Rangkaian kegiatan Diplomacy Festival 2018 Kementerian Luar Negeri RI diselenggarakan di JX International Convention Exhibition, Surabaya (24/11). Tema yang diusung dalam agenda tahun ini menggunakan hastag #IniDiplomacy. Berbagai isu diplomasi menjadi pembahasan mulai dari Dinamika Palestina, Diplomasi Perlindungan, Indo-Pasifik, Kerja Sama ASEAN dalam Penanggulangan Bencana, dan Diplomasi Indonesia di  Forum Internasional.

Dalam kunjungannya, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi singgah cukup lama di ruangan simulasi sidang PBB. Menyaksikan ketrampilan peserta dalam berdiplomasi. Retno Marsudi menjelaskan situasi global yang terjadi, politik luar negeri Indonesia, serbuan pengungsi dan lain sebagainya. Beliau juga menjelaskan filosofi gambar latar yang didesain khusus menyerupai aslinya. “You will be someone someday with make something for humanity being,” pesan Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi.


Tersedia stan yang bisa dikunjungi untuk menambah wawasan pengunjung terkait program kerja Kementerian Luar Negeri RI. Pengunjung bisa mengikuti talkshow friends of Indonesia, IELTS Simulation dan mencoba sensasi simulasi persidangan PBB. Beberapa negara sahabat juga tampak mengirimkan delegasinya.

Pengunjung juga mendapatkan kesempatan untuk berfoto 3 dimensi, foto boot, atau sekedar menikmati makanan ringan. Konser musik sebagai penutup rangkaian agenda Diplomacy Festival 2018 di Surabaya.


Tugas berat sekaligus mulia diemban bagi siapa saja yang diberi amanah sebagai pengurus Nahdlatul Ulama’. Tugas tersebut ialah menjaga rumah bernama Indonesia agar tetap damai dengan karakter ramah dan santun. Yang diwujudkan dalam tema pengukuhan pagi ini (24/10), Cinta Tanah Air Sebagian dari Iman.

K. H. Marzuki Mustamar selaku Ketua NU Jatim berpesan agar para pengurus menjaga ibadah, terutama shalat. Menjalankan syariat secara baik, serta menjaga keluarga agar dapat melaksanakan aturan agama dengan penuh tanggung jawab. Menjalankan syariat agama secara konsisten di lingkungan terkecil keluarga.  

Tidak hanya itu, beliau juga berpesan agar senantiasa menjaga wibawa jamiyyah dengan menjalankan aturan agama dan perundang-undangan dengan baik. Kiai Marzuki tidak ingin mendengar ada pengurus NU yang terlibat pelanggaran hokum dan korupsi.


Kami bersama Tim Peneliti dan segenap pengurus Badan Khusus Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur mengikuti jalannya acara dengan khidmat. Harapan kami selain menjaga keilmuan Islam, juga memperbaiki akhlak seperti yang dicontohkan Rasulullah. Prinsipnya, menjadi baik tanpa menjelekkan, meningkatkan iman dan taqwa tanpa mengafirkan.


Kegiatan diisi dengan pengukuhan pengurus seluruh lembaga dan badan khusus di Aula gedung PWNU Jawa Timur, Jl. Masjid Al-Akbar Timur no.9 Surabaya. Pengarahan disampaikan K. H. Anwar Iskandar selaku Wakil Rais PWNU Jawa Timur, serta ditutup dengan doa oleh Rais PWNU Jawa Timur, K. H. Anwar Manshur.



Bertempat di hotel Majapahit Surabaya (22/11), Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan sosialisasi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, khususnya terkait dengan aturan revitalisasi dan adaptasi cagar budaya.

Sosialisasi ini dilatarbelakangi oleh maraknya kerusakan, penelantaran, serta perubahan fisik cagar budaya yang tidak sesuai dengan pelestarian cagar budaya. Dalam rangka mencegah hal-hal tersebut terulang kembali di kemudian hari, pemerintah menyelenggarakan sosialisasi tentang “Revitalisasi dan Adaptasi Cagar Budaya serta Paduserasi Penataan Ruang” dengan mengundang sejumlah narasumber dari Kementerian/Lembaga/Instansi yang terkait


Narasumber sebanyak 4 orang dengan materi berbeda-beda. 2 narasumber ahli dari Dinas Pekerjaan Umum sebagai arsitektur, seorang ketua asosiasi arkeolog Indonesia dan seorang perwakilan dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya. Materi disampaikan dengan antusias dan peserta menyambutnya dengan pertanyaan, permasalahan dan kondisi di lapangan.


Pelestarian cagar budaya pada masa kini perlu menggunakan paradigm baru yang berorientasi pada pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan kawasan dan mengikutsertakan peran aktif masyarakat. Sifat pelestarian cagar budaya menjadi lebih dinamis, menyesuaikan dengan perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat luas.


Sebuah lagu sederhana berjudul Welcome Indonesia, menggambarkan situasi alam dan identitas social masyarakat Indonesia. Lagu tersebut biasa ditampilkan Kementerian Luar Negeri RI dalam menyambut tamu asing yang datang berkunjung ke Indonesia. Jika dicermati, potongan lirik lagu tersebut yang berbunyi “dari gunung ke laut wajah tersenyum dimana saja” sangat filosofis dan bermakna. Pengejawentahan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia.

Negeri multicultural yang terbentuk melalui rasa senasib sepenanggungan. Sebuah harapan bernama Indonesia, dengan senyum yang senantiasa merekah di bibir masyarakatnya. Namun, setelah apa yang terjadi di zaman millennial ini, masihkah Indonesia bersama senyuman dan keramahan budaya dalam identitas sosialnya?


Peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum terbaik mengembalikan senyum Muslim Indonesia. Peringatan akan kelahiran sosok yang masyhur akan kelembutan budinya, kesantunan akhlaknya dan kejujuran tutur katanya. Namun, benarkah peringatan maulid Nabi akan mampu mengembalikan senyum Muslim Indonesia? Faktanya masih ada yang tidak sepakat terkait diadakannya peringatan maulid Nabi. Setidaknya ada tiga alasan yang mendasarinya, yaitu Nabi tidak mencontohkan, menyerupai umat terdahulu dan pengultusan berlebihan terhadap Nabi Muhammad SAW.

Nabi Tidak Mencontohkan
Awal kali peringatan maulid Nabi dilakukan tahun 604 H, pada masa Mudzafaruddin Al-Kaukabari atau lebih dikenal dengan Al-Mudhaffar Abu Said, seorang raja di daerah Irbil, Baghdad. Rangkaian acara peringatan maulid Nabi diisi dengan membaca Al-Quran, sirah Nabawiah dan syair-syair pujian terhadap Nabi Muhammad SAW serta ceramah agama. Peringatan tersebut dilakukan semata-mata untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.

Peristiwa semacam ini tidak pernah terjadi di masa Nabi dan generasi sahabat juga tidak melakukannya. Atas dasar inilah sebagian kaum muslimin tidak mau merayakan maulid Nabi, bahkan menganggap bid’ah pelaku perayaan maulid.  Padahal perayaan maulid Nabi hanya sekedar sarana, bukan tujuan. Hanya sekedar format, hakikatnya adalah bershalawat, membaca sejarah perjuangan Rasulullah, melantunkan ayat suci Al-Quran dan ceramah agama. Perbuatan-perbuatan semacam ini sesuai dengan tuntunan Al-Quran dan Hadis.

Perayaan maulid Nabi sebagai wujud kegembiraan umat Islam sesuai dengan QS. Yunus ayat 58: “Katakanlah, dengan anugerah Allah dan rahmat-Nya, hendaklah mereka menyambut dengan riang gembira.” Dan dalam kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani (Juz 11 hal 431) diceritakan bahwa Abu Lahab mendapat keringanan siksa setiap hari Senin karena dia gembira atas kelahiran Rasulullah.

Menyerupai Umat Terdahulu
Agama tumbuh dan berkembang beriringan dengan budaya awal munculnya agama tersebut. Seringkali agama menyebar luas beriringan dengan budaya. Sangat penting bagi setiap manusia yang memeluk agama tertentu agar mampu membedakan antara agama dan budaya. Sehingga tidak mudah terjebak ketika ada oknum yang menempatkan agama tidak pada fungsinya. Budaya tentu beraneka ragam, dan agama bersifat universal, bisa masuk dalam berbagai jenis budaya manusia.

Agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW bersumber dari kitab suci Al-Quran. Al-Quran sebagai kitab suci penyempurna umat-umat sebelumnya. Sehingga ada beberapa pembahasan yang saling berkaitan dengan kitab suci sebelumnya. Dengan demikian menjadi sebuah keniscayaan ketika ada beberapa kesamaan yang berhubungan dengan aktivitas social manusia. Terutama dalam hal kecintaan dan kebanggaan atas Nabi masing-masing.

Setiap umat beragama mempunyai cara tersendiri dalam membangkitkan kecintaan terhadap Nabinya. Kesamaan cara dalam memperingati hari lahir seorang nabi merupakan produk budaya dimana seorang manusia tumbuh, sedangkan isinya adalah ibadah-ibadah berupa pembacaan ayat kitab suci, sanjungan kepada Nabi dan sejarah perjuangannya. Oleh karena itu, ketika perayaan akan hari lahir diri sendiri dengan suka cita, kepada Nabi pun sangat penting untuk dimeriahkan.

Pengultusan Berlebihan
Dalam peringatan maulid Nabi di Indonesia, syair-syair yang dibaca pada umumnya adalah simtudduror, diba’ atau barzanji. Simtudduror karya Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi, diba’ karya Abdurrahman bin Umar ad-Diba’i, dan barzanji atau iqdul jawahir karya Sayyid Ja’far bin Hasan Al-Barzanji. Seperti halnya syair pada umumnya, tidak lepas dari penggunaan majaz. Namun, disalahpahami oleh mereka yang tidak sepakat dengan diadakannya peringatan maulid Nabi. Pengultusan Nabi Muhammad SAW secara berlebihan ditakutkan generasi mendatang menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai tuhan.  

Ada dua kata dalam Bahasa Arab yang berbeda penggunaan namun diartikan sama dalam bahasa Indonesia, yaitu hamida dan madiha. Kedua kata ini diartikan terpuji, namun dalam penggunaannya, kata hamida digunakan hanya untuk Allah. Sedangkan kata madiha digunakan untuk makhluk.


Aplikasi Profil Aswaja NU Center Nahdlatul Ulama Jatim. Memuat profil, program kerja, web dan aplikasi Aswaja lainnya.

Aswaja NU Center saat ini belum menjadi lembaga di Nahdlatul Ulama, melainkan sebuah badan khusus pelaksana program dari rekomendasi Muktamar NU tentang penguatan Aswaja. PWNU Jatim sudah meresmikan Aswaja NU Center sejak 2011 silam oleh Wakil Ketua Umum PBNU KH As'ad Said Ali (2010-2015) dan sudah merata di kabupaten (PCNU) se Jatim.

Untuk beberapa daerah di luar Jawa Timur yang ingin membentuk Aswaja NU Center petunjuk teknisnya ada di aplikasi ini, yaitu cukup diberi SK oleh pengurus NU di masing-masing tingkatan. 

Untuk penjelasan program kerja, divisi dan persiapan teknis lainnya kami dari Aswaja NU Center Jatim siap memberikan pendampingan.

Ma'ruf Khozin (Direktur Aswaja NU Center Jatim)
Kehancuran bangsa
dimulai dari hilangnya kepercayaan diri
akan budaya sendiri
dan kebangkitan bangsa
dimulai dari kesadaran
akan kebanggaan budaya sendiri.
(Samin)


Spirit of saminism exposes the Samin community movement in its efforts against colonialism. Resistance which has been portrayed with physical fights and bloodshed weapons does not apply to the spirit of saminism. This movement teaches how to be yourself and mutual cooperation love the homeland. The essence of the saminism movement is an idea of liberation as an effort to release society from the shackles of colonialism. Saminism who has been regarded as a tribe that disobeyed the state, was actually a social movement that tried to persuade the people of the country and the country not to submit to foreigner. The negative issue that is exhaled in the midst of society is colonial propaganda so that society not united in the spirit of saminism against colonialism.


Dewan Kesenian Jawa Timur kembali melakukan kunjungan ke masyarakat adat (27/10). Kali ini kunjungan ke masyarakat adat Samin yang tinggal di ujung barat provinsi Jawa Timur, di daerah Margomulyo Kabupaten Bojonegoro. Kunjungan ini merupakan kunjungan kesekian kalinya setelah Osing, Tengger, Arek, Pandalungan, Mataraman, Panoragan, Madura dan Bawean. Rangkaian kunjungan tersebut merupakan program kerja Dewan Kesenian Jawa Timur dalam menyongsong Kongres Kebudayaan Indonesia 2018.


Rombongan berjumlah kurang lebih 30 orang dengan tugas dan fungsi berbeda-beda. Saya bersama Mas Rino bertugas medokumentasikan masyarakat Samin dalam publikasi ilmiah. Dikomandani Mas Taufik Hidayat alias Mas Monyong, kami merasakan kehangatan di tengah masyarakat Samin. Makanan khas Samin disuguhkan dengan tampilan tari lesung dan musik Seni Gembrung Gaya Baru Tunas Kridho Laras.



Tidak berhenti sampai disitu, kami diajak menyusuri tempat-tempat strategis masyarakat Samin. Dan yang paling mengesankan ketika diskusi mendalam bersama ketua adat masyarakat Samin generasi ke-4, Mbah Hardjo Kardi dan Mas Bambang Sutrisno. Beberapa prinsip dasar yang berhasil saya catat diantaranya perlawanan dom sumurup ing banyu; aji pameling; bumi aji; sukma ngawula raga, raga ngawula swara; ngerti dulure, ngerti bangsane, tunggal rasane. Dan dalam prosesi resepsi pernikahan, masyarakat Samin tidak menerima uang dan mempersilahkan membawa makanan secara sukarela.


Dari penjelasan panjang itu, saya menyimpulkan bahwa perlawanan masyarakat Samin terhadap penjajah seperti apa yang dilakukan Mahatma Gandhi atau Paolo Freire. Sedangkan, isu negative yang menyebar di kalangan masyarakat luas tentang Samin adalah keberhasilan penjajah melakukan adu domba. Spirit perlawanan Samin hanya dilakukan kepada pemerintahan asing pada zaman dahulu, bukan pemerintahan sendiri seperti. Sekarang mereka hidup seperti biasa.

Spirit saminisme memaparkan gerakan masyarakat Samin dalam upayanya melawan kolonialisme. Perlawanan yang selama ini digambarkan dengan adu fisik dan senjata yang menumpahkan darah, tidak berlaku dalam spirit saminisme. Gerakan ini mengajarkan bagaimana menjadi diri sendiri dan gotong royong mencintai tanah air. Intisari dari gerakan saminisme adalah sebuah ide pembebasan sebagai upaya melepaskan masyarakat dari belenggu kolonialisme atau kekaguman terhadap asing. Saminisme yang selama ini dianggap sebagai suku yang membangkang kepada negara, sebenarnya gerakan social yang berusaha mengajak masyarakat sebangsa dan setanah air agar tidak tunduk pada bangsa asing. Isu negative yang dihembuskan di tengah masyarakat adalah propaganda penjajah agar masyarakat tidak bersatu dalam spirit saminisme melawan kolonialisme. 

Siapa Samin Itu?
Bumi Nusantara pernah didekte asing dalam kurun waktu yang tidak sebentar, sejak sebelum perang Diponegoro yang berakhir tahun 1830. Waktu itu di Jawa Timur ada Kabupaten yang cukup besar yaitu Sumoroto yang termasuk wilayah Tulungagung. Bupati Sumoroto yang disebut pangeran saat itu adalah Raden Mas Adipati Brotodiningrat yang berkuasa tahun 1802-1826.

Gelar pangeran pada penguasa tersebut merupakan pemberian pemerintahan asing. RM Dipati Brotodiningrat juga mempunyai sebutan Pangeran Kusumaningayu, yang mengandung arti “orang ningrat yang mendapat anugerah wahyu kerajaan untuk memimpin negara”.

RM Adipati Brotodiningrat mempunyai 2 (dua) anak yaitu: Raden Ronggowirjodiningrat dan Raden Surowidjojo. Raden Ronggowirjodiningrat berkuasa di Tulungagung sebagai Bupati Wedono pada tahun 1826 – 1844, sedangkan Raden Surowidjojo bukan bendoro Raden Mas, tetapi cukup Raden Aryo. Menurut kebiasaan orang-orang Jawa Timur, Raden Surowidjojo memiliki “kemuliaan dan kewibawaan yang besar”.

Menurut lingkungan ningrat Jawa, Raden Surowidjojo adalah nama tua, sedang nama kecilnya adalah Raden Surosentiko atau Suratmoko yang memakai julukan “SAMIN” yang artinya “ SAMI- SAMI AMIN” atau dengan arti lain bila semua setuju dianggap sah karena mendapat dukungan rakyat banyak.

Raden Surowidjojo sejak kecil dididik oleh orang tuanya Pangeran Kusumaningayu di lingkungan kerajaan dengan dibekali ilmu yang berguna, keprihatinan, tapa brata dan lainnya dengan maksud agar mulia hidupnya. Namun Raden Surowidjojo tidak suka karena tahu bahwa rakyat sengsara, dihisap dan dijajah oleh bangsa asing. Selanjutnya R. Surowidjojo pergi dari Kabupaten hingga terjerumus dalam kenakalan, bromocorah, merampok, mabuk, madat dan lain-lain.

R. Surowidjojo sering merampok orang kaya yang menjadi antek (kaki tangan) asing. Hasil rampokan tersebut dibagi-bagikan kepada orang yang miskin, sedang sisanya digunakan untuk mendirikan kelompok/gerombolan pemuda yang dinamakan “Tiyang Sami Amin” tepatnya pada tahun 1840. nama kelompok tersebut diambil dari nama kecil Raden Surowidjojo yaitu Samin.

Sejak tahun 1840 nama Samin dikenal oleh masyarakat, sebab kelompok tersebut adalah kelompok orang berandalan, rampok. Namun ajaran tersebut bila dirasakan memang baik, karena ajaran tersebut dilakukan untuk menolong orang miskin, mempunyai rasa belas kasihan kepada sesama manusia yang sangat membutuhkan. Hal ini merupakan tingkah laku dan perbuatan yang baik.

“Tiyang Sami Amin“ memberi pelajaran kepada anak buahnya mengenai kanuragan, olah budi, cara berperang dengan melalui tulisan huruf Jawa yang dirancang menjadi sekar macapat dalam tembang Pucung.

“Golong manggung, ora srambah ora suwung,
Kiate nang glanggang, lelatu sedah mijeni, 
Ora tanggung, yen lena kumerut pega, 
Naleng kadang, 
kadhi paran salang sandhung, 
Tetege mrng ingwang, jumeneng kalawan rajas,
Lamun ginggang sireku umajing probo”.

Yang artinya adalah salah satunya yang utuh, tidak dijarah dan tidak sepi, tetapi kuat dalam perang seperti kobaran api yang mengudang datangnya badan, tidak tahu apabila nantinya kejayaan tersebut akan hilang bersama asap. Hati tidak luntur seperti apa kira-kira datangnya kesulitan meski begitu terus kepada aku juga larinya. Oleh sebab itu kamu dan aku tidak dapat berpisah, karena kamu dan aku akan menjadi satu dalam kebenaran.

Tahun 1859 lahirlah Raden Kohar di Desa Ploso, Kabupaten Bloro cucu dari Pangeran Kusumaningayu/Raden Mas Adipati Brotodiningrat Bupati Sumoroto. Raden Kohar ini putra dari Raden Surowidjojo. Raden Surowidjojo merasa kecewa sampai generasi Raden Kohar karena banyak orang yang sengsara.

Pada saat itu Raden Surowidjojo menghilang tak tahu kemana, sehingga Raden Kohar hidupnya morat-marit tanpa harta benda. Akhirnya Raden Kohar menyusun strategi baru untuk meneruskan ajaran ayahnya. Raden Surowidjojo dinamakan Samin Sepuh, begitu juga Raden Kohar memakai sebutan Samin Surosentiko atau Samin Anom.

Raden Kohar (Samin Surosentiko) setelah memiliki gagasan yang baik mendekati masyarakat mengadakan perkumpulan di Balai Desa atau lapangan. Semakin lama temannya semakin banyak, karena mereka tahu bahwa gagasan Ki Samin Surosentiko adalah baik.

Ajaran Ki Samin mengenai Kejatmikaan atau ilmu untuk jiwa dan raga, jasmani dan rohani mengandung 5 (lima) saran yaitu:
1. Jatmiko kehendak yang didasari usaha pengendalian diri.
2. Jatmiko dalam beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menghormati sesama makhluk Tuhan.
3. Jatmiko dalam mawas diri, melihat batin sendiri setiap saat, dapat menyelaraskan dengan lingkungan.
4. Jatmiko dalam menghadapi bencana/bahaya yang merupakan cobaan dari Tuhan Yang Maha Esa.
5. Jatmiko untuk pegangan budi sejati.

Andalan Ki Samin adalah Kitab Jamus Kalimosodo yang di tulis oleh Kyai Surowidjojo atau Samin Sepuh. Terlebih lagi pribadi Ki Samin Sepuh juga terdapat dalam Kitab tersebut. Kitab Jamus Kalimosodo ditulis dengan bahasa Jawa baru yang berbentuk prosa, puisi, ganjaran, serat mocopat seperti tembang-tembang yang telah ditulis di atas yang isinya bermacam-macam ilmu yang berguna yang saat sekarang ini banyak disimpan sesepuh Masyarakat Samin yang berada di Tapelan (Bojonegoro), Kropoduwur (Blora), Kutuk (Kudus), Gunung Segara (Brebes), Kandangan (Pati) dan Tlaga Anyar (Lamongan) yang berbentuk lembaran tulisan huruf Jawa yang dipelihara dengan baik.

Ki Samin Surosentiko memang nekat ingin memperlihatkan gagasannya, ingin mengusir bangsa asing secara halus dan ingin punya negara yang tentram. Ki Samin Surosentiko hidup seperti halnya rakyat kecil. Daerah kekuasaan Ki Samin Surosentiko semakin luas hingga desa-desa lain. Pada suatu hari masyarakat Desa Tapelan, Ploso dan juga Tanjungsari mengangkat Ki Samin menjadi Raja dengan gelar “Prabu Panembahan Suryongalam” yang dapat menerangi orang sedunia dan yang diangkat sebagai patih merangkap senopati, kamituwo (Kepala Dusun) Bapangan yang diberi gelar “Suryo Ngalogo” yang mengajarkan tentang perang. Ini membuktikan bahwa orang pribumi dengan sah memiliki tekad yang utuh berjuang secara tenang (halus).

Ki Samin Surosentiko dalam menentang penjajah dapat dilihat dalam bermacam-macam cara. Cara yang dipakai melawan dengan menolak membayar pajak, menolak menyumbang tenaga untuk pemerintahan asing dan membantah terhadap peraturan colonial. Ki Samin belum sempat berpamitan kepada rakyatnya, terlanjur dibuang pemerintah kolonial karena dia secara terus terang mendirikan kerajaan dan memiliki gagasan membangun negara asli peribumi tanpa campur tangan orang kulit putih.

Aji Pameling
Ki Samin Surosentiko selama dalam hukuman meninggalkan putra 2 (dua) orang yang bernama Karto Kemis dan Saniyah. Saniyah dinikahi oleh Suro Kidin. Semakin lama perbuatan orang-orang asing makin menjengkelkan, bersumpah bahwa orang Samin akan dihabiskan semua. Orang Samin bingung mencari cara bagaimana memberantas bangsa penjajah tersebut.

Tahun 1939 pada suatu hari Ki Suro Kidin (menantu Ki Surosentiko) bersemedi. Dalam semedinya tersebut Ki Suro Kidin mendapat wangsit (Paweling/wisik) yang oleh orang Samin dinamakan “Aji Pameling” yang isinya supaya Ki Suro Kidin mengebur “ Sendang Lanang /Sendang Malaikat”. Setelah dikebur yang ada hanya “suara para lelembut” yang bunyinya adalah sebagai berikut :

“Jangan khawatir aku akan membantu kamu untuk mengusir Belanda, hanya syaratnya berat. Aku akan mencari “Jago Trondol” dari timur laut untuk sarana kamu merdeka. “Jago Trondol” juga akan menjajah, malah lebih kejam. Menghabiskan semuanya. “Larang sandang, larang pangan” itu sarananya. Oleh karena itu kamu lekas pulang beritahu anak cucumu agar “cawis uyah karo nandur kapas” (menyediakan garam dan menanam kapas) karena akan terjadi larang sandang lan larang pangan (mahal pakaian dan mahal makanan).

Memang sungguh nyata setelah Ki Surokarto Kamidin berkeliling, tidak lama kemudian Nippon/Jepang datang yang lebih ganas daripada Belanda. Hingga semua yang dimiliki penduduk misalnya entong, irus, siwur disita atau dirampas. Dan yang paling dikhawatirkan hanya “Londo Mondolan” yang artinya orang peribumi yang menjadi kaki tangan penjajah.

SUBSCRIBE & FOLLOW