Pengaruh Bahasa Sanskerta di Nusantara

 

Nusantara merupakan istilahyang seringkali digunakan untuk menyebut Indonesia. Sejak zaman purba, kawasan kepulauan ini telah mendapatkan banyak nama. Bangsa Cina mencatat dengan nama Nanhai yang bermakna Kepulauan Laut Selatan. Sementara dalam catatan kuno bangsa India berbahasa Sanskerta, terdapat sebutan Dwipantara atau Kepulauan Tanah Seberang.

 

Kata lain yang merujuk pada kepulauan ini ialah Suwarnadwipa yang berarti Pulau Emas. Dalam kisah Ramayana disebutkan Rama mencari Sinta hingga ke Suwarnadwipa di Kepulauan Dwipantara. Selain itu kata ini juga muncul dalam konsep Cakrawala Mandala Dwipantara,yang dicetuskan Kertanegara Raja Singasari. Konsep tersebut dalam rangka menggalang persatuan kerajaan-kerajaan di kepulauan ini menghadapi serangan bangsa Mongol.

 

Baru kemudian kata Nusantara (nusa+antara) populer pada abad ke-14 masa Kerajaan Majapahit, dikutip dalam kitab Perundang-undangan Majapahit,. Istilah yang dipopulerkan oleh Gadjah Mada dalam konteks politik untuk menyebut kawasan kepulauan antara Asia dan Australia. Tercatat sebagai sumpah yang diucapkan ketika upacara pengangkatan Gadjah Mada menjadi Patih Amangkubumi Majapahit. 

 

Lamun huwus kalah Nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring gurun, ring Seran, tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, Samana isun amukti palapa. Spirit yang dikenang sebagai Sumpah Palapa dan Nusantara dikenal sebagai wilayah strategis di wilayah tenggara benua Asia. Wilayah yang menghubungkan dua samudera dan benua, persilangan jalur perdagangan yang menjadi titik temu para saudagar. Kawasan ramai yang menjadi tempat interaksi sosial, kerja sama, pertukaran barang sekaligus kebudayaan dari berbagai wilayah. 

 

Saling mempengaruhi menjadi keniscayaan yang tak terhindarkan. Bangsa India sebagai salah satu bangsa yang paling berpengaruh di Nusantara. Agama menjadi faktor penting dalam penyebaran budaya India melalui agama Hindu. Kontak perdagangan menimbulkan banyak pengaruh terhadap kemapanan budaya lokal dengan keberadaan bahasa Sanskerta yang pada mulanya sebagai bahasa niaga.

 

Bahasa Sanskerta digunakan para sejarawan sebagai tanda masuknya Nusantara dalam masa sejarah. Ditemukannya prasasti atau naskah lama yang menggunakan bahasa Sanskerta telah membuktikan adanya interaksi budaya. Peninggalan benda-benda budaya sangat penting dan bernilai, kebudayaan India diwakili oleh bahasa Sanskerta pada benda-benda tersebut. Bahasa yang pada mulanya sebagai bahasa niaga, bergeser menjadi bahasa agama dalam kitab suci. Menurut Collins, bahasa Sanskerta telah menjadi bahasa sakral yang hanya digunakan dalam upacara dan penulisan teks-teks agama (Collins, 2009: 110).

 

Nusantara dikenal sebagai pusat pengajaran bahasa Sanskerta dan agama Buddha. Sejak abad ke-7, Nusantara menjadi poros utama para penganut agama Buddha dalam menyalin naskah-naskah suci. Agama Buddha mengutamakan penggunaan bahasa Sanskerta dalam penulisan teks keagamaan dan upacara-upacara suci. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan sebagai fenomena yang telah terjadi sejak ratusan tahun.

 

Bahasa Sanskerta pada masa tersebut merupakan bahasa internasional. Popularitasnya memperlihatkan kemapanan peradaban Melayu. William Marsden dianggap sebagai pelopor dalam mendokumentasikan jejak-jejak pengaruh bahasa Sanskerta. Ketekunannya dalam menyusun kamus yang dilengkapi dalam catatan etimologis mengenai kata-kata dalam bahasa Melayu yang diserap dari bahasa Sanskerta dianggap sebagai karya terbaik abad ke-19, kemudian diikuti oleh para sarjana lainnya. (Collins, 2009: 37). Kajian tentang pengaruh bahasa Sanskerta terhadap bahasa Melayu dapat dilakukan dengan meneliti artefak-artefak berupa prasasti maupun naskah lama.

 

Pengaruh Bahasa Sanskerta dalam Prasasti Salimar I

Salimar merupakan tanah pemberian Raja Mataram Kuno Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Dyah Lokapala kepada Hakim dan Eksekutor Hukum Syariat Agama tahun 800 M. Tanah yang berupa hutan ini merupakan hadiah atas jasanya pada kerajaan. Wilayah yang berada dalam kawasan ini daerah otonomi yang mengelola pendapatan sendiri (Swatantra), sehingga Salimar dikenal sebagai tanah perdikan. Raja memberikan tanda keistimewaan berupa patok yang kemudian dikenal sebagai Prasasti Salimar. Dan hutan Salimar berkembang menjadi pemukiman penduduk yang kini menjadi daerah Sleman, Yogyakarta.

 

Salimar I merupakan salah satu patok yang menunjukkan keistimewaan kawasan Salimar. Saat ini prasasti Salimar I tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Dalam riwayat penelitian, prasasti Salimar I telah dialihaksarakan dan alihbahasakan. Berikut adalah hasil alih aksara dan alih bahasa tersebut:

Swasti śakawaŕşātīta 804 kartika masa trtīya śuklapakşa 

mawulu pahiŋ soma wāra tatkāla sāŋ pamgat balakas

pu balahara manusuk simaiŋ alasiŋ salima lakan

ikanaŋ lmah ramanta I kanding gusti si daisi patih si

pinul si I ir kalima sir aka si tankir bu gusti

iŋ buan  lu si pupul parujar si panamuan si mala partaya saŋ

pi si tiruan wariga galah si t ir hular si hi si 

haburu si ma(Anugerah Si Maharaja)

 

Selamat tahun Saka yang telah berlalu 804 (tahun), hari Senin Pahing, paringkelan Mawulu, tanggal 3 paroterang bulan Karttika ketika Sang Pamgat Balakas yaitu Pu Balahara membatasi simadi hutan di desa Salimar, diberi tanah oleh Kepala desa di Kanding pejabat Kalima yaitu Si raka, Si si Tangkir bu pejabat Gusti di Buanglu bernama Si Pupul. Juru bicara (parujar) yaitu Si Panamuan, Si Mula, pejabat Partaya bernama Sang Pi Si Tiruan pejabat Wariga galuh yaitu Si T ir pejabat Hulair yaitu Si hi, si pejabat (Tu) haburu yaitu Si Ma.

 

Berikut adalah pengaruh bahasa Sanskerta yang terdapat dalam Salimar I:

Baris Ke-

Pengaruh Sanskerta

1

1.    Swasti =su+asti

Artinya: keadaan baik, keberuntungan, sukses, selamat, seuran

2.    śakawarṣātīta= śaka (nama tahun) + warṣa (tahun) + atīta (akar kata ī = telah pergi) = tahun Śaka telah lewat) 804 

3.    kartikamāsa = Kartika (nama bulan) + māsa (bulan) = bulan kartika

4.    tŗtīya = kata bilangan urutan = ke tiga

5.    Śuklapakṣa = śukla (terang) + pakṣa (paro) = paro terang, yaitu antara tanggal 1-15 tiap bulan.

2

1.    Somawāra = soma+wāra

2.    tatkāla

3

1.    Sīma (dari kata sansk sīman = batas)

 

Berdasarkan table di atas, dapat dilihat pengaruh bahasa Sanskerta dalam Prasasti Salimar I sebanyak 8 kata. Apabila dibandingkan keseluruhan kata yang tertulis dalam prasasti tersebut dengan penggunaan bahasa Melayu yang mencapai 68 kata, maka prosentase penggunaan kosakata Sanskerta dalam Prasasti Salimar I mencapai 0,12 %. 

 

Daftar Pustaka

Basaina, Safira. (2010). Perkembangan Pengaruh Kata-kata Sanskerta dalam Prasasti-prasasti Berbahasa Melayu Kuna di Sumatra Pada Abad ke-7 Hingga ke-10 Masehi. Skripsi. Depok: Universitas Indonesia.

Soebadio, Haryati. (1983). Tatabahasa Sanskerta Ringkas.JakartaDjambatan.

Macdonell, Arthur Anthony. (1954). A Practical Sanskrit Dictionary. London: Oxford University Press.

Collins, James T. (2011).Bahasa Sanskerta dan bahasa Melayu. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia.

Wurjantoro, Edhie (2018). Anugerah Sri Maharaja, Departemen Arkeologi FIB-UI, Depok

No comments:

Post a Comment