi tiba-tiba di tengah berjalannya acara ada sebagian jamaah yang berbuat anarkis dan merusak ornamen melati. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka, padahal majlis belum selesai malah berebut ornamen melati.
Perjalanan kembali menuju Surabaya sempat kesulitan. Banyaknya cabang jalan dengan sedikit penunjuk arah membuat beberapa jamaah kebingungan. Tapi bagi kami, tidak membutuhkan waktu lama menemukan jalan pulang. Sesampai di Surabaya kami rehat sejenak dan segera menuju Hotel Empire, tempat berlangsungnya pameran ekonomi syariah. Saya bertemu sahabat-sahabat yang kebetulan travelnya mengikuti acara ini. Sesekali saya berlagak seperti pelanggan yang akan berangkat umroh. 

SUBSCRIBE & FOLLOW