Pernahkah ketika membaca sesuatu, otak ini terasa mandeg dan tidak paham sama sekali? Hal itu sering terjadi ketika kita membaca bahasa asing atau hal-hal yang baru kita alami. Hal ini bisa kita anggap sebagai peningkatan pengetahuan dengan harapan mampu meningkatkan kualitas diri menjadi diri yang sejati. Ini yang saya rasakan ketika membaca judul di atas. Judul tersebut merupakan tema diskusi yang tertera di undangan yang dikirim oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Diskusi tersebut akan digelar pada tanggal 7 Agustus 2018 mendatang di Jakarta.

Selain materi yang akan disampaikan, hal-hal menarik bagi saya ketika kita mengalami kesulitan adalah dipertemukannya kita dengan orang-orang baru yang membuat kita semakin semangat dalam belajar, selain juga memperluas jaringan dan menambah wawasan. Bahkan bonus tersebut mungkin akan lebih bermanfaat di masa depan dari pada materi yang kita anggap sulit hari ini.


Tulisan ini hanya sekedar refleksi malam, berharap ada orang yang mau membimbing, berbagi pengalaman dan memberi arahan di bidang ini sebelum saya berpartisipasi dalam diskusi tersebut. Bertemu dan bersilaturrahim dengan para ahli lebih saya sukai, namun bisa dimungkinkan komunikasi itu melalui email ardiansyahbagus110@gmail.com jika jarak kurang efektif untuk bertemu. Hasil dari workshop akan dibagikan dikemudian hari. Insya Allah, Matur nuwun!


Kebaikan yang tidak terorginisir akan dikalahkan oleh kejahatan yang terorganisir. Begitulah kiranya sambutan Ketua PWNU Jawa Timur, K. H. Hasan Mutawakkil Alallah, sekaligus motivasi hadirin yang hadir. Banyak orang mengira bahwa Nahdlatul Ulama’ sebagai induk pesantren dan pesantren adalah produk NU. Persepsi tersebut tidak bisa disalahkan karena memang mayoritas orang NU baik secara strultural maupun kultural adalah orang-orang pesantren. Namun, yang perlu diluruskan adalah pesantren justru menjadi induk Nahdlatul Ulama’. NU hanyalah jembatan komunikasi dan koordinasi antarpesantren untuk membumikan nilai-nilai santri. Seperti Pancasila yang menjadi jembatan antaragama dan etnis.


Dilanjutkan oleh Rais Syuriah PWNU Jawa Timur, beliau menjelaskan realita yang terjadi di masyarakat. Mulai banyak pemikiran-pemikiran yang mengatasnamakan Islam membuat takut masyarakat, bahkan membuat masyarakat menjauh dan malas belajar agama Islam. Mereka berusaha menjauhkan masyarakat dari Kiai. Tidak jarang mereka menyalah-nyalahkan ajaran para kiai dan mengafir-kafirkan siapa saja yang mengamalkan.

Kemudian ketua umum PBNU, K. H. Said Aqil Siradj, mencoba memaparkan semua permasalahan-permasalahan kontemporer dari berbagai sudut pandang keilmuan. Selain itu, hal menarik yang beliau sampaikan adalah kehidupan sederhana para santri yang beliau alami di pesantren ini. Tidak jarang kesederhanaan-kesederhanaan itu menjadi hal yang sangat dirindukan bagi kita semua. Akhirnya, beliau dan jajaran pemimpin yang lain membuka acara dengan tabuhan rebana.



Konferensi Wilayah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ Jawa Timur dimulai, saya dan Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur bersiap menjalankan tugas. Kami mempersiapkan peralatan dan perlengkapan dalam rangka KISWAH Event yang diselenggarakan sehari penuh selama konferwil berlangsung.


Singkat cerita, KISWAH Event diakhiri dengan bedah buku Fiqih Kebangsaan oleh Lembaga Bahtsul Matsail PP. Lirboyo. Dan dipenghujung acara, saya mengikuti press conference di sekitar halaman aula PP. Lirboyo. Pembicara yang hadir memberikan penjelasan di bidangnya masing-masing, diantaranya Direktur TV9 yang baru-baru ini memperoleh penghargaan sebagai TV religi terbaik, perusahaan advertising, Lesbumi, Banser, RMI dan Ketua Redaksi Majalah AULA.
Secara umum hal-hal yang disampaikan adalah tantangan kedepan bagi kita semakin berat, semoga para kiai senantiasa diberi kekuatan dan yang berada di sini tetap semangat dalam menjalankan tugas, untuk Indonesia Raya.  Meneguhkan Nahdlatul Ulama’ sebagai payung bangsa.




Di bawah cahaya bulan purnama, sayup-sayup syair terdengar bergema dari setiap penjuru ruangan. Seakan menjadi penanda kehidupan yang penuh kedamaian, jauh dari riuhnya lalu lintas informasi hoax. Tak terlihat manusia-manusia penunduk yang sibuk dengan eksistensi negative dan lupa diri, yang tampak hanya senyuman-senyuman yang penuh dengan keramahan dan tatapan persahabatan. Peci, sarung, dan aksara gundul menjadi sebuah identitas sejauh mata memandang.

Untuk kesekian kalinya, saya berkunjung ke tempat ini: Lirboyo. Sebuah desa yang dipenuhi dengan berbagai lembaga pendidikan Islam. Orang-orang mengenalnya Ponpes Lirboyo. Kawasan yang setiap harinya dipenuhi lalu lintas kaum sarungan. Dan di malam ini, merahnya bulan purnama seakan menyambut setiap tamu yang datang, “Selamat Datang! Semoga Jawa Timur senantiasa di bawah bimbingan Ulama’.”

Pada kesempatan kali ini, saya bersama rombongan Tim Kiswah-Event turut meramaikan Konferwil Ulama’ Jawa Timur. Agenda lima tahunan ini ibarat menjahit kembali atau memperbaiki pakaian yang selama ini dikenakan. Pakaian ini yang membantu mengenali diri yang sejati, bukan menjadikan lupa diri mengabaikan atau merendahkan kemanusiaan dan seluruh ciptaan. Pakaian yang rusak perlu perbaikan-perbaikan untuk membimbing hati dan akal menuju insan kamil.

Dari lantai dua tempat kami beristirahat, tampak berseliweran para santri menuju tempat belajarnya masing-masing. Sementara langit menjadi saksi dan purnama semakin meneguhkan keagungan-Nya. Malam yang sempurna, berada di lingkungan positif menuju insan kamil.

Sejauh pengetahuan al-faqir, sosok insan kamil dalam sejarah diwakili oleh orang-orang yang mampu mendamaikan dua arus: saalimulfikr. Di bumi Nusantara ada sosok Hadratussyaikh K. H. Hasyim Asy’ari yang mendamaikan dua arus, kebangsaan dan keagamaan. Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan, Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan. Hubbul Wathon Minal Iman.

Di sisi lain, sosok Bung Karno juga mampu merumuskan dasar-dasar yang disarikan dari adat budaya Nusantara yang adiluhung: Pancasila. Sebuah dasar negara yang mengolaborasikan antara agama dan negara. Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan dalam membentuk masyarakat yang berkeadilan social.

Sementara itu, sosok Imam Syafi’i dalam pengambilan hokum dengan mengombinasikan antara naqli dan aqli. Wahyu sebagai sumber inspirasi dan akal sebagai alat paling sempurna dalam mengolah sumber inspirasi tersebut (Al-Quran, Hadis, Ijma’ dan Qiyas). Sama halnya seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dengan akidah Asy’ariyah (50 sifat).

Berbeda halnya dengan apa yang dialami Al-Ghazali, dua arus yang saling berseberangan itu antara kaum sufi dan fuqaha. Pertentangan antara ahli tasawuf dan ahli fiqh menyisakan peristiwa yang tak terlupakan. Al-Ghazali mampu mengawinkan antara hakikat dan syariat, tasawuf dan fiqh, dimana keduanya saling beriringan. Dan Al-Farabi, filsuf muslim pertama yang berusaha menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam, serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.

Akhirnya, semoga perjalanan hidup tokoh-tokoh di atas mampu menginspirasi dan membuat hidup kita semakin bermakna. Kita boleh tidak meyakini suatu hal, tapi menolak pengetahuan yang datang adalah pangkal kebodohan. Tugas kita tidak untuk khatam, melainkan untuk terus ngaji. Kewajiban kita tidak untuk pintar, melainkan untuk terus belajar. Prinsipnya, memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Al-Muhaafadhatu ‘ala qadimish sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah.


Hidup tidak hanya untuk bekerja, tetapi untuk menikmati kehidupan dengan menyebarkan kemanfaatan. Selalu menjaga kesimbangan fisik dan mental serta kebersihan. Senantiasa mengingat Allah akan membawa kedamaian dalam hati. Kematian datang secara tiba-tiba dan tidak ada seorang pun yang dapat memajukan atau menundanya. Ketika waktu itu datang, kesempatan berbuat baik telah habis. Mereka yang menyia-nyiakan hidupnya berharap dihidupkan kembali, tetapi itu hanya sia-sia. Lakukan kebaikan dari sekarang, sebelum waktu kematian datang.

Life is not only to work, but to enjoy it by spreading kindness. Always keep our body and soul pure and balanced. Always remember Allah for it brings peace. Death come unpredictably, and nobody can advance or postpone it. When the time comes, the chance to do good deeds has run out. Those who couldn’t control  themselves when they were still alive wish to be revived, but it’s pointless. Do good deeds from now on before the time of death comes.

Sluku-Sluku Bathok Bathoke Ela Elo
Ayun-ayun kepala, kepalanya geleng-geleng

Si Rama Menyang Solo
Si Bapak pergi ke Solo

Oleh-Olehe Payung Mutho
Oleh-olehnya payung mutho

Mak Jenthit Lololobah
Secara tiba-tiba bergerak

Yen Mati Ora Obah
Orang mati tidak bergerak

Yen Obah Medeni Bocah
Kalau bergerak menakuti orang

Yen Urip Goleko Duwit
Kalau hidup carilah uang

Sluku-Sluku Bathok Bathoke Ela Elo
Artinya:
Hidup tidak boleh dihabiskan hanya untuk bekerja, waktunya istirahat ya istirahat, untuk menjaga jiwa dan raga agar selalu dalam kondisi yang seimbang, bathok atau kepala kita perlu beristirahat untuk memaksimalkan kemampuanya. Dengan berdzikir (ela elo= laa ilaaha ilalloh) mengingat allah, syaraf neuron di otak akan mengendur, ingatlah allah, dengan mengingat-Nya hati menjadi tentram. Usluk fa usluka bathnaka, bathnaka ila Allah.

Si Rama Menyang Solo
Artinya:
Siram (mandilah, bersucilah) menyang (menuju) Solo (Sholat) lalu bersuci dan dirikan Shalat. Menuju jalan kebahagiaan dan keselamatan melalui beragama secara benar. Sharimi Yasluka.

Oleh-Olehe Payung Mutho
Artinya:
Maka kita akan mendapatkan perlindungan (payung) dari Allah. Payung mutho adalah paying jadul dari kertas semen yang sangat besar, biasanya untuk mengiringi keranda jenazah. Laailaha illallah hayun wal mauta.

Mak Jenthit Lololobah
Artinya:
Kematian datangnya tiba-tiba, tak ada yang tahu, tak dapat diprediksi dan tak juga dikira-kira, tak bisa dimajukan dan tak bisa pula dimundurkan. Senantiasa mendekatlah kepada Allah. Mandzalika muqarabah.

Wong Mati Ora Obah
Artinya:
Saat kematian datang, kesempatan beramal hilang. Hidup hingga mati adalah milik Allah. Hayyun wal mauta innalillah.

Yen Obah Medeni Bocah
Artinya:
Banyak jiwa yang rindu untuk kembali pada Allah ingin minta dihidupkan untuk bertaubat, tapi allah tak mengijinkan, jika mayat hidup lagi maka bentuknya pasti menakutkan dan mudhorotnya lebih besar. Mahabbatan mahrajahu taubah.

Yen Urip Goleko Dhuwit
Artinya:
Kesempatan beramal untuk beramal hanya ada di saat sekarang (selagi mampu dan ada waktu) bukan dinanti (ketidakmampuan dan hilangnya kesempatan) tempat beramal hanya di sini (dunia) bukan di sana (akherat), di sana bukan tempat beramal (bercocok tanam) tapi tempat berhasil (panen raya). Yasrifu innal khalaqna insana min dhafiq.


Cita-cita dan harapan menjadi sebuah keniscayaan dalam hidup. Perlu ditindaklanjuti dengan strategi dan langkah-langkah yang operasional. Ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan selalu ada. Antisipatif sangat diperlukan, tanpa bersikap reaktif (menangani masalah sebelum masalah itu terjadi) terhadap segala sesuatu.

Ideals and expectations become a necessity in life. It needs to be followed up with strategies and operational steps. Threats, challenges, obstacles and distractions always exist. Anticipatory is necessary, without being reactive (dealing with problems before happen) to everything.

E . . . . . dayohe teka
E . . . . . tamunya datang

E . . . . . gelarno klasa
E . . . . . bentangkan tikar

E . . . . . klosone bedah
E . . . . . tikarnya robek

E . . . . . tambalen jadah
E . . . . . tambal dengan jadah

E . . . . . jadahe mambu
E . . . . . jadahnya basi

E . . . . . pakakno asu
E . . . . . kasihkan anjing

E . . . . . asune mati
E . . . . . anjingnya mati

E . . . . . guwakno kali
E . . . . . buang ke sungai

E . . . . . kaline banjir
E . . . . . sungainya banjir

E . . . . . guwakno pinggir
E . . . . . buang ke pinggir

E . . . . . pinggire lunyu
E . . . . . pinggirnya licin

E . . . . . yo golek sangu
E . . . . . ayo mencari bekal

Secara tekstual, tembang dolanan ini tentang manajemen hidup, bahwa masalah dalam hidup selalu dating bertubi-tubi. Lapangkankan hati seperti luasnya klasa. Pengambilan keputusan secara cepat dan cermat sangat dibutuhkan. Namun dalam tembang ini, keputusan yang seharusnya menyelesaikan masalah malah menimbulkan masalah baru, sehingga segala upaya yang diusahakan menjadi sia-sia. Ketika hal itu terjadi, hubungan tuan rumah dan tamu menjadi kurang harmonis karena tuan rumah sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Merasa diabaikan, tamu yang baik tentu tidak akan berulah ketika di rumah orang. Namun, ketika tamu tersebut mempunyai niat yang kurang baik, bisa saja kekayaan tuan rumah akan berkurang atau bahkan bisa mengambil alih kepemilikan rumah. Tamu menjadi tuan rumah dan tuan rumah menjadi tamu di rumah yang awalnya milik sendiri.

Sedangkan secara kontekstual, tembang dolanan ini menggambarkan watak orang Nusantara khusunya Jawa, ketika kedatangan tamu. Siapa pun yang bertamu pasti dihormati dan merasa terhormat, ditandai dengan tulisan sugeng rawuh di ruang tamunya. Rumusnya 3UH, lungguh, gupuh dan suguh. Tamu jangan sampai dibiarkan berdiri terlalu lama, segera diaturi lenggah (lungguh = duduk). Setelah tamu lungguh,  tuan rumah akan gupuh (sibuk) untuk menyiapkan suguh (makanan dan minuman). Dalam tembang ini, gupuhnya semakin menjadi-jadi ketika tikarnya sudah jebol.

Selain itu, tembang ini juga merupakan penjabaran dari Surat Al-Baqarah ayat 183 dan 197. Bahwa kita harus bersiap menyambut bulan Ramadhan untuk mendapatkan bekal ketaqwaan dengan menjalankan ibadah Puasa. Penjabaran ayat ini menggunakan bahasa yang familiar dengan masyarakan Nusantara, antara lain: dayoh, klasa, jadah, asu, kali, banjir, pinggir dan sangu.

Dayoh bermakna tamu. Sebagai symbol bulan Ramadhan yang membawa rahmat, berkah dan ampunan kepada orang-orang yang melakukan puasa dengan benar.
Klasa bermakna tikar. Sebagai symbol bahwa kita harus menyiapkan diri secara fisik dan mental, agar bisa mengisinya dengan ibadah secara maksimal.

Jadah bermakna makanan berbahan dasar ketan. Dari segi bahasa berasal dari kata Arab, jadda – yajuddu – jaddan, yang artinya bersungguh-sungguh. Ketika dikatakan ‘klasa bedah’ (diri yang penuh dosa) itu harus ditambal dengan jadah. Sebagai symbol bahwa penyucian atas dosa-dosa harus melalui upaya yang sungguh-sungguh.

Asu bermakna anjing. Sebagai symbol hawa nafsu atau ego. Dengan puasa diharapkan mampu mengendalikan hawa nafsu tersebut, terutama menyangkut perut, indera dan seks.

Kali  bermakna sungai. Sebagai jalan untuk melengkapi semua hal yang telah dilakukan. Sebagai syariat agama yang telah diajarkan, tarawih, tadarus, sedekah dan I’tikaf.

Banjir dan pinggir sebagai symbol bahwa rangkaian ibadah sangatlah deras, jika tak mampu melakukan semuanya, setidaknya mempunyai target minimal sesuai kemampuan masing-masing.

Sangu bermakna bekal. Sebagai petunjuk bahwa dengan melakukan semua itu akan mencapai derajat manusia paripurna.



Keberadaan manusia laksana jamur. Jamur kebanyakan muncul dari tempat yang basah atau lembab, juga kotor. Seirama dengan manusia sebagai tempat salah dan lupa. Dunia adalah permainan. Mau memposisikan diri dimana dan akan tumbuh berkembang sebagai apa adalah satu pilihan  yang adakalanya harus nrima dan pasrah, tapi juga harus selalu memiliki inisiatif

Human existence like mushroom. Most mushrooms appear from a wet or moist place, also dirty. Same with humans as the wrong place and forget. The world is a game. Want to position and will grow as what is an option that sometimes must be surrender, but also always have the initiative..


Jamuran ya ge ge thok
Jamurannya ya dibuat pura-pura

Jamur apa ya ge ge thok
Jamur apa ya dibuat pura-pura

Jamur gajih mbejijih sa ara-ara
Jamur gajih mengotori seluruh lapangan

Semprat-semprit jamur apa
Melesat cepat jamur apa

Tembang ini memberikan pesan bahwa hidup di dunia perlu keseimbangan. Untuk menjaga keseimbangan itu, banyak aturan yang harus dipatuhi. Semua orang harus mematuhi aturan tersebut secara bersama-sama. Secara tidak langsung, tembang ini mengajarkan kedisiplinan untuk meraih kesuksesan, dan konsistensi akan sebuah pilihan.



Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sendiri memang cepat, tapi bersama lebih kuat. Yang tua memberikan teladan dan inspirasi, yang muda menciptakan karya dan keduanya saling memberi semangat. Tidak ada orang lemah, yang ada hanya orang yang malas berlatih. Tidak ada orang bodoh, yang ada hanya orang yang berhenti belajar. Setiap kelahiran adalah anugerah dan setiap anugerah adalah warna-warni kehidupan.

United we stand, divided we fall. Alone is fast, but together stronger. The elder gave example and inspiration, the young created creation and effort, both encouraged each other. There are no weak people, only people who are lazy to practice. No fools, only people who stop learning. Every birth is a grace and every grace is color of life. What color are you?

Jaranan . . . . . jaranan
Berkuda . . . . . berkuda

Jarane jaran teji
Kudanya tinggi besar

Sing numpak ndoro Bei
Yang naik Mas Ngabehi

Sing ngiring para Mentri
Yang mengiring para menteri

Jeg jeg nong . . . . . jeg jeg gung (suara)

Jarane mlebu ning lurung
Kudanya masuk di jalan

Gedebuk krincing . . . . . gedebuk krincing (suara)
Gedebuk krincing . . . . . prok prok (suara)
Gedebuk jeder (suara)

Jaranan . . . . . jaranan

Jarane jaran kepang
Kudanya kuda kepang

Sing numpak klambi abang
Yang naik baju merah

Mlakune ndhut ndutan
Jalannya angguk-anggukan

Jeg jeg nong . . . . . jeg jeg gung (suara)

Jarane mlebu ning lurung
Jalannya masuk ke jalan

Gedebuk krincing . . . . . gedebuk krincing (suara)
Gedebuk krincing . . . . . prok prok (suara)
Gedebuk jeder (suara)

Jaranan . . . . . jaranan

Jarane jaran kore
Kudanya kuda kore

Ora ana kendaline
Tidak ada kendalinya

Jarane mlayu dewe
Kudanya berlari sendiri

Jeg jeg nong . . . . . jeg jeg gung (suara)
Jarane mlebu ning lurung
Gedebuk krincing . . . . . gedebuk krincing (suara)
Gedebuk krincing . . . . . prok prok (suara)
Gedebuk jeder (suara)

Tembang jaranan ini menggambarkan realita kehidupan, ada orang-orang yang memegang jabatan tinggi dalam kacamata manusia, para nelayan dan masyarakat sipil. Ketiganya memiliki peran masing-masing dalam mewarnai dunia. Pesan yang ingin disampaikan tentang arti pentingnya kebersamaan. Kebersamaan antara yang tua dan muda. Kebersamaan untuk saling melengkapi dan saling membantu, baik yang memegang jabatan tinggi, maupun yang biasa-biasa saja. Saling menyayangi satu sama lain tanpa diskriminasi. Tembang ini juga mengajarkan nilai-nilai sopan santun, menghormati orang tua atau yang dituakan. 

Jaranan

by on 10:39
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sendiri memang cepat, tapi bersama lebih kuat. Yang tua memberikan teladan dan inspirasi, ya...


The other name of the leader is the best servant and leadership is a best service system. Then the best leaders are able to provide the best service so as to prosper the people a lot. Who is the true leader? Anyone capable of assembling diversity becomes something beautiful. Unity in Diversity. Differences are not to be equated, but need to be put together.

Gundhul-gundhul pacul cul
Gundul-gundul cangkul kul

Gembelengan
Congkak

Nyunggi-nyunggi wakul kul
Membawa (di atas kepala) bakul

Gembelengan
Tidak hati-hati

Wakul nggilmpang segane dadi sak latar
Bakul terguling nasinya tumpah sehalaman

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar
Bakul terguling nasinya tumpah sehalaman

Tembang ini berisi tentang kehormatan tanpa mahkota. Cara memperolehnya dengan pacul, papat kang ucul, maksudnya melepaskan empat hal dari penyalahgunaan. Menggunakan empat hal itu untuk membebaskan sesama dari kesulitan. Apakah empat hal itu? Mata, hidung, telinga dan mulut. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat, telinga digunakan untuk mendengar nasehat, hidung digunakan untuk mencium kebaikan dan mulut digunakan untuk berkata yang adil.

Pada hakikatnya, seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi pembawa pacul untuk mencangkul (mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya). Namun jika pemimpin menyalahgunakan empat hal itu, maka akan berubah sikapnya menjadi gembelengan, congkak, besar kepala dan akan bermain-main dengan wewenangnya.

Sehingga menyebabkan bakul terguling yang melambangkan amanah/kepercayaan dari rakyat terjatuh, akibat sikap sombong saat membawa amanah tersebut. Dan nasinya tumpah sehalaman, melambangkan hasil yang diperoleh menjadi berantakan dan sia-sia, rakyat menjadi terlantar.


There are two conditions of the heart, patience and gratitude. If we can not be grateful or forget how to be thankful, then be prepared to accept the events that make the heart must be patient. Reality is reaction of the action what we do, the action as the estuary of the process of sensing and reasoning. Let’s think positive and always be grateful for a more civilized life.

Yo para kanca dolanan ing jaba
Ayo teman bermain di luar

Padhang wulan padhange kaya rina
Terang bulan terangnya seperti siang

Rembulane sing awe-awe
Bulannya mengundang awen

Ngelingake aja padha turu sore
Mengingatkan jangan tidur di sore hari

Yo para kanca dolanan ing jaba
Ayo teman bermain di luar

Rame-rame kene akeh kancane
Ramai-ramai di sini banyak teman

Langite pancen sumebyar rina
Langitnya terang sekali

Yo padha dolanan sinambi guyonan
Ayo bermain sambal bercanda

(KONTEMPORER)

Lamun wong tuwa kliru mimpine
Kalau orang tua salah memimpin

Alamat bakal getun mburine
Pasti akan menyesal di belakang

Wong tuwa loro kundur ing ngarso pengeran
Kedua orang tua baru meninggal menghadap Yang Maha Kuasa

Anak putune rame-rame rebutan warisan
Anak cucunya rebut rebutan warisan

Wong tuwa loro ing njero kubur anyandang susah
Kedua orang tua di dalam kubur kesusahan

Sebab mirsani putra-putrine dho pecah belah
Karena  melihat putra-putrinya terpecah belah

Kang den arep-arep turune rahmat
Padahal yang diharap turunnya rahmat

Jebul kang teko nambahi fitnah
Tapi yang datang menambah fitnah

Iki dino aja tali lunga ngaji
Hari ini jangan lupa pergi ngaji

Takon marang kyai guru kang pinuji
Tanya pada guru yang terpuji

Insya Allah kita menang lan kabejan
Insya Allah kita menang dan berada dalam kebaikan

Zaman kepungkur ana zaman-zaman buntutan
Dulu ada zaman togel

Esuk-esuk rame-rame luru ramalan
Pagi-pagi orang rebut cari ramalan

Gambar kucing dikira gambar macan
Gambar kucing dikira gambar macan

Bengi diputer metu wong edan
Malam diundi yang keluar orang gila

Kurang puas luru ramalan
Karena kurang puas mencari ramalan

Wong ora waras dadi takonan
Orang gila ditanya

Kang ditakoni ngguyu cekaka’an
Ketika ditanya tertawa terbahak-bahak

Jebul kang takon wis ketularan
Dan yang bertanya lama-lama ketularan

Maksud dari tembang ini mengajak kita untuk bersyukur kepada Yang Maha Kuasa untuk merenungi keindahan malam. Wujud dari rasa syukur itu dengan tidak tidur pada sore hari, bersilaturrahim sambil menadabburi firman-Nya. Betapa indahnya suasana bulan purnama, menikmati cahaya di alam Nusantara untuk merekatkan persahabatan.

Lebih lanjut dalam tembang kontemporer, menceritakan tentang kehidupan keluarga. Orang tua yang salah dalam memimpin, akan kecewa pada akhirnya. Ketika orang tua telah meninggal, anak-anaknya akan berseteru rebutan warisan. Di dalam kubur, orang tua hanya bisa meratap melihat perpecahan di antara anak-anaknya. Agar semua itu tidak terjadi, maka sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya mengaji dan mendekat kepada kiai. Jika tidak, maka anak-anak akan suka dengan ramalan-ramalan orang bodoh.

SUBSCRIBE & FOLLOW