Kalam Hikmah Haul Akbar Pondok Pesantren Al-Fitrah Surabaya 2016


Ibarat mata uang, menulis dan retorika adalah dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Setali tiga uang dengan Al-Khidmah dan Bangbang Wetan, Al-Khidmah dengan konsep jam'iyyah menjadikan persamaan sebagai power dan Bangbang Wetan dengan konsep ma'iyyah menjadikan perbedaan sebagai identitasnya.
Pergerakan dwi warna, hijau dan putih, menghiasi jalanan Surabaya siang ini. Cukup menyibukkan para petugas dalam menjaga ketertiban lalu lintas. Tapi sepertinya mereka lebih fokus mengawal pergerakan si hijau menuju Stadion Tambaksari. Karena si putih bergerak menuju arah Suramadu dengan tertib, berpusat di Ponpes Al-Fitrah Surabaya dalam rangkaian acara tahunan, Haul Akbar.
Diawali dengan tawassul, dilanjutkan dengan Istighsah, kemudian khatmil Qur'an, diteruskan dengan tahlil, dilengkapi dengan pujian maulidurrosul dan diakhiri dengan mauidhoh hasanah oleh Habib Umar bin Abdullah Al-Jailany min Makkah Al-Mukarramah bil arabiyyah yang diterjemahkan oleh Panglima Habib Thohir bin Abdullah Al-Kaaf dari Tegal.
Beliau menjelaskan betapa berungtungnya kita diberi kesempatan untuk hadir, berkumpul dalam majlis Rasulullah. Menenangkan jiwa, membasahi lisan dengan kalimat Laa ilaha illallah, Tiada Tuhan Selain Allah, berulang-ulang agar kita terbiasa dan mampu mengucapkan kalimat itu ketika sakaratul maut.
Lebih lanjut beliau menceritakan beratnya kehidupan rumah tangga yang dikeluhkan Fatimatus Zahra kepada Ayahnya, Muhammad SAW. Sehingga menyebabkan Fatimah ingin mengambil pembantu. Rasulullah pun menjawabnya bahwa tidak ada yang lebih baik dari mengucapkan takbir, tahlil, tahmid dan tasbih, daripada memasukkan pembantu dalam rumah tangga.
Beliau juga menerangkan sejarah besar Isra' Mi'raj. Betapa pentingnya perintah shalat, terutama yang dilakukan dengan berjamaah. Penegasan tentang keutamaan shalat jamaah subuh yang sangat mempengaruhi kehidupan seakan menjadi sentilan, khususnya bagi dunia kampus. Salah seorang sahabat juga pernah menulis, jangan pernah menemui komunitas ini di pagi hari, karena merupakan jam tidur setelah semalaman bermain 'kopik'. Siapakah komunitas ini? tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Dinginnya malam berganti dengan hangatnya obrolan. Pekatnya secangkir kopi pun sebagai pelipur rindu, setelah lama tak berjumpa karena kesibukan masing-masing. Maka, di tempat ini lah kita kan selalu bersua. Mencurahkan kisah kehidupan di belahan bumi lain. Saling menguatkan dalam menjalani kontestasi hidup yang tiada henti.
Waghfir likullidz dzunuub, wastur likullil 'uyuub.
Shalom 'alaik.

Post a Comment

0 Comments