Padhangmbulan (Sunan Giri)


There are two conditions of the heart, patience and gratitude. If we can not be grateful or forget how to be thankful, then be prepared to accept the events that make the heart must be patient. Reality is reaction of the action what we do, the action as the estuary of the process of sensing and reasoning. Let’s think positive and always be grateful for a more civilized life.

Yo para kanca dolanan ing jaba
Ayo teman bermain di luar

Padhang wulan padhange kaya rina
Terang bulan terangnya seperti siang

Rembulane sing awe-awe
Bulannya mengundang awen

Ngelingake aja padha turu sore
Mengingatkan jangan tidur di sore hari

Yo para kanca dolanan ing jaba
Ayo teman bermain di luar

Rame-rame kene akeh kancane
Ramai-ramai di sini banyak teman

Langite pancen sumebyar rina
Langitnya terang sekali

Yo padha dolanan sinambi guyonan
Ayo bermain sambal bercanda

(KONTEMPORER)

Lamun wong tuwa kliru mimpine
Kalau orang tua salah memimpin

Alamat bakal getun mburine
Pasti akan menyesal di belakang

Wong tuwa loro kundur ing ngarso pengeran
Kedua orang tua baru meninggal menghadap Yang Maha Kuasa

Anak putune rame-rame rebutan warisan
Anak cucunya rebut rebutan warisan

Wong tuwa loro ing njero kubur anyandang susah
Kedua orang tua di dalam kubur kesusahan

Sebab mirsani putra-putrine dho pecah belah
Karena  melihat putra-putrinya terpecah belah

Kang den arep-arep turune rahmat
Padahal yang diharap turunnya rahmat

Jebul kang teko nambahi fitnah
Tapi yang datang menambah fitnah

Iki dino aja tali lunga ngaji
Hari ini jangan lupa pergi ngaji

Takon marang kyai guru kang pinuji
Tanya pada guru yang terpuji

Insya Allah kita menang lan kabejan
Insya Allah kita menang dan berada dalam kebaikan

Zaman kepungkur ana zaman-zaman buntutan
Dulu ada zaman togel

Esuk-esuk rame-rame luru ramalan
Pagi-pagi orang rebut cari ramalan

Gambar kucing dikira gambar macan
Gambar kucing dikira gambar macan

Bengi diputer metu wong edan
Malam diundi yang keluar orang gila

Kurang puas luru ramalan
Karena kurang puas mencari ramalan

Wong ora waras dadi takonan
Orang gila ditanya

Kang ditakoni ngguyu cekaka’an
Ketika ditanya tertawa terbahak-bahak

Jebul kang takon wis ketularan
Dan yang bertanya lama-lama ketularan

Maksud dari tembang ini mengajak kita untuk bersyukur kepada Yang Maha Kuasa untuk merenungi keindahan malam. Wujud dari rasa syukur itu dengan tidak tidur pada sore hari, bersilaturrahim sambil menadabburi firman-Nya. Betapa indahnya suasana bulan purnama, menikmati cahaya di alam Nusantara untuk merekatkan persahabatan.

Lebih lanjut dalam tembang kontemporer, menceritakan tentang kehidupan keluarga. Orang tua yang salah dalam memimpin, akan kecewa pada akhirnya. Ketika orang tua telah meninggal, anak-anaknya akan berseteru rebutan warisan. Di dalam kubur, orang tua hanya bisa meratap melihat perpecahan di antara anak-anaknya. Agar semua itu tidak terjadi, maka sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak-anaknya mengaji dan mendekat kepada kiai. Jika tidak, maka anak-anak akan suka dengan ramalan-ramalan orang bodoh.

No comments:

Post a Comment