There is nothing that wastes the body like worry, and one who has any faith in God should be ashamed to worry about anything whatsoever.
(Gandhi)

Tidak ada yang lebih menghabiskan waktu daripada kekhawatiran, dan orang-orang yang mengaku percaya pada Tuhan patut malu apabila mereka khawatir mengenai sesuatu hal. Kekhawatiran tersebut bisa berwujud apa saja, dan bersumber dari mana saja. Umumnya, semua itu terjadi karena hati bersandar kepada selain-Nya. Dan seringkali lupa bahwa tugas pertama manusia bukanlah bersyahadat, salat, zakat, puasa atau haji, melainkan iqra! Iqra bermakna ibarah, untuk orang awam. Bermakna isyarah untuk orang khawas. Bermakna lathaif untuk para wali. Dan bermakna haqaiq, bagi para Nabi. Oleh karenanya, teosofi hadir dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah dengan meluruskan akal, melembutkan hati dan mensucikan rohani.

Hati sebagai tolak ukur dan otak mengonversinya menjadi perintah dalam tindakan-tindakan. Ada empat gelombang energy otak berdasarkan urutan kesadarannya, beta, alpha, theta dan delta. Beta, gelombang otak dalam kondisi aktif, bekerja, bermain atau berbicara. Alpha, gelombang otak dalam keadaan relaksasi, merenung dan relative lebih tenang. Theta, gelombang otak dalam kondisi meditasi, bermimpi atau batas kesadaran akhir. Ilham dan wahyu hadir di suasana theta. Dan Delta, gelombang otak dalam kondisi terlelap, sebagai penyembuhan alamiah. Kondisi tersebut berubah secara dinamis dan perlu dimaksimalkan. Agama berperan mengatur perubahan gelombang tersebut dengan shock therapy. Tanpa sadar, hal-hal sederhana yang dilakukan setiap hari merupakan shock therapy, cara Tuhan mengatur gelombang otak manusia, seperti berwudhu, menjawab adzan, fokus pada kiblat, dsb.

Seorang non-muslim pakar neurologi menulis desertasi tentang wudhu. Dalam desertasi tersebut menyebutkan bahwa pusat kesadaran manusia ada tiga, yaitu wajah, tangan dan kaki. Oleh karenanya, jika ketiga wilayah tersebut dibasuh dengan air sejuk, akan mengembalikan konsentrasi. Maka sebenarnya, aktivitas wudhu baik dilakukan oleh semua umat manusia, tidak hanya Islam. Desertasi tersebut ditulis berdasarkan QS. Al-Maidah ayat 6, berikut ini:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا ۚ وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَىٰ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَٰكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Niat wudhu secara tidak langsung merubah air biasa menjadi berenergi. Imam Syafii melarang mengeringkan sisa air wudhu, tidak berbicara tentang dunia antara wudhu dan salat, karena mengurangi energy air wudhu dan kekhusyukan. Wudhu diharapkan mampu membersihkan fisik dan rohani, sehingga membentuk pribadi paripurna.


Sabtu, 31 Agustus 2019

Pendahuluan
Tradisi ulama dalam bidang keilmuan, secara umum ada dua yang menjadi kebiasaan. Pertama, menyiapkan orang yang paham ilmu agama dan melakukan perbaikan, baik dengan dakwah maupun perang/perjuangan (i’dad al mutafaqqihin wa al mushlihin da’watan wa qitaalan). Kedua, menjaga dan memperbaiki umat, baik aspek agama maupun kemasyarakatan (himayat al ummah wa ishlahiha diiniyyatan wa ijtima’iyyatan).

Pasca reformasi, berbagai macam aliran dan ideologi baik yang tumbuh dari spirit Barat maupun Islam muncul ke permukaan, baik aliran yang embrionya telah lama ada dalam tubuh masyarakat Islam Indonesia, maupun ideologi-ideologi baru yang di import dari luar dengan pola gerakan transnasional dan radikal. Indonesia menjadi ajang pertarungan berbagai macam ideologi yang kebanyakan bertentangan dengan spirit Islam maupun keindonesiaan. Ideologi fundamentalis bercorak radikal, dengan bersuara lantang seringkali mengklaim bahwa kelompoknya berada di garis yang paling benar dan paling sesuai dengan ajaran Rasulullah saw. Kelompok di luar dirinya dianggap sesat, ahli bid’ah, musyrik, dan anti memperjuangkan syariat.

Nahdlatul Ulama yang sedari awal berdiri mengikuti ajaran Ahlussunnnah Wal Jamaah yang mengusung filosofi tawassut (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran) serta ta’adul (tegak lurus) dalam beragama, ikut menjadi sasaran serangan kelompok-kelompok baru yang cenderung ekstrim tersebut. Mereka menuduh Nahdlatul Ulama mengajarkan ajaran Islam yang tidak murni, memasukkan nilai-nilai di luar Islam dalam beberapa ritual keagamaan. Gerakan-gerakanradikal yang bercorak transnasional ini semakin lama semakin kuat dan terus melebarkan sayapnya di segala penjuru Indonesia. Varian dari kelompok-kelompok ini begitu banyak, meski memiliki perspektif berbeda termasuk dalam detail pemahaman keagamaan, namun tujuan gerakan yang dibangun cenderung sama, yakni formalisasi syariat Islam.

Untuk mencapai tujuan tersebut, kelompok-kelompok garis keras ini menggunakan segala cara, bahkan tidak jarang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Menuduh sesat dan kafir kelompok lain yang tidak sefaham. Bahkan kekerasan atas nama agama adalah hal yang biasa dalam pandangan mereka. Fenomena teror bom, perampokan bank seringkali melibatkan kader-kader mereka dengan pembenaran yang didasarkan pada penafsiran al-Qur’an maupun al-Hadis sesuai dengan kehendak mereka.

Dan akhir-akhir ini muncul IS (Islamic State) yang dahulunya populer dengan ISIS yang sangat ekstrim, serta berupaya merekrut anggota baru dari Indonesia. Dan masih banyak aliran dan ideologi lain yang mengusung ideologi Transnasional dan anti NKRI, serta aliran sesat yang juga banyak bermunculan. Dari fenomena tumbuh suburnya berbagai aliran Islam radikal bercorak transnasional tersebut, disamping berdampak tereduksinya nilai-nilai ajaran Islam, dalam konteks Indonesia juga berpotensi memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini relatif aman dan damai di bawah payung NKRI. Nahdlatul Ulama yang telah ikut berjuang memberikan kontribusi besar dalam mendirikan Negara Indonesia serta selalu terlibat aktif mempertahankan kedaulatan Negara Indonesia, merasa ikut bertanggung jawab atas munculnya kelompok-kelompok baru yang mengusung ideologi yang cenderung berpotensi merusak tatanan Islam dan bangsa Indonesia tersebut.
Nahdlatul Ulama sebagai ormas keagamaan yang selalu memperjuangkan Islam toleran ala Ahlussunnah Wal Jamaah menyadari jika ideologi Aswaja tidak dikokohkan dalam jiwa masyarakat Islam khsususnya di Indonesia, dampaknya adalah Islam tidak lagi rahmatan lil alamin, namun rahmatan lil hizbiyyin (kelompok). Nahdlatul Ulama juga menyadari hingga saat ini sebagai satu-satunya ormas yang berada di garda depan pembela Pancasila dan NKRI, jika tidak ikut mengawal umat Islam Indonesia, niscaya bangsa ini akan tercabi-cabik karena pertikaian antar golongan. Potensi disintegrasi bangsa akan meluluhlantahkan bangsa Indonesia yang telah dibangun oleh masyarakat Indonesia yang banyak dimotori oleh para ulama yang mayoritas berfaham Ahlussunnah Wal Jamaah.

Wawasan kebangsaan Ahlussunnah Wal Jama’ah selaras juga dengan pandangan NU yang pada 1983 dalam Munas Alim Ulama NU di Situbondo oleh para ulama dinyatakan secara gamblang bahwa Pancasila dan NKRI adalah final. Tokoh NU kharismatik almarhum KH As’ad Syamsul Arifin jauh sebelum Muktamar NU di Situbondo telah dengan keras dan lantang menyatakan bahwa ia akan melawan pihak-pihak yang merongrong keutuhan NKRI.

Maka berdasar dari fenomena tersebut, PWNU Jawa Timur melalui Aswaja NU Center PWNU Jatim sebagai sayap perjuangan Nahdlatul Ulama khususnya dalam penguatan nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah, mempunyai beberapa programkerja yang telah direncanakan baik dalam waktu yang berkala mapun ensidentil sesuai dengan kebutauhan masyarakat. Penyelenggaraan program Aswaja secara berkala ini juga diharapkan mampu menemukanformula yang dikemudian hari bisa ditindak lanjuti oleh pihak terkait, mendeteksi perkembanganpaham-paham non Aswaja, dan terumuskannya kegiatan yang menjadi follow up pada masa berikutnya sebagai upaya menjaga meneguhkan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal  Jamaah serta menjaga keutuhan umat Islam dan bangsa.

Akhiron, dengan berbekal kemampuan yang dimiliki oleh dewan pakar daerah Jawa Timur  terbentuklah ASWAJA NU Center PWNU Jawa Timur dengan berbagai program yang telah diselenggrakan ini bisa menjadi acuan dalam mewujudkan gerakan ASWAJA NU Center Nasional di bawah naungan PBNU.

Legalitas
Aswaja NU Center Jatim dibentuk oleh PWNU Jawa Timur yang diresmikan pada 31 Januari 2011 oleh Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama: Drs H. As'ad Said Ali. Dan Alhamdulillah sekarang ini telah terbentuk ASWAJA NU Center di Mayoritas cabang NU di Jawa Timur untuk melaksanakan program kerja serempak untuk membentengi diri dari aliran-aliran lain yang terus berkembang pula. Selain itu juga memeberikan pemahaman kepada masyarakat tentang amaliyah-amaliyah yang ada dalam NU Sendiri, misalnya dari mulai tradisi kelahiran sampai kematian, serta hal-hal yang berkaitan dengan Ahlussunnah Wal Jamaah.
 
Sejarah Kelahiran
Aswaja NU Center Jatim, sebagai markaz Ahlussunnah wal Jamaah di tingkat Jawa Timur tidak lahir secara kebetulan. Berawaldari kajian Islam yang memfokuskan materi pada bidang keaswajaan yang dikenal dengan nama Kajian  Islam Ahlussunnah wal Jama’ah atau disingkat KISWAH. Kajian ini diprakarsai oleh para tokoh PWNU Jatim, mulai dari Rais Syuriah hingga Katib Syuriah, dan dibahas pada saat rapat harian di PWNU Jatim.

Pada awalnya  KISWAH dilaksanakan pada bulan Ramadhan tahun 2010 dengan pemateri dari Dewan Syuriah PWNU Jatim. Setelah bulan Ramadhan berakhir Dewan syuriah sangat menyayangkanjika KISWAH juga ikut berakhir. Selain itu karena dianggap sangat penting di dalam menanggulangi derasnya arus faham lain, maka KISWAH harus dilanjutkan. Lalu KISWAH dilaksanakan setiap sebulan sekali oleh Lajnah, lembaga dan Banom yang telah dijadwal.

Setelah berjalan selama kurang lebih satu tahun, dan telah berhasil mengadakan TOT  (Training of Trainer) Aswaja, dan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif, maka dibentuklah suatu perangkat khusus untuk menangani secara serius program-program keaswajaan sebagai kelanjutan KISWAH. Sehingga sesuai amanat Konferwil PWNU Jatim, dan diprakarsai oleh para tokoh PWNU Jawa timur, diantaranya Rais Suriyah dan Wakilnya, KatibSuriyah dan Wakilnya, yang selanjutnya dirapatkan PWNU JawaTimur dan menjadi keputusan hasil rapat harian PWNU Jawa Timur.

Pada tanggal 31 Januari 2011  bertepatan dengan peringatan Harlah NU ke 85 di PWNU Jawa Timur dilaksanakan launching perangkat pelaksana program kajian Islam keaswajaan bernama ASWAJA NU CENTER JATIM.

Visi
Terwujudnnya Wawasan Keislaman Aswaja sesuai keberagamaan  Rasulullah Saw bersama para sahabat.

Misi
Mengaktualisasi pemahaman umat tentang keislaman Aswaja NU.
Meningkatkan pemahaman, penghayatan, pengamalan (menginternalisasi) Islam Aswaja NU sebagai perilaku umat dalam kehidupan sehari hari.

Tujuan
Membentuk masyarakat Aswaja NU yang dapat membentengi diri dari faham lain dan dapat meyakinkan orang lain atas kebenaran faham Aswaja NU.

Program Kegiatan
Secara umum, Program kegiatan aswaja NU center PWNU Jawa Timur, ada dua. Pertama Bersifat Rutin dan kedua Insidentil. Bersifat rutin misalnya mengisi Hujjah Aswaja di TV 9 Rutin Setiap Senin malam selasa jam 19.00-20.00, KISWAH setiap Sabtu Sore jam 14.30-16.30 di Mushola PWNU, Share materi ngaji Aswaja Setiap hari kecuali Jumat dan Ahad, menerbitkan buletin sebulan Sekali, menjalankan mobil aswaja ke masjid-masjid setiap jumat dengan memasarkan buku dan kitab rujukan aswaja,  serta dauroh. Adapun yang insidentil, biasanya bersifat partisipasi menjadi narasumber, dan partisipasi lainya. Dari beberapa gambaran diatas, berikut kami laporkan berdasar devisi:
Devisi USWAH (Usaha Sosialisasi Ahlussunnah wal Jamaah)
Devisi BISWAH (Bimbingan dan Solusi Ahlussunnah Waljamaah)
Devisi DAKWAH (Daurah Kader Ahlussunnah Waljamaah)
Devisi KISWAH (Kajian Islam Ahlussunnah Waljamaah)
Devisi MAKWAH (Maktabah Ahlussunnah Waljamaah)
KH. Fuad Afandi* - Pemimpin pondok pesantren ini merupakan seorang kyai yang istimewa karena beliau bisa memadukan antara teori dan praktek, temuannya yang fenomenal di bidang pertanian adalah MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami) yaitu sebuah formula yang dapat mempercepat proses pembusukan pupuk dengan air liur manusia. Temuan beliau lainnya adalah ciknabat, inabat, sinabat dan betapur.

Berikut merupakan temuan dalam bidang pertanian yang merupakan terobosan daru dari Mang Haji Fuad yaitu, Ciknabat adalah formula pestisida nabati yang berbahan dasar sikur atau kencur dan bawang putih. Inabat adalah insektisida yang terbuat dari kacang, cabai, bawang, temulawak dan air. Sinabat adalah sirsak nabati yang berasal dari biji sirsak dan daun artuse. Sementara betapur merupakan campuran betadin dan kapur.

Penemuan Mikroorganisme Fermentasi Alami (MFA)
Temuan MFA berawal ketika sisa-sisa pakan ternak dijadikan pupuk. Namun, kendala saat itu, memakan waktu sekitar 3 bulan hingga pupuknya busuk. Jika waktunya kurang, tanaman bukannya subur, malah mati. Kemudian KH Fuad Affandi teringat akan koleganya, Prof Entang, di Belanda, sewaktu ia menerima tawaran pemerintah untuk belajar bercocok tanam pada 1987 di Universitas Wageningen, Belanda, Fuad menyampaikan keluhan ihwal lamanya pembusukan pupuk itu. Prof. Entang menyampaikan melalui telepon bahwa bila kita makan pagi busuk sore, kalau kita makan sore busuk pagi. Proses tersebut tidak menunggu lama apalagi di dalam perut.

Kebiasaan bakteri, kalau tidak ada makanan yang masuk dalam waktu cukup lama, mereka akan naik untuk memakan sisa makanan yang ada di dalam rongga mulut. Maka ketika naik itulah, tepatnya saat manusia bangun dari tidur malam, bakteri beranjak ke mulut. Kemudian dengan cara berkumur-kumur bakteri ini bisa diambil. Menjelang subuh, sesudah bangun tidur malam sang Kiai menyuruh para santri untuk menampung air bekas kumur-kumur ke dalam kaleng yang telah disediakan di depan pondok.

Untuk menjaga agar bakteri itu tetap hidup, Mang Haji memasukkan molase atau gula putih, dedak, dan pepaya ke dalamnya sebagai makanan bakteri. Setelah beberapa hari, air liur santri berubah menjadi cairan kental berwarna keruh. Untuk memeriksa apakah bakteri itu masih hidup atau mati dengan cara mencium baunya. kalau tercium aroma coklat, berarti bakteri masih hidup. Namun, jika tercium bau bangkai, berarti bakteri itu sudah mati. Setelah itu cairan berisi bakteri yang masih hidup disiramkan ke bahan pupuk yang terdiri dari limbah sayuran dan kotoran ternak. Dari penemuannya ini, proses pembusukan berlangsung hanya dalam waktu 15 hari. Jauh lebih cepat dibandingkan proses sebelumnya, yang memakan waktu hingga 3 bulan.

Pada sesi sambutan Mang Haji bercerita bahwa setelah mengambil alih kepemimpinan pondok pada tahun 1970, Mang Haji membuat banyak gebrakan dan terobosan. Terdapat lima ideologi pesantren yang beliau rubah dari sebelumnya. Pertama, sekolah formal diharamkan pada zaman ayahnya, namun Mang Haji menguatkan penting untuk sekolah tinggi. Kedua, tidak boleh berhubungan (berpolitik) dengan  penguasa, namun Mang Haji menekankan penting untuk menjalin interaksi dengan orang-orang nomor satu di negeri ini. Ketiga, rumah tidak boleh bertembok, sekarang bangunan-bangunan bertembok kokoh berdiri di dalam lingkungan pondok sebagai tempat menuntut ilmu dan asrama para santri. Keempat, tidak boleh ada kamar mandi di dalam rumah, sekarang difasilitasi kamar mandi di setiap ruangan. Kelima, tidak boleh menggunakan peralatan elektronik, namun kini alat-alat digital lengkap terpasang untuk memenuhi kebutuhan pondok.

Mang Haji mampu mengubah mindset larangan-larangan dari tradisi pesantren terdahulu menjadi suatu gagasan yang mampu membangun pesantren sekaligus memberdayakan desa. Pemberdayaan santri di Pondok Pesantren Al Ittifaq adalah melalui agrikultur, sehingga pondok pesantren ini terkenal dengan tarekat Sayuriyah-nya. Sistem pesantren ini terdapat santri salafiyah (yang asli mondok) dan santri hafasyiyah (santri yang sambil sekolah formal). Untuk santri salafiyah, selain mengaji santri juga diberdayakan untuk bekerja di koperasi Al Ittifaq untuk melayani suplai sayuran. Santri tersebut juga ditempatkan sesuai pendidikan terakhir yang ditempuh. Untuk lulusan SD, santri ditempatkan di bagian ladang untuk sortir dan distribusi sayuran. Untuk santri yang lulusan SMP ditempatkan pada bagian desain produk dan kemasan. Sedangkan untuk lulusan SMA ditempatkan di bagian marketing. Pondok pesantren Al Ittifaq mampu mengirim hingga 3 ton sayuran per hari dengan sortir sayuran dilakukan berdasarkan kualitasnya antara lain:

Grade 1 merupakan sayuran yang memiliki kualitas terbaik untuk dijual ke supermarket dan pasar modern
Grade 2 merupakan sayuran dengan kualitas sedang dijual di pasar tradisional
Grade 3 merupakan sayuran olahan dalam bentuk makanan lain yang dapat dijual
Grade 4 merupakan sayuran yang dikonsumsi pribadi
Grade 5 merupakan sayuran untuk pakan ikan dan ternak

Mang Haji berprinsip tidak ada barang dari Allah yang terbuang sia-sia. Menurut Mang Haji, pekerjaan paling berkah adalah bertani. Karena petani tidak hanya menanam padi dan tanaman untuk beliau dan keluarga, namun untuk hajat hidup orang banyak, dan juga ladang sedekah untuk banyak makhluk Allah. Mang Haji juga berbagi terkait poin kesuksesan beliau hingga saat ini, yakni disiplin yang tinggi, kerja keras tanpa batas, etos kerja yang tinggi, dan penghargaan terhadap internalisasi teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Hal terpenting yang dititipkan oleh Mang Haji dan menjadi pesan bagi seluruh awardee adalah:

Pertama, orang yang berilmu pasti dicari uang, seperti halnya gula yg selalu menarik para semut
Kedua, santri harus punya harkat, derajat dan martabat, yang nantinya akan menghasilkan adab
Ketiga, merubah Kebiasaan butuh waktu 4 tahun
Kelima, kunci sukses adalah sholat di awal waktu dan berjamaah di masjid

Nasehat Kiai Fuad untuk Peserta PK-144 LPDP Santri
Dalam acara Kunjungan Institusional ini, Mang Haji Fuad Afandy menyampaikan beberapa nasehat khusus untuk para peserta. Di antara nasehat yang beliau haturkan adalah:

Pertama, Pendidikan bukan gerbang mencari uang, akan tapi orang yang berilmu pasti akan dicari oleh uang. Orang yang berpendidikan itu mahal harganya. Jika dalam mencari ilmu, ditemukan rintangan dan kesusahan maka itulah tanda bahwa kesuksesan ada di depan mata. Malah jika yang ada hanyalah kemudahan, maka patut ada yang perlu dipertanyakan. Menurut Kiai Fuad, tidak ada kesuksesan yang lahir tanpa rintangan, tantangan dan kesulitan.

Kedua, shalat awal waktu. Ketika adzan dikumandangkan maka segera bergagas untuk ke masjid atau mushollah untuk segara melaksanakan sholat dan kalu bisa sholat berjema’ah.

Ketiga, kenalkan Indonesia kepada masyarakat dunia.

Keempat, harus sungguh-sungguh dalam belajar, karena tidak semua orang beruntung seperti kita. Orang-orang diluar sana banyak yang menginginkan seperti kita mendapatkan beasiswa LPDP ini.

Kelima, kalau sudah selesai belajar dan pulang kembali ke Indonesia, harus mampu menjadi Agen of Change atau agen perubahan di khusunya di sekitar kita. Jangan menjadi seperti kacang yang lupa akan kulitnya. Karena kita dibiayai negara maka wajib kita kembali ke negeri ini untuk berkontribusi kepada nusa dan bangsa.

Keenam, harus disiplin, punya etos kerja tinggi dan menghargai teknologi jika ingin sukses. Semua maindshet kita harus dirubah, yang dulunya menolak teknologi sekrang kita harus terbuka dengan teknologi itu.

* KH. Fuad Affandi lahir di Bandung 20 Juni 1948. Beliau biasa dipanggil Mang Haji. Beliau merupakan seorang kyai yang berhasil memadukan sistem pesantren berbasis kewirausahaan di bidang pertanian. Pondok pesantren Al Ittifaq ini didirikan oleh kakek KH. Fuad Affandi pada tahun 1934 dengan terinspirasi makna Al Ittifaq yang berarti “kerjasama yang baik”. Kemudian pondok pesantren berganti kepemimpinan di bawah asuhan KH. Masyur yang merupakan ayah dari Mang Haji. Barulah pada tahun 1970, Mang Haji menggantikan ayah beliau untuk memimpin pondok pesantren Al Ittifaq hingga sekarang. Sanad keilmuan beliau sampai pada Mbah KH. Maksum, Lasem karena beliau nyantri disana selama 17 tahun. Selama memimpin pondok pesantren, selain mengajar mengaji pada santri, beliau juga bergerak memajukan usaha pesantren di sektor pertanian sehingga beliau berhasil menemukan metode dalam pertanian yang dinamakan MFA (Mikroorganisme Fermentasi Alami), yaitu metode untuk mempercepat pembusukan pupuk dengan air liur manusia. Walaupun tidak pernah mendapatkan pendidikan formal di sekolah, keinginan beliau untuk memajukan pendidikan di desanya, Mang Haji berhasil mendirikan lembaga pendidikan mulai dari Raudlatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah ‘Aliyah (MA). Bahkan beliau sudah berhasil menjelajah ke Belanda dan Jepang karena keilmuan beliau. Beberapa prestasi dan penghargaan yang diterima beliau antara lain Satya Lencana Wirakarya tahun 1998 dari Presiden BJ. Habibie, Kalpataru untuk kategori Penyelamat Lingkungan tahun 2003 dari Presiden Megawati Soekarnoputri, Satyalencana Pembangunan tahun 2014 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan Adhikarya Pangan Nusantara tahun 2014 dari Presiden Joko Widodo.





Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita, namun sesungguhnya keberhasilan adalah buah dari benih yang kita tanam dengan penuh cinta. Dimana pun cinta itu berlabuh, maka kebermanfaatan akan selalu tumbuh. Cinta hanyalah kata tanpa bukti, jika kebersamaan tak memberikan arti. Dan kebersamaan tak akan bermakna tanpa pengabdian dengan penuh cinta.
(Manuskrip Accra)

KH. Nasaruddin Umar* - Dalam kesempatan ini, KH. Nasaruddin Umar memulai pembicaraan bahwa masa depan datang lebih cepat dari yang diperkirakan maka kita harus selalu meninggalkan kebiasaan lama dan melompat lebih tinggi untuk menggapai cita-cita. Kemudian beliau bercerita bahwa selama menjadi mahasiswa di Kanada, beliau masih suka bekerja di kantor pos dan mengajar mengaji di Kedutaan Besar Indonesia di Kanada.

Materi diawali dengan konsepsi turunnya wahyu. Allah SWT telah menurunkan firman-Nya melalui Malaikat Jibril, kemudian disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Ayat pertama yang diturunkan Allah ke bumi adalah "Iqra" yang berarti, "bacalah". Allah menyebutkan kata Iqra' secara berulang kali dalam Surah Al-Iqra' tersebut. "Satu kata saja dalam Alquran itu pasti mempunyai makna yang sangat besar," ujar beliau.

Makna Iqra' pertama dalam Surah tersebut adalah how to read, yaitu bagaimana cara kita membaca Alquran dengan baik dan benar, serta dapat mengkhatamkannya. Iqra' yang kedua adalah how to learn, yang berarti tentang bagaimana mendalami Alquran dengan mengetahui artinya, tafsirnya, bahkan takwilnya. Selanjutnya, iqra' yang ketiga adalah how to understand, yaitu bagaimana kita menghayati kitab Allah tersebut. Jadi yang ketiga ini adalah secara emosional dan spiritual. Makna Iqra' yang keempat atau yang terakhir, yaitu bagaimana memukasyafahkan atau menyingkap tabir-tabir di dalam Alquran.  "Jadi, Iqra' Alquran itu sudah disempurnakan oleh Iqra' yang keempat tersebut," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa konsep menghatamkan Alquran itu bukan hanya mengkhatamkan 30 juz atau bukan hanya menghafalkan 30 juz saja, tapi bagaimana agar seluruh umat Islam bisa menghatamkan Alquran dengan Iqra' pertama sampai ke empat tersebut. Beliau melanjutkan penjelasan tentang konsep pencari ilmu. Secara etimologi peserta didik dalam bahasa arab disebut dengan tilmidz jamaknya adalah talamid, yang artinya adalah “murid”, maksudnya adalah “orang-orang yang menginginkan pendidikan”. Dalam bahasa arab dikenal juga dengan istilah thalib, jamaknya adalah thullab, yang artinya adalah “mencari”, maksudnya adalah “orang-orang yang mencari ilmu”. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah Saw: “Siapa yang menuntut ilmu dan mendapatkannya, maka Allah mencatat baginya dua bagian”. (HR. Thabrani)

Beliau memberikan contoh pola kehidupan salah satu cendekiawan muslim yaitu Ibnu Rusyd yang terkenal dengan karya fenomenalnya yaitu Bidayatul Mujtahid. Yang dijelaskan oleh pemateri bahwasannya Ibnu Rusyd membagi pola hidupnya menjadi dokter di pagi hari, selanjutnya di siang hari menjadi seorang Qadhi, kemudian di sore hari menjadi seorang ahli fiqh dan malam harinya menjadi seorang sufi. Kemudian, pemateri memberikan sebuah nasehat agar memperbanyak sujud diatas sajadah. Beliau memberikan perumpamaan orang yang memperbanyak sujud diatas sajadah dengan berdzikir, berdo’a dan salat seperti bulu-bulu yang berhamburan. Segala jenis permasalahan, kesulitan terpecahkan.
وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنفُوشِ 
dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan (Al-‘Qariah: 5)
Diakhir sesi beliau memberikan motivasi untuk memperbanyak membaca buku biografi orang-orang besar untuk mengetahui cara mereka menyelesaikan permasalahan. Masih menurut beliau bahwa menjadi Islam moderat adalah dengan memperdalam ilmu pengetahuan. Juga memberikan pencerahan agar tidak menjadi generasi penghancur peradaban, melainkan perintis atau pembangun.

Pada 6 SM sampai 1 M, dunia keilmuan dikuasai oleh orang Barat di antaranya Plato dan Aristoteles. Kemudian, pada 1 M sampai 6 M dunia kelimuan disentuh oleh nilai-nilai agama yang serimg disebut berpaham religionis. Pada tahun ini, para agamis dari berbagai negara mulai mengeluarkan pendapatnya dan menentang pemerintahan yang diktator. Melihat hal itu, pemerintah pun tidak tinggal diam dan mulai membunuh satu-persatu para tokoh agama yang mengeluarkan pendapat yang bertentangan dengan pemerintahan.

Pada zaman dahulu, negara-negara Arab terbagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan bidang keilmuan diantaranya perintis, penikmat, penghancur, dan pembangun. Ilmuwan dalam negara Arab sulit berkembang karena hak-haknya tidak terlindungi bahkan nyawanya terancam oleh otoritas pemerintahan dan ancaman negara barat.

Kemudian, Kiai Nazarudin berpendapat “ Alangkah miskinnya mahasiswa kalau gurunya hanya orang-orang yang hidup (not only for personal teacher)”. Maksudnya, kita tidak hanya bergantung kepada orang-orang yang hidup saja namun berwashilah kepada orang-orang hebat yang sudah wafat. Sebagai contoh, kisah Imam Al-Ghazali dalam menyusun kitab Ihya’ Ulumuddin dimana setiap hadist yang beliau tulis terlebih dahulu ditanyakan kepada nabi Muhammad SAW terkait keshohihannya. Sebanyak 240 hadist yang ditulis oleh  maka sebanyak itulah Imam Al-Ghazali bertemu Nabi Muhammad SAW. Contoh lainnya adalah kisah Nabi Yunus yang berguru pada ikan paus, dan Nabi Sulaiman yang berguru pada Burung hud-hud. Ibnu Arobi dan Nabi Musa yang berguru kepada Nabi Khidir sebagaimana keterangan dalam surat Al-Kahfi ayat 60-82 adalah contoh ilmu yang dipelajari sebagai ilmu laduni.

Dalam menimba ilmu, Prof. Nasar juga berpesan untuk tidak sekedar tilmid (mencari ilmu dan guru), tapi menjadi murid (mencari ilmu Allah). Tidak hanya olah nalar, akan tetapi olah pikir juga harus diperankan. Beberapa adab menimba ilmu yang dipaparkan oleh Prof. Nasaruddin yakni:

Menjaga wudlu
Energi air akan berubah dan memberikan energi. Jangan mengusap air wudlu. Selama air mengalir, sebanyak itu membersihkan dosa-dosa manusia yang berwudlu. Pesan beliau saat berwudlu hayati tiap-tiap air membasuh bagian-bagian tubuh saat berwudlu. Yakini air wudlu tersebut yang membersihkan segala dosa pada tangan, telinga, sampai kaki orang yang berwudlu. 

Seimbang
Ajaran Barat berorientasi pada perkembangan akal, sedangkan ajara Timur berorientasi pada ajaran batin. Prof. Nasaruddin menekankan agar manusia mengkombinasi keduanya dengan seimbang.

Bersih
Bukan hanya bersih secara fisik. Akan tetapi bersih dari dosa-dosa batin agar ilmu mudah masuk ke dalam hati.

Berpasrah kepada Allah
Seluruh persoalan haruslah dicurahkan kepada Allah di atas sajadah. Istiqomah dalam sholat malam.

Mencari panutan atau teladan
Dibalik orang yang sukses pasti telah melewati segala rintangan kehidupan. Pesan beliau, carilah panutan dan ambil pelajaran darinya.



* Prof. KH. Nasaruddin Umar, MA, Ph.D, lahir di ujung Bone, Sulawesi Selatan, 23 Juni 1959. Beliau adalah seorang ulama yang mulai 2018 dipercaya sebagai imam besar Masjid Istiqlal, Jakarta. Saat ini menjabat sebagai komite reviewer pengawasan dana Pendidikan. Beliau menyelesaikan S1 pada tahun 1980 di Universitas Syari’ah Alaudin, Makassar. Kemudian, beliau melanjutkan S2 di UIN Syarif Hidayatullah dan lulus pada 1992. Kemudian untuk  program doktoral, beliau menyelesaikan di kampus yang sama pada 1998. Setelah menyelesaikan program doktoral tidak membuat beliau berhenti untuk belajar, karena setelah itu beliau masih menempuh pendidikan di Montreal, Canada  pada 1993 dan University Leiden, Belanda pada 1994. Semangat belajar beliau ini ditujukan semata-mata karena beliau merupakan sosok yang selalu haus akan ilmu pengetahuan. Selain itu, ingin menunjukkan bahwa walaupun berasal dari desa, tetap bisa berprestasi seperti teman-teman lainnya. Berkat semangat dalam menuntut ilmu yang diimbangi dengan tirakat mendekatkan diri kepada Allah, beliau berhasil mendapatkan gelar lulusan sarjana teladan 1984 dan predikat doktor terbaik 1989. Paper beliau pun berhasil menjadi yang terbaik mewakili  Kanada. Kemudian, Beliau juga ditunjuk sebagai perwakilan sidang PBB di Ganewa, Swiss dengan tema “Perspektif Gender dalam Al-Quran” yang diikuti oleh 32 negara. Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Al-Ikhlas yang merupakan pondok pesantren terbaik di Indonesia. Beliau sangat hobi menulis artikel dan makalah, dan aktif menulis di beberapa media seperti Republika, Suara Merdeka, dan Kompas. Karena kepiawaiannya dalam menulis makalah dan artikel, beliau mendapatkan tawaran untuk melanjutkan Pendidikan di lima negara sekaligus pada 1993, yaitu Jepang, Mesir, Paris, Kanada, Belanda, dan Amerika Serikat.  Namun saat itu, beliau memilih untuk melanjutkan Ph.D di Kanada. Selain itu aktif juga sebagai dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, penceramah, dan pengisi acara kuliah subuh di beberapa radio.




Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita, namun sesungguhnya keberhasilan adalah buah dari benih yang kita tanam dengan penuh cinta. Dimana pun cinta itu berlabuh, maka kebermanfaatan akan selalu tumbuh. Cinta hanyalah kata tanpa bukti, jika kebersamaan tak memberikan arti. Dan kebersamaan tak akan bermakna tanpa pengabdian dengan penuh cinta.
(Manuskrip Accra)

Sri Mulyani* - Program Beasiswa LPDP merupakan salah satu langkah pemerintah untuk menyiapkan kader-kader bangsa yang mempunyai keahlian dan keilmuan yang mumpuni, juga siap untuk mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa. Sri Mulyani berpesan agar awardee terutama yang ke luar negeri untuk kembali ke Indonesia dan Bersama membangun Indonesia. Seperti yang tertera dalam nilai-nilai dasar LPDP yaitu, Integritas, Profesional, Sinergi, Pelayanan dan Kesempurnaan. Dari nilai-nilai dasar ini, awardee terus digembleng agar nilai-nilai ini benar-benar tertanam di dalam hati para awardee LPDP.

Bukti pengabdian para penerima beasiswa kepada negara harus diberikan dalam bentuk pemikiran, kerja keras, dan prestasi untuk kemajuan masyarakat. Dan yang paling penting berikan hati hanya untuk Indonesia. Lebih lanjut beliau mengatakan bahwa beasiswa Afirmasi Santri itu merupakan amanat langsung dari Presiden RI dan Wakil Presiden agar penyaluran beasiswa Pendidikan lebih merata.

Sebagai penggagas beasiswa LPDP, Sri Mulyani memulai pengarahan dengan menyampaikan betapa penting dan strategisnya peran yang mesti diambil oleh penerima beasisswa LPDP. Beasiswa ini merupakan beasiswa yang bersumber dari uang rakyat. Pajak dari rakyat adalah sumber utama pendanaan beasiswa ini. Negara, melalui pemerintah telah memilih skema kebijakan ini demi menjamin kualitas Indonesia di masa depan. Belanja yang sangat besar untuk alokasi beasiswa ini, diambil sebagai pilihan investasi demi kemajuan bangsa.  Oleh karena itu, setiap awardee harus sadar akan posisi ini. Semua awardee harus memanfaatkan beasiswa ini dengan belajar secara serius, disiplin, dan penuh percaya diri.

Sikap ini merupakan pondasi utama bagi tercapainya tujuan dalam menempuh pendidikan. Tidak sepatutnya, penerima beasiswa ini bersikap malas-malasan. Setiap awardee adalah bagian kecil dari warga Indonseia terbaik yang telah dipilih melalui seleksi yang sangat ketat. Memang, procrastinating (sikap menunda-nunda pekerjaan) adalah kecenderungan umum setiap orang. Namun, sebagai orang terpilih, tidak sepatutnya awardee LPDP melakukannya. Malas adalah karakteristik orang kalah, yang tidak pantas melekat pada penerima beasiswa LPDP.

“Disiplin, adalah hal berikutnya yang harus menjadi watak awardee LPDP. Sikap disiplin akan melatih kita untuk bisa secara baik dalam malakukan managemen waktu. Tidak mungkin kita bisa menyelesaikan hal-hal besar dengan kualitas baik, jika kita tidak melakukan manajemen waktu secara disiplin. Ketika menempuh studi di luar negeri, saya adalah seorang Ibu dari seorang anak yang masih mebutuhkan ASI, dan saya komitmen untuk memenuhinya. Saya juga adalah seroang istri, sekaligus seorang mahasiswa yang harus mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Namun komitmen dan berdisiplin pada diri sendiri adalah kunci utama, sehingga saya bisa melaluinya dengan tuntas dan baik.” imbuhnya.

“Sikap confident (percaya diri) adalah sikap ketiga yang harus dimiliki awardee LPDP. Allah menganugerahkan kemampuan yang sama pada setiap manusia. Tidak ada perbedaan kemampuan antara orang-orang di negara maju dengan kita. Yang membedakan, seringkali adalah rasa rendah diri (inferior) yang menghantui kebanyakan kita. Padahal, penerima beasiswa LPDP adalah orang-orang yang sudah terseleksi dengan sangat ketat. Tidak ada alasan kalian merasa rendah diri.” lanjutnya.

Selanjutnya, Sri Mulyani menceritakan pengalamannya, mengalami semacam culture shock ketika pertama kali menjadi mahasiswa. Namun beliau berhasil mengatasi itu semua dengan berpikir terbuka, bergaul dengan semua orang, tidak takut untuk melakukan hal-hal baru, serta terbuka terhadap semua perbedaan. Dengan cara demikian, kita akan mengetahui siapa diri kita sebenarnya, dan juga orang lain. Pemahaman yang demikian akan membantu kita dalam menentukan sikap yang tepat sehingga goal utama kita terwujud dengan baik. Hal ini juga sangat membantu dalam membentuk networking yang sangat dibutuhkan di masa depan.

Jangan pernah bermental biasa, Republik Indonesia telah memilih. Membaur dengan tidak kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia adalah kunci: 1) Jangan menjadi orang yang inferior ketika belajar, 2) percaya diri dalam mempelajari hal-hal baru dalam rangka mengembangkan cara berpikir, 3) bukalah hati dan pikiran untuk bergaul dan mendapat hidayah, 4) pelajaran tidak hanya text book tapi nilai-nilai kehidupan, 5) membangun silaturrahim dan menciptakan jejaring.

Manfaatkan rasa percaya diri Anda untuk belajar suatu hal yang baru dan jangan biarkan rasa takut menghambat hal itu. Pelajari negara tersebut dengan baik, harus bisa mengelola waktu dengan baik serta komitmen terhadap apa yang dicita-citakan. Penerima beasiswa LPDP dan generasi penerus bangsa lainnya harus memiliki kepercayaan diri untuk belajar sesuatu hal yang baru dan jangan biarkan rasa takut menghambat Anda untuk meraih mimpi.  Jika orang lain bisa,  maka kita pun pasti bisa. Beliau juga melarang kita menjadi pribadi yang eksklusif. Rajin dan memiliki target dalam belajar tidak menjadi halangan untuk tetap berbaur dengan masyarakat. Kehadiran di masyarakat menjadikan kita memahami bagaimana kehidupan dan tradisi yang ada di masyarakat tersebut, sehingga kita memiliki hati yang semakin kaya.

Dimanapun awardee nantinya mereka merupakan perwujudan Indonesia, dan harus tetap menjaga persatuan dan kesatuan. Berterima kasih kepada orang-orang yang telah banyak berbuat baik dalam hidup kita, terutama orang tua, dalam proses belajar yang tidak pernah berakhir. Sri Mulyani juga berpesan untuk senantiasa memupuk dan memelihara rasa ingin tahu, karena keinginan untuk senantiasa belajar dan merasa tidak puas dengan keadaan saat ini menjadikan kita terus bersemangat untuk belajar.


* Sri Mulyani Indrawati, S.E., M.Sc., Ph.D (lahir di Bandar Lampung, Lampung pada tanggal 26 Agustus 1962) adalah perempuan sekaligus orang Indonesia pertama yang menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Jabatan ini beliau mulai tanggal  1 Juni 2010 hingga beliau dipanggil kembali oleh Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brodjonegoro. Beliau mulai menjabat lagi sejak 27 Juli 2016. Sebelumnya, beliau menjabat sebagai Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Bersatu. Ketika beliau menjadi Direktur Pelaksana Bank Dunia maka beliau pun meninggalkan jabatannya sebagai menteri keuangan saat itu. Sebelum menjadi menteri keuangan, beliau menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas dari Kabinet Indonesia Bersatu. Sri Mulyani sebelumnya dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi di Indonesia.  menjabat sebagai Kepala Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM FEUI) sejak Juni 1998. Pada 5 Desember 2005, ketika Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan perombakan kabinet, Sri Mulyani dipindahkan menjadi Menteri Keuangan menggantikan Jusuf Anwar. Sejak tahun 2008, ia menjabat Pelaksana Tugas Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, setelah Menko Perekonomian Dr. Boediono dilantik sebagai Gubernur Bank Indonesia. Beliau dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006 oleh Emerging Markets pada 18 September 2006 di sela Sidang Tahunan Bank Dunia dan IMF di Singapura. Beliau juga terpilih sebagai wanita paling berpengaruh ke-23 di dunia versi majalah Forbes tahun 2008 dan wanita paling berpengaruh ke-2 di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007.



Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita, namun sesungguhnya keberhasilan adalah buah dari benih yang kita tanam dengan penuh cinta. Dimana pun cinta itu berlabuh, maka kebermanfaatan akan selalu tumbuh. Cinta hanyalah kata tanpa bukti, jika kebersamaan tak memberikan arti. Dan kebersamaan tak akan bermakna tanpa pengabdian dengan penuh cinta.
(Manuskrip Accra)

Amany Lubis* - Kesempatan kali ini Prof Amany berbagi tentang Pembentukan Human Resources Berintegras dan Berdaya Saing Global. Ada beberapa tantangan globalisasi, yakni: Neo- kolinialisme dan revolusi, kejahatan transnasional, regionalisme dan militerisme, intervensi luar negeri, kesadaran kolektif, HAM dan kemerdekaan, terorisme dan radikalisme.

Prof Amany mengawali penjelasannya dengan menceritakan pengalaman pribadinya. Mengajarkan kepada peserta dengan cara yang unik dan berbeda yaitu dengan cara tidak mempunyai rasa lelah dan melawan rasa malas. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan masa kecilnya, remajanya, hingga sekarang beliau meraih semua karirnya. Beliau mengatakan bahwa pada usia 14 tahun sudah berangkat menuntut ilmu ke Mesir. Awalnya, beliau belum paham dengan Bahasa Arab karena belum pernah mempelajarinya. Berusaha dengan keras, mulai dari menggaris bawahi setiap kata-kata mudah yang beliau tahu hingga mencari kata-kata sulit didalam kamus.

Setiap kali belajar bahasa, selalu menyediakan minimal 5 kamus. Itu dulu saat awal belajar. Sekarang, ketika mengerjakan tugas atau sedang belajar, tak kurang dari 15 kamus wajib tersedia. Beliau sudah terbiasa tidak tidur, bahkan dalam waktu 48 jam sampai 50 jam. Hal itu beliau terapkan juga kepada anak-anak untuk hidup mandiri sejak mulai bayi. Hal itu bertujuan agar anak terbiasa belajar dan tidak bergantung pada orang lain. Beliau menekankan bahwa keberhasilan dilakukan dengan sedikit tidur dan ketahanan dalam belajar yang tinggi akan menghasilkan hasil yang optimal dan sukses. Etos kerja yang tinggi bisa menjadikan individu yang unggul dalam semua bidang. Belajar semua hal termasuk ilmu bahasa yang menjadi alat utama dalam berkomunikasi merupakan hal yang harus dimiliki seseorang yang menyatakan sebagai orang yang berintegritas.

Jangan pasrah dengan rasa malas, semangat yang tinggi dan tidak pernah kendor. Belajar tanpa batas. Patuhi disiplin ilmu yang digeluti. Belajar banyal hal dan menjadi kreatif. Equilibrium kehidupan bangsa = unity in diversity. Government – political parties – religion communities – citizen initiatives (civil society) – organization of professionals – youth- market

Dalam penjelasannya, hal pertama yang harus diperhatikan untuk bisa berdaya saing global yakni menjaga equilibrium kehidupan bangsa. Menjaga equilibrium bangsa, dengan usaha masyarakat di dalamnya. Salah satunya menjaga unity in diversity. Banyak lini yang harus berperan di dalamnya, yakni pemerintah, partai politik, komunitas agama, civil society, organisasi dan para pemudanya. Semua lini haruslah bersinergi agar keberlangsungan kehidupan bangsa tetap terjaga dengan baik. Profesor yang merupakan Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menambahkan segala bentuk usaha bisa kita lakukan, tapi menjaga kehidupan dari bencana hanya Tuhan yang bisa.

Hal kedua dalam pembentukan human capital yang berintegritas dan berdaya saing global yakni "Prinsip Berintegritas". Integritas sendiri berarti komitmen dalam mencapai suatu tujuan. Beliau menekankan agar para pemuda memiliki jiwa pemimpin serta harus berkeyakinan mencapai kesuksesan. Pada taraf nasional, haruslah para pemudanya memiliki prinsip yang kuat dan wawasan yang luas. Beliau memaparkan, tidak hanya Belanda atau Jepang yang ingin menguasai Indonesia, akan tetapi semua negara ingin mengusai Indonesia. Indonesia negara kaya akan hasil bumi, sejarah, budaya, suku serta letak startegis yang dimiliki Indonesia sangat menggiurkan bagi negaranya lain. Ibu keturunan Mesir ini menekankan kepada para peserta PK-144 untuk mempunyai wawasan luas tentang Nusantara. Beliau sendiri senang meletakkan peta di sudut-sudut rumah dan kantornya. Hal ini agar beliau semakin faham dan bisa memberi contoh bagi pemuda lain. Ibu yang memiliki 3 putra ini telah berkeliling ke lima benua, dan kurang lebih telah mengunjungi 30 negara.

Hal ketiga dalam pembetukan human capital yang berintegritas dan berdaya saing global yakni memiliki strategi dalam menguatkan integritas dan kepemimpinan. Prof Amany menegaskan para pemuda untuk memiliki integritas dan meningkatkan kapasitasnya. Kapasitas yang dimaksud, yakni mengisi diri dengan wawasan dan peningkatan ketrampilan. Sedangkan dalam hal kepemimpinan haruslah mengenal struktur yang ada dalam masyarakat, yakni masyarakat awam, petani, industriawan, ulama dan cendikiawan. Jika didalamnya dapat membaur, maka akan muncul generasi emas yang berintegritas dan berdaya saing global.

Meraih cita-cita tinggi dengan cara melakukan sesuatu harus excellent dimanapun berada bahkan di daerah yang di tetapkan sebagai ring of fire harus mampu survive dan menyelesaikan masalah dengan kreatif dan efisiensi tinggi. Prof Amany juga mengenalkan struktur masyarakat. Beliau menekankan lagi bahwa dimanapun berada harus bisa beradaptasi dan menjadi yang paling berpotensi sebagai penerang bagi sekitar. Lingkungan yang berpengaruh dalam menumbuhkan integritas diri diantaranya adalah wilayah industri yang berupa karakter manusianya itu sendiri. Selain itu ada dukungan dari masyarakat awam, ulama dan cendekia, serta pemerintah dan pegawainya. Kesimpulannya, untuk membangun masyarakat yang berintegritas, harus dimulai dari diri sendiri. Diri sendiri harus membangun kapasitas diri yang berupa akhlak, iman, dan ilmu. Selain itu, diri juga harus mempunyai target untuk meraih segala sesuatu dengan sukses dan memiliki prinsip yang kuat serta mempunyai wawasan yang terbuka

*Prof. Dr. Hj. Amany Burhanuddin Umar Lubis, M.A. (lahir di Kairo, 22 Desember 1963; umur 55 tahun) adalah Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta periode 2019-2023. Ia dilantik secara resmi oleh Menteri Agama pada hari Senin, 7 Januari 2019. Amany Burhanuddin Umar Lubis menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Al-Azhar Kairo pada Jurusan Sastra Inggris dan tamat memperoleh Licence (Lc) tahun 1988. Setelah itu ia memperoleh beasiswa Shot Course on Women Studies di McGill University Kanada (1997). Pada tahun 2002, ia memperoleh gelar doktor bidang Sejarah Kebudayaan Islam pada Program Studi Pengkajian Islam dari Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta. Karier akademiknya dimulai sebagai dosen pegawai negeri sipil (PNS) tahun 1994. Kemudian ia menjabat sebagai Pembantu Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Dirasat Islamiyah UIN Jakarta (2003-2009). Selain mengajar di UIN Jakarta, sejak 2009 hingga sekarang Amany juga tercatat sebagai pengajar di Sekolah Kajian Stratejik dan Global pada Program Studi Kajian Kawasan Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia serta sejak 2013 hingga sekarang mengajar di Program Pascasarjana Fakultas Strategi Pertahanan Universitas Pertahanan. Jabatan lain yang pernah disandangnya adalah sebagai Deputi Direktur Sekolah Pascasarjana Bidang Pengembangan Kelembagaan UIN Jakarta. Selain sebagai akademisi, wanita yang sudah mengelilingi 30 negara di lima benua ini juga tercatat memiliki banyak pengalaman di organisasi, baik nasional maupun internasional. Antara lain Ketua Umum Majelis Ilmuwan Muslimah Indonesia (2014-2018), Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat Bidang Perempuan (2015-2020), dan Anggota Board of Trustees Forum for Promoting Peace in Muslim Societies, Abu Dhabi (2016-2020).


Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita, namun sesungguhnya keberhasilan adalah buah dari benih yang kita tanam dengan penuh cinta. Dimana pun cinta itu berlabuh, maka kebermanfaatan akan selalu tumbuh. Cinta hanyalah kata tanpa bukti, jika kebersamaan tak memberikan arti. Dan kebersamaan tak akan bermakna tanpa pengabdian dengan penuh cinta.
(Manuskrip Accra)

SUBSCRIBE & FOLLOW