STEM Circle Indonesia: Masa Depan Pendidikan (Graduate School The Ohio State University)

Pendidikan dalam kurun waktu belakangan ini, dimaknai sebagai sebuah institusi. Seseorang akan dianggap berpendidikan jika telah melewati tingkatan kelas tertentu, yang diatur sedemikian rupa untuk membentuk sumber daya manusia yang diinginkan. Apakah adanya institusi dalam pendidikan bisa membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia? Dan apakah seseorang yang tidak melewati tingkatan kelas tertentu dalam institusi pendidikan akan menjadi tidak kompeten? Tulisan ini tidak berusaha meragukan apa yang telah Anda yakini dan tidak akan meyakinkan apa yang sedang Anda ragu-ragukan. Penulis berusaha menguraikan beberapa hal terkait makna pendidikan dan masa depannya. Dengan memberikan sudut pandang tentang latar belakang adanya institusi pendidikan.

Dalam kitab Mahabharata, Mahaguru Drona menyebutkan bahwa, sesuatu yang tidak terduga adalah bagian dari pendidikan. Nabi Muhammad juga menyatakan bahwa, proses belajar dari buaian hingga liang lahat. Sementara Sang Buddha menyatakan bahwa kehidupan adalah proses belajar melepaskan diri dari kemelakatan dunia dengan memurnikan batin. Sedangkan Isa Al-Masih menunjukkan bahwa pelajaran akan didapatkan dengan perjalanan.

Tokoh-tokoh besar di atas menganggap bahwa pendidikan sebagai proses belajar secara terus-menerus dan berkesinambungan. Tidak ada kata terlambat dan tidak mempunyai batas akhir. Pendidikan bukan sekedar melalui tahapan-tahapan kelas yang diatur sedemikian rupa oleh manusia, melainkan bagaimana seorang manusia memperoleh kesadaran paripurna dalam hidup sehingga kembali kepada Tuhannya dengan tenang.

Sementara Ki Hajar Dewantara memandang bahwa pendidikan sebenarnya adalah pendidikan yang memanusiakan manusia. Sedangkan Soekarno menganggap bahwa pendidikan bukan sesuatu yang diam di atas menara gading, melainkan sebagai alat sosial dalam memperjuangkan masyarakat. Berbeda dengan Tan Malaka yang menganggap jika seorang sarjana merasa enggan memegang cangkul di sawah, lebih baik pendidikan tidak diberikan sama sekali. Kemudian Cak Nun mengatakan,”Sekolahlah sampai engkau tau dirimu dibodohi dan kamu tahu sekolah gagal membodohimu.”

Beragam sikap dan makna tentang definisi pendidikan. Namun, apakah sebenarnya pendidikan itu dan bagaimana proses terbentuknya institusi pendidikan sehingga menjadi sebuah keharusan dalam proses belajar? Dalam falsafah Jawa proses pendidikan manusia dikategorikan menjadi empat tahapan, yaitu Margoutomo, Malioboro, Margomulyo dan Pangurakan. Tahapan tersebut menjadi symbol dan nama jalan mulai dari Tugu hingga Keraton Yogjakarta. Dan kemudian diadopsi menjadi nama-nama jalan di daerah lain.

Margoutomo menjadi tahapan pertama proses pendidikan. Jalan keutamaan yang harus dicari oleh seorang anak manusia. Seseorang perlu mencari dan menemukan apa keutamaan atau pembeda abadi yang ada dalam dirinya. Maka sebenarnya proses yang dilalui dalam institusi pendidikan mampu membantu seseorang menemukan apa keutamaan yang ada dalam dirinya. Keutamaan yang dimaksud di sini adalah suatu hal yang diri sendiri semangat dalam mengerjakannya dan orang lain merasa terbantu atau merasa kemanfaatan.

Dalam menemukan keutamaan dalam diri, bukan berarti seseorang mengabaikan hal lain di luar kemampuannya. Setiap orang tetap berkewajiban mempelajari segala hal yang tampak oleh mata, namun harus mengetahui satu hal yang menjadi pembeda abadi atau identitas dirinya. Cara sederhana untuk mengetahui keberhasilannya adalah sejauh mana orang lain mengetahui identitas tersebut tanpa menyebutkan nama asli dari dirinya.

Tahapan kedua adalah Malioboro. Sebuah kawasan atau nama jalan yang menjadi salah satu destinasi wisata kebudayaan. Secara bahasa, Malioboro tersusun atas  dua kata yaitu malio dan boro. Malio sebagai kata perintah yang berasal dari kata wali yang bermakna wakil, sedangkan boro bermakna mengembara. Maksudnya, setelah seseorang mampu menemukan keutamaan dalam dirinya, maka tahapan selanjutnya adalah menjadi wakil Tuhan Yang Maha Esa dalam memberikan manfaat kepada sesame yang ditempuh dengan pengembaraan. Mengasah keterampilan dengan jalan pengabdian untuk mematangkan apa yang telah menjadi keutamaan dalam dirinya. Hal tersebut dilakukan secara terus-menerus tanpa henti secara rutin hingga seseorang mencapai tahap Margomulyo.

Margomulyo sebagai fase ketiga proses pendidikan seorang manusia. Jalan kemulyaan, seseorang yang mengabdikan dirinya secara berkesinambungan akan sampai kepada tahap kemulyaan. Tahapan ini sebenarnya akibat dari tahapan sebelumnya, bukan untuk diusahakan apalagi menjadi tujuan. Tahapan ini tidak bisa dideteksi oleh diri sendiri, melainkan sesuatu yang dirasakan orang lain ketika mendapat manfaat dalam dirinya. Tahapan ini sebagai akumulasi dari proses perjalanan panjang dalam menempa diri dalam belajar.

Kemudian Pangurakan sebagai tahap keempat proses pendidikan. Tahapan ini menjadikan seseorang memahami kehidupan. Menang tanpa mengalahkan, benar tanpa menyalahkan dan ada tanpa meniadakan. Tak ada sesuatu yang diingini selain ridho-Nya. Sebagai tahapan akhir dalam proses pendidikan sehingga seakan-akan Manunggaling Kawula Gusti.

Demikian tahapan proses pendidikan yang akan dilalui seorang manusia dalam perjalanan hidupnya di muka bumi. Perjalanan tersebut bisa dilalui secara kultural dalam hubungan sosial kemasyarakatan dan/atau secara structural dengan menerima pendidikan di sebuah institusi. Institusi pendidikan yang menjadi pilihan masyarakat secara umum ada tiga hal, yaitu: sekolah, pesantren dan taman siswa.

Sekolah menjadi institusi pendidikan yang dikenal luas oleh masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, sekolah beradaptasi dalam berbagai bentuk, diantaranya: homeschooling, les atau bimbel, kursus, dsb. Sekolah bermakna waktu luang dalam bahasa latin, sedangkan dalam bahasa Perancis berarti belenggu. Seseorang dibelenggu untuk memenuhi kebutuhan industry. Hal ini menjadi latar belakang adanya sekolah atau dikenalnya istilah sekolah ke seluruh dunia.

Revolusi Industri Perancis sebagai tonggak renaissans atau abad pencerahan Eropa, sebagai awal munculnya sekolah sebagai tempat mencetak pekerja industry. Sekolah ada karena adanya industry. Sedangkan jauh sebelum itu, academia yang didirikan oleh Plato mempelajari hal-hal yang berbeda dengan sekolah. Gerbang academia memberikan pesan kepada setiap orang yang datang. Hal-hal tentang dzat tunggal atau ganda dan proses ilmiah dari segala hal metafisik menjadi pembahasan dan jalan hidup yang menentukan arah kehidupan.

Di Indonesia, sekolah dikenal sejak zaman Hindia-Belanda. Zaman tersebut sekolah tidak lebih sebagai doktrin bahwa orang-orang pribumi tidak lebih baik dari Hindia-Belanda. Hanya kalangan bangsawan yang diperbolehkan belajar di sekolah tinggi. Adanya kasta dalam system pendidikan di era tersebut memberika efek kepada generasi selanjutnya. Tidak sedikit yang menganggap bahwa hal-hal yang berasal dari luar lebih baik dari pada dalam negeri. Banyak yang berlomba-lomba bersekolah di luar negeri, membanggakan apa yang bukan miliknya, dan lupa berkontribusi membangun daerahnya, tanah airnya.

Sistem sekolah dibuat sedemikian rupa menggunakan standar materialisme sehingga seakan-akan sekolah dengan peringkat terataslah yang terbaik. Peringkat atau ranking yang ada dalam proses pembelajaran tentu sangat banyak manfaatnya untuk tujuan kompetitif dan meningkatkan daya saing. Namun, di era teknologi dan terbukanya rahasia masihkan ranking relevan dengan perkembangan zaman?

Manfaat adanya ranking bagi siswa sebenarnya tidak lebih besar dari efek sampingnya. Guru bisa tidak obyektif dan orang tua akan menganggap anaknya tak punya kemampuan jika mendapat ranking rendah. Hal tersebut secara tidak langsung mengonstruk pola piker bahwa keberhasilan orang lain adalah kegagalan diri sendiri. Padahal tidak demikan, setiap kelahiran adalah special, warna baru kehidupan dan tak layak diperbandingkan. Maka yang terpenting adalah bagaimana mencetak generasi penerus yang senantiasa dalam kebenaran tanpa merasa lebih baik dari sesamanya. Prinsip-prinsip egaliter yang menumbuhkan kerja sama akan lebih dibutuhkan di era terbunya rahasia seperti sekarang.

Pendidikan egaliter tersebut telah ada di Nusantara jauh sebelum adanya sekolah. Pendidikan tersebut dikenal sebagai Mandala di zaman raja-raja. Mandala sebagai tempat khusus bagi para resi untuk memperdalam kemampuan dan pengetahuannya. Mandala tentu tidak bisa disamakan dengan sekolah dan tidak bisa dianggap lebih baik atau lebih buruh dari sekolah, karena mandala tidak untuk itu dan tidak ada system ranking. Mandala lebih kepada pembinaan akhlak dan mental yang mendidik budi seseorang.

Seiring berkembangnya zaman, mandala beradaptasi dengan budaya setempat tanpa meninggalkan ruh pendidikannya. Mandala beradaptasi menjadi pesantren, dimana lembaga pendidikan yang mendidik akhlak dan integritas manusia menjadi paripurna. Hal tersebut juga menginspirasi Ki Hajar Dewantara dalam membangun Taman Siswa, bahwa yang lebih penting dari keterampilan dan pengetahuan sesorang adalah akhlak dan budi luhur.

Lantas bagaimana masa depan pendidikan kita? Di mana dan mau kemana perjalanan proses belajar generasi penerus bangsa. Setiap orang tentu mempunyai pilihan masing-masing, yang perlu dipahami oleh setiap pembelajar bahwa tugas kita tidak untuk sukses, melainkan untuk terus belajar. Tugas kita juga bukan untuk pintar, melainkan untuk terus belajar. Belajar mencintai apa yang sedang dipelajari, belajar menekuni apa yang disukai dan belajar memahami apa yang tidak dikuasai. Setiap orang adalah guru, setiap kesempatan adalah waktu belajar dan setiap tempat adalah ruang rindu persahabatan, menyusun pola kebermanfaatan.

No comments:

Post a Comment