Nusantara merupakan istilahyang seringkali digunakan untuk menyebut Indonesia. Sejak zaman purba, kawasan kepulauan ini telah mendapatkan banyak nama. Bangsa Cina mencatat dengan nama Nanhai yang bermakna Kepulauan Laut Selatan. Sementara dalam catatan kuno bangsa India berbahasa Sanskerta, terdapat sebutan Dwipantara atau Kepulauan Tanah Seberang.

 

Kata lain yang merujuk pada kepulauan ini ialah Suwarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Dalam kisah Ramayana disebutkan Rama mencari Sinta hingga ke Suwarnadwipa di Kepulauan Dwipantara. Selain itu kata ini juga muncul dalam konsep Cakrawala Mandala Dwipantara,yang dicetuskan Kertanegara Raja Singasari. Konsep tersebut dalam rangka menggalang persatuan kerajaan-kerajaan di kepulauan ini menghadapi serangan bangsa Mongol.

 

Baru kemudian kata Nusantara (nusa+antara) populer pada abad ke-14 masa Kerajaan Majapahit, dikutip dalam kitab Perundang-undangan Majapahit,. Istilah yang dipopulerkan oleh Gadjah Mada dalam konteks politik untuk menyebut kawasan kepulauan antara Asia dan Australia. Tercatat sebagai sumpah yang diucapkan ketika upacara pengangkatan Gadjah Mada menjadi Patih Amangkubumi Majapahit. 

 

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa. Spirit yang dikenang sebagai Sumpah Palapa dan Nusantara dikenal sebagai wilayah strategis di wilayah tenggara benua Asia. Wilayah yang menghubungkan dua samudera dan benua, persilangan jalur perdagangan yang menjadi titik temu para saudagar. Kawasan ramai yang menjadi tempat interaksi sosial, kerja sama, pertukaran barang sekaligus kebudayaan dari berbagai wilayah. 

 

Saling mempengaruhi menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Bangsa India sebagai salah satu bangsa yang paling berpengaruh di Nusantara. Agama menjadi faktor penting dalam penyebaran budaya India melalui agama Hindu. Kontak perdagangan menimbulkan banyak pengaruh terhadap kemapanan budaya lokal dengan keberadaan bahasa Sanskerta yang pada mulanya sebagai bahasa niaga.

 

Bahasa Sanskerta digunakan para sejarawan sebagai tanda masuknya Nusantara dalam masa sejarah. Ditemukannya prasasti atau naskah lama yang menggunakan bahasa Sanskerta telah membuktikan adanya interaksi budaya. Peninggalan benda-benda budaya sangat penting dan bernilai, kebudayaan India diwakili oleh bahasa Sanskerta pada benda-benda tersebut. Bahasa yang pada mulanya sebagai bahasa niaga, bergeser menjadi bahasa agama dalam kitab suci. Menurut Collins, bahasa Sanskerta telah menjadi bahasa sakral yang hanya digunakan dalam upacara dan penulisan teks-teks agama (Collins, 2009: 110).

 

Nusantara dikenal sebagai pusat pengajaran bahasa Sanskerta dan agama Buddha. Sejak abad ke-7, Nusantara menjadi poros utama para penganut agama Buddha dalam menyalin naskah-naskah suci. Agama Buddha mengutamakan penggunaan bahasa Sanskerta dalam penulisan teks keagamaan dan upacara-upacara suci. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan sebagai fenomena yang telah terjadi sejak ratusan tahun.

 

Bahasa Sanskerta pada masa tersebut merupakan bahasa internasional. Popularitasnya memperlihatkan kemapanan peradaban Melayu. William Marsden dianggap sebagai pelopor dalam mendokumentasikan jejak-jejak pengaruh bahasa Sanskerta. Ketekunannya dalam menyusun kamus yang dilengkapi dalam catatan etimologis mengenai kata-kata dalam bahasa Melayu yang diserap dari bahasa Sanskerta dianggap sebagai karya terbaik abad ke-19, kemudian diikuti oleh para sarjana lainnya. (Collins, 2009: 37). Kajian tentang pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu dapat dilakukan dengan meneliti artefak-artefak berupa prasasti maupun naskah lama.

 

Pengaruh Bahasa Sanskerta dalam Prasasti Salimar I

Salimar merupakan tanah pemberian Raja Mataram Kuno Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala kepada Hakim dan Eksekutor Hukum Syariat Agama tahun 800 M. Tanah yang berupa hutan ini merupakan hadiah atas jasanya pada kerajaan. Wilayah yang berada dalam kawasan ini daerah otonomi yang mengelola pendapatan sendiri (Swatantra), sehingga Salimar dikenal sebagai tanah perdikan. Raja memberikan tanda keistimewaan berupa patok yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Salimar. Dan hutan Salimar berkembang menjadi pemukiman penduduk yang kini menjadi daerah Sleman, Yogyakarta.

 

Salimar I merupakan salah satu patok yang menunjukkan keistimewaan kawasan Salimar. Saat ini prasasti Salimar I tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam riwayat penelitian, prasasti Salimar I telah dialihaksarakan dan alihbahasakan. Berikut adalah hasil alih aksara dan alih bahasa tersebut:

Swasti śakawaŕşātīta 804 kartika masa trtīya śuklapakşa 

mawulu pahiŋ soma wāra tatkāla sāŋ pamgat balakas

pu balahara manusuk simaiŋ alasiŋ salima lakan

ikanaŋ lmah ramanta I kanding gusti si daisi patih si

pinul si I ir kalima sir aka si tankir bu gusti

iŋ buan  lu si pupul parujar si panamuan si mala partaya saŋ

pi si tiruan wariga galah si t ir hular si hi si 

haburu si ma(Anugerah Si Maharaja)

 

Selamat tahun Saka yang telah berlalu 804 (tahun), hari Senin Pahing, paringkelan Mawulu, tanggal 3 paroterang bulan Karttika ketika Sang Pamgat Balakas yaitu Pu Balahara membatasi simadi hutan di desa Salimar, diberi tanah oleh Kepala desa di Kanding pejabat Kalima yaitu Si raka, Si si Tangkir bu pejabat Gusti di Buanglu bernama Si Pupul. Juru bicara (parujar) yaitu Si Panamuan, Si Mula, pejabat Partaya bernama Sang Pi Si Tiruan pejabat Wariga galuh yaitu Si T ir pejabat Hulair yaitu Si hi, si pejabat (Tu) haburu yaitu Si Ma.

 

Berikut adalah pengaruh bahasa Sanskerta yang terdapat dalam Salimar I:

Baris Ke-

Pengaruh Sanskerta

1

1.    Swasti =su+asti

Artinya: keadaan baik, keberuntungan, sukses, selamat, seuran

2.    śakawarṣātīta= śaka (nama tahun) + warṣa (tahun) + atīta (akar kata ī = telah pergi) = tahun Śaka telah lewat) 804 

3.    kartikamāsa = Kartika (nama bulan) + māsa (bulan) = bulan kartika

4.    tŗtīya = kata bilangan urutan = ke tiga

5.    Śuklapakṣa = śukla (terang) + pakṣa (paro) = paro terang, yaitu antara tanggal 1-15 tiap bulan.

2

1.    Somawāra = soma+wāra

2.    tatkāla

3

1.    Sīma (dari kata sansk sīman = batas)

 

Berdasarkan table di atas, dapat dilihat pengaruh bahasa Sanskerta dalam Prasasti Salimar I sebanyak 8 kata. Apabila dibandingkan keseluruhan kata yang tertulis dalam prasasti tersebut dengan penggunaan bahasa Melayu yang mencapai 68 kata, maka prosentase penggunaan kosakata Sanskerta dalam Prasasti Salimar I mencapai 0,12 %. 

 

Daftar Pustaka

Basaina, Safira. (2010). Perkembangan Pengaruh Kata-kata Sanskerta dalam Prasasti-prasasti Berbahasa Melayu Kuna di Sumatra Pada Abad ke-7 Hingga ke-10 Masehi. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.

Soebadio, Haryati. (1983). Tatabahasa Sanskerta Ringkas.JakartaDjambatan.

Macdonell, Arthur Anthony. (1954). A Practical Sanskrit Dictionary. London: Oxford University Press.

Collins, James T. (2011).Bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wurjantoro, Edhie (2018). Anugerah Sri Maharaja, Departemen Arkeologi FIB-UI, Depok


Manusia sebagai agen yang memainkan peranan penting dalam kehidupan sosial, selalu dihadapkan dengan berbagai realitas kehidupan yang senantiasa berubah dari periode tertentu ke periode selanjutnya. Hal tersebut terjadi karena masyarakat semakin lama semakin berkembang menjadi masyarakat yang kompleks dengan berbagai aktivitas dan kebutuhan yang berbeda. Salah satu faktor yang mempengaruhi perubahan sosial dalam masyarakat adalah berlangsungnya modernitas.


Indonesia sebagai negara dengan masyarakat yang multikultur, dengan beragam suku bangsa yang menaunginya, menjadi suatu negara yang bias dikatakan atau sedang berada pada masa membangun “modernitas”, walaupun apabila kita melihat pada sejarah Indonesia sendiri, modernitas sudah berlangsung sudah sejak lama, sejak masih bernama “nusantara”. Candi Borobudur menjadi suatu bukti konkret atas adanya modernitas pada masanya. Di lain pendapat, ada yang mengatakan bahwa modernitas di Indonesia berlangsung sejak Belanda (Barat) mulai menapakkan kaki di negeri katulistiwa ini. Lalu apa sebenarnya arti modernitas? Bagaimana modernitas berlangsung di Indonesia? Dalam pembahasan kali ini, kami akan mencoba menjelaskan modernitas menurut Jurgen Habermas, dan konteks modernitas di Indonesia serta impact dan relevansinya terhadap masyarakat Indonesia.

 

Hampir setiap negara mengarahkan proses modernisasi ke arah rasionalisasi atau yang biasa disebut kebudayaan ilmu modern. Habermas mempersoalkan kembali makna rasio yang berkembang secara umum di masyarakat. Rasional atau modern itu identik dengan operasional, efektif, efisien, dapat diautomatisasikan, penguasaan lewat tombol kontrol.

 

Penilaian moral, agama, dan lainnya dianggap membatasan kenetralan rasio. Secara ringkas, makna modernitas yaitu kesadaran pribadi untuk menggunakan rasio, sehingga tidak menyerahkan diri sendiri pada pengaruh orang lain. Manusia mampu mensintesiskan pemikirannya sendiri dengan pertimbangan-pertimbangan yang ia rasakan benar dan cenderung memihak pada relativitas, tidak tendensius atau menunjukkan keberpihakan yang justru berpotensi melahirkan benturan peradaban. Modernitas juga adalah sebuah proses yang tidak pernah berhenti (becoming).

 

Habermas menawarkan alternatif pencerahan yang dikenal dengan ‘rasio komunikatif’. Habermas berpendapat bahwa kritik hanya akan maju dengan landasan ‘rasio komunikatif’yang dimengerti sebagai tindakan komunikatif. Atas dasar paradigm itulah, Habermas ingin mempertahankan isi normatif yang terdapat dalam modernitas dan pencerahan kultural. Isi normatif modernitas adalah apa yang disebutnya rasionalisasi dunia kehidupan dengan dasar rasio komunikatif.

 

Masyarakat komunikatif bukanlah masyarakat yang melakukan kritik lewat revolusi dengan kekerasan, akan tetapi dengan memberikan argumentasi. Salah satu bentuk upaya menyatukan argumentasi demi kepentingan bersama yaitu melalui public sphere.Pemikiran Habermas mengenai ruang publik (public sphere) tertuang dalam karyanya yang berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere: anInquiry into a Category of Bourgeois Society(1989). Ruang public lahir sebagaibagian spesifik dari masyarakat sipil yang pada waktu itu mengukuhkan diri sebagai tempat terjadinya pertukaran komoditas dan kerja sosial yang diatur oleh kaidah-kaidahnya sendiri.

 

Menurut Habermas, public sphereialah sebagai “ruang” dimana setiap individu dapat masuk dan turut serta dalam percakapan tanpa tekanan dari pihak lain. Akses, yang diberikan kepada ruang publik terbuka bagi semua warga negara serta sebagian dari ruang publik terbentuk di setiap pembicaraan, dimana pribadi-pribadi berkumpul untuk membentu suatu “publik” (Kim dan Kim, 2008).Dalam konstruksi pemikiran Habermas, ruang publik adalah bagian dari masyarakat warga (civil society). Civil Society dapat dipahami sebagai masyarakat otonom yang mempunyai hak untuk menentukan diri dan mengorganisasi diri, maka ruang publik dipahami sebagai kondisi yang memungkinkan bagi masyarakat untuk turut berpartisipasi (Kushendarwati, 2011).

 

Habermas berargumen bahwa masyarakat modern terdiri dari ‘dunia-kehidupan’(lifeworld)dan ‘sistem’ (system). Dengan argument teoritis ini, Habermas juga berpendapat bahwa tujuan dari perubahan sosial adalah untuk memastikan bahwa ‘dunia-kehidupan’ atau ‘ruang-publik’, ada secara mandiri terlepas dari tendensi ‘sistem; dan susbsistemnya yang menjajah.

 

Modernitas menjadi sebuah proses yang tiada akhir. Sebab kebudayaan akan terus bergerak. Modernitas di Indonesia bermula dari masuknya pengaruh-pengaruh barat lewat kolonialisme, khususnya pada masa politik etis yang memungkinkan beberapa orang mengenyam pendidikan ala Barat. Penanda modernitas seperti terbitnya koran VOC pertama pada 1745 dan beroperasinya kereta api pertama kali pada 1867 dimulai dari orang-orang Barat yang ada di Hindia Belanda. Meskipun demikian, persinggungan dengan modernitas itu belum bisa dikatakan sebagai modernitas Indonesia karena Indonesia baru terbentuk pada 1945. Bahkan koran pertama yang diinisiasi oleh orang pribumi, Tirto Adhi Soerjo, yaitu Medan Prijaji pun masih mengatasnamakan ‘bumipoetra’ dan ‘Hindia Olanda’ (Hanggoro, 2019).

 

Namun persinggungan modernitas yang dibawa bersama kolonialisme itu pada akhirnya memunculkan terjadinya perubahan kesadaran pada masyarakat Indonesia mengenai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang diadopsi dari Barat tersebut melahirkan kebudayaan Indonesia baru yang lebih modern. Kemajuan teknologi sebagai hasil dari revolusi industri juga ikut mempengaruhi wajah peradaban Indonesia.

 

Puncak dari modernitas di Indonesia yaitu ketika tahun 1998. Terjadinya reformasi merupakan puncak kesadaran masyarakat dalam menggunakan rasionya dalam mengkritik pemerintahan atau pun permasalahan lain dalam dimensi kebudayaan. Pada masa-masa reformasi tersebut, salah satu public sphere yang terjadi adalah Suara Ibu Peduli yang diinisiasi pada 1997 dan berisi sekitar 15 orang yang saling bertemu untuk membahas kelangkaan dan mahalnya harga susu sampai mencapai 400% sekaligus merencanakan usaha demonstrasi untuk mengkritik pemerintahan Orde Baru. 

 

Gerakan Suara Ibu Peduli ini berupaya menggalang donasi untuk membeli susu dan menjualnya dengan harga murah sehingga ibu-ibu yang kesulitan mencari serta membeli susu bisa mendapatkannya dengan harga yang lebih manusiawi. Puncaknya, gerakan ini melakukan demonstrasi di Bundaran HI yang tujuan utamanya adalah mengkritik pemerintahan sekaligus membawa isu kelangkaan susu (Arivia: 2018).

 

Apakah modernitas sudah tercapai? Tentu belum, sebab modernitas merupakan sebuah perjalanan, sebuah proses membentuk masyarakat yang sadar tentang kemerdekaannya dalam berpikir dan bersikap sesuai rasionya. Sehingga proses modernitas di Indonesia ini pun masih terus berlangsung sampai sekarang.

 

Teori ruang public (public sphere) muncul dari pemikiran Habermas pada 1989 dalam buku “The Structural Transformation of The Public Sphere: An Inquiryinto Category of Gourgeois Society” (Nasrullah, 2012).Ia berpendapat bahwa padamulanya ruang publik merupakan suatu ruang yang tercipta dari kumpulan orang-orang tertentu (khususnya kaum borjuis). Habermas mengkritik ruang publik seharusnya diisi dengan pembahasan dan isu yang ringan agar masyarakat kelas bawah dapat memahami, mengakses dan juga ikut beraspirasi dan diskusi.

 

Public Sphere mulai lebih terbuka dan memperoleh kebebasan semenjak erareformasi. Sehingga diskusi-diskusi sensitif perihal isu kenegaraan dan lain sebagainya dapat didiskusikan di ruang publik tanpa adanya tekanan dari penguasa. Hal ini juga memungkinkan adanya gerakan pencerahan pada masyarakat melalui diskusi-diskusi tersebut. Sehingga, public sphere sangat mungkin diterapkan di Indonesia, hanya saja, kesadaran masyarakat menengah dan masyarakat bawah untuk berdiskusi yang perlu ditingkatkan dengan penanaman budaya literasi yang kuat.

 

Geliat  masyarakat Nusantara dalam  meminum  kopi semakin meningkat. Coffee shop menjadi salah satu tempat atau sarana yang penting bagi masyarakat.

 

Esensicoffee shoptidak hanya sekedar tempat menikmati minuman kopi, namun lebih dari mereka bisa menyambung silaturahmi dengan teman-teman dan sahabat. Merepresntasikan kebiasaan masyarakat dan telah menjadi budaya yang sangat melekat dalam kehidupan, sekaligus identitas kolektif sebuah masyarakat.

 

Coffee shop tidak hanya menjadi ranah domestik bagi laki-laki, melainkantelah menjadi sarana bagi kaum perempuan untuk mengaktualisasikan diri mereka sebagai bagian dari manusia modern. Coffee shop juga menjadi arena diskursus beragam tema pembicaraan. Topik-topik pembicaraan sangat beragam mulai dari politik, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya.

 

Sebagaipublic sphere, coffee shoptelah hadir dalam menjamin kebebasan perilaku, tindakan, dan refleksi mandiri masyarakat. Tidak terkungkung oleh kondisi materiil dan jaringan-jaringan kekuatan negara. Kondisi ini sangat ideal bagi menciptakan civil societydalam komunitas lokal. Melahirkan sebuah gerakan sosial. Meskipun gerakan sosial tidak serta merta lahir dari masyarakat karena masih adanya pengaruh mahasiswa dan aktivis yang membangkitkan identitas dalam melawan musuh bersama.

 

Sebagai sarana produksi dan reproduksi wacana, Coffee shopmemegang peran sentral mengikuti pemikiran Jurgen Habermas sebagai public sphere. Konseptualisasi public sphere secara umum merupakan ranah publik yang merujuk kepada gagasan “keruangan” yang menyediakan arena terbuka atau forum yang kurang lebih otonom untuk debat publik. Akses untuk ruang ini bebas dan adanya jaminan terhadap kemerdekaan berkumpul, berserikat, dan berpendapat (MMcQuail, 2011).

 

Sejalan dengan meningkatnya intensitas di skusi dan berjalannya waktu, proses-proses yang terjadi di dalam ruang publik nantinya akan memengaruhi kebijakan-kebijakan politik di masyarakat melalui pembentukan opini publik, pada akhirnya tercipta sebuah gerakan sosial (social movement) di masyarakat. Sosial movement merupakan respon dari gejalan sosial yang ada. Gejala-gejala sosial itu bisa berupa kebijakan pemerintah atau kondisi sosial dan agama masyarakat. Gerakan sosial dimaksudkan bisa sebagai mendukung atau mengkritisi kebijakan pemerintah.

T

opik pembicaraan Coffee shopsangat beragam mulai dari politik, sosial, ekonomi, dan lain sebagainya terkadang pemibcaraan sehari-hari yang tidak terlalu penting jga terangkat disini. Namun tema sosial yang selalu mendominasi diskursus Coffee shop di kalangan beberapa orang yang mendatangi tempat ini. Hal ini disebabkan oleh ketertarikan masyarakat terhadap tema sosial, meskipun tidak semua masyarakat memahami tingkat literasi sosialnya.

 

Sebagai public sphereCoffee shop telah hadir dalam menjamin kebebasan perilaku, tindakan, dan refleksi mandiri masyarakat. Mereka tidak terkungkung oleh kondisi materiil dan jaringan - jaringan kekuatan negara. Kondisi ini sangat ideal bagi menciptakan civil society dalam komunitas lokal.

 

Diskursus sosial ini telah berhasil dimanfaatkan oleh masyarakat dalam melahirkan sebuah gerakan sosial. Meskipun gerakan sosial tidak serta merta lahir dari masyarakat karena masih adanya pengaruh individu dan aktivis yang membangkitkan identitas dalam melawan musuh bersama. Namun, sikap permisif masyarakat untuk mau terlibat dalam gerakan sosial patut diberi penghargaan. Hal ini berarti masyarakat menyadari akan pentingnya perjuangan bagi kemerdekaan mereka dari masalah sosial melalui aparatusnya.

 

Daftar Pustaka

Arivia, G. (2018, September 17). Politik Representasi Suara Ibu Peduli. Retrieved Desember 13, 2019, from jurnalperempuan.org: https://www.jurnalperempuan.org/ wacana-feminis/politik-representasi-suara-ibu-peduli

Hanggoro, H. T. (2019). Medan Prijaji, Medan Laga Tirto Adhi Soerjo. Retrieved Desember 13, 2019, from Historia.id: https://historia.id/politik/articles/medan-prijaji-medan-laga-tirto-adhi-soerjo-PNayR

Jurgen, Habermas. (1962). The Structural Transformation of The Public Sphere: anInquiry into a Category of Bourgeois Society. Germany: MIT Press.

Gerben, Heitink. (1999). Practical Theology: History, Theory, Action Domains,Michigan, William B. Errdmans Publishing Company.


Earth Without Art is Just Eh.Bumi tanpa seni hanyalah ‘eh’.Sebuah adagium yang sangat populer di kalangan seniman dan masyarakat pecinta seni. Satu kalimat yang bisa bermakna sarkas, sebagai peneguhan bahwa seni bagian yang tak terpisahkan dari bumi. Kata art merupakan potongan dari kata e’art’h,tanpa art kata earthhanyalah ehyang bebas makna. Sedangkan dalam bahasa Arab, bumi dikatakan sebagai ardh. Secara fonologi mempunyai kemiripan dengan kata art. Bahkan dalam budaya Azerbaijan, ketika seseorang ingin mengungkapkan isi hatinya yang sedang berbunga-bunga, mereka akan mengatakan seni seviram. Hal ini menegaskan bahwa seni menjadi sesuatu yang tak terpisahkan bagi kehidupan manusia di muka bumi.

 

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Setiap daerah mempunyai adat istiadat yang harus dihormati. Sebagai peribahasa yang mempunyai misi tenggang rasa dan saling menghormati antar-sesama manusia. Sebuah pulau di Indonesia, dikenal sebagai Pulau Dewata. Selain karena penghormatan terhadap dewa yang diyakini, juga menyimpan banyak cerita tentang makna penyatuan antara keyakinan, falsafah dan kebudayaan. Tradisi bertahan dengan baik, ketika kebiasaan hidup mencerminkan kesatuan dari ketiganya. Menerjemahkan kebaikan, kebenaran dan keindahan dalam satu napas kehidupan.

 

Hubungan kebudayaan dengan banyak hal menjadi unsur misterius. Tak mudah dipahami oleh banyak orang. Menurut Koentjaraningrat, ada 7 unsur kebudayaan universal diantaranya: bahasa, sistem pengetahuan, kemasyarakatan atau organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, mata pencaharian, religi dan kesenian. Sedangkan para pemikir Sekolah Frankfurt menganggap budaya dan estetika mengandung dimensi eksistensial yang paling puncak.

 

George Lukas dengan realisme sosialnya menganggap bahwa kebudayaan bukan sekadar daya artistik imajinatif yang terpisah dari realitas kehidupan masyarakat. Manusia dalam masyarakat menjadi yang utama dengan makna kehidupan sebagai sudut pandang. Hari ini sebagai pusat pergerakan masyarakat yang dipengaruhi masa lalu dan menentukan masa depan.

 

Walter Benjamin dengan mesianistiknya menganggap bahwa kesenian sebagai produk kebudayaan mempunyai aura produksi yang abstrak dan tidak bisa dijelaskan. Aura produksi yang dimaksud adalah otentisitas. Benjamin menitikberatkan pada originalitas, bahwa setiap karya seni mempunyai keotentikan, baik dalam wujudnya maupun proses pembentukannya. Karya seni orisinil menurut Benjamin ada di lokasi dan sejarah tertentu, mempunyai ruang yang berbeda dan waktu yang tak sama.

 

Bertold Brecth senada dengan Benjamin yang menekankan bahwa dalam berkarya harus menciptakan segala sesuatu yang benar-benar baru, karena yang lama telah terkorupsi. Perhatian Brecth terpusat pada karya seni sebagai pembangkit kesadaran. Seni yang tidak politis, adalah seni yang bersekutu dengan kelas penguasa.

 

Sementara Theodor Adorno dengan kritis emansipatorisnya mempertanyakan asumsi-asumsi dasar estetika yang selama ini menganggap peran subjek atau nilai karya seni itu ahistoris, lepas dari sejarah, politik, budaya, ekonomi, hukum dan agama. Ada unsur-unsur tertentu yang membuat karya seni tidak bisa lepas sama sekali dari masa lalu.

 

Galeri Seni Kontemporer Berbasis Teknologi

Pembangunan menjadi indikator penting dalam kehidupan manusia. Menjadi alasan dasar kemajuan dalam menciptakan perubahan. Tidak sedikit manusia yang mencitrakan diri sebagai agen perubahan atau pelopor kemajuan dengan berbagai ide dan usahanya. Namun, apa yang disebut pembangunan tidak selalu dimaknai sama oleh setiap orang. Bagi kontraktor, pembangunan adalah penciptaan gedung-gedung fisik yang membuat setiap mata terpana. Bagi pelestari alam, pembangunan adalah upaya menjaga kelestarian alam dengan pola hidup alamiah menjaga keseimbangan alam. Bagi aktivis HAM, pembangunan adalah upaya agar setiap jiwa mendapat keadilan sebagai jalan kesejahteraan.

 

Beragam makna dan beribu arti pembangunan dicitrakan. Dunia modern dengan kecanggihan teknologinya, perlahan tapi pasti membawa pemaknaan yang berbeda dan seakan berusaha menguasai dunia. Teknologi menjadi indikator yang tak bisa ditinggalkan bagi kehidupan manusia modern. Manusia seakan tergantung sepenuhnya dengan kemajuan teknologi, bahkan tidak bisa dipungkiri bahwa teknologi yang mengontrol cara hidup manusia modern.

 

Kemajuan teknologi menjadi indikator kesuksesan pembangunan. Sehingga manusia beranggapan bahwa kesuksesan ditandai dengan kepemilikan barang-barang yang dianggap sebagai ukuran kemajuan di masanya. Semua aspek kehidupan seakan-akan diciptakan serba praktis, otomatis, dan sistematis. Dari hal terkecil individual sampai segala hal yang sifatnya komunal tak bisa lepas dari teknologi.

 

Seni sebagai produk kebudayaan menjadi satu di antara banyak hal yang menjadi perdebatan di kalangan para seniman. Rencana pembangunan galeri seni kontemporer berbasis teknologi sebagai salah satu efek dari pengaruh teknologi. Hal ini menjadi perdebatan bagi siswa-siswa Sekolah Frankfurt terhadap adanya teknologi dalam kebudayaan, sehingga menciptakan sebuah karya seni yang berbeda dan tak pernah terpikirkan sebelumnya.

 

Bagi Lukacs, pembangunan galeri seni kontemporer berbasis teknologi akan membawa manusia pada keterasingan. Sebab utamanya tentu seni bukan lagi menjadi dirinya sendiri, seni telah menjadi komoditi yang menggantikan manusia. Kemajuan teknologi akan menjadi kebanggaan dan manusia akan lupa diri. Galeri seni kontemporer tersebut akan dianggap sebagai simbol kebudayaan. Padahal apa yang disebut kebudayaan dan seni adalah sesuatu yang alamiah. Terjadi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan manusia, terlepas dari kepentingan ekonomi yang bersifat konkret maupun abstrak. Konkret dalam arti memberikan keuntungan materiil atas seni yang dikomoditikan atau abstrak dalam arti memberikan keuntungan yang tak tampak. Manusia menjadi sekunder setelah teknologi yang mengemas seni sedemikian rupa.

 

Kemajuan teknologi menjadi ukuran kemajuan kebudayaan manusia. Dalam hal ini teknologi bisa diartikan sebagai hasil keatifitas manusia. Manusia menjadi penemu sekaligus penggerak teknologi sebagai buah perenungan dan ekspresi manusia. Menjadi unsur utama dalam perkembangan kebudayaan. Teknologi dipandang sebagai bagian dari kebudayaan, bukan sesuatu yang berbeda atau berseberangan dengan kebudayaan yang selama ini dianggap manual. Teknologi juga bagian dari ekspresi manusia dalam membuat dan membentuk kehidupan agar hidup menjadi lebih baik. Galeri seni kontemporer sebagai wujud dari perhatian akan kemajuan-kemajuan teknologi sebagai hasil kreatifitas manusia.

 

Berbeda halnya dengan Benjamin Franklin, yang terpenting dari sebuah penciptaan adalah orisinilitas. Sebuah penciptaan dipandang otentik hanya jika ditemukan di suatu tempat dan waktu tertentu. Sehingga menciptakan aura tertentu dan karya seni akan tetap menjadi menarik. Hal ini seperti Joger di Bali, tidak ada toko cabang yang menjual produk Joger selain di satu tempat itu. Meskipun produk yang dijual diperbanyak oleh mesin dan bukan satu-satunya, hal tersebut sudah membuat Joger menarik. Joger sebagai identitas Bali, membawa status sosial tersendiri dalam masyarakat. 

 

Pembangunan galeri seni sangat diperlukan masyarakat. Namun Benjamin menganggap penggunaan teknologi menghilangkan aura sebuah karya seni. Teknologi membuat karya seni bisa ditemukan di banyak tempat. Namun jika penggunaan teknologi hanya di tempat dan waktu tertentu, saya kira bukan menjadi masalah. Galeri karya seni dengan teknologi terbarukan dibuat sedemikian rupa hanya bisa ditemukan di tempat dan waktu tertentu. Galeri karya seni berbasis teknologi kontemporer tidak akan kehilangan auranya. Otentik dan satu-satunya, namun perlu aturan untuk menjaga keotentikannya.

 

Sementara Adorno, lebih bersepakat dengan Benjamin dan berhadapan dengan Lukacs dalam ranah konseptual ini. Idealisme masyarakat kapitalis kontemporer berwujud teknologi sebagai puncak rasio manusia. Manusia yang mengendalikan alam dengan rasionya, namun pada akhirnya, manusia akan dikendalikan oleh rasionya yang berwujud teknologi tersebut.

 

Beasiswa Seniman

Pemberian beasiswa kepada 10 seniman dalam mengembangkan kesenian dengan sebebas-bebasnya, untuk meningkatkan kreatifitas tanpa direpotkan oleh isu politik, ekonomi dan sosial. Ada 3 unsur yang saling berkaitan dan membentuk kondisi sosial tertentu, yaitu pemberi beasiswa, penerima beasiswa sebagai individu maupun dalam komunitas dan produk kesenian itu sendiri.

 

Pemerintah membantu seniman dengan memberikan beasiswa. Di satu sisi kebijakan tersebut tampak sebagai sesuatu yang seakan-akan mendukung seniman sepenuhnya. Namun, di satu sisi sebagai jalan lain untuk menguasai. Membantu sebagai cara terbaik menguasai. Nama lain dari relasi adalah kekuasaan, pemerintah menciptakan relasi-relasi untuk menegaskan kuasanya.

 

Tercipta kelas berdasarkan pemerolehan bantuan. Seniman penerima beasiswa akan berbeda dengan seniman yang tidak menerima beasiswa. Penerima beasiswa menikmati fasilitas dan selainnya tidak, hal ini akan berpengaruh terhadap produk karya seni yang tercipta. Jika kebijakan ini berkelanjutan, maka seniman akan berlomba menciptakan karya seni bukan sebagai sarana ekspresi, melainkan untuk menjadi salah satu dari penerima beasiswa. Seni bukan menjadi dirinya sendiri, karya seni telah menjadi komoditas untuk dijual.

 

Kondisi tersebut menurut Lukacs akan menciptakan reifikasi di masyarakat. Reifikasi tersebut bukan dalam bentuk kepemilikan barang, namun kepemilikan status penerima beasiswa. Masyarakat akan beranggapan bahwa kesuksesan seniman ditandai dengan diterimanya menjadi salah satu penerima beasiswa. Seniman akan teralienasi dengan dirinya sendiri, Karya seni diciptakan bukan lagi sebagai sarana berekspresi natural manusia sebagai pusat kehidupan, melainkan menjadi jalan untuk mendapatkan beasiswa. Seni kehilangan daya kritisnya kepada pemberi beasiswa dalam hal ini penguasa.

 

Sedangkan menurut Benjamin Franklin, pemberian kebebasan kepada seniman akan membawa angin segar. Melepaskan penggunaan teknologi sebagai alat pemroduksi massal akan menjaga karya seni tetap beraura. Aura kebebasan yang tercipta pada ruang dan waktu tertentu. Benjamin lebih mendukung pada program ini dan akan menentang penggunaan teknologi dalam proses produksi masal karya seni.

 

Sementara Adorno berargumen mengenai kapasitas subversive yang mendobrak dalam representasi yang benar dan objektif atas realitas dalam modernism. Kebebasan yang diberikan oleh penguasa merupakan kebebasan semu, pemberian beasiswa tersebut justru secara tidak langsung mematikan daya dobrak karya seni atas realitas dalam modernism. Kebebasan yang bersumber dari pihak yang menginginkan ketundukan atas stabilitas pemerintahan adalah pedang yang membunuh hakikat kebebasan itu sendiri. Kebebasan sebagai kesadaran bahwa karya seni harus mendobrak kemapanan yang tampaknya sedang baik-baik saja.

 

Ruang Terbuka Kebudayaan Terintegrasi

Pengadaan ruang terbuka bagi ekspresi kebudayaan dan kesenian menyatu dengan taman kota dan fasilitas hiburan rakyat lainnya. Ini berarti karya seni sebagai produk ekspresi kebudayaan dipaksa untuk teratur dan menjadi komoditi bersama fasilitas hiburan rakyat lainnya seperti gedung bioskop, food-court, shopping mall, museum perjuangan dan lain sebagainya. Seni menjadi tontonan dan harus mengikuti permintaan pasar. Hal yang menurut Lukacs, seni telah tercerabut dari akarnya sebagai realitas kehidupan sehari, meskipun masih ada peluang ruang terbuka tersebut digunakan sebagai pembangkit kesadaran masyarakat luas. 

 

Berbeda halnya dengan Brecht, ruang terbuka kebudayaan yang terintegrasi dengan berbagai fasilitas public akan semakin mempermudah aktivitasnya dalam mempertontonkan teaternya. Terlepas dari apakah penonton bersikap kritis atau sekedar memposisikan teater sebatas tontonan seperti halnya yang lain. Ruang terbuka akan memberikan kesempatan tersendiri bagi Brecht dan teaternya untuk membangkitkan kesadaran masyarakat bahwa kondisi yang tampaknya baik-baik saja itu sedang tidak baik-baik saja. Meski tidak semua pengunjung sadar akan hal itu, Brecht akan berupaya membangkitkan kesadaran dengan teaternya. Seni yang tidak ada tujuan politis adalah seni yang berpihak pada penguasa.

 

Sementara Adorno, mengevaluasi sejauh mana upaya Brecht dalam memberikan dampak yang mencerahkan dengan teaternya. Brecht memang bertujuan untuk membongkar kepalsuan apa yang sedang dihadapi masyarakat kapitalis dan menunjukkan kekuatan-kekuatan esensial yang dimiliki masyarakat. Mengingkari bahwa fasisme merupakan organisasi raksasa dan menganggap remeh para penggerak fasisme.

 

Seniman Masuk Sekolah

Peningkatan literasi secara masif guna meningkatkan nasionalisme peserta didik dengan masuknya seniman ke sekolah-sekolah perlu disambut baik. Selain untuk mengenalkan sumbangan kesenian bagi kemajuan bangsa, dengan masuknya seniman ke sekolah menciptakan konektivitas antara institusi pendidikan dengan para seniman yang real menekuni bidangnya. 

 

Ketika seniman masuk sekolah, seni dibentuk sedemikian rupa agar sesuai dengan aturan-aturan institusi pendidikan. Nampaknya Lukacs akan menentang program ini karena mencabut seni dari realitas kehidupan manusia. Menjadi komoditas untuk memenuhi kebutuhan institusi. Hal ini baik sebagai pemantik, namun siswa perlu menindaklanjutinya dengan belajar di masyarakat. Bukan sebatas pelajaran di sekolah, namun perlu ada keberlanjutan dalam mempelajari seni sebagai realitas kehidupan sehari-hari di masyarakat.

 

Bagi Adorno, seniman masuk sekolah akan membentuk identitas siswa. Keadaan yang dibangun untuk membentuk kesadaran akan kebudayaan. Hal ini perlu dilakukan di sekolah-sekolah. Meski proses belajar seni di sekolah sangat terbatas dan jauh dari identitas seni yang sebenarnya, justru dari nonidentitas ini kesadaran terbangun. Menciptakan keadaan untuk membentuk kesadaran hakiki.

 

Penghargaan Karya Cipta

Pemberian penghargaan kepada seniman yang karyanya mampu menciptakan kesadaran masyarakat untuk mendukung program pembangunan pemerintah kota. Pemerintah menggunakan kesenian sebagai upaya menggalang dukungan atas dasar kemajuan. Kemajuan suatu kota yang indah dan nyaman impian setiap orang, namun mendukung setiap agenda pemerintah perlu dipikirkan kembali. Apalagi menggunakan seniman dengan kreatifitasnya untuk mengontrol stabilitas pemerintahan. 

 

Brecth dengan teaternya yang mengambil sikap impersonal dan menjaga jarak dengan kepentingan tentu akan menolak hal ini. Kesenian yang digunakan untuk menggalang dukungan penguasa sudah kehilangan fungsinya. Teater Brecth justru berupaya menggalang dukungan masyarakat dalam arti membangkitkan kesadaran bahwa keindahan yang dikontrol penguasa sebenarnya keindahan semu. Perlu upaya-upaya kritis terhadap segala apa yang digunakan penguasa dalam menciptakan keindahan tersebut. Penghargaan karya cipta menentang semangat teater Brecht yang berusaha menjaga jarak dengan membangkitkan kesadaran masyarakat terutama kaum proletar bahwa kita sedang tidak baik-baik saja. 

 

Adorno menganalisis bahwa penghargaan karya cipta untuk mendukung pemerintah akan membawa orang untuk larut pada kondisi riil kehidupan sehari-hari dalam kapitalisme kontemporer. Membangun alur pemikirannya mengenai karakter pendobrak karya seni yang autentik. Karya seni kehilangan karakter pendobraknya ketika digunakan untuk mendukung program pembangunan pemerintah. Definisi kemajuan oleh pemerintah tentu berbeda dengan apa yang dimaksud oleh masyarakat. Karya seni justru kehilangan ruhnya ketika tidak menjadi pendobrak atau mengkritisi apa yang dimaksud oleh pemerintah sebagai kemajuan.  

Kebudayaan adalah suatu fenomena sosial, tidak dapat dilepaskan dari perilaku dan tindakan warga suatu masyarakat yang mendukung atau menghayatinya. Keteraturan, pola, atau konfigurasi, yang tampak pada perilaku dan tindakan warga suatu masyarakat tertentu tidaklah dapat dipahami tanpa dikaitkan dengan kebudayaan. Perilaku dan tindakan berpola dianggap sebagai ungkapan budaya.

Perilaku dan tindakan suatu masyarakat erat kaitannya dengan situasi tempat atau wilayah dimana seseorang hidup, baik secara individu maupun kelompok. Seseorang atau masyarakat yang hidup di pegunungan, tentu mempunyai perilaku yang berbeda dengan seseorang atau masyarakat yang hidup di pesisir. Perilaku tersebut menjadi kebiasaan sehingga membentuk mentalite. Salah satu penghayat forum Anggara Kasih di lereng Gunung Penanggungan dalam suatu kesempatan menyatakan bahwa, puncak kecerdasan manusia padang pasir adalah siasat atau politik. Sedangkan puncak kecerdasan manusia yang hidup di tanah gemah ripah loh jinawe adalah keindahan berbudaya.

Keindahan berbudaya terbentuk ketika urusan perut telah selesai. Di Nusantara, tercipta stratifikasi sosial dalam hal pemenuhan urusan perut. Pada zaman dahulu perbedaan status sosial dilihat dari bagaimana cara seseorang mencari makan, mata pencaharian atau profesi. Seorang pertapa yang fokus pada agama dan mengesampingkan dunia dianggap sebagai status sosial tertinggi.

Di bawahnya ada para ksatria yang hidupnya mengabdi untuk negara, kekayaannya dibatasi namun hidupnya dijamin oleh negara. Di bawahnya lagi ada pedagang, yang mengambil untung dengan barang atau jasanya. Kemudian, ada masyarakat yang mata pencahariannya mengambil manfaat dari hasil bumi. Selanjutnya, ada masyarakat yang mata pencahariannya dengan berburu atau membunuh hewan. Dan yang paling bawah adalah masyarakat yang hidup sebagai orang asing di suatu wilayah. 

Stratifikasi masyarakat Nusantara tersebut sudah tidak berlaku di zaman sekarang. Menyisakan pengaruh bahwa orang yang mengabdikan diri kepada negara dianggap lebih tinggi statusnya. Selain itu yang sangat mencolok adalah budaya konsumerisme dan inferior. Mayoritas masyarakat Nusantara zaman sekarang menganggap sesuatu yang datang dari luar, lebih baik dari pada pribumi. Barang yang sama dijual di tempat yang berbeda dengan harga yang jauh lebih mahal menciptakan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Contohnya, secangkir kopi yang dijual di kaki lima dianggap lebih rendah dari pada secangkir kopi yang sama dengan harga jauh lebih mahal di sebuah café.

Makanan menjadi identitas atau penanda budaya karena lingkungan, kebiasaan, dogma, politik dan hal-hal lain yang membuat masyarakat di suatu daerah dengan budaya tertentu akan berbeda dengan masyarakat di daerah lain dengan budaya yang berbeda. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Eropa yang masuk ke Indonesia. Kolonialisme bangsa Eropa ke Nusantara membawa perubahan dalam banyak hal di kehidupan sehari-hari.

Kolonialisme Eropa di Nusantara menciptakan tiga kelas sosial, yaitu bangsa Eropa, pribumi dan campuran. Eropa berdagang rempah-rempah dan setelahnya mengambil secara paksa hasil bumi dengan membangun wacana bahwa budaya Eropa lebih tinggi dari pada budaya pribumi. Bahasa, pendidikan, pakaian, ras, agama tak lepas dari pengaruh budaya Eropa.

Dalam hal bahasa, wacana kolonial membentuk kelas sosial dari bahasa yang dipertuturkan. Bahasa membentuk dan menciptakan keseluruhan realitas sosial. Bahasa mengondisikan, membatasi dan menentukan realitas keseluruhan alam semesta. Ketika orang-orang Eropa membawa teknologi atau sesuatu yang belum pernah ada di Nusantara, mereka menamainya sesuai dengan bahasa mereka. Seperti halnya spoordan slot, digunakan sebagai bahasa sehari-hari masyarakat Nusantara hingga sekarang.

Orang-orang Eropa tidak memperbolehkan pribumi menggunakan bahasanya. Hanya kaum bangsawan yang diperbolehkan menuturkannya dengan sekolah di sekolah tinggi milik pemerintah kolonial. Hal ini membentuk budaya dan mindset dalam masyrakat luas bahwa yang boleh bersekolah dan menuturkan bahasa bangsa Eropa adalah kaum bangsawan atau yang mempunyai status soial tinggi.

Tidak hanya itu, pengaruh budaya Eropa juga dalam hal pakaian. Gaya berpakaian orang Eropa dengan jas dan celananya dipandang lebih tinggi dari pakaian pribumi. Pakaian Eropa hanya digunakan di tempat-tempat atau acara-acara formal, sehingga menciptakan kesan di masyarakat bahwa pakaian Eropa yang lebih baik.

Sementara dalam hal agama, masyarakat Nusantara meyakini adanya kekuatan tunggal yang menguasai alam semesta. Agus Sunyoto dalam bukunya Atlas Walisongo menyebutkan bahwa agama masyarakat Nusantara adalah Kapitayan. Diekspresikan dengan menjaga hubungan antar-manusia dan keseimbangan alam. Ekspresi tersebut disimbolkan dengan sesajen di pohon, goa, gunung, maupun laut. Sarjana Eropa menyebutnya sebagai animisme dan dinamisme.

Konsep Civilization dibawa oleh orang Eropa melalui kolonialisme. Konsep tersebut sangat erat kaitannya dengan budaya. Bangsa Eropa sebagai agen yang membawa budaya baru dan menciptakan struktur sosial di masyarakat luas. Peran bangsa Eropa dalam melakukan interaksi dengan penduduk pribumi dilakukan dalam berbagai bidang kehidupan. Mulai dari perdagangan, bahasa, pendidikan, ras dan agama. Sehingga mempengaruhi pola pikir dan gaya hidup, baik secara individual maupun secara komunal. Membentuk kesadaran kolektif, mentaliteyang menganggap segala sesuatu yang berasal dari Eropa atau luar negeri, statusnya lebih tinggi daripada hasil karya pribumi.

 

DAFTAR PUSTAKA

Barry, Peter. 2010. Beginning Theory: Pengantar Komprehensif Teori Sastra dan Budaya. Yogyakarta: Jalasutra.

BS, Ardiansyah. 2019. The Paradise. Yogyakarta: Belibis Pustaka.

Christomy, Tommy dan Untung Yuwono (Eds). 2010. Semiotika Budaya. FIB UI: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya. Cetakan II.

Sahlins, Marshall. 1994. Food as Symbolic Code. USA: Cambridge University Press.

Sunyoto, Agus. 2016. Atlas Walisongo. Yogyakarta: Pustaka Iman.

Toer, Pramoedya Ananta. 2015. Bumi Manusia. Jakarta: Lentera Dipantara.

SUBSCRIBE & FOLLOW