Setiap orang tentu mempunyai keinginan untuk melanjutkan pendidikan. Meskipun sebenarnya pendidikan bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Yang terpenting adalah bagaimana keinginan tersebut berubah menjadi kesadaran bahwa belajar merupakan kewajiban dari buaian hingga liang lahat. Secara kultural, pendidikan terbaik ada di tengah-tengah masyarakat. Sedangkan secara structural ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui setiap manusia berupa ujian atau pembuatan karya ilmiah. Jika belum mendapatkan kesempatan untuk melalui proses pendidikan secara structural, maka akan lebih baik untuk belajar menulis ilmiah. Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan, di zaman terbukanya rahasia seperti sekarang ini, pengetahuan harus diimbangi dengan pola komunikasi yang baik. Pengetahuan bisa didapatkan di mana saja, tetapi yang paling menentukan adalah komunikasi.

Salah satu jalan untuk mempermudah jalan mendapatkan pendidikan structural adalah dengan mendapatkan beasiswa. Berbagai beasiswa ditawarkan, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri. Yang perlu diingat adalah tidak ada makan siang gratis. Penyedia dana beasiswa mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Pihak asing memberikan sesuatu untuk mendapatkan umpan balik. Sedangkan penyedia dana yang bersumber dari dalam negeri tujuan utamanya adalah membangun Indonesia ke arah yang lebih baik.

Sesuai dengan judul artikel ini, saya akan mengulas tiga pertanyaan pamungkas penyedia dana pendidikan yang bertujuan untuk membangun Indonesia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai tahapan akhir seleksi dari sekian banyak tahapan. Namun, pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya tidak hanya ketika proses beasiswa saja, tetapi juga perekrutan pejabat negara seperti CPNS, anggota kerohanian Tentara Nasional Indonesia, dll. Pertanyaan tersebut diantaranya:

Siapa Ustadz Favoritmu? / Apa buku yang paling kamu sukai?
Setiap orang tentu mempunyai jawaban masing-masing. Namun, untuk menjawab pertanyaan ini akan lebih baik jika tidak menyebutkan orang-orang yang dikenal kontroversial di tengah-tengah masyarakat, atau pimpinan organisasi tertentu dimana organisasi tersebut membuat kegaduhan di masyarakat. Intinya, masyarakat adalah koentji. Jika masih kurang, bisa datangi kantor kepolisian terdekat untuk menanyakan sosok-sosok bermasalah atau dalam pengawasan intelejen.

Bagaimana jika Indonesia dijadikan Negara Khilafah?
Jika tak mau berbelit-belit, jawab saja NKRI harga mati. Bisa dikembangkan dengan cerita pengalaman pribadi menghadapi gerakan-gerakan transnasional yang meresahkan masyarakat. Awali atau akhiri dengan pernyataan pencetus Resolusi Jihad sebagai cikal bakal pertempuran 10 November,”Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan, Nasionalisme bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.” Rasulullah tidak pernah mewajibkan mendirikan Negara Islam, tapi memberikan tauladan memimpin negeri kedamaian.

Bagaimana jika pemerintah melegalkan LGBT?
Tidak Sepakat. Karena dalam berbagai kitab suci agama-agama, tidak satupun yang memperbolehkan hubungan sesame jenis. Baru kemudian ceritakan secara panjang lebar kisah-kisahnya dalam kitab suci masing-masing agama. Jika mempunyai latar belakang kesehatan, bisa dilengkapi dengan penelitian-penelitian sains.

"Selama kita tidak pernah mengikuti organisasi-organisasi terlarang dan tidak mengikuti sosok kontroversial yang meresahkan masyarakat, akan lancar." Demikian pesan salah seorang pimpinan kerohanian Tentara Nasional Indonesia yang bermarkas di Malang. Dan menjadi diri sendiri adalah koentji. Semoga sukses! Setelah membaca tulisan ini berjanjilah untuk belajar secara terus-menerus baik secara structural maupun kultural.


Asal usul kesenian Reog berasal dari cerita rakyat yang berkembang di Jawa Timur sebelum masuknya Islam ke Jawa. Terdapat beberapa versi ceritanya, namun dua versi utama yaitu pada jaman Kerajaan Bantarangin dan versi jaman Majapahit. Cerita yang ditulis di atas adalah versi Kerajaan Bantarangin, yang ada jauh sebelum Kerajaan Majapahit, diceritakan kembali oleh Bapak Agus Reog, seorang tokoh kesenian Reog yang tinggal di Sukodono Sidoarjo dan salah satu pendiri perkumpulan Reog di Ponorogo.

Sayembara Dewi Songgolangit inilah yang kita kenal sekarang sebagai Reog, iring-iringan serah-serahan pengantin yang dibawa oleh Prabu Kelono Siwandono berupa tontonan yang belum pernah ditampilkan. Tontonan tersebut terdiri dari 140 prajurit dengan menaiki kuda putih yang seragam sebagai pembuka jalan Singobarong dengan dadak merak yang ada di kepalanya yang merupakan jelmaan Pangeran Singobarong dengan abdi kinasinya atau dayang yang setia kepada Singobarong. Singobarong ini dinaiki oleh Prabu Kelono Siwandono dengan diiringi patihnya yang menari yaitu Pangeran Kelono Siwanjoyo dan musik gamelan.

Kisah ini dilatarbelakangi pada masa kerajaan Kadiri sebelum masuknya pengaruh Islam di Nusantara. Kerajaan Kadiri merupakan pecahan dari Kerajaan Kahuripan. Disebutkan dalam Prasasti Wurare yang berangka tahun 1211 C atau 1289 M, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua yaitu Kerajaan Janggala dengan ibukota Kahuripan dan Kerajaan Panjalu atau Daha di Kadiri. Tetapi Serat Kanda menyebutkan Kerajaan Airlangga dipecah menjadi beberapa kerajaan kecil, namun yang terkenal adalah Kadiri dan Janggala. Serat Kanda diperkuat dengan prasasti Malenga dan Banjaran (Darmoseotopo, 2013:49). Ini juga menguatkan asumsi bahwa Kerajaan Bantarangin kemungkinan letaknya ada di lokasi  yang kita sebut sekarang sebagai kota Ponorogo.

Cerita Reog pada masa Majapahit berbeda dengan cerita sebelumnya yang berlatarbelakang kerajaan Kadiri. Kisah Reog versi Majapahit berlatar belakang pada masa masa akhir runtuhnya kerajaan Majapahit dan masuknya Islam.

Tersebutlah Ki Ageng Kutu Suryongalam, seorang abdi di Kerajaan Majapahit yang kecewa dengan pemerintahan Brawijaya V yang sibuk dengan urusan perempuan dan tidak perhatian pada urusan kerajaan. Kekecewaan ini dilampiaskan dengan membuat kelompok pertunjukan barongan yang terbuat dari kulit macan, dan diatas kepala macan tersebut bertengger burung merak. Kepala macan melambangkan Brawijaya V, sedangkan merak yang bertengger di kepala macan melambangkan para istri Brawijaya V yang sangat mempengaruhi kehidupan Brawijaya V sehingga lupa akan tugasnya sebagai raja. Untuk melindungi kelompok kesenian ini dibuatlah pasukan prajurit yang terlatih dan mempunyai ilmu yang tinggi dalam olah kanuragan yaitu warok. Sementara itu yang berada di balik topeng dengan wajah merah adalah Ki Ageng Kutu Suryangalam. Kepopuleran kesenian ini membuat Prabu Brawijaya V marah dan memerintahkan menyerang kelompok kesenian ini. Meskipun kelompok kesenian ini berhasil dicerai beraikan, para murid Ki Ageng Suryongalam tetap melanjutkan kesenian ini.

Karena ketidakmampuan Raja Brawijaya V dalam memerintah dan pengaruh kuat dari para istrinya dalam mengambil kebijakan di dalam Kerajaan Majapahit, maka banyak kerajaan kecil di dalam wilayah kekuasaannya memisahkan diri, termasuk kerajaan Demak yang dipimpin oleh Raden Patah di Bintoro yang juga merupakan putranya sendiri  dengan Putri Campa. Demi menghindari pertempuran dengan putranya, Prabu Brawijaya V mengungsi ke lereng Gunung Lawu, dalam pelariannya Prabu Brawijaya V disertai oleh   abdi kinasih yang melayaninya sejak kecil yaitu Sabdopalon dan Nayogenggong.  Lereng Lawu adalah tempat terakhir Brawijaya V yang kemudian membuat perguruan dengan dirinya sebagai pemimpinnya dengan nama Ki Hajar Lawu Brawijaya.

Selain Raden Patah, Brawijaya V mempunyai 50 putra dari para selirnya, salah satunya Batoro Katong putranya dari selir yang berasal dari Bagelen Mataram. Batoro Katong berguru pada kakaknya Raden Patah di Demak, yang dikemudian hari setelah menyelesaikan ilmunya, diutus oleh Raden Patah untuk ke wilayah timur yaitu Ponorogo. Bataro Katong pada akhirnya dapat membuat pemerintahan baru di Ponorogo dan menggunakan kelompok kesenian yang dibuat oleh Ki Ageng Kutu Suryongalam yang pada masa pemerintahan ayahnya berhasil dibubarkan. Kelompok kesenian yang semula digunakan sebagai  media mengkiritik sang penguasa, oleh Batoro Katong digunakan sebagai alat untuk mengembangkan kekuasaannya yang sudah di pengaruhi oleh Islam di Kadipaten Ponorogo dengan dibantu oleh Ki Ageng Mirah. 

Batoro Katong adalah tokoh legenda karena keaslihan tokohnya belum dapat dibuktikan dalam sejarah, namun makamnya dapat dijumpai di kampung Katongan di sebelah timur alun-alun kota Ponorogo, sebagai penanda lahirnya kota Ponorogo. Kisah versi ini jika ditelusuri dalam sejarah pada Babad Tanah Jawa menyebutkan kerajaan Majapahit runtuh karena serangan dari kerajaan Islam Demak dan ditandai dengan sengkalan sirna ilang kertaning bumi 1400 C atau 1478 M,  tetapi sumber lain pada tahun tersebut Bhre Kertabumi gugur di keraton Majapahit  karena serangan dari Dyah Ranawijaya, anak Bhre Pandan Salas. Jadi penguasaan Majapahit bukan oleh Pati Unus dari kerajaan Islam Demak (Darmoseotopo, 2013:59).

Sedangkan cerita tentang Warok, merupakan cerita yang berdiri sendiri dan ada sebelum muncul Reog. Warok adalah seorang prajurit tangguh dengan segala kesaktiannya yang sangat mumpuni. Cerita ini berlatarbelakang Kadipaten Wengker pada masa Kerajaan Majapahit yang diceritakan oleh Pak Bandi tokoh budaya dari Trowulan yang juga seniman Reog dan Pak Agus Reog, tokoh kesenian Reog yang tinggal di Sukodono Sidoarjo dan salah satu pendiri perkumpulan Reog di Ponorogo.

Grup kesenian Reog Ponorogo terdiri atas penari dan penabuh gamelan berjumlah  sekitar 20 sampai dengan 30 orang, yang pada tampilannya ada urut-urutannya, yaitu warok, jatilan, ganongan, Prabu Kelono Siwandono dan yang terakhir Barongan atau Reog. Sebagai urutan pertama penampilan warok menampilakan beberapa warok yang berbadan besar dengan berpakaian dan berikat kepala hitam serta berikat pinggang yang terbuat dari tali dengan baju yang kacingnya  terbuka dan memegang cemeti yang dimainkan sesuai dengan iringan tabuhan. Penampilan warok yang berbadan besar oleh para narasumber dianggap sebagai kepantasan agar warok tampil angker dan disegani.

Jatilan atau jaran kepang sebagai penampil kedua, merupakan perwujudan 140 prajurit dengan kuda putih yang seragam dalam mengiringi Prabu Kelono Siwandono pada waktu melamar putri Kadiri yang bernama Dewi Songgolangit. Jatilan yang dulu ditarikan oleh pria, namun tahun 1992 ditarikan oleh wanita agar lebih gemulai. Kemudian setelah Jatilan, Ganongan muncul yang ditarikan oleh pria dengan menggunakan topeng berwajah merah dan atraksi jungkir balik yang menggambarkan kegembiraan patih dan juga adik Prabu Kelono Siwandono yaitu Pangeran Kelono Siwanjoyo atas keberhasilan kakaknya melamar Dewi Songgolangit.

Setelah Ganongan, Prabu Kelono Siwandono menari dengan menggunakan topeng dan memainkan pecut samandiman yang digunakan untuk mengalahkan Pangerangan Singobarong. Kemudian Reog atau barongan adalah penampil terakhir dalam iringan kesenian ini, yaitu dengan 1 sampai 3 orang pria yang mengenakan topeng besar yang berbobot 50 sampai dengan 60 kilogram dengan cara menggigit. Tarian Reog ini ditampilkan secara lambat hanya memainkan topengnya dengan sedikit menganyunkan. Biasanya para tamu yang terhormat atau pihak yang mempunyai hajatan akan duduk di kepala barongan dengan menari, menggambarkan Prabu Kelono Siwandono naik kepala Barongan pada saat masuk Kerajaan Kadiri untuk meminang putri Dewi Songgolangit.

Reog Ponorogo sebagai salah satu kesenian tradisonal Indonesia mempuyai nilai dalam wujud ide pada proses penciptaaannya yang menceritakan bahwa kebaikan akan menang melawan kejahatan yaitu pada peperangan tokoh baik yang diwakili oleh Prabu Kelono Siwandono melawan tokoh jahat yang diwakili oleh Pangeran Singobarong. Sedangkan pada masa Majapahit diceritakan bahwa melawan yang berkuasa tidak selalu dengan adu fisik tapi dengan kiritikan, seperti yang dilakukan oleh Ki Ageng Kutu Suryongalam dalam melawan Prabu Brawijaya V. Sebagai wujud prilaku, kesenian Reog Ponorogo yang ditampilkan dalam musik gamelan dan ragam gerak para tokoh yang ditarikan yaitu Warok, Jatilan, Ganongan, Prabu Kelono Siwandono dan Reog atau Barongan.

Sebagai seni pertunjukan tradisional, Reog Ponorogo mempunyai beberapa fungsi, yaitu fungsi ritual, fungsi pendidikan, fungsi penerangan dan fungsi hiburan (Wibisana, 2010:53). Sebagai fungsi ritual, Reog ditampilkan pada saat upacara-upacara yang berkaitan dengan hajatan seperti upacara bersih desa dan sebagainya. Fungsi pendidikan, bahwa penonton dapat memetik nilai-nilai yang baik dan buruk pada penampilan gerak para pelakon Reog. Fungsi penerangan, tampilnya kesenian Reog selain sebagai pentas seni untuk kepentingan upacara adat seperti ruwatan, pada saat ini Reog Ponorogo juga ditampilkan sebagai media penarik warga masyarakat dalam sosialisasi program pemerintah di daerah. Sebagi fungsi hiburan tentunya tampilan Reog sangat menghibur penonton dalam ragam gerak penari dan gamelan pengiringnya.


Tantangan bagi Reog di masa depan adalah bagaimana kita melestarikan Reog agar generasi penerus tetap mengenal kesenian ini. Festival Reog Ponorogo yang diselenggarakan sebagai salah satu acara peringatan hari jadi kota Ponorogo merupakan langkah yang besar dalam pelestarian kesenian ini. Selain itu, seringnya pertunjukan Reog di daerah dan generasi muda sebagai penari dan penabuh gamelan dalam pertunjukan ini harus tetap ada, dengan mengenalkannya di sekolah-sekolah, terutama sekolah seni. Dan kerjasama pemerintah serta masyarakat terutama sesepuh Reog agar tidak lelah dalam mewujudkan pelestarian ini.



Mendengar kata “reog”, kita segera merujuk pada seni pertunjukan yang berasal dari Ponorogo yang terdiri dari tari dan musik gamelan dalam satu rangkaian cerita. Seorang pemain reog memanggul topeng singa yang disebut dengan ‘singobarong’, yang beratnya mencapai 50-60kg.

Kesenian Reog sering ditampilkan dalam berbagai kesempatan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Atraksi ini biasanya ditampilkan dalam penyambutan tamu atau acara budaya yang lain. Bahkan penampilan Reog ini sudah dijadikan sebagai suatu festival pada hari ulang tahun Kota Ponorogo, diikuti oleh Reog yang berasal dari grup-grup Reog di wilayah Jawa Timur maupun di luar Jawa timur. Festival ini dilaksanakan pada tanggal 1 suro, di dahului dengan ‘larung sesaji’  di telaga ngebel, letaknya di sebelah timur Kecamatan Ngebel, dimulai pukul 10 sampai dengan pukul 11 siang dan berlangsung selama seminggu.

Alkisah di Kerajaan Kadiri yang dipimpin oleh Prabu Songgobuwono, mempunyai seorang putri yang cantik dan halus budinya bernama Dewi Songgolangit. Kecantikan dan kehalusan budinya menarik banyak para pangeran untuk meminangnya, namun putri Kadiri tersebut belum berniat untuk menikah. Ayah dan ibunya sangat menginginkan putrinya untuk segera menikah dan mendapatkan cucu darinya. Setiap saat mereka menasehati Dewi Songgolangit. Pada akhirnya Dewi Songgolangit bersedia untuk menikah, namun dengan mengajukan tiga syarat. Syarat pertama adalah pangeran yang meminangnya harus menampilkan tontonan yang belum pernah ada di Kerajaan Kadiri, syarat kedua pangeran tersebut juga harus membawa pasukan berkuda dengan jumlah 140 prajurit yang berwajah tampan dan menaiki kuda yang seragam.  Syarat terakhir calon suaminya harus membawa binatang berkepala dua. Sangatlah terkejut orangtuanya mendengar syarat tersebut, yang menurut mereka hampir tidak mungkin untuk dipenuhi.

Akhirnya ketiga syarat tersebut diumumkan kepada masyarakat, alhasil banyak pangeran yang mundur karena tidak sanggup memenuhi ketiga syarat tersebut. Hanya  dua orang pangeran yang bersedia memenuhi syarat tersebut, yaitu Prabu Kelono Siwandono dan Pangeran Singobarong. Keduanya berasal dari Kerajaan Bantarangin dan mempunyai hubungan keponakan dan paman, namun keduanya terlibat perselisihan perebutan tahta Kerajaan Bantarangin. Setelah Raja Singolodro mangkat, tahta kerajaan jatuh kepada putranya Pangeran Kelono Siwandono.

Pangeran Singobarong tidak dapat menerima hal ini, karena sebagai adik dari Prabu Singolodro, dia merasa lebih berhak atas tahta Kerajaan Bantarangin. Rakyat sendiri lebih memilih Pangeran Kelono Siwandono karena sifatnya yang halus dan cakap. Sedangkan sifat Pangeran Singobarong berbanding terbalik dengan Pangeran Kelono Siwandono. Pangeran Singobarong ugal-ugalan dan kasar sehingga dianggap tidak layak untuk memimpin Kerajaaan Bantarangin.

Perselisihan yang semula hanya perebutan tahta menjadi lebih sengit, ketika keduanya memperebutkan Dewi Songgolangit. Adapun kedua syarat yang pertama sebetulnya sudah dapat dipenuhi oleh Prabu Kelono Siwandono, tinggal syarat ketiga yaitu binatang berkepala dua yang masih sulit diwujudkannya. Pertarungan keduanya tidak dapat terelakkan,  Pangeran Singobarong adalah manusia yang sakti, namun karena hasil dari “ngelmu”, wajah dan kepalanya berubah menyerupai singa. Pertarungan ini berjalan sangat sengit, yang pada akhirnya dimenangkan oleh Prabu Kelono Siwandono saat senjata pusakanya, yaitu pecut samandiman berhasil mengenai tubuh Pangeran Singobarong. Pangeran Singobarong mengakui kekalahannya dan bersedia menjadi syarat ketiga untuk meminang Dewi Songgolangit. Namun yang diminta adalah binatang berkepala dua, untuk memenuhi syarat ketiga ini, abdi kinasih atau dayang Pangeran Singobarong yang selama ini setia mendampingi kemanapun Pangeran Singobarong berada diubah wujudnya menjadi merak yang bertengger di kepala Pangeran Singobarong.

Prabu  Kelono Siwandono masuk ke kerajaan Kadiri dengan menaiki Singobarong dan diiringi oleh 140 prajurit dengan kuda yang seragam, serta musik gamelan dan tarian yang meriah. Dewi Songgolangit menerima pinangan Prabu Kelono Siwandono, hatinyapun sangat senang karena pangeran yang berhasil memenuhi sayembaranya adalah selain sakti juga tampan, gagah perkasa dan halus budi.



Tersebutlah pada jaman itu beberapa jawara dengan sebutan warok yang mempunyai hubungan saudara sepeguruan yang bernama Gunoseco, Suromenggola dan Surokento yang berguru pada warok Singokubro. Singokubro adalah sesepuh warok yang tinggal di Gunung Srandil yang jaraknya 24 kilometer sebelah barat kota Ponorogo (sekarang). Gunoseco mempunyai wilayah kekuasaan di daerah Kecamatan Sinan (sekarang), Suromenggolo mempuyai wilayah kekuasaan di Cakromenggalan, sedangkan Surokerto wilayah kekuasaannya di Slahung. Ketiga kakak beradik sepeguruan ini mempunyai sifatnya berbeda, Gunoseco sikapnya kasar, Suromenggolo sifatnya lemah lembut sedangkan yang termuda Surokerto sifatnya ugal-ugalan.

Perselisihan antar warok terjadi, ketika Suromenggolo diminta bantuan oleh Bupati Trenggalek untuk menjaga keamanan di wilayahnya. Bupati Trenggalek mempunyai putra yang tampan bernama Raden Mas Broto yang ketika itu sudah menjalin kasih dengan Suminten putri dari Gunoseco. Namun ketika melihat Cempluk yang cantik putri dari Suromenggolo, Raden Mas Broto meninggalkan Suminten. Hal ini membuat marah Gunoseco yang sangat menginginkan putrinya untuk menikah dengan Raden Mas Broto yang anak Bupati, demi mengangkat derajat keluarga. Merasa disepelekan, Gunoseco menantang Suromenggolo untuk bertarung. Tidak ada kekalahan dan kemenangan diantara keduanya. Cerita ini dalam ketoprak dikenal dengan Suminten edan.

Warok pada jaman sekarang ditampilkan sebagai sosok yang berbadan besar, berkumis dan kasar, namun sebetulnya warok adalah seseorang yang keting yaitu berbadan kecil, tinggi sedang dan lincah, karena tokoh ini sebetulnya orang yang rajin menjalankan laku tirakat.  Warok merupakan sesepuh yang wajib memberikan wuruk-wulang kepada muridnya tentang kawuruhan Jawa. 


Generasi sekarang mengenal Warok sebagai bagian dari Reog. Namun, warok merupakan cerita yang berdiri sendiri dan ada sebelum muncul Reog. Warok adalah seorang prajurit tangguh dengan segala kesaktiannya yang sangat mumpuni. Cerita ini berlatarbelakang Kadipaten Wengker pada masa Kerajaan Majapahit yang diceritakan oleh Pak Bandi tokoh budaya dari Trowulan yang juga seniman Reog dan Pak Agus Reog, tokoh kesenian Reog yang tinggal di Sukodono Sidoarjo dan salah satu pendiri perkumpulan Reog di Ponorogo.


Spirit saminisme menjaga semangat gerakan masyarakat Samin dalam upayanya melawan kolonialisme. Perlawanan yang selama ini digambarkan dengan adu fisik dan senjata yang menumpahkan darah, tidak berlaku dalam spirit saminisme. Gerakan ini mengajarkan bagaimana menjadi diri sendiri dan gotong royong mencintai tanah air.

Intisari dari gerakan saminisme adalah sebuah ide pembebasan sebagai upaya melepaskan masyarakat dari belenggu kolonialisme atau kekaguman terhadap asing. Saminisme yang selama ini dianggap sebagai suku yang membangkang kepada negara, sebenarnya gerakan social yang berusaha mengajak masyarakat sebangsa dan setanah air agar tidak tunduk pada bangsa asing. Isu negative yang dihembuskan di tengah masyarakat adalah propaganda penjajah agar masyarakat tidak bersatu dalam spirit saminisme melawan kolonialisme.

Maka sebenarnya perlu adanya penjelasan lebih dalam terkait devide at impera pada pendidikan dasar. Kisah-kisah yang sebenarnya tidak terjadi diada-adakan oleh penjajah untuk mengadu domba. Selain isu negative terhadap masyarakat samin yang berusaha menyatukan persepsi melawan penjajahan, kisah yang sebenarnya tidak terjadi adalah kisah Perang Bubat dan penghancuran Majapahit oleh Demak Bintoro yang dipimpin oleh Raden Patah.

Usaha-usaha untuk menyamakan persepsi dengan membekali generasi Samin keterampilan. Memberikan pendidikan dengan cara dan metode yang terus beradaptasi dengan perkembangan zaman. Keterampilan pertama yang dipelajari masyarakat Samin dalam menghadapi penjajah Belanda adalah keterampilan berpura-pura menjadi orang bodoh. Sehingga hal tersebut cukup merepotkan penjajah karena merusak sumber pertanian dan tidak mau membayar pajak.

Keterampilan kedua yang diberikan kepada generasi Samin dengan mengirimkan aji pameling, yaitu sebuah pesan agar para penerus mempersiapkan garam dan kapas. Keterampilan mengolah kedua bahan ini membuat masyarakat Samin tidak kelaparan dan mempunyai usaha pengolahan kapas ketika penjajah Jepang datang. Cukup sandang pangan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, ketika masa awal kemerdekaan, masyarakat Samin masih membangkang terhadap pemerintah karena menganggap pemerintahan masih dikuasai orang asing. Namun setelah mengetahui bahwa republic telah dipimpin saudara sendiri, masyarakat Samin mulai membayar dan mendatangkan guru untuk sekolah. Perlahan lembaga pendidikan masyarakat Samin mulai ramai dan berdirilah sekolah.

Selain pendidikan formal yang dilakukan di sekolah, para sesepuh Samin memberikan pendidikan secara kultural. Cerita tutur yang disampaikan secara berkala turut menyambung ikatan emosional dari generasi pertama hingga generasi selanjutnya. Tidak ada metode khusus, namun diharapkan para generasi Samin mampu menangkap cerita dan menyampaikannya kepada generasi yang lebih muda.

Gotong royong dan toleransi juga menjadi pendidikan kultural di luar sekolah. Dalam setiap hajatan, masyarakat Samin tidak diwajibkan untuk membawa uang. Ini ditujukan agar semuanya bisa hadir dan tidak ada diskriminasi terhadap keluarga dengan perekonomian menengah ke bawah. Setiap keluarga dibolehkan membawa hasil bumi yang dimilikinya, namun sifatnya tidak memaksa. Semua berdasarkan kesadaran diri dengan prinsip gotong royong dan guyup rukun.

Ngalah terhadap saudara sendiri sebagai nasehat yang dituturkan para sesepuh. Ini disampaikan agar terus menjaga persatuan dan tidak terpecah belah. Dan yang terpenting dalam prinsip pendidikan masyarakat Samin adalah apa yang tampak oleh mata harus bisa. Ini yang menjadi pedoman masyarakat Samin dalam mengarungi kehidupan. Meskipun tidak banyak yang menempuh jenjang tinggi dalam pendidikan formal, prinsip ini yang akan membawa masyarakat Samin untuk terus belajar. Apa yang tampak oleh mata harus bisa dan dikuasai untuk kesejahteraan generasi penerus.

Pendidikan dalam kurun waktu belakangan ini, dimaknai sebagai sebuah institusi. Seseorang akan dianggap berpendidikan jika telah melewati tingkatan kelas tertentu, yang diatur sedemikian rupa untuk membentuk sumber daya manusia yang diinginkan. Apakah adanya institusi dalam pendidikan bisa membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia? Dan apakah seseorang yang tidak melewati tingkatan kelas tertentu dalam institusi pendidikan akan menjadi tidak kompeten? Tulisan ini tidak berusaha meragukan apa yang telah Anda yakini dan tidak akan meyakinkan apa yang sedang Anda ragu-ragukan. Penulis berusaha menguraikan beberapa hal terkait makna pendidikan dan masa depannya. Dengan memberikan sudut pandang tentang latar belakang adanya institusi pendidikan.

Dalam kitab Mahabharata, Mahaguru Drona menyebutkan bahwa, sesuatu yang tidak terduga adalah bagian dari pendidikan. Nabi Muhammad juga menyatakan bahwa, proses belajar dari buaian hingga liang lahat. Sementara Sang Buddha menyatakan bahwa kehidupan adalah proses belajar melepaskan diri dari kemelakatan dunia dengan memurnikan batin. Sedangkan Isa Al-Masih menunjukkan bahwa pelajaran akan didapatkan dengan perjalanan.

Tokoh-tokoh besar di atas menganggap bahwa pendidikan sebagai proses belajar secara terus-menerus dan berkesinambungan. Tidak ada kata terlambat dan tidak mempunyai batas akhir. Pendidikan bukan sekedar melalui tahapan-tahapan kelas yang diatur sedemikian rupa oleh manusia, melainkan bagaimana seorang manusia memperoleh kesadaran paripurna dalam hidup sehingga kembali kepada Tuhannya dengan tenang.

Sementara Ki Hajar Dewantara memandang bahwa pendidikan sebenarnya adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Sedangkan Soekarno menganggap bahwa pendidikan bukan sesuatu yang diam di atas menara gading, melainkan sebagai alat sosial dalam memperjuangkan masyarakat. Berbeda dengan Tan Malaka yang menganggap jika seorang sarjana merasa enggan memegang cangkul di sawah, lebih baik pendidikan tidak diberikan sama sekali. Kemudian Cak Nun mengatakan,”Sekolahlah sampai engkau tau dirimu dibodohi dan kamu tahu sekolah gagal membodohimu.”

Beragam sikap dan makna tentang definisi pendidikan. Namun, apakah sebenarnya pendidikan itu dan bagaimana proses terbentuknya institusi pendidikan sehingga menjadi sebuah keharusan dalam proses belajar? Dalam falsafah Jawa proses pendidikan manusia dikategorikan menjadi empat tahapan, yaitu Margoutomo, Malioboro, Margomulyo dan Pangurakan. Tahapan tersebut menjadi symbol dan nama jalan mulai dari Tugu hingga Keraton Yogjakarta. Dan kemudian diadopsi menjadi nama-nama jalan di daerah lain.

Margoutomo menjadi tahapan pertama proses pendidikan. Jalan keutamaan yang harus dicari oleh seorang anak manusia. Seseorang perlu mencari dan menemukan apa keutamaan atau pembeda abadi yang ada dalam dirinya. Maka sebenarnya proses yang dilalui dalam institusi pendidikan mampu membantu seseorang menemukan apa keutamaan yang ada dalam dirinya. Keutamaan yang dimaksud di sini adalah suatu hal yang diri sendiri semangat dalam mengerjakannya dan orang lain merasa terbantu atau merasa kemanfaatan.

Dalam menemukan keutamaan dalam diri, bukan berarti seseorang mengabaikan hal lain di luar kemampuannya. Setiap orang tetap berkewajiban mempelajari segala hal yang tampak oleh mata, namun harus mengetahui satu hal yang menjadi pembeda abadi atau identitas dirinya. Cara sederhana untuk mengetahui keberhasilannya adalah sejauh mana orang lain mengetahui identitas tersebut tanpa menyebutkan nama asli dari dirinya.

Tahapan kedua adalah Malioboro. Sebuah kawasan atau nama jalan yang menjadi salah satu destinasi wisata kebudayaan. Secara bahasa, Malioboro tersusun atas  dua kata yaitu malio dan boro. Malio sebagai kata perintah yang berasal dari kata wali yang bermakna wakil, sedangkan boro bermakna mengembara. Maksudnya, setelah seseorang mampu menemukan keutamaan dalam dirinya, maka tahapan selanjutnya adalah menjadi wakil Tuhan Yang Maha Esa dalam memberikan manfaat kepada sesame yang ditempuh dengan pengembaraan. Mengasah keterampilan dengan jalan pengabdian untuk mematangkan apa yang telah menjadi keutamaan dalam dirinya. Hal tersebut dilakukan secara terus-menerus tanpa henti secara rutin hingga seseorang mencapai tahap Margomulyo.

Margomulyo sebagai fase ketiga proses pendidikan seorang manusia. Jalan kemulyaan, seseorang yang mengabdikan dirinya secara berkesinambungan akan sampai kepada tahap kemulyaan. Tahapan ini sebenarnya akibat dari tahapan sebelumnya, bukan untuk diusahakan apalagi menjadi tujuan. Tahapan ini tidak bisa dideteksi oleh diri sendiri, melainkan sesuatu yang dirasakan orang lain ketika mendapat manfaat dalam dirinya. Tahapan ini sebagai akumulasi dari proses perjalanan panjang dalam menempa diri dalam belajar.

Kemudian Pangurakan sebagai tahap keempat proses pendidikan. Tahapan ini menjadikan seseorang memahami kehidupan. Menang tanpa mengalahkan, benar tanpa menyalahkan dan ada tanpa meniadakan. Tak ada sesuatu yang diingini selain ridho-Nya. Sebagai tahapan akhir dalam proses pendidikan sehingga seakan-akan Manunggaling Kawula Gusti.

Demikian tahapan proses pendidikan yang akan dilalui seorang manusia dalam perjalanan hidupnya di muka bumi. Perjalanan tersebut bisa dilalui secara kultural dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan/atau secara structural dengan menerima pendidikan di sebuah institusi. Institusi pendidikan yang menjadi pilihan masyarakat secara umum ada tiga hal, yaitu: sekolah, pesantren dan taman siswa.

Sekolah menjadi institusi pendidikan yang dikenal luas oleh masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, sekolah beradaptasi dalam berbagai bentuk, diantaranya: homeschooling, les atau bimbel, kursus, dsb. Sekolah bermakna waktu luang dalam bahasa latin, sedangkan dalam bahasa Perancis berarti belenggu. Seseorang dibelenggu untuk memenuhi kebutuhan industry. Hal ini menjadi latar belakang adanya sekolah atau dikenalnya istilah sekolah ke seluruh dunia.

Revolusi Industri Perancis sebagai tonggak renaissans atau abad pencerahan Eropa, sebagai awal munculnya sekolah sebagai tempat mencetak pekerja industry. Sekolah ada karena adanya industry. Sedangkan jauh sebelum itu, academia yang didirikan oleh Plato mempelajari hal-hal yang berbeda dengan sekolah. Gerbang academia memberikan pesan kepada setiap orang yang datang. Hal-hal tentang dzat tunggal atau ganda dan proses ilmiah dari segala hal metafisik menjadi pembahasan dan jalan hidup yang menentukan arah kehidupan.

Di Indonesia, sekolah dikenal sejak zaman Hindia-Belanda. Zaman tersebut sekolah tidak lebih sebagai doktrin bahwa orang-orang pribumi tidak lebih baik dari Hindia-Belanda. Hanya kalangan bangsawan yang diperbolehkan belajar di sekolah tinggi. Adanya kasta dalam system pendidikan di era tersebut memberika efek kepada generasi selanjutnya. Tidak sedikit yang menganggap bahwa hal-hal yang berasal dari luar lebih baik dari pada dalam negeri. Banyak yang berlomba-lomba bersekolah di luar negeri, membanggakan apa yang bukan miliknya, dan lupa berkontribusi membangun daerahnya, tanah airnya.

Sistem sekolah dibuat sedemikian rupa menggunakan standar materialisme sehingga seakan-akan sekolah dengan peringkat terataslah yang terbaik. Peringkat atau ranking yang ada dalam proses pembelajaran tentu sangat banyak manfaatnya untuk tujuan kompetitif dan meningkatkan daya saing. Namun, di era teknologi dan terbukanya rahasia masihkan ranking relevan dengan perkembangan zaman?

Manfaat adanya ranking bagi siswa sebenarnya tidak lebih besar dari efek sampingnya. Guru bisa tidak obyektif dan orang tua akan menganggap anaknya tak punya kemampuan jika mendapat ranking rendah. Hal tersebut secara tidak langsung mengonstruk pola piker bahwa keberhasilan orang lain adalah kegagalan diri sendiri. Padahal tidak demikan, setiap kelahiran adalah special, warna baru kehidupan dan tak layak diperbandingkan. Maka yang terpenting adalah bagaimana mencetak generasi penerus yang senantiasa dalam kebenaran tanpa merasa lebih baik dari sesamanya. Prinsip-prinsip egaliter yang menumbuhkan kerja sama akan lebih dibutuhkan di era terbunya rahasia seperti sekarang.

Pendidikan egaliter tersebut telah ada di Nusantara jauh sebelum adanya sekolah. Pendidikan tersebut dikenal sebagai Mandala di zaman raja-raja. Mandala sebagai tempat khusus bagi para resi untuk memperdalam kemampuan dan pengetahuannya. Mandala tentu tidak bisa disamakan dengan sekolah dan tidak bisa dianggap lebih baik atau lebih buruh dari sekolah, karena mandala tidak untuk itu dan tidak ada system ranking. Mandala lebih kepada pembinaan akhlak dan mental yang mendidik budi seseorang.

Seiring berkembangnya zaman, mandala beradaptasi dengan budaya setempat tanpa meninggalkan ruh pendidikannya. Mandala beradaptasi menjadi pesantren, dimana lembaga pendidikan yang mendidik akhlak dan integritas manusia menjadi paripurna. Hal tersebut juga menginspirasi Ki Hajar Dewantara dalam membangun Taman Siswa, bahwa yang lebih penting dari keterampilan dan pengetahuan sesorang adalah akhlak dan budi luhur.

Lantas bagaimana masa depan pendidikan kita? Di mana dan mau kemana perjalanan proses belajar generasi penerus bangsa. Setiap orang tentu mempunyai pilihan masing-masing, yang perlu dipahami oleh setiap pembelajar bahwa tugas kita tidak untuk sukses, melainkan untuk terus belajar. Tugas kita juga bukan untuk pintar, melainkan untuk terus belajar. Belajar mencintai apa yang sedang dipelajari, belajar menekuni apa yang disukai dan belajar memahami apa yang tidak dikuasai. Setiap orang adalah guru, setiap kesempatan adalah waktu belajar dan setiap tempat adalah ruang rindu persahabatan, menyusun pola kebermanfaatan.

Tibet di mata khalayak dunia, terutama Barat, merupakan sebuah negeri fantasi yang penuh mistis dan tak tergapai oleh pemahaman awam. Hal ini tidak lepas dari penggambaran tentang Tibet dalam budaya pop seperti film ataupun lagu. Tibet diceritakan sebagai shangri-la atau ‘atap dunia’ tempat keajaiban dan hal-hal mistis menjadi nyata. Tak pelak, pembahasan dari kacamata ilmiah mengenai Tibet dikaburkan oleh gempuran budaya pop dan prasangka kultural yang diciptakannya.

Padahal, bila kita melihat Tibet secara objektif tanpa kacamata budaya pop dan spiritualisme new age, kita akan mendapati bahwa Tibet tak pernah luput dari pergaulan dan interaksi dengan orang-orang dan bangsa lainnya; bahwa mistisisme Tibet, sehebat apa pun itu, tetap tak mampu membuatnya lepas dari gerak sejarah. Tibet bukanlah melulu menyoal hal yang eksotik, eksentrik, unik, misterius, atau istilah apa pun yang memungkinkan kita membayangkan Tibet sebagai bangsa yang seolah-olah tidak berbagi planet yang sama dengan kita semua. Faktanya, Tibet bukanlah entitas homogen yang beku dari dinamika dan keragaman.

Demikianlah, buku ini hadir menjadi pembeda dalam dunia yang penuh dengan narasi-narasi mistisisme Tibet, memberikan narasi baru secara objektif tentang Tibet, dimulai dari era kekaisaran dan asal mula Tibet mengenal Buddhisme, sampai Tibet pada masa ditulisnya buku ini, di mana spiritualisme dan Buddhisme Tibet bahkan telah menjadi sebuah trend. Baru. 120 K


Di serambi Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, Badan Student Crisis Center kembali mengadakan diskusi mingguan (18/3). Tema yang dibahas pada sore hari ini terkait penyalahgunaan istilah kafir oleh sebagian kelompok.

Penyalahgunaan ini seringkali menodai nilai-nilai kemanusian yang menjurus kriminalitas dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama selaku organsasi penjaga perdamaian di Indonesia menggunakan istilah non-muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam anggaran dasar NU menyebutkan bahwa aqidah NU adalah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dan asasnya adalah Pancasila.

Harta yang paling berharga bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Saripati nilai luhur yang dijadikan pandangan hidup dalam mengolah kekayaan alam dan budaya. Senyuman menjadi wujud syukur rakyat dalam hidup bermasyarakat. Hidup dalam kesataraan bahwa tidak ada yang lebih superior antar-sesama manusia. Sadar bahwa hanya ada satu kekuatan yang menguasai seluruh alam semesta, tak bisa diumpamakan dan digambarkan oleh akal: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nilai Pancasila telah mengakar dalam kehidupan jauh sebelum Pancasila dicetuskan. Nilai yang berasal dari rakyat, bukan ciptaan atau karangan seorang tokoh tertentu. Oleh karena itu kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, sebagai sumber kebijaksanaan hasil dari permusyawaratan. Bahwa segala masalah, pengambilan keputusan atau penyelesaian sengketa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Pancasila bukanlah agama, melainkan kesepakatan hidup bernegara dalam keberagaman dan keber-agama-an. Rakyat tidak semestinya dibenturkan dengan terminologi agama seperti kafir dalam Islam, maitrah dalam Hindu, abrahmacariyavasa dalam Buddha atau domba yang tersesat dalam Kristen. Rakyat adalah sebutan bagi penduduk Indonesia dan memiliki persamaan di depan hukum. Indonesia mengakui enam agama yaitu Hindu, Buddha, Katholik, Kristen, Konghucu dan Penghayat. Oleh karena itu, terminology agama seyogyanya tidak digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tanpa meniadakannya. Terminologi agama tersebut tetap digunakan di agama masing-masing dan tidak merubah satu pun ajaran agama.

Kafir
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi percontohan dalam merawat perbedaan menjadi rahmat. Bhinneka Tunggal Ika berhasil menyatukan perbedaan tanpa berusaha menyamakan atau meyeragamkan, karena perbedaan sebagai fitrah manusia untuk saling mengenal.

Tidak ada paksaan dalam beragama. Paksaan tersebut bisa berupa ancaman atau kekerasan, sehingga bisa dimaknai bahwa tidak ada agama dalam kekerasan. Orang yang melakukan kekerasan sebenarnya tidak beragama sekalipun mengaku memeluk agama tertentu. Meskipun dalam Islam mengenal istilah taubat, namun orang yang melanggar hukum tetap wajib menerima konsekuensi terhadap apa yang dilakukannya.

Al-Quran sebagai kitab suci umat Muslim dengan sastra Arab yang cukup tinggi. Ketinggian tata bahasa Al-Quran seringkali tak mampu dipahami oleh umat muslim secara sempurna. Sehingga menyebabkan terciptanya kelompok-kelompok berdasarkan pemahaman masing-masing terhadap kitab suci.

Sepanjang sejarah umat muslim ada beberapa perbedaan sikap kelompok-kelompok dalam menyikapi status kafir. Khawarij menganggap orang Islam yang melakukan dosa besar adalah kafir sehingga harus dibunuh, Syiah, Murjiah menganggap bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak kafir, Qadariyah, Syiah dan Muktazilah menganggap orang yang berdosa besar tidak kafir dan bukan mukmin, tetapi fasiq yaitu kekal di neraka. DanSunni menganggap bahwa orang yang melakukan dosa tetaplah mukmin. Di antara beberapa pendapat kelompok tersebut, yang paling berbahaya ketika hidup di Indonesia adalah Khawarij yang mengharuskan membunuh non-muslim dan pelaku dosa besar. Di Indonesia, sudah tidak ada lagi yang menentang atau mengancam umat Muslim karena Non-Muslim hidup berdampingan dengan umat Muslim, bahkan saling bertanggung jawab dalam hidup bernegara.

Organisasi yang seringkali membuat kerusakan dan mengatasnamakan agama diantaranya ISIS, Al-Qaeda dan HTI. Menyebut pemerintah yang sah sebagai kafir, negara thagut, tidak mau mengikuti upacara bendera dan penghormatan, sebagai tanda-tanda kerusakan sosial. Kelompok ini merekrut orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang lemah dengan iming-iming surga.


25 karya dari 25 pemuda dari setiap daerah terkumpul dalam acara bertajuk 'Pelatihan Muballigh Muda untuk Menciptakan Harmoni Intra dan Antarumat Beragama di Indonesia' yang diinisiasi oleh Nur Cholish Madjid Society. Para pemuda berkesempatan belajar langsung dari beberapa narasumber ahli diantaranya: Yudi Latif, Ph.D (Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Republik Indonesia), Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE (Rektor 2 periode dan Direktur pascasarjana 2 periode UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), Dr. Budhy Munawar-Rachman (The Asia Foundation), Prof. Dr. K. H. Nasarudin Umar, M.A (Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta), M. Wahyuni Nafis, M.A, (Ketua Dewan Pembina NCMS), Dr. Abdul Muqsith Ghazali, (LBM PBNU), Muhammad Monib dan Sadrah Prihatin Rianto.




Just like creative writing, academic writing is divided into several types. It is important to know how to produce each type. This is crucial even if you’re not planning to study rocket science. Every research study needs to be documented and if you want it to be recognized, you have to write it. After all, thinking and sounding like a professional begin with you and only you. Carve your skills without doubt. Learn with us.



 



#academicwriting #academic #writing #writenow #tjpwritingcenter
Seminar Internasional bertajuk ijazahan kitab-kitab karya Dr. Syaikh Abdul Fattah Shalih Muhammad Qudaisy Al-Yafi’I berlangsung di aula Salsabila gedung PWNU Jawa Timur (7/4). Sekitar 200 peserta perwakilan dari setiap pengurus cabang di Jawa Timur dan masyarakat umum menyimak penjelasan dari ulama Yaman tersebut. Ada 23 kitab karangan beliau bermanhaj Ahlussunah Wal Jamaah yang menjadi pembahasan dalam seminar. Dua diantaranya yang menjadi fokus pembahasan adalah kitab tentang istighatsah dan tabarukan kepada ulama shalih. Download Kitab.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Quran oleh Ust. Thobib selaku muadzin Masjid Al-Akbar Surabaya. Kemudian sambutan oleh Dr. Afifuddin Dimyathi, Lc, MA mewakili Aswaja NU Center Jatim dilanjutkan dengan Prof. Shonhaji Soleh selaku perwakilan Pengurus Wilayah Nahdlatul Uama Jawa Timur. Beliau menyampaikan pentingnya manhaj Ahlussunah Wal Jamaah dan pentingnya adab bagi seorang penuntut ilmu.
Dr. Latief Malik mengawali acara dengan membacakan silsilah keilmuan Dr. Syaikh Abdul Fattah. Indonesia bukan tempat yang asing lagi bagi beliau, karena beberapa kali melakukan kunjungan ilmiah ke pesantren-pesantren di Nusantara. 

“Syukur alhamdulillah untuk kesekian kalinya kami bisa berkunjung ke Indonesia, negeri dengan penduduk yang sangat sopan. Ini sebagai salah satu ciri ahlullah,” Syaikh mengawali penjelasannya.

Ahlussunah Wal Jamaah sebagai manhaj moderat dalam menjalankan syariat Islam sangat dibutuhkan dewasa ini. Perkembangan dunia yang mendorong umat ekstrim kiri liberalisme dan ekstrim kanan radikalisme, sedikit banyak mempengaruhi pola pikir umat. Aswaja sebagai jalan tengah antara mujassimah dan muaqqidah.

Beliau mengritisi terkait bentuk pemerintahan umat Islam dan ideology khilafah yang berkembang belakangan ini di dunia. Bahwa sebenarnya Nabi Muhammad tidak mengharuskan model pemerintahan tertentu. Sejak awal, umat Islam selalu mengedepankan musyawarah dalam menyelesaikan persoalan terutama perihal kenegaraan. Beliau juga memberikan nasehat agar tidak mudah mengafirkan dan berperilaku baik kepada setiap orang meskipun non-muslim.
Dalam kitabnya, beliau menulis tentang anjuran istighatsah dan diperbolehkannya tabarukan kepada ulama shalih. Ini sebagai bentuk kesadaran bahwa manusia tak punya kekuatan apapun dan penghormatan kepada guru. Upaya pelarangan amaliah tersebut baru terjadi ketika munculnya Ibnu Taimiyah. Hanya sedikit orang yang mengikutinya, karena tidak mengetahui secara lengkap riwayat Ibnu Taimiyah. 


Di penghujung acara, beliau mengijazahkan kitab-kitabnya dan hadirin menerimanya untuk disampaikan kepada umat. Setelah prosesi pengijazahan selesai, acara dilanjutkan dengan konsolidasi pengurus Aswaja NU Center se-Jatim dalam upaya membentengi umat dari pemahaman takfiri dan ekstrim. Sebagai upaya preventif menghalau terorisme yang belakangan ini bersembunyi di belakang symbol-simbol agama.



Bhur Bvah Swaha. Tat Savitur Varenyam. Bhargo Devasya Dimahi. Dhiyo Yo Nah Paraco Dayat. Bhur Bvah Swaha. Tat Savitur Varenyam. Bhargo Devasya Dimahi. Dhiyo Yo Nah Paraco Dayat. Bhur Bvah Swaha. Tat Savitur Varenyam. Bhargo Devasya Dimahi. Dhiyo Yo Nah Paraco Dayat.

Sayup-sayup terdengar suara gamelan menyatu dengan syair yang tak jelas apa maknanya. Dengan baju yang basah kuyup, seorang wanita berjalan gontai menjauhi bibir pantai. Langit mulai tampak kuning kemerahan, pertanda hari mulai senja. Wanita itu menyaksikan keadaan sekitarnya, mulai banyak lelaki berbadan kekar mendekati bibir bantai  dengan membawa jaring di punggungnya. Ketika berpapasan, setiap lelaki yang melewatinya selalu tersenyum. Senyuman seakan menjadi identitas pulau ini.

Wanita tersebut berjalan menghampiri sebuah warung. Tanpa pikir panjang, dia berusaha mencari uang di kantong celananya untuk ditukar dengan beberapa makanan. Namun, uang yang dikeluarkannya sudah tidak laku lagi. Mbok Inem pemilik warung pun bertanya kepadanya,”Sampeyan saking pundi, Nak?” Wanita itu hanya tertegun dengan suara Mbok Inem, berusaha memahami apa arti suara itu. Dia berbalik arah dan menunjuk jauh ke arah laut. Pikirannya pun kembali ke peristiwa yang terakhir kali dia alami.

Ingatannya membayangkan peristiwa terakhir bersama teman-temannya. Berenang, menikmati terumbu karang yang sangat indah di sekitar Pulau Karang, pulau kecil yang terbentuk akibat pertemuan arus laut. Puas berenang, dia memutuskan untuk menepi menikmati matahari yang tampak muram.

Nggrrrrrrrkkkkkkkkk” mendengkur. Ketika terbangun dia menyaksikan kondisi sekitar, di mana teman-teman? Langit mulai senja, tak ada suara manusia, hening dan perahu yang membawanya ke Pulau Karang pun menghilang. “Toloooooooong,” dia berteriak  berulang kali. Sampai akhirnya dia lelah dan menangis, mengingat kebiasaannya yang suka tidur sembarangan, cerewat dan menjahili teman-temannya. Dia menenangkan diri dan berusaha menyenandungkan tembang rumeksa ing wengi karena hari mulai gelap. Tembang yang diajarkan oleh ayahnya, sebagai perlindungan bagi seorang militer. Tembang karya Sunan Kalijaga yang selalu disenandungkun Jenderal Besar Panglima Sudirman ketika dalam kondisi terdesak.

Nak, monggo dahar rumiyin!” suara Mbok Inem memecahkan lamunannya. Masih tetap tidak berbicara, wanita itu melahap makanan yang disiapkan Mbok Inem. Dari belakang meja, Mbok Inem memperhatikan wanita itu dan bertanya dalam hati,”Anak ini memang tidak bisa berbicara atau tidak mengerti dengan bahasa yang saya gunakan?”.

Bertubuh tinggi, berkulit putih, dan berambut pirang. Sepertinya bukan dari warga daerah sekitar sini. Selepas makan, dia diantar menuju rumah Mbok Inem untuk membersihkan tubuh dan berganti pakaian. Sepasang jarik dengan motif yang cukup rumit dikenakannya. Kemudian bersama putri Mbok Inem mengikuti pengajian. “Kenalkan nama saya Prya.” Putri Mbok Inem memperkenalkan diri sambil menjulurkan tangannya. Namun, wanita itu tertawa terbahak-bahak mendengarkan nama putri Mbok Inem. Dalam pemahamannya Prya adalah sebutan bagi laki-laki. Menyaksikan hal tersebut, Mbok Inem dan Prya bahagia karena wanita itu akhirnya bisa tertawa.

Prya seringkali mengajaknya berbicara, namun respon wanita itu hanya satu, entung. Setiap pertanyaan selalu dijawab dengan jawaban yang sama. Prya pun akhirnya memanggilnya dengan entung. Persahabat  mereka semakin erat dan si entung pun mulai bisa berbicara. Karena kebersamaannya, orang-orang sekitar menamainya Pryntung.

Mereka berdua berjalan menuju tempat pengajian. Si entung mulai tertarik dengan aktivitas Prya. Entung pun berniat mengikutinya. Mereka berdua berjalan menuju tempat pengajian. Ketika memasuki ruangan yang beralaskan kayu, seisi ruangan tampak memperhatikan entung. Siapa orang ini. Ki Prabu selaku guru ngaji pun memperkenalkan siapa si entung ini. Setelah perkenalan, pelajaran pun dimulai seperti biasa. Ki Prabu memulai pelajarannya dengan membaca Al-Fatihah. Materi pada sore hari ini adalah air suci.

Ki Prabu menjelaskan bagaimana air akan mengristal ketika dibacakan doa. Maka, para hadirin dipandu Ki Prabu meminum air suci masing-masing setelah dibacakan al-Fatihah. Ki Prabu menceritakan bahwa sebelum Demak Bintoro berkuasa al-Fatihah yang menjadi induk Al-Quran mempunyai kesamaan makna dengan Mantra Gayatri. Ki Prabu juga menambahkan bahwa sebenarnya kekuasaan Demak tidak diperoleh dengan penghancuran Majapahit yang dipimpin Prabu Brawijaya oleh Raden Patah penguasa Demak. Itu adalah kisah yang nggak pernah terjadi, cerita yang dibuat oleh bangsa asing untuk melemahkan pengaruh Demak. Bissmillahirrahmanirrahim…….. Setelah pengajian usai, semua kembali ke tempat masing-masing. Prya dan Entung pun pulang. Kemudian makan bersama Mbok Inem yang sedari tadi memasak. Air suci sisa pengajian pun menjadi pelepas dahaga kedua sejoli ini.

Ketika malam mencapai sepertiganya, Mbok Inem dan Prya mengawali aktivitasnya sehari-hari. Sementara Entung masih terlelap dalam selimutnya. Lantunan ayat suci Al-Quran disenandungkan. Entung terbangun ketika Mbok Inem dan Prya mengulang-ulang ayat yang sama. Dari belakang Entung bertanya,”Apa yang sedang kalian baca?”

Mbok Inem dan Prya tampak kaget dengan suara itu. Dengan segera mereka menatap Entung dengan berkaca-kaca kemudian memeluknya. Waktu seakan berhenti dan mereka pun bergembira. Kemudian Mbok Inem menjelaskan bahwa yang kita baca adalah surah Al-Kahfi dan ayat yang diulang-ulang adalah ayat kedua sebelum akhir yang artinya: Katakanlah! Sekiranya lautab menjadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat-kalimatnya.

“Tadi malam sebelum tidur, saya juga mendengar Mbok Inem membaca Al-Quran bersama orang banyak. Apa yang dibaca?” balas Entung. “Ooooowh, itu adalah  surah Yasin, surah memohon kepastian. Ini pengalaman seorang sufi Andalusia yang bernama Muhyiddin Ibnu ‘Arabi, ketika mengalami sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh, ayahnya membacakan Surah Yasin untuknya. Keesokan harinya penyakit tersebut berangsur-angsur sembuh dan untuk mengingat ayahnya yang telah berpulang, Ibnu Arabi selalu membaca surah Yasin untuk ayahnya.” Jawab Mbok Inem.

“Pembacaan surah Yasin merupakan amalan sufi. Pada zaman dahulu, kaum sufi selalu berseberangan dengan fuqaha, namun berhasil didamaikan oleh Al-Ghazali bahwa syariat dan hakikat haruslah berjalan bersama. Para fuqaha tidak bisa menerimanya dan menganggap al-Ghazali dan kaum sufi sebagai orang gila. Oleh karena itu jangan heran jika tidak semua muslim membaca surah Yasin.” Lajut Mbok Inem.

Menjelang siang Prya dan Entung pergi ke sanggar untuk belajar memainkan wayang. Naskah lakon yang diperankan kali ini berjudul “Peryntung” sebuah kisah panjang perjalanan Cheven dalam melawan Jayaningrat, trek tek tek tek tek. Kisah dimulai, Prya dan Entung mulai beraksi.

“Hey, Mas Joko, siapakah cinta pertamamu?”, Prya memulai aksinya.
“Perlu kubantu mensyenin? Biar yang dipertuan agung menjawab keraguanmu.” Entung menunjukkan kebolehannya.
“Jikalaupun jawaban baginda Sri dipertuan agung ternyata ‘iya’, sungguh berat mengatakan bahwasanya aku khawatir tak mampu merasa cukup berbuat untuk menunaikan bakti dan membalas cintanya, wahai Saudariku.”
“Sungguh aku selama ini silau atas dosamu, ternyata engkau orang yang sangat bijak, Saudariku.”
“Makanya semingguan ini hamba tidak ganti baju lain selain hitam ini, khawatir pesona dan silauku membuat orang mengalami mata minus dan silinder yang berlebihan.”
“Sungguh aku kagum atas semua pemikiranmu.”
“Aku pun juga terheran-heran sendiri.”
“Apakah Mas Joko titisan Jayaningrat penulis Babad Kraton itu?”
“Yaaa, Mas Joko yang kelak akan mempersunting  Hayu Wisnuwardhani Puntadewi.”
“Kerajaan putri akan ditaklukkan oleh Sang Prabu. Penguasa yang kesaktiannya tidak akan tertandingi, harga diri dan kehormatannya adalah kesatuan santri, tidak akan terkiks oleh khilafah palsu pemberontak negara.”
“Trek tek tek tek tek tek.”
Wahai saudariku, selama persatuan dan kesatuan kita terjaga, niscaya kita tidak akan runtuh di tangan Sang Prabu.
Secepat ini baginda kita berganti, dari Hilmi ke Mas Joko. Apakah saudariku yakin baginda Hilmi akan jatuh selanjutnya ke tangan-tangan suci seperti sebelumnya?
Wahai saudariku, sungguh aku tak paham mengapa kau sebut sang baginda di lapak ini. Apakah engjau salah memasuki kerajaan?
“Iya sepertinya salah masuk zona kekuasaan. Lantas apakah saya harus membalik celana, wahai dayangku?”
“Sang ratu pun memerintahkan agar engkau segera pergi ke dalam hutan, berteduh di bawah pohon lain yang sekiranya paparazzi memasukkan gambarku ke majalah kota akan bagus gitu di mata netizen.”
“Janganlah kau melihat segala sesuatu dari sisi estetika, tapi pikirkan manfaat yang kau dapat. Pohon pisang akan mengajarkanmu ilmu tangkis manki. Sungguh kelak ilmu itu akan berguna melindungi harta benda kerajaanmu.”
“Trenng teng teng teng teeeeng”

Akankah Cheven akan memenangkan pertarungan melawan Jayaningrat? Siapakah Sang Cheven? Sosok yang diidolakan itu, namun membuat pusing banyak orang. Chevening. Memperjuangkanmu hingga menunda penyempurnaan separuh imanmu. Demi mendapatkan tiket menuju Kerajaan Tanah Eng, Sang Avatar itu? Bukankah telah tertulis bahwa engkau sedang berdiri di tanah surga dengan seperangkat pengendalian di dalam kitab-kitab suci?

Si Prya tiba-tiba tak sadarkan diri. Ketika terbangun suaranya hilang. Namanya pun tak tahu. Apa yang terjadi? Mulutnya hanya bisa bekomat-kamit dengan satu kata, chevening.

SUBSCRIBE & FOLLOW