Dewan Kesenian Jawa Timur sosialisasikan folklore untuk mengenali jati diri bangsa. Bertempat di Latarombo Café, sosialisasi berlangsung meriah dengan dihadiri pejabat setempat, para guru, budayawan dan akademisi. Sosialisasi ini sebagai upaya meningkatkan nasionalisme dan cinta tanah air kepada masyarakat Jawa Timur khususnya generasi muda.

Kurang lebih selama 3 bulan, tim konservasi budaya melakukan riset terhadap folklore dengan spesifikasi dalam seni pertunjukan. Tim konservasi budaya sebanyak 5 orang diantaranya: Desiderius Alrin Rahadianto, Ardiansyah Bagus Suryanto, Riszky Alla Saputra dan Tiara Widya Iswara yang diketuai oleh Wulansary.


Dalam sosialisasi tersebut setidaknya ada 7 cerita rakyat yang diabadikan dalam seni pertunjukan. Kisah-kisah tersebut seharusnya menjadi inspirasi dalam memupuk karakter jati diri bangsa. Cerita rakyat tersebut diantaranya: Laskar Majapahit dalam Pementasan Ludruk, Dewi Andong Sari dalam Tari Runtik, Panji dalam Tari Topeng Malangan, Prabu Suryadadari dalam Wayung Purwa, Reog Ponorogo, Menakjinggo dan Tari Gandrung Sewu.
Keagungan Islam dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk Negeri Pancasila. Dari gunung ke laut wajah tersenyum di mana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan.

Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. Dikembangkan dalam pendidikan khusus yang dikenal dengan nama Pesantren, tempat dimana para santri dididik agar tidak kagetan dalam menghadapi kehidupan bermasyarakat. Senantiasa merawat akal sehat dengan mengedepankan akhlak, menebarkan kedamaian dan memberikan ketenangan kepada umat.

Santri sebagai symbol keindahan dalam memperjuangkan harapan umat. Tidak hanya keindahan tentang apa, melainkan juga kesantunan dalam menyapa. Maka, pesantren menjadi tempat berkumpulnya akal sehat dalam mempelajari keindahan sastra. Sastra berwujud firman Tuhan dan sabda Rasul, serta karya ulama’ dalam bentuk rangkaian nadham.

Klaim Hari Santri
Setiap keindahan akan diperebutkan oleh banyak pihak. Cara sederhana untuk mengetahui kebenaran tersebut adalah dengan melacak sejarah adanya hari santri. Juga dapat dideteksi dengan kebiasaan yang telah menjadi identitas. Ada beberapa kata yang setara dengan kata santri, yaitu langgar, tahlilan, tawassul dan ziarah kubur. Setara yang dimaksud di sini adalah identitas sebuah kata dengan kesamaan peristiwa. Sehingga ketika seseorang atau sebuah kelompok mengklaim sebagai pengusul adanya hari santri, namun tidak melakukan objek kata yang setara dengannya, maka dapat disimpulkan sebagai kebohongan.

Menurut Gus Dur, santri berasal dari bahasa Pali shastri, orang yang mempelajari sastra. Pali sebagai bahasa pertama kitab Tripitaka. Istilah yang identic dengan agama Buddha, namun digunakan dalam agama lain. Ini menunjukkan bahwa perbedaan bahasa tidak membuat seseorang auto-kafir atau bermasalah dengan keislamannya.

Langgar sebagai salah satu sebutan tempat beribadah umat Islam yang tidak jauh dari rumah. Berasal dari kata sanggar yang bermakna tempat pemujaan di pekarangan rumah. Walisongo mempunyai andil besar dalam merubah suatu tempat berdasarkan nilai-nilai Islam tanpa pemaksaan atau pertumpahan darah. Istilah yang identic dengan agama lain, namun digunakan dalam dakwah Islam.

Tahlilan merupakan amaliah Islam di Nusantara yang dibungkus dengan kebudayaan setempat. Masyarakat Nusantara pada zaman dahulu senantiasa mengingat jasa leluhur dengan mendatangi punden berundak dengan mempersembahkan sesajen. Walisongo mengadopsinya dan merubahnya menjadi budaya silaturrahim dan sedekah. Tawassul menjadi salah satu unsur dalam tahlilan agar senantiasa mengingat jasa para guru dan orang tua. Sedangkan ziarah kubur menjadi upaya untuk memahami bahwa ‘Jangan sekali-kali melupakan sejarah!’
  
Raden Santri
Rencana penggusuran makam Rasulullah dan klaim hari santri adalah pola piker dengan latar belakang yang sama. Gerakan santri yang menolak rencana penggusuran tersebut dikenal dengan Komite Hijaz, sebagai cikal bakal Nahdlatul Ulama’. Santri tidak akan melupakan jasa para guru dan orang tuanya, karena melupakan salah satu atau keduanya akan menjadi sebab hilangnya keberkahan dalam hidup. Tahlilan, tawassul dan ziarah kubur sebagai salah satu cara mengingat jasa-jasa mereka yang telah berpulang, inilah identitas santri.

Seorang santri bernama Sayyid Ali Murtadlo menggunakan kata santri sebagai identitas. Orang-orang menyebutnya Raden Santri, kakak dari Sunan Ampel. Anak dari Syekh Ibrahim Asmaraqondi dan sepupu Maulana Malik Ibrahim. Maka sebenarnya, Sayyid Ali Murtadlo adalah Sunan Gresik yang masuk dalam Walisongo.

Santri, tak mengandalkan seragam agar dihormati atau berkata agar diikuti, apalagi minta untuk dilayani. Kebanggannya bukan pada diri, melainkan aktivitas sehari-hari. Senjatanya istiqomah mengaji mengasah jati diri, berharap ilmu yang manfaati barokah dari para kiai. Melestarikan ajaran para wali sebagai pewaris baginda Nabi. Itulah impian sejati, bukan untuk menyombongkan diri terhadap titipan Ilahi, karena itu perilaku syaitoni. Musuh abadi manusia di muka bumi.

Selamat Hari Lahir Organisasi Para Santri, Nahdlatul Ulama’!
Sebagai upaya preventif dalam mengurangi pelanggaran UU ITE, Dinas Komunikasi dan Informatika sosialisasikan Tips dan Trik agar pengguna internet tidak terjerat kasus hukum. Di aula Dinas Komunikasi dan Informatika, kurang lebih 100 peserta perwakilan dari setiap instansi menyimak penjelasan dari Gus Wahid selaku pakar agama, akademisi dari Universitas Negeri Surabaya dan praktisi selaku saksi dalam setiap persidangan pelanggaran UU ITE (29/3).

Data pengguna internet berdasarkan usia, pekerjaan, dan beragam jenis identitas dipaparkan. Beragam kesempatan dan berjuta kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya dengan adanya internet. Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar menjadi negara yang paling pesat tingkat pertumbuhan e-commerce. Semakin padat lalu lintas, maka agar tetap tertib perlu ada aturan agar hak dan kewajiban setiap warga negara terpenuhi.

Ketentuan umum yang perlu diketahui oleh warganet terkait Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik, termasuk tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (elektronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, symbol, atau perforasi yang telah diolah sehingga memiliki arti atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya. Sedangkan Transaksi ELektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan computer, jaringan computer dan/atau media elektornik lainnya.

Rambu-rambu yang mengatur terkait Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) diantaranya UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik sebagaimana telah diubahdengan UU nomor 19 tahun 2016, UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang pornografi, KUHP, Peraturan Menteri Kominfo tentang Perlindungan Data Pribadi Melalui Sistem Elektronik, dsb. Secara umum perbuatan yang dilarang (cybercrime) dijelaskan pada bab VII (pasal 27-37), yaitu:
Pasal 27 (asusila, perjudian, penghinaan, pemerasan)
Pasal 28 (berita bohong dan menyesatkan, berita kebencian dan permusuhan)
Pasal 29 (ancaman kekerasan dan menakut-nakuti)
Pasal 30 (akses computer pihak lain tanpa izin, cracking)
Pasal 31 (penyadapan, perubahan, penghilangan informasi)
Pasal 32 (pemindahan, perusakan dan membuka informasi rahasia)
Pasal 33 (virus, membuat system tidak bekerja)
Pasal 35 (phising atau pemalsuan)

Maka, tips dan trik untuk menghindari pelanggaran UU ITE adalah sebagai berikut:
Ø  Ketika emosi, jauhi sosmed
Ø  Hindari bicara yang berkaitan dengan SARA
Ø  Hindari kata-kata kasar
Ø  Hindari pornografi
Ø  Dunia maya sama dengan dunia nyata
Ø  Update semua hal yang berkaitan dengan UU ITE
Ø  Jangan hanya mengkritik, tapi berikan juga solusi
Ø  Kritik berdasarkan fakta dan bukti pendukung
Ø  Jangan segan minta maaf
Ø  Jangan mencari perhatian dengan judul provokatif
Ø  Fokus pada masalah, bukan personal atau lembaga
Ø  Bersikap dewasa dalam menyikapi sesuatu
Ø  Verifikasi kebenaran sebelum membagikan

“Gajah Mada, seperti yang sudah banyak ditulis, selalu mengingatkan orang pada Sumpah Amukti Palapa, pemberontakan Ra Kuti, persekongkolan jahat Majapahit, penaklukan Nusantara, dan peristiwa berdarah di alun-alun Bubat yang membangun gambaran luar biasa sosok Perdana Menteri Kemaharajaan Majapahit itu sebagai Panglima Perang yang selalu unggul dalam pertempuran mengalahkan lawan-lawannya. Gambaran umum tentang sosok Gajah Mada sebagai ahli perang – yang sebagian besar bersumber dari Pararaton dan Kidung Sunda serta sejumlah historiografi jenis Babad – tidak pernah berubah sampai saat ini karena telah dibakukan di bangku sekolah  hingga perguruan tinggi”

Demikian kutipan dari exordium buku terbaru Ki Agus Sunyoto yang berjudul Mahapati Mangkhubumi Majapahit Pu Gajah Mada. Buku tersebut di bedah di Aula Salsabila Gedung PWNU Jawa Timur (26/3) dan akan disiarkan TV9. Buku tersebut merupakan kumpulan tulisan beliau di Radar Kediri selama tiga tahun.   

Buku ini mengisahkan silsilah dan perjalanan Gajah Mada dari seseorang yang dianggap bukan siapa-siapa menjadi sosok yang dikenal hingga sekarang karena perjuangannya. Dalam penulisannya, Ki Agus Sunyoto turun lapangan mengumpulkan bukti-bukti sejarah di daerah Lamongan. Perjalanan tersebut bisa disimak di sini Ekspedisi Gadjah Mada di Tanah Kelahirannya.


“Untuk menghancurkan suatu bangsa cukup dengan dua cara, yaitu: Hapus sejarahnya dan lenyapkan bukti materialnya,” kata Ki Agus Sunyoto memulai bedah buku dengan kutipan sejarawan.

“Penjajah berhasil melakukannya, sehingga sampai sekarang orang-orang Indonesia selalu merasa inferior ketika bertemu orang asing. Kisah-kisah yang sebenarnya tidak terjadi, diciptakan penjajah untuk mengadu domba dan menghapus sejarah kejayaan masa lalu seperti Perang Bubat, isu negatif masyarakat Samin dan pembumihangusan Majapahit oleh Raden Patah. Sehingga warga pribumi tidak mempunyai kebanggaan terhadap kejayaan leluhurnya. Menghancurkan makam, melarang ziarah, enggan bertawassul, mudah mensyrikkan dan suka mengafirkan adalah upaya menghapus sejarah. Harapannya dengan adanya buku ini bisa memberikan pandangan baru terhadap sosok Gajah Mada. Selama ini digambarkan oleh penjajah sebagai Panglima Perang yang kejam, tetapi sebenarnya sosok yang cerdik dan seorang pemikir besar.” Lanjutnya.

Perjuangan yang tidak mudah dilalui Gajah Mada atau orang-orang Lamongan mengenalnya sebagai Jaka Mada. Jaka Mada adalah anak yang terlahir dari pernikahan pratiloma, yaitu pernikahan perempuan bangsawan dengan lelaki berkasta rendah. Status anak yang dihasilkan dari pernikahan ini tidak lebih tinggi dari bapaknya. Pelaku pernikahan ini dianalogikan dengan menyisir rambut dari bawah ke atas: merusak tatanan.

Kasta yang mayoritas dipahami sebagai sikap diskrimasi perlu ditinjau kembali sesuai konteksnya. Tatanan sosial pada zaman tersebut dikelompokkan sesuai dengan karakter manusia atau profesinya, diantaranya:
     1.      Brahmana: orang-orang yang tidak punya ikatan dengan dunia dan boleh berbicara agama
     2.   Ksatria: bangsawan atau orang-orang yang tidak boleh memiliki kekayaan pribadi, tapi dijamin hidupnya oleh negara
     3.      Waisya: petani atau orang-orang yang hidup dengan merawat bumi
     4.      Sudra:  saudagar, pedagang, rentenir dll
    5.   Candala: pemburu, tukang jagal, nelayan atau orang-orang yang mencari penghidupan dengan membunuh
     6.      Mleca/Ilalan: Orang asing

Ibunda Gajah Mada merupakan keturunan Kertajaya yang berstatus bangsawan, namun menikah dengan seorang Mongolia yang berstatus orang asing atau ilalan. Sehingga anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut berstatus tidak lebih tinggi dari ayahnya (Jawikepatih). Dalam perjalanan hidupnya, Jaka Mada selalu menghindar ketika bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kampungnya. Jaka Mada dianggap sebagai orang asing karena memiliki kulit lebih terang dari orang Jawa pada umumnya.

Ketika meniti karir pun, Jaka Mada mengalami kesulitan. Berkat kain kuning peninggalan leluhurnya, dia pun diterima menjadi prajurit. Kalangan kerajaan sebenarnya tahu bahwa Jaka Mada adalah seorang bangsawan, namun berita itu dirahasiakan sampai di kemudian hari. Jaka Mada masih bukan siapa-siapa, namanya tidak ada yang mengenalnya, sampai akhirnya peristiwa penyelamatan kerajaan di daerah Bedander membawa namanya dikenal dan sedikit demi seditik karirnya meningkat.

Penjajah mengetahui ketangguhan Jaka Mada, karya-karyanya dirahasikan dari warga pribumi. Penyebutan irlander kepada pribumi diambil dari penyebutan kasta ilalan, sebagai upaya politik untuk membangun opini bahwa warga pribumi dengan segala karakternya merupakan kasta rendah, sedangkan warga kulit putih (penjajah) dengan budayanya lebih superior dalam segala hal.

Berdasarkan tatanan sosial tersebut, sampai sekarang Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai negara di wilayah Nusantara tidak memperbolehkan penduduk pribuminya menjadi pelayan. Hanya orang-orang asing yang diizinkan menjadi pelayan di negara-negara tersebut.

Mada
Berbagai versi menyebutkan asal usul Gajah Mada. Cerita tutur yang berkembang di Lamongan, menyebutkan bahwa Jaka Mada terlahir di Pangimbang dan menghabiskan masa remajanya di daerah Mada. Wilayah tersebut merupakan jalan utama yang menghubungkan pelabuhan Tuban sebagai pusat perdagangan dengan pusat kerajaan.

Mada dalam bahasa Jawa Kuna mempunyai banyak arti yaitu lembah, seks, amuk atau arogan. Dalam hal ini daerah Mada yang kini masuk wilayah administrasi merupakan daerah lembah. Sumber lain menyebutkan bahwa Gadjah Mada terlahir di tepi Sungai Brantas. Dahulu lebar Sungai Brantas kurang lebih 5 km, namun kini hanya tinggal beberapa meter karena oleh penjajah, di sekitar tepian sungai dijadikan perkebunan tebu.

Selain itu, Mada tergambar dari karakter warga Lamongan yang begitu ambisius dalam mencapai apa yang diinginkannya. Redaksi Palambongan, yang berarti daerah banjir, dalam sebuah prasasti menunjuk wilayah yang sekarang disebut Lamongan. Namun, agar tidak terjadi pertikaian antara anak permaisuri dan selir. Kerajaan memindahkan Wirabhumi dengan mengadakan bedol desa ke daerah timur yang sekarang dikenal sebagai Blambangan. Secara arti wilayah Blambangan di Banyuwangi tidak cocok karena jauh dari laut atau sungai sehingga tidak memungkinkan untuk terjadi banjir.

Warga di wilayah Lamongan, sejak dulu merupakan pemberani untuk membela kerajaan. Oleh karenanya, banyak ditemukan prasasti-prasasti yang menunjukkan keistimewaan daerah ini. Jambore kebudayaan mengungkap hal tersebut. Sebagian sumber juga menyebutkan bahwa Raja Airlangga masa pendidikannya berada di wilayah Lamongan.


Rangkaian perjalanan ziarah diselenggarakan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Timur (24/3). Perjalanan menziarahi maqbarah para muassis organisasi sekaligus silaturrahim dengan keluarga besar muassis. Agenda ini masih dalam rangkaian Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-96.

Tahun ini terbagi menjadi 5 zona, yaitu: Jombang, Madura, Surabaya, Tapal Kuda dan Malang. Zona Jombang akan menziarahi KH. Wahab Hasbullah (Tambak Beras), KH. Romli (Peterongan), KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng) dan KH. Bisri Syansuri (Denanyar). Zona Madura akan mengunjungi KH. Syirojuddin (Pamekasan), KH. Kholil dan KH. Muntaha (Bangkalan). Zona Surabaya akan mendatangi KH. Ridlwan Abdullah & KH. Thohir Bakri (Makam Tembok), KH. Mas Alwi (Makam Rangkah), Sunan Ampel & Hasan Gipo (Makam Ampel) dan KH. Faqih Maskumambang (Gresik). Zona Tapal Kuda akan bersilaturrahim ke KH. Hasan Genggong (Probolinggo) dan KH. As’ad Syamsul Arifin (Situbondo). Dan zona Malang akan menyambung sanad ke KH. Mas Nawawi Sidogiri (Pasuruan) dan KH. Nahrawi Thohir Singosari (Malang).

Dalam kesempatan ini, saya bersama kawan-kawan Aswaja NU Center Jatim mendapatkan bus yang menuju zona Malang. Lokasi pertama yang menjadi tujuan adalah Pesantren Sidogiri. Pesantren ini menjadi salah satu pesantren tua di Indonesia yang didirikan oleh Sayyid Sulaiman Basyaiban, dan sekarang diasuh oleh KH. Nawawi Abdul Jalil.

Rombongan disambut oleh para santri ketika memasuki gerbang pesantren. Dengan seragam putih dan bersarung hijau, pemandangan tampak sejuk dan damai. Seakan melengkapi hamparan sawah menghijau di sepanjang perjalanan. Sebelum menuju ndalem, rombongan menuju maqbarah tempat para sesepuh dan masyayikh dikebumikan. Perjalanan menuju tempat ini melewati lorong-lorong pesantren yang menyuguhkan beragam aktivitas santri, proses belajar-mengajar dan sayup-sayup ayat suci Al-Quran.

Kemudian kami dijamu oleh KH. Nawawi Abdul Jalil beserta putra beliau di ndalem. Perbincangan berlangsung dua arah membahas tentang pendidikan Islam, kondisi sosial, peningkatan ekonomi kemasyarakatan dan mensinergikan alumnus pesantren. Rombongan juga mendapatkan kesempatan untuk mengamalkan wirid yang diijazahkan oleh beliau.


Perjalanan dilanjutkan menuju Malang tepatnya di daerah Singosari. Rombongan mengunjungi salah satu muassis yang keluarganya turut andil dalam gerakan sosial kemasyarakatan. Merintis sekolah wanita pertama zaman dahulu. Kesederhanaan dan kemandirian adalah prinsip hidup KH. Nachrawi Thahir.

Agenda ziarah muassis sekaligus menutup rangkaian peringatan Hari Lahir NU ke-96. Istighotsah dan tahlil yang dilangitkan malam hari sebelumnya (23/4). Meskipun rintik hujan sempat menetes, namun ribuan jamaah tak bergeser sedikit pun dari tempat duduk. Dalam acara ini juga pemberian hadiah kepada para pemenang Olimpiade Aswaja 2019.



Selain itu, sebelumnya juga Keluarga Besar Ruqyah Aswaja (KBRA) meramaikan harlah dengan ruqyah massal, memperkenalkan suwu’e wong NUKami menjadi pembawa acara dalam acara tersebut. Lembaga Penelitian dan Pengembangan pun turut andil dalam melakukan workshop dan mengembangkan Sumber Daya Manusia NU. Mendistribusikan kader-kader NU di setiap lini kehidupan.



Selamat Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-96 , semoga semakin berkah dan maju!


Di serambi Masjid Ulul Albab UIN Sunan Ampel Surabaya, Badan Student Crisis Center kembali mengadakan diskusi mingguan (18/3). Kali ini ditemani oleh Mas Ardi selaku perwakilan Aswaja NU Center Jatim. Tema yang dibahas pada sore hari ini terkait penyalahgunaan istilah kafir oleh sebagian kelompok.

Penyalahgunaan ini seringkali menodai nilai-nilai kemanusian yang menjurus kriminalitas dan pertumpahan darah. Oleh karena itu, Nahdlatul Ulama selaku organsasi penjaga perdamaian di Indonesia menggunakan istilah non-muslim dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam anggaran dasar NU menyebutkan bahwa aqidah NU adalah Islam Ahlussunnah Wal Jamaah dan asasnya adalah Pancasila.

Harta yang paling berharga bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Saripati nilai luhur yang dijadikan pandangan hidup dalam mengolah kekayaan alam dan budaya. Senyuman menjadi wujud syukur rakyat dalam hidup bermasyarakat. Hidup dalam kesataraan bahwa tidak ada yang lebih superior antar-sesama manusia. Sadar bahwa hanya ada satu kekuatan yang menguasai seluruh alam semesta, tak bisa diumpamakan dan digambarkan oleh akal: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Nilai Pancasila telah mengakar dalam kehidupan jauh sebelum Pancasila dicetuskan. Nilai yang berasal dari rakyat, bukan ciptaan atau karangan seorang tokoh tertentu. Oleh karena itu kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, sebagai sumber kebijaksanaan hasil dari permusyawaratan. Bahwa segala masalah, pengambilan keputusan atau penyelesaian sengketa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

Pancasila bukanlah agama, melainkan kesepakatan hidup bernegara dalam keberagaman dan keber-agama-an. Rakyat tidak semestinya dibenturkan dengan terminologi agama seperti kafir dalam Islam, maitrah dalam Hindu, abrahmacariyavasa dalam Buddha atau domba yang tersesat dalam Kristen. Rakyat adalah sebutan bagi penduduk Indonesia dan memiliki persamaan di depan hukum. Indonesia mengakui enam agama yaitu Hindu, Buddha, Katholik, Kristen, Konghucu dan Penghayat. Oleh karena itu, terminology agama seyogyanya tidak digunakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan tanpa meniadakannya. Terminologi agama tersebut tetap digunakan di agama masing-masing dan tidak merubah satu pun ajaran agama.

Kafir
Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia menjadi percontohan dalam merawat perbedaan menjadi rahmat. Bhinneka Tunggal Ika berhasil menyatukan perbedaan tanpa berusaha menyamakan atau meyeragamkan, karena perbedaan sebagai fitrah manusia untuk saling mengenal.

Tidak ada paksaan dalam beragama. Paksaan tersebut bisa berupa ancaman atau kekerasan, sehingga bisa dimaknai bahwa tidak ada agama dalam kekerasan. Orang yang melakukan kekerasan sebenarnya tidak beragama sekalipun mengaku memeluk agama tertentu. Meskipun dalam Islam mengenal istilah taubat, namun orang yang melanggar hukum tetap wajib menerima konsekuensi terhadap apa yang dilakukannya.

Al-Quran sebagai kitab suci umat Muslim dengan sastra Arab yang cukup tinggi. Ketinggian tata bahasa Al-Quran seringkali tak mampu dipahami oleh umat muslim secara sempurna. Sehingga menyebabkan terciptanya kelompok-kelompok berdasarkan pemahaman masing-masing terhadap kitab suci.

Sepanjang sejarah umat muslim ada beberapa perbedaan sikap kelompok-kelompok dalam menyikapi status kafir. Khawarij menganggap orang Islam yang melakukan dosa besar adalah kafir sehingga harus dibunuh, Syiah, Murjiah menganggap bahwa orang Islam yang melakukan dosa besar tidak kafir, Qadariyah, Syiah dan Muktazilah menganggap orang yang berdosa besar tidak kafir dan bukan mukmin, tetapi fasiq yaitu kekal di neraka. Dan Sunni menganggap bahwa orang yang melakukan dosa tetaplah mukmin. Di antara beberapa pendapat kelompok tersebut, yang paling berbahaya ketika hidup di Indonesia adalah Khawarij yang mengharuskan membunuh kafir dan pelaku dosa besar. Di Indonesia, sudah tidak ada lagi yang menentang atau mengancam umat Muslim karena Non-Muslim hidup berdampingan dengan umat Muslim, bahkan saling bertanggung jawab dalam hidup bernegara.

Organisasi yang seringkali membuat kerusakan dan mengatasnamakan agama diantaranya ISIS, Al-Qaeda dan HTI. Menyebut pemerintah yang sah sebagai kafir, negara thagut, tidak mau mengikuti upacara bendera dan penghormatan, sebagai tanda-tanda kerusakan sosial. Kelompok ini merekrut orang-orang yang memiliki pemahaman agama yang lemah dengan iming-iming surga.


Pemahaman dan pembiasaan menuju pembelaan, sebagai tema dalam Olimpiade Aswaja 2019. Banyak cara yang dapat digunakan dalam mengenalkan NU kepada generasi milenial. Salah satunya dengan menggelar Olimpiade Aswaja yang berlangsung di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ Jawa Timur.


Olimpiade Aswaja merupakan rangkaian perlombaan yang dimanajeri oleh Pengurus Wilayah Jawa Timur bidang Aswaja NU Center. Peserta dari SMA sederajat dan masyarakat umum. Olimpiade ini diselenggarakan dalam rangka memeriahkan Hari Lahir NU ke-96.

“Ini cara yang bisa kita lakukan demi mengenalkan Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja an-Nahdliyyah kepada generasi milenial,” kata K.H. Abdurrahman Navis selaku wakil ketua PWNU  Jatim (16/3).

Apresiasi diberikan kepada PW Aswaja NU Center Jatim  yang selalu mengawal generasi muda, baik melalui kajian mingguan, online maupun perlombaan seperti ini. Tahun ini perlombaan terdiri dari 4 cabang yaitu, pidato, debat, cerpen dan poster. Perlombaan berlangsung selama sehari penuh.


Pemenang Olimpiade Aswaja 2019 ini dari berbagai sekolah diantaranya:
Pidato
Juara 1 :M. Zikni Amiruddin (MAN 4 Jombang)
Juara 2 :M. Hamdan al-Makki (MAS Manbaul Hikam Sidoarjo)
Juara 3 :M. Afifullah al-Asy’ari (PP. Zainul Hasan Genggong)
Harapan 1 :Salsabyla Nuril Ula (SMA Progresif Bumi Shalawat)
Harapan 2 :M. Abdi Rohman Firdaus (MA Al-Hidayah Termas)
Harapan 3 :Mahfud Ali (SMA Sunan Giri)

Debat
Juara 1 :Nurul Qarnain
Juara 2 :Nuris Jember
Juara 3 :Singosari Malang
Harapan :SMAN 1 Sooko

Cerpen
Juara 1 :Afifah Shinta Nur Aida (MA Putri Ma’arif Ponorogo)
Juara 2 :Diah Afuquyyum (SMA Progresif Bumi Shalawat)
Juara 3 :Shinta Safa Ranyya Bachris (MAS Manbaul Hikam Sidoarjo)

Poster
Juara 1 :Wahyu Agus Arifin (PC IPNU Ponorogo)
Juara 2 :Fery Varobiey (PK IPNU MA Nasyatul Mutaallimin 2)

Untuk pemenang dan pembagian hadiah akan diberikan saat puncak peringatan Hari Lahir NU ke-96 yang akan diselenggarakan Sabtu (23/3), di halaman parkir utara PWNU Jawa Timur pukul 19.00 WIB.

Gambar: Kopertais 3
Success as a Researcher
https://www.mediafire.com/file/nw2i3opz3uv3d6p/Success_as_a_researcher.rar/file

Leading to be One of the Best International Journal
https://www.mediafire.com/file/gcdlm4w7dpd7971/Leading_to_be_one_of_the_best_International_Journal.rar/file

Teknik Sitasi Turabian Style 8th
http://www.mediafire.com/file/75wjyapxc9773hu/Teknik_Sitasi_Turabian_Style_8th_Ed.rar/file

Plagiarisme dalam Rekognisi Internasional
http://www.mediafire.com/file/fsm98czhbz7nz7h/Plagiarisme_Dalam_Rekognisi_Internasioal.rar/file

Top Tips for Writing Better Essays
http://www.mediafire.com/file/61hm0inh8qkebvd/Top_tips_for_writing_better_essays.rar/file

Menulis Artikel Untuk Jurnal Ilmiah Terakreditasi
http://www.mediafire.com/file/e6mwgeul7cimgbd/MENULIS_ARTIKEL_UNTUK_JURNAL_ILMIAH_TERAKREDITASI.rar/file

Tips Terindeks Scopus
http://www.mediafire.com/file/21a4930lcpg542y/Tips_Sukses_Menerbitkan_Artikel_Jurnal_Internasional_Terindex_Scopus.rar/file

Pengelolaan dan Akreditasi Jurnal Ilmiah Indonesia
http://www.mediafire.com/file/tmvo99p350ci938/Final1_Pengelolaan_dan_Akreditasi_Jurnal_Ilmiah_Indonesia.rar/file

Keyword Requirements
http://www.mediafire.com/file/k6c7cwtm9lobeb2/Keyword_requirements.rar/file

Register and Submission JPAI
http://www.mediafire.com/file/6a3eg822kbb4iel/Register_dan_Submission_JPAI.rar/file

Refleksi Tema Penelitian Pendidikan Islam
http://www.mediafire.com/file/729ov70dfumbbxo/Refleksi_Tema_Penelitian_Pendidikan_Islam.rar/file

Panduan Peningkatan Kualias Naskah
http://www.mediafire.com/file/pvv5gtcs9450l9m/Analisis_Peningkatan_Kualitas_Naskah.rar/file

Cara Pendaftaran Akreditasi Arjuna
http://www.mediafire.com/file/jbvdbkxbam8g8k1/Cara_Pendaftaran_Akreditasi_Arjuna.rar/file

Check Final Paper
http://www.mediafire.com/file/d7e852uefu557yq/Check_Final_Paper.rar/file

Communicate Ideas
http://www.mediafire.com/file/hqv785wg7pibyq0/Communicate_Ideas.rar/file

Daftar Jurnal Indonesia Terindeks Scopus
http://www.mediafire.com/file/e3a0n7a4dga3zvo/Daftar-Jurnal-Indonesia-Terindex-Scopus-per-April-2018.rar/file

Delimiting Scientific Later
http://www.mediafire.com/file/n9n31tgtjxjnbzl/Delimiting_Scientific_Later.rar/file

Dinamika Publikasi Jurnal Ilmiah
http://www.mediafire.com/file/b0i5fhidizgyq2g/Dinamika_Publikasi_Jurnal_Ilmiah.rar/file

Drawing Connected Literature Review
http://www.mediafire.com/file/vwbamvjsn7c4yue/Drawing_Connectedless_of_Literture_Review.rar/file

Effective Use Tables and Figures
http://www.mediafire.com/file/73eiw97btj7ob37/Effevtive_Use_Tables_and_Figures.rar/file

Kebijakan Publikasi Ilmiah
http://www.mediafire.com/file/x07w4acx06bbc6x/Kebijakan_Publikasi_Ilmiah.rar/file

Klinik Penulisan Artikel Ilmiah Internasional
http://www.mediafire.com/file/rc3yb6x31x1ccte/Klinik_Penulisan_Artikel_Ilmiah_Internasional.rar/file

Originality, Novelty and Scientific Later
http://www.mediafire.com/file/u63o7ckzzx7d2ki/Originality%252C_Novelty_and_Scientific_Paper.rar/file

Panduan Pengelolaan Referensi Menggunakan Mendeley
http://www.mediafire.com/file/4i90o3xsb48566k/Panduan_Pengelolaan_Referensi_Menggunakan_Aplikasi_Mendeley_2013.rar/file

Pedoman Akreditasi Jurnal Nasional
http://www.mediafire.com/file/id9m1r2fdidj1h4/Pedoman_Akreditasi_Jurnal_Nasional.rar/file

Pengelolaan dan Akreditasi Jurnal Ilmiah Indonesia
http://www.mediafire.com/file/csm8530f101c1n7/Pengelolaan_dan_Akreditasi_Jurnal_Ilmiah_Indonesia.rar/file

Peraturan Menteri Akreditasi Jurnal Ilmiah
http://www.mediafire.com/file/6hk6n2xvtw59ey6/Peraturan_Menteri_Akreditasi_Jurnal_Ilmiah.rar/file

Scholarly Publication Landscape
http://www.mediafire.com/file/j1yhv0i1p0wyzez/Scholarly_publication_landscape_%2526_sumber-sumber_referensi_riset_online.rar/file

Strategi Jurnal Terindeks Scopus
http://www.mediafire.com/file/mbvw8eze8axgsdt/Strategi_Jurnal_Terindeks_Scopus.rar/file

Successful Grant Writing
http://www.mediafire.com/file/qnr8mm1keq15y0f/Successful_grant_writing.rar/file

Tips Writing Efficient
http://www.mediafire.com/file/jy6bcm4sxpebwtk/Tips_Writing_Eficient.rar/file

Write Good Paper
http://www.mediafire.com/file/1o34s5h2ittri3o/Write_Good_Paper.rar/file

Write Publishable Article
http://www.mediafire.com/file/jbjdln2wp10i6r3/Writting_Publishable_Article.rar/file

SUBSCRIBE & FOLLOW