Hidup di dunia material menekankan bagaimana benda-benda mati dalam lingkungan bertindak terhadap manusia, dan ditindaklanjuti oleh orang-orang, untuk tujuan menjalankan fungsi sosial, mengatur hubungan sosial dan memberikan makna simbolis pada aktivitas manusia. Bidang studi budaya material (selanjutnya disingkat MCS) adalah nomenklatur baru-baru ini yang menggabungkan serangkaian penyelidikan ilmiah tentang penggunaan dan makna objek.Dengan mempelajari budaya sebagai sesuatu yang diciptakan dan hidup melalui objek, kita dapat lebih memahami struktur sosial dan dimensi sistem yang lebih besar seperti ketimpangan dan perbedaan sosial, dan juga tindakan manusia, emosi dan makna.

 

Penegasan utama MCS adalah bahwa objek memiliki kemampuan untuk menandakan sesuatu - atau membangun makna sosial - atas nama orang, atau melakukan 'pekerjaan sosial', meskipun kapasitas komunikatif budaya ini tidak boleh secara otomatis diasumsikan.

 

Bagian ini, menekankan kapasitas dari objek untuk melakukan pekerjaan sosial dan budaya. Secara khusus, studi kasus berikut ini menunjukkan kapasitas beragam objek untuk memberikan makna, menunjukkan hubungan kekuasaan, dan membangun selfhood. Tiga bagian menunjukkan bagaimana benda-benda dapat digunakan sebagai:

1.   Penanda nilai

2.   Penanda identitas

3.   Penanda jaringan kekuasaan, budaya dan politik

 

Objek Sebagai Penanda Sosial

Bourdieu menulis bahwa gagasan benda sebagai penanda nilai estetika dan budaya, selera atau peran pilihan seseorang mereproduksi kesenjangan sosial. Penilaian selera didasarkan pada kriteria objektif dan mutlak dengan menunjukkan bahwa kondisi sosial tertentu dan kelas cenderung memiliki preferensi rasa yang khas. Kelompok dominan memiliki kewenangan untuk menentukan parameter dari nilai budaya. Rasa menjadi penanda yang membedakan dan menilai struktur posisi sosial dan status. Berikut studi kasus dimana objek bertindak sebagai penanda nilai estetika dan identitas diri, terlihat tidak hanya pada apa, tapi mengapa dan bagaimana.

 

Helen

Helen menggambarkan tingkat kompetensi yang tinggi estetika, dia telah menguasai 'simetri dan korespondensi terkait dengan pilihannya. Akibatnya, dia mampu kontekstualisasi pilihan sendiri dalam tren sosial dan estetika yang lebih luas dengan tingkat otoritas budaya yang tinggi, membawa berbagai pengetahuan budaya dan keahlian pada dirinya. 

 

Sebuah benda yang menandakan, dan merangkum, gaya pemiliknya dan suasana yang diinginkan dari seluruh rumah. kesederhanaan kursi ini, netralitas dan gaya abadi klasik adalah instruktif:

 

Christina

Christina bergerak untuk menjauhkan diri dari ide-ide utama tentang rasa dan gaya, atas dasar sifat elitis, kurangnya keaslian orang-berpusat, dan kurangnya dirasakan relevansi padanya kepentingan kunci luang: televisi kabel, budaya pub, sepak bola dan pakaian perbelanjaan. posisi anti-gaya ini tercermin dalam salah satu objek Christina lagi memilih untuk membahas dalam wawancara - apa yang dia sebut sebagai 'wartishog':

 

Objek Sebagai Pembuat Identitas

Memisahkan klaim estetika dari narasi atau kalim tentang identitas diri dalam studi benda-benda. Seperti teks agama suci, kasus utama dari objek yang diproduksi secara massal dalam mempertahankan aura kuat. Meskipun merupakan teks rohani yang penting, juga merupakan obyek produksi massal dengan sirkulasi yang luas.  Namun, berhasil mempertahankan aura otoritas.

 

Sarah

Iman Kristennya merupakan aspek penting dari identitas yang mendefinisikan arah dan makna hidupnya. Dia ingin menjalani hidupnya konsisten dengan keyakinan Kristen dan merasakan sebuah perbedaan signifikan antara pilihan-pilihan hidupnya dan pilihan hidup mereka dari orang-orang yang tidak memiliki keyakinan seperti itu. Al-Kitab adalah symbol dari keyakinan dan menawarkan di acara melawan tekanan sosial yang bisa menariknya jauh dari keyakinan tersebut.

 

Objek Sebagai Situs Budaya dan Kekuasaan Politik

Hubungan antara manusia dan teknologi, benda-benda yang dibangun oleh hubungan kekuasaan tertentu, pada gilirannya juga aktif membangun hubungan tersebut. Teori aktan-jaringan cenderung berfokus pada teknologi baru objek seperti telepon genggam, mesin yang 'bertindak untuk' orang seperti remote kontrol, kecepatan-benjolan atau pintu-calon pengantin pria, dan benda-benda 'jaringan teknologi' seperti pesawat terbang, bangunan dan kendaraan bermotor.Section berikutnya membahas contoh yang terkenal Foucault dari penjara yg bentuknya bundar untuk menjelaskan bagaimana objek berada di pusat wacana dan jaringan kekuasaan, dan bagaimana mereka 'bertindak' untuk mempengaruhi tindakan manusia. Sejak Foucault meninggal sebelum penelitian terkini tentang 'aktan-jaringan' muncul ia tidak diidentifikasi dengan bidang tersebut. Namun, karyanya dapat dilihat sebagai mengembangkan beberapa tema penting yang diambil oleh kelompok saat ini ulama aktan-jaringan

 

Mengartikan Material Culture

o  Studi tentang material culture mempunyai keterkaitan dengan hubungan timbal balik manusia sebagai subjek dengan objek-objek kebudayaan. Apa yang menyebabkan manusia menggunakan suatu objek, atau untuk apa objek itu dipakai dan fungsinya untuk manusia.

 

o   Istilah ‘material culture’ merujuk pada material apa pun (sepatu, pena, cangkir) atau jaringan benda-benda material (rumah, mobil, atau pusat perbelanjaan) yang manusia rasakan, gunakan, atau sentuh.

 

o  Istilah ‘material culture’ sering dihubungkan dengan ‘things’, ‘objects’, ‘artefact’, ‘goods’, ‘commodities’, dan baru-baru ini istilah ‘actants’. Namun, ada beberapa nuansa penting dalam arti setiap istilah, yang membantu untuk membatasi konteks dimana istilah itu harus digunakan.

 

-      Things: sesuatu yang bersifat konkret namun mati dan harus dihidupkan oleh pelaku kebudayaan dengan imajinasi atau konseptual.

-     Object: komponen kebudayaan yang mampu disentuh dan dilihat, atau sesuatu yang lebih nyata.

-      Artefak: produksi fisik atau peninggalan dari aktivitas manusia

-    Goods: objek yang ada diproduksi dibawah hubungan pasar yang diberi nilai dan sistem pertukaran.

-      Komoditas: konvensi umum yang menunjukan pada hal-hal baik dan luhur.  

-     Objek tidak hanya ditentukan oleh kualitas materialnya, tetapi olehlokasinyadalam sistem narasi dan logika yang ditata oleh wacana sosiaterkait dengan teknologi, budaya, ekonomi dan politik.

-   Dengan kata lain, objek ada karena sosial, budaya dankekuatan politik mendefinisikan mereka sebagai objek dalam sistem hubungan denganbenda lainnya.

-     Istilah apa pun yang dipilih seseorang untuk diterapkan dalam konteks tertentu - apakah itu objects,actantsmaterial culturethingsatau goods- seseorang itu hanya perlu melihatnya dalam lingkungan sekitar mereka atau melihat ke dalam konteksnya.


Kursus ini disediakan oleh Iowa State University, sebagai bagian dari Online Professional English Learning (OPEN). Program ini disponsori oleh Departemen Luar Negeri AS dengan pendanaan yang disediakan oleh Pemerintah AS, dan dikelola oleh FHI 360. Dalam mata kuliah ini, peserta akan belajar tentang tujuan dan fungsi pusat penulisan akademik di perguruan tinggi. Mereka akan diperkenalkan dengan pedoman untuk mendirikan dan menjalankan pusat menulis dalam konteks Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Secara khusus, peserta akan mengeksplorasi model untuk mendanai pusat penulisan, praktik terbaik untuk mempekerjakan dan melatih staf, kebijakan dan prosedur pusat penulisan, dan metode untuk mempromosikan layanan pusat penulisan.


Kursus ini dirancang untuk administrator dan akademisi di institusi pendidikan tinggi yang tertarik untuk mendirikan dan mempertahankan pusat penulisan akademis di institusi mereka untuk mendukung publikasi di jurnal berdampak tinggi. Peserta akan mempelajari sejarah dan tujuan dari pusat penulisan, berbagai model untuk mengatur dan mendanai pusat-pusat ini, bagaimana menemukan dan melatih staf, dan praktik terbaik untuk mengembangkan kebijakan dan prosedur. Kursus ini tidak memberikan instruksi tentang penulisan akademis; ini berfokus pada aspek administratif dalam mendirikan dan mempertahankan pusat penulisan untuk memberikan dukungan jangka panjang dan berkelanjutan untuk penulisan dan penerbitan akademis.

Orientasi Modul Video

Welcome to Establishing Academic Writing Centers Modul Video

Modul 1

  1. Modul 1 Introduction Modul Video
  2. The Evolution of Writing Centers Modul Video
  3. Summaries of Writing Center Offer Modul Video
  4. Organizing and Funding Academic Writing Center Modul Video
  5. Stakeholder Analysis and Institutional Needs Analysis Modul Video1 Video2
  6. Promoting Academic Writing Center Modul Video1 Video2

Penelitian ini bukan karya yang pertama dan bukan satu-satunya menyangkut cerita Galigo. Telah ada beberapa usaha terdahulu dalam mengungkap I La Galigo, baik untuk mencari dan mengumpulkan naskahnya, maupun untuk mengungkapkan isinya. Semuanya memberikan sumbangan menurut kadarnya masing-masing, bersambung dalam rangkaian suatu pekerjaan ilmiah yang membutuhkan pikiran, tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Buku yang ditulis berdasarkan disertasi Fachruddin Ambo Enre ini terdiri dari lima bab, berusaha menelaah salah satu episode dalam La Galigo yang berjudul Ritumpanna Welenrennge. Episode ini merupakan salah satu cuplikan cerita yang paling luas dikenal di kalangan masyarakat Bugis umum, masyarakat tempat asal-muasal epos La Galigo.

Episode Ritumpanna Welenrennge (RW) atau “pohon Welenrennge yang ditebang” menceritakan tentang keinginan kuat Sawerigading untuk membuktikan keberadaan adik kembarnya We Tenriabeng. Setelah mendengar keberadaan mengenai sang adik dari Pallawagauq, sepupunya yang menjadi raja di Tompo Tikkaq. Ketika berhasil mengetahui kebenaran cerita tersebut dan bertemu langsung dengan We Tenriabeng, Sawerigading jatuh cinta. Namun, karena mereka bersaudara, pernikahan tidak bisa dilangsungkan. We Tenriabeng pun menyuruh sang kakak untuk berlayar ke negeri Cina menemui seorang putri yang kecantikannya mirip dengan dirinya. Untuk berangkat menemui putri Cina bernama We Cudai tersebut, Sawerigading bersama pengawalnya menebang pohon Welenrennge sebagai bahan pembuatan perahu.

Pada bab pendahuluan dari buku ini, diterangkan mengenai karya terdahulu yang sempat membahas dan berusaha pengumpulan naskah I La Galigo. Th. S. Raffles yang dianggap memperkenalkan kisah ini kepada dunia luar melalui bukunya The History of Javayang diterbitkan pada tahun 1817. Ia mencatat sedikit tentang isinya serta cara membacanya, yang dikatakannya terdiri atas satuan lima suku kata yang diakhiri dengan jeda. Iramanya disebutnya rangkaian daktilusdan trokhaeus. Menurut dia puisi wiracarita ini adalah satu-satunya jenis pustaka di kalangan orang Bugis yang dikenal pengarangnya, yaitu I La Galigo putera Sawerigading.

Selang setengah abad kemudian, barulah B.F. Matthes yang memulai pengumpulan dan penyalinan naskah I La Galigo dengan bantuan Colliq Pujie. B.F. Matthes yang pernah tinggal di Makassar antara tahun 1848-1879 dengan diselingi dua kali cuti panjang ke negeri Belanda menggunakan banyak waktu dan tenaganya untuk mendapatkan naskah dan keterangan mengenai cerita Galigo. Matthes berhasil mengumpulkan 26 buku yang kemudian diserahkannya ke Nederlandsche Bijbelgenootschap (NBG). Mencakup materi utama cerita dari awal hingga akhir. Dia juga menamai cerita ini puisi wiracarita. 

Episode awal pernah diterbitkan dengan menggunakan aksara lontaraqdisertai keterangan. Sedikit berbeda dengan keterangan Raffles, Matthes hanya menyatakan bahwa cerita itu dikenal di pedalaman Sulawesi Selatan dengan nama I La Galiga, yang juga merupakan nama salah seorang tokohnya yang memegang peranan penting. Ia sangat menyesalkan tidak dapat memperoleh kumpulan cerita yang lengkap, sebab penduduk nampaknya sudah merasa puas dengan memiliki sebagian kecil saja untuk dibaca pada upacara tertentu. 

Mengenai iramanya dikatakannya sangat sederhana, berupa satu kaki sajak yang terdiri dari lima suku kata kalau tekanan jatuh pada suku kedua dari belakang, atau empat suku kata jika tekanan jatuh pada suku kata terakhir. Bahasanya, disebutnya bahasa Bugis kuno yang tidak terpakai lagi. Ia berpendapat, bahwa pustaka ini jelas mempunyai nilai sastra yang tinggi, tetapi kegunaannya akan lebih banyak bagi etnologi, karena di dalamnya terdapat berbagai kebiasaan penduduk yang masih berlaku.

Karya berikutnya juga berupa pengumpulan naskah yang dilakukan oleh Schoemann. Koleksinya yang terdiri dari 19 buku, kesemuanya merupakan naskah salinan, kemudian dibeli oleh Perpustakaan Negara Prusia di Berlin. Usaha pengumpulan naskah yang paling luas bisa dikatakan diperoleh Rijksuniversiteits Bibliotheek(RUB) di Leiden, Belanda pada tahun 1920 melalui bantuan Prof. Dr. J.C.G Jonker. Dia berhasil mengumpulkan 67 buku tulis dan sebuah naskah lontar. Tujuh buah diantaranya adalah naskah asli dan sisanya berupa salinan. Naskah-naskah tersebut dikumpulkan selama masa jabatannya sebagai taal ambtenaardi Makassar antara tahun 1886-1896. Penelaahan isi I La Galigo dari segi sistem pelapisan masyarakat yang berlaku di kalangan masyarakat Bugis pertama kali diusahakan oleh H.J. Friedericy. Barulah selang puluhan tahun kemudian, Mattulada (Sejarawan asli dari Sulawesi Selatan) juga menelaah isi La Galigo sebagai sumber informasi sejarah perkembangan ketatanegaraan di kalangan orang Bugis.

Telaah naskah merupakan inti dari bab II buku ini. Penulis menggunakan tujuh naskah salinan episode RW berbeda. Sebuah naskah yang didapatnya dari Yayasan Kebudayaan Sulawesi Selatan dan Tenggara (YKSST) di Ujung Pandang, lima dari perpustakaan universitas (RUB) di Leiden, dan satu lagi langsung dari anggota masyarakat Sulawesi Selatan sebagai pelengkap. Penulis juga menceritakan kesulitannya dalam menelaah naskah-naskah tersebut, antara lain: perbedaan dan persamaan pada episode yang sama, penanda batas awal dan batas akhir masing-masing adegan dalam episode tersebut, serta pencarian naskah lain yang menjelaskan sebab dan akibat dari adegan-adegan yang terjadi dalam episode RW. Penulisan lontaraq dan penggunaan kata-kata dalam ketujuh naskah yang sudah berumur ratusan tahun ini juga ikut ditelaah sebab dapat memberikan informasi mengenai kapan dan di mana kira-kira naskah tersebut dibuat ataupun disalin.

Jika telaah naskah menjadi inti dalam bab II, telaah struktur kini menjadi perhatian utama dalam bab III. Mengapa RW dikategorikan sebagai sureq dan bukannya lontaraq? Dari sifatnya, sureq itu mengindikasikan sastra, sedangkan lontaraq mengindikasikan pustaka. Sureq dibaca sambil berlagu, sedangkan lontaraq tidak. Dari segi indikasi dalamnya, sureq berisikan cerita, sedangkan lontaraq menurut Cense adalah naskah tulis tangan yang biasanya berisi silsilah, catatan harian, atau kumpulan berbagai catatan, terutama yang menyangkut sejarah. Unsur yang memegang peranan penting dalam I La Galigo adalah ceritanya sebab jenisnya adalah puisi cerita yang memiliki rangkaian peristiwa kronologis yang memiliki akhir.

Episode RW hanya merupakan sepotong episode, namun memiliki awal dan akhir sendiri. Setiap episode dalam I La Galigo sepertinya mengangkat tema yang berbeda-beda, meskipun ada juga yang memiliki tema yang sama. Mengenai latar, epidose RW kebanyakan berlatar tempat atau negeri. Tempat berpusat di istana Luwuq dan Wareq, Mangkuttu sebagai tempat pohon Welenrenng tumbuh, dan pelabuhan Luwuq sebagai pintu gerbang kerajaan tersebut. Negeri menjadi latar dari para pengawal yang diminta untuk menemani Sawerigading ke Cina, dan negeri yang rajanya diundang untuk menghadiri acara di Wareq. Mengenai bahasa dan periodus, I La Galigo banyak menggunakan kata yang tidak dipakai lagi dalam bahasa Bugis sekarang, seperti daramose = bantal seroja dan sinrangeng = usungan.

Selesai membahas telaah struktur, buku ini berlanjut ke bab IV yang merupakan bab kesimpulan. Di sini, penulis menyimpulkan uraian dan penjelasan yang telah dibahas dari bab I hingga bab III. Fachruddin Ambo Enre cukup bagus dalam menyusun bab ini sebab kesimpulannya dijabarkan melalui poin-poin yang memang menjadi intisari dari tiap babnya sehingga dapat dengan mudah dimengerti. Buku ini ditutup dengan bab V yang merupakan edisi naskah dan terjemahan dari episode RW.

Oleh: Gus Awis

Qiroat Mutawatirah bukanlah hasil ijtihad seseorang, ia adalah wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW dari Allah melalui perantara Jibril, lalu dibacakannya kepada  para sahabat-sahabat beliau, lalu oleh para sahabat beliau, bacaan itu diajarkan kepada para tabiin melalui talaqqi dan musyafahah yang pada akhirnya diterima oleh para imam muqri' yang kemudian meletakkan dasar-dasar bacaannya dan kaidah-kaidahnya berdasarkan apa yang telah mereka terima dari para tabiin guru-guru mereka. Oleh karenanya bacaan-bacaan ini lalu dinisbatkan kepada mereka. 

 

Qiroat-qiroat Al Qur'an sejak lama telah mendapatkan porsi perhatian yang besar dari para ulama, bermacam-macam usaha mereka dalam mengkaji dan melestarikan bacaan-bacaan ini, mereka menyusun berbagai kitab yang memuat tata cara bacaan qiroat-qiroat tersebut baik dengan metode al-Jam'i(penggabungan) ataupun at-Tafriidi(satu persatu) yang memuat karakteristik masing-masing bacaan dan cara membacanya. 

 

Di antara tokoh penting ulama yang menyusun kitab tentang qiroat adalah Imam Abu al Qasim as Syathibi yang menyusun bait-bait nadzam tentang qiroat mutawatirah berjumlah 1173 bait yang beliau beri judul: "حرز الأماني ووجه التهاني". Bait-bait nadzam ini termasuk nadzam terbaik yang menyajikan ilmu qiroat. Ia sangat terkenal, tersebar dan diterima di berbagai masa dan penjuru dunia. Para ulama menganggap nadzam ini sangat penting dan menjadikannya rujukan utama dalam kajian qiroat, tak jarang para syekh al muqri' merekomendasikan nadzam ini untuk dihafalkan oleh para murid dan santrinya. Usaha para ulama untuk menjelaskan nadzam ini juga nampak dalam syarah-syarah yang ditulis mereka terhadap nadzam ini, tidak kurang dari 60 syarah telah ditulis oleh para ulama dalam rangka menjelaskan bait-bait nadzam ini, sebagian ulama yang lain menyendirikan masing-masing bacaan dari para imam yang diambilkan dari bait-bait ini. Singkatnya nadzam ini telah menjadi dasar-dasar utama yang dijadikan pegangan dan sandaran oleh para ulama dalam mempelajari qiroat.

 

Dan di antara sebagian ulama yang juga mengkaji bait-bait nadzam ini dan berusaha menyimpulkan sebagian isinya adalah Ust. Dana El-Dachlany yang telah bersusah payah menyendirikan dari bait-bait nadzam as Syathibiyyah ini bacaan Imam Ashim riwayat Syu'bah (yang biasa kita baca adalah riwayat Hafsh), lalu ia kumpulkan menjadi satu kitab khusus sesuai urutan ayat dalam mushaf, yang ia beri nama "نيل النبيلة في تيسير رواية الإمام شعبة". Dan sebagaimana diisyaratkan oleh judulnya, kitab ini ditulis untuk memudahkan para pelajar ilmu qiroat mengetahui letak-letak perbedaan bacaan, khususnya perbedaan antara bacaan riwayat Hafsh dan riwayat Syu'bah. Di awal kitab ini penulis juga menyajikan dasar-dasar dan kaidah bacaan riwayat Syu'bah. 

 

Meskipun pelajar qiroat harus belajar secara talaqqikepada seorang guru dan mempelajari bacaan secara langsung dari gurunya, keberadaan kitab ini dalam proses belajar tersebut tetap akan sangat membantu pelajar dalam menguasai qiroat-qiroat asyr mutawatirahkhususnya yang dijelaskan dalam nadzam Imam Syathibi. 

 

Mulai banyaknya pelajar-pelajar Indonesia yang belajar secara langsung (talaqqi) dari Masyayikh Qurra' di Timur Tengah yang bersanad, dan lalu menulis beberapa kitab yang memudahkan belajar qiroat dengan menggunakan bahasa Arab, menumbuhkan keyakinan bahwa regenerasi masyayikh qiroat tetap berlangsung di negeri ini, dan beberapa tahun yang akan datang, Insya Allah Indonesia akan menjadi salah satu kiblat kajian ilmu qiroat dan salah satu negara persemaian ulama-ulama qiroat internasional. Saya semakin yakin ketika saya membaca di atas judul kitab ini ada tulisan "silsilah taysir al qiroat al asyr (1)". Angka 1 menunjukkan bahwa ini bukan kitab terakhir muallif. 

 

Semoga Allah memudahkan muallif kitab ini untuk melanjutkan menulis tentang qiroat-qiroat yang lain, dan semoga kajian qiroat mutawatirah semakin semarak di Indonesia dalam rangka melestarikan jerih payah para ulama Al Qur'an telah mendahului kita dengan pengabdian mereka yang tulus untuk negeri tercinta ini.


Katalog:
Kumpulan Muqarrar kuliah di Maroko
Kumpulan kitab karya Ulama Nusantara
Kumpulan kitab karya Sabah Ghumariyah
Kumpulan kitab-kitab lainnya


Seorang filsuf Perancis, Blaise Pascal pernah menyatakan bahwa semua masalah kemanusiaan berasal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk sendirian dalam sebuah ruang. Ketidakmampuan tersebut muncul dari kesadaran akan keterbatasan gerak dalam kebebasan bertindak. Menciptakan diskursus melalui asumsi-asumsi masyarakat yang membangun konsep suatu kultur, sehingga mempengaruhi perilaku dan kebiasaan masyarakat tertentu. 


Dalam Madness and Civilization, Michel Foucault mengembangkan konsep diskursus dalam menyingkap perubahan suatu masalah. Kegilaan di abad pertengahan dianggap memiliki kebijaksanaan batiniah, sedangkan pada abad ke-20 orang gila dianggap sakit sehingga membutuhkan perawatan. Kini di era milenial, ketika jarak dipandang sebelah mata dan ruang dianggap tak lagi bermakna, corona hadir menciptakan diskursus. Jarak menjadi sangat penting dan ruang menjadi tantangan.


Istilah corona bemakna mahkota, diambil dari bentuk fisik virus yang menyerupai mahkota. Coronavirus Disease2019 atau Covid-19 dikenal sebagai virus yang muncul pertama kali di Wuhan. Sejak 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), menetapkan keadaan pandemic akibat penyebaran virus ini yang meluas ke berbagai negara. Pandemic berasal dari Bahasa Yunani, pan yang berarti semua dan demos yang bermakna orang. Status sebuah penyakit menular akan ditingkatkan dari epidemic menjadi pandemic ketika penyebarannya sudah meluas melewati batas negara hingga benua dan dampak mematikannya membahayakan manusia dalam jumlah tak terhingga.


Akibat dari meluasnya virus ini, beberapa negara menerapkan isolasi atau lockdown agar penyebarannya tidak semakin meluas dan membahayakan manusia. Jalanan menjadi sepi, disinfektan mencegah infeksi dan manusia mengisolasi diri. Hal tersebut membuat udara bersih dari polusi dan air kanal terlihat jernih, bumi seakan terlahir kembali. Corona dianggap virus mematikan bagi manusia, namun menjadi vaksin efektif dalam membersihkan bumi.


Status pandemic bukan hal baru dalam sejarah umat manusia, sudah berulang kali situasi tersebut ada. Michael W. Dols dalam Plague in Early Islamic History, mengulas tiga pandemic besar yang menimpa umat manusia, yaitu: Wabah Yustinianus (Plague of Justinian) 541-542 M, Maut Hitam (Black Death)1347 – 1351 M dan Wabah Bombay (Bombay Plague)1896 – 1897 M. 

 

Ruang Beragama 

Pemerintah melalui kementerian, lembaga dan aksi berbagai pihak berusaha menanggulangi dampak Covid-19 sesuai standar kesehatan dunia. Tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan wabah ini masih berupaya menemukan vaksin yang dapat mengobati Covid-19. Otoritas kesehatan menghimbau agar masyarakat melakukan isolasi diri agar terhindar dari infeksi. Para dokter sepakat bahwa pola penularan Covid-19 ini adalah melalui kontak antar-orang baik secara langsung atau melalui media perantara. 


Oleh karena itu, pemerintah menyeru agar belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan ibadah dari rumah selama 14 hari sampai krisis wabah mereda. Instusi pendidikan mengganti segala aktivitas belajar-mengajar secara online, otoritas perusahaan menjaga jarak pekerjanya dan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa nomor 14 tahun 2020 tentang “Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19”.  Dalam fatwa itu MUI menyerukan untuk meniadakan salat Jumat dan ibadah berjamaah lainnya di masjid yang terletak di zona merah Covid-19 dan menggantinya dengan salat Zuhur di rumah masing-masing.


Terselip narasi dan aksi atas nama agama yang justru kontra produktif dengan logika dan edukasi para ahli medis berikan. ‘Saya lebih takut pada Tuhan, kalau sudah takdir-Nya di manapun akan mati’. Jangankan mematuhinya, sebagian kelompok kecil masyarakat justru menyeru menggalakkan gerakan salat berjamaah meski di tengah wabah. Di salah satu masjid, salat Jumat ditiadakan, tapi sekelompok kecil masyarakat tersebut tetap ke masjid untuk melakukan salat zuhur yang melibatkan kerumunan.


Virus Corona pun dinarasikan sebagai konspirasi iblis, jin dan setan untuk menjerumuskan manusia. ‘Kami tidak takut corona, kami lebih takut pada Tuhan’, ungkapan ini berkali-kali digelorakan. Sepintas tampak semangat beragama, tapi sesungguhnya menjauhkan dari esensi agama, yakni memuliakan manusia dan mencegah tersebarnya virus.


Agama datang untuk kemaslahatan. Fatwa telah tersampaikan atas dasar kemaslahatan umat, akankah umat masih mempercayai seruan sekelompok kecil masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan bertingkah tanpa dasar ilmu? Kemaslahatan dapat tegak dengan terlindungnya tiga aspek, dharuriyah, hajiyah dan tahsiniyh. Dalam aspek dharuriyahterkandung lima keniscayaan yang harus dipelihara, yaitu agama, jiwa, keturunan, harta dan kehormatan.


Mendahulukan agama tanpa mempertimbangkan kerusakan dan kehancuran semua dimensi dharuri yang lain tidak dapat dibenarkanPenghentian sementara kegiatan keagamaan yang melibatkan massa dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Keputusan tersebut berimbas bukan hanya melindungi nyawa saja, tetapi juga keturunan, menjaga harta dan juga memelihara kehormatan kemanusiaan dan agama.

 

Ruang Masa Lalu

Bangsa Eropa pernah mengalami masa kelam akibat sikap fanatik sebagian umat beragama menyikapi pandemic The Black Death.Saat otoritas Eropa kehabisan ide dalam mengatasi wabah, masyarakat putus asa. Mereka mulai mengaitkan bahwa umat Yahudi adalah pembawa petaka, hingga Tuhan pun murka. Narasi ini berhasil memprovokasi kelompok ekstrem dalam menafsir agama. Hal ini senada dengan narasi ‘corona sebagai azab’ yang digaungkan untuk membenci kelompok, golongan, ras atau negara tertentu.


Sumber-sumber Arab sesungguhnya telah mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menyikapi pandemic. Sebagaimana Umar bin Khattab yang kembali ke Madinah dan membatalkan kunjungannya ke Damaskus yang sedang diserang wabah. Nabi dan orang-orang suci tidak kemudian menantang wabah atas nama tauhid atau bersikap sembrono atas kebodohan ‘hanya takut pada Allah’. 


Filolog Oman Fathurrahman kemudian menjelaskan bagaimana Ibnu Hajar al-‘Asqalani menulis kitab Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un. Ia menjauhi sikap pasrah dan menyerah pada takdir Allah. Memperlakukan pandemic sebagai inspirasi dan menuangkan pandangan keber-agama-annya dalam bersikap secara rasional dalam menghadapi wabah. Karya tersebut dipersembahkan untuk mengingatkan sesama tentang wabah yang mematikan. Sekaligus tidak ingin kematian ketiga putrinya sia-sia, Fatimah, Aliyah dan Zin Khatun yang sedang hamil. Mereka menjadi martir bagi nyawa manusia lainnya.


Karya al-‘Asqalani ini telah ditahqiqoleh seorang filolog bernama Ahmad Ishom Abd al-Qadir al-Katib. Ia mengulas detil tentang definisi tha’un(wabah) termasuk Black Death di Eropa, baik secara metafisis maupun medis, jenis-jenisnya, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban dan yang paling penting bagaimana beragama tanpa mengabaikan kemanusiaan dalam menyikapi wabah.

Setiap peristiwa dalam hidup menentukan keputusan. Keputusan yang diambil menentukan baik atau buruk dalam kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan atau kesedihan di masa yang akan datang. Tidak setiap yang baik menimbulkan kebahagiaan dan tidak setiap yang buruk menghasilkan kesedihan. Kebahagiaan dan kesedihan pada hakikatnya bermuara pada titik yang sama, sedangkan kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana setiap hati memaknainya.   

Kebahagiaan yang didambakan banyak orang dan kesedihan yang tak diinginkan seorang pun, menjadi dua hal yang saling melengkapi. Kesedihan sebagai bagian dari kebahagiaan yang kurang disyukuri. Tidak berlebihan jika Ibnu Athaillah as-Sakandari menyatakan dalam kitabnya Al-Hikam bahwa hati mempunyai dua kondisi, syukur dan sabar. Jika seseorang kurang bersyukur atau lupa bagaimana cara bersyukur dalam setiap keadaan, maka hati harus bersiap menghadapi peristiwa-peristiwa yang membuatnya harus bersabar. Demikian juga Al-Ghazali yang menyatakan bahwa jika seseorang ragu-ragu, maka bertanyalah pada hatimu.

Hati seakan tercipta sebagai indikator kebenaran. Tidak sedikit tragedi atau peristiwa yang menyentuh hati sebagai akibat dari pemaknaan apa itu benar. Nama lain dari kebenaran itu sendiri adalah sumpah yang ditransformasikan dari kata-kata menjadi kenyataan. Sumpah sebagai upaya menguatkan hati dalam meneguhkan kebenaran kata-kata dan keyakinan hati. Hal itu menjadi tonggak perubahan ke arah yang lebih baik, ketika keyakinan dalam hati diungkapkan dengan kata-kata dan diwujudkan dalam tindakan.

Tertulis dalam sejarah perjalanan umat manusia bahwa aktor perubahan tersebut adalah pemuda. Budaya yang beragam dan keyakinan yang tak sama menuliskan pemuda dengan cara yang berbeda-beda. Kekuatan dan kesungguhan pemuda menjadi inspirasi dan awal dimulainya sejarah baru. Peradaban yang mengusung semangat perubahan dan pantang menyerah. Harapan yang menjadi penggerak dalam menciptakan hidup yang berkeadilan. 

Pemuda dilihat dari bagaimana mewujudkan sumpah dan memegang kata-kata. Untuk itu perlu bagi pemuda untuk membekali diri dengan wawasan, pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal merealisasikan sumpah. Banyak rintangan akan menghadang dan tantangan akan selalu ada, tapi kesungguhan dan pengalaman akan mengalahkan semua itu. Belajar dari banyak guru dan berguru dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai upaya menambah wawasan dan meningkatkan keterampilan. Semangat untuk terus maju, karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa. Semangat tersebut sebagai spirit Surajaya. Perjalanan menjadi diri sendiri yang autentik, karena menjadi diri sendiri meski tak sempurna jauh lebih baik dari pada meniru orang lain secara sempurna. Kesadaran akan ketaksempurnaan dalam diri sebagai awal dimulainya perjalanan panjang spirit Surajaya.

Sumpah sebagai ekspresi kesungguhan. Pembuktian kebenaran akan kata-kata dan keyakinan dalam hati. Berbagai tradisi dan budaya menjadikan sumpah sebagai pondasi dasar akan kesetiaan. Tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa sumpah akan membawa seseorang dalam kebaikan, tentu dalam konteks kebenaran. Mengajarkan akan pentingnya kesetiaan dan pengabdian.

Yesus menekankan pentingnya akan memegang sumpahTertulis dalam sabdanya:

“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, atau pun demi Yerussalem, karena Yerussalem adalah kota Raja Besar. Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5: 33-37)

Dari ayat ini Yesus mengajarkan akan ketegasan. Menunjukkan bahwa sumpah akan dipertanggungjawabkan di depan Tuhan. Tidak ada daya dan kekuatan dalam menjalankan atau membuktikan sumpah tanpa kuasa-Nya.

 

Sementara dalam ajaran Hindu, sumpah menjadi sesuatu yang tidak mudah. Ada pengorbanan yang harus dilalui dengan kerelaan dalam hati. Tertulis dalam kitab suci Veda:

“Drauya-yajnas tapo yajna, yoga yajnas tathapare, svadhyaya-jnana-yajnasca, yatayah samsita-vratah.”(Bhagavad-gita 4.28)

Para Yati, yang melakukan sumpah suci dengan tegas, ada yang mengorbankan harta benda sebagai persembahan suci yajna. Ada yang melaksanakan pertapaan berat mempraktikkan yoga, mempelajari secara pribadi kitab-kitab suci Veda, dan ada yang melaksanakan korban suci yajna dengan menyebarkan pengetahuan-pengetahuan suci.

Dalam ajaran Buddha, seorang Sakka harus mengambil tujuh sumpah. Ketujuh sumpah tersebut sebagai wujud syukur akan nikmat kehidupan. Pengabdian sebagai jalan menuju pencerahan pondasi kebenaran. Masyhur di antara para Sakka ayat berikut ini:

“Di Savatthi, para bhikkhu di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia mengambil tujuh sumpah, yang dengan memenuhinya ia memperoleh status sebagai Sakka. Apakah tujuh sumpah itu? Seumur hidupku, aku akan menyokong orang tuaku, menghormati saudara-saudara tuaku, berbicara dengan lembut, tidak berbicara yang bersifat memecah-belah, bersikap dermawan, tangan terbuka, gembira dalam berbagi dan bermurah hati, membicarakan kebenaran, serta terbebas dari kemarahan.” (493)

Sedangkan dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dengan menunjukkan hal-hal penting melalui sumpah. Kalimat sumpah seakan menegaskan arti pentingnya hal tersebut dalam menjalani kehidupan. Allah bersumpah dalam banyak hal dalam Al-Quran, dengan dzat dan makhluk-Nya. Salah satu sumpah dengan makhluk diantaranya demi masa, demi waktu dhuha dan demi waktu malam. 

Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam hidup. Tak bisa diulang atau diatur sedemikian rupa oleh manusia. Berjalan konstan tanpa perlambatan atau percepatan. Beruntung siapa saja yang menggunakan waktu dengan disiplin dan tak membiarkan waktu terbuang percuma. Maka tidak berlebihan jika Al-Ghazali menyatakan bahwa yang harus dihindari oleh pemuda adalah sendirian dan waktu luang.

Gadjah Mada sosok pemuda yang menggunakan hidupnya untuk belajar, berlatih dan menggunakan waktu secara disiplin. Sehingga ketika menerima amanah sebagai patih, menjadi sosok yang tangguh dalam merealisasikan sumpahnya. Mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji Merah-Putih. Sumpah Amukti Pallapa yang menjadi cikal bakal peradaban baru yang kini disebut sebagai bangsa Indonesia. 

Sumpah Amukti Pallapa menjadi ruh dan bertransformasi pada tanggal 28 Oktober 1928. Pemuda dari seluruh penjuru Nusantara bergerak, menyatukan suaranya untuk membangun spirit kesetaraan. Kesadaran akan persatuan dan kesadaran akan kesamaan kedudukan sebagai manusia. Tak perlu ada lagi penindasan, perampasan dan pertumpahan darah di bumi Nusantara. Semangat persatuan tersebut dikenal sebagai Sumpah Pemuda, bersumpah sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pemuda sebagai penggerak dan pembawa perubahan. Dalam lembar sejarah manusia telah tertulis bahwa lahirnya suatu peradaban baru di muka bumi tak terlepas dari peran pemuda. Alexander Graham Bell bersama teman-temannya dengan berpacu teknologi, menggerakkan revolusi industry di Inggris. Penggulingan Raja Louis XVII dalam revolusi Perancis, digerakkan oleh pemuda. Perjuangan merebut kemerdekaan, peristiwa 10 November, dan perjalanan politik Indonesia, digerakkan oleh pemuda.

Spirit pantang menyerah menjadi identitas pemuda. Di belahan dunia manapun, dari Sumpah Amukti Pallapa hingga Sumpah Pemuda dan berujung Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia, spirit pantang menyerah menjadi unsur utama lahirnya perubahan. Perang sudah berakhir, namun perubahan ke arah yang lebih baik harus terus menerus diusahakan. Dengan spirit pantang menyerah, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. 

Surajaya sebagai spirit pantang menyerah yang harus dimiliki oleh setiap pemuda. Kata ini diabadikan menjadi nama stadion di Lamongan. Sebagai markas tim sepak bola kebanggaan masyarakat Lamongan. Jika ditelusuri lebih lanjut, nama ini diambil dari gelar yang diberikan Sunan Giri IV atau Sunan Prapen kepada Mbah Lamong. Masyarakat Lamongan mengenal Mbah Lamong dengan Rangga Hadi. Seorang santri cerdas yang dipercaya Sunan Prapen untuk memimpin wilayah keranggaan yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Lamongan.

Di samping itu, Surajaya juga ditemukan dalam manuskrip kuno. Manuskrip Kidung Surajaya sebagai salah satu naskah Merapi-Merbabu menceritakan tentang spirit pantang menyerah. Kisah perjalanan seorang murid lelana brata berkunjung dari guru satu ke guru yang lain untuk belajar. Perjalanan Surajaya juga bermakna thirtayatra yang bermakna seorang murid haruslah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengasah keilmuannya.

Dalam Kidung Surajaya, diceritakanlah sosok Ki Singamada yang sedang bersedih karena orang tuanya, penguasa Majapahit telah meninggal. Untuk menghibur diri, berjalanlah Ki Singamada dari Kutaraja menuju gunung-gunung berhutan. Dalam perjalanan pengembaraannya tersebut Ki Singamada banyak bertemu dengan para guru yang memberikannya nasehat-nasehat.

Perjalanan Ki Singamada tidak dilalui dengan mudah. Dalam pengembaraannya Ki Singamada mengalami kisah asmara dengan Ni Tejasari, seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Selain itu, Ki Singamada juga banyak pengagum dari kalangan perempuan. Ki Singamada juga bertemu dengan Ragasamaya, sosok yang menjadi penasehat dan penghibur sepanjang perjalanan. Di penghujung perjalanan, mereka berpisah, Ki Singamada melanjutkan tapa bratanya sedangkan Ragasamaya memilih menjadi petani. Pada akhirnya, Ki Singamada berhasil moksa, sedangkan Ragasamaya gagal karena pikirannya masih terikat duniawi. Cerita diakhir dengan kembalinya Ni Tejasari ke kahyangan yang disambut oleh para bidadari.

Sumpah sebagai representasi tekad dan wujud kesungguhan. Pembuktian kebenaran akan kata-kata dan keyakinan dalam hati. Berbagai tradisi dan budaya menjadikan sumpah sebagai pondasi dasar akan kesetiaan yang akan membawa seseorang dalam kebaikan dalam konteks kebenaran. Mengajarkan akan pentingnya kesetiaan dan pengabdian.

Pemuda dilihat dari bagaimana mewujudkan sumpah dan memegang kata-kata, sebagai penggerak dan pembawa perubahan. Dalam lembar sejarah manusia telah tertulis bahwa lahirnya suatu peradaban baru di muka bumi tak terlepas dari peran pemuda. Spirit pantang menyerah menjadi identitas pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. 

Surajaya sebagai spirit pantang menyerah yang harus dimiliki oleh setiap pemuda. Untuk itu perlu bagi pemuda untuk membekali diri dengan wawasan, pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal merealisasikan sumpah. Banyak rintangan akan menghadang dan tantangan akan selalu ada, tapi kesungguhan dan pengalaman akan mengalahkan semua itu. Belajar dari banyak guru dan berguru dari satu tempat ke tempat yang lain. Kesadaran akan ketaksempurnaan dalam diri sebagai awal dimulainya perjalanan panjang spirit Surajaya.

SUBSCRIBE & FOLLOW