Inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Surabaya

 

Lembaga Administrasi Negara sedang menyelenggarakan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LV Tahun 2022 dengan tema Ketahanan Energi. Salah satu produk pembelajaran PKN Tingkat I adalah Policy Brief yang diharapkan dapat menjadi masukan strategis dalam pengambilan kebijakan nasional.

Sehubungan dengan hal itu pada tanggal 22 September 2022, perwakilan peserta PKN Tingkat I Angkatan LV, melakukan kunjungan ke Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Benowo dan Dinas Lingkungan Hidup Surabaya. Kunjungan ke PLTSa Benowo diterima oleh Deputi General Manager Bussiness, Heri Sunjayana dan bagian operasional PLTSa Benowo, Muhammad Ali Asyhar, serta Bapak Arif dari Dinas Lingkungan Hidup Surabaya.

Di tengah meningkatnya volume sampah dan kebutuhan energi listrik, Surabaya menghadirkan solusi inovatif melalui Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Inisiatif ini tidak hanya membantu mengatasi masalah sampah, tetapi juga menyediakan sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. PLTSa Surabaya menjadi bukti nyata bahwa teknologi dan keberlanjutan dapat berjalan beriringan, memberikan manfaat ganda bagi masyarakat dan lingkungan.

Surabaya, sebagai kota metropolitan terbesar kedua di Indonesia, menghadapi tantangan besar dalam pengelolaan sampah. Dengan populasi yang terus bertambah, volume sampah harian pun meningkat pesat. Menurut data Dinas Kebersihan dan Ruang Terbuka Hijau (DKRTH) Surabaya, kota ini menghasilkan sekitar 1.500 ton sampah setiap hari. Tantangan ini memerlukan solusi yang inovatif dan berkelanjutan.

Pada saat yang sama, kebutuhan energi listrik terus meningkat. Pemerintah kota Surabaya melihat peluang untuk mengatasi kedua masalah ini dengan mendirikan PLTSa, yang mampu mengubah sampah menjadi energi listrik. Proyek ini didirikan dengan tujuan ganda: mengurangi timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan menyediakan sumber energi bersih bagi masyarakat.

Lahan 37,4 ha sebagaian besar untuk landfill dengan menanam sumur. Tujuannya menangkap gas metana dengan penumpukan tanah. Dari sumur dihisap dengan blower. Kemudian, pencernaan atau pemurnian gas supaya partikel dalam gas bisa disaring dan suhunya dikondisikan. Teknologi sanitari landfill tidak ada pemilihan, pintar-pintar menanam sumur. Jika gagal wilayah tersebut dianggap tidak efektif, tidak ada bakteri. Tidak ada alat untuk mendeteksi keberhasilan dalam menghasilkan gas metana. Menempatkan orang 24 jam untuk mengenali karakter sampah. 1000 ton masuk gasivikasi untuk masuk ke bunker, kemudian ditreatment untuk dicacah kemudian disortir dari material-material yang tidak bisa terbakar

Peraturan Presiden No. 35 Tahun 2018 terkait percepatan pembangunan instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menjadi landasan hukum bagi pemerintah daerah untuk mempercepat realisasi pembangunan instalasi ini.

PLTSa Benowo adalah hasil kerja sama antara Pemkot Surabaya melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dengan PT. Sumber Organik (SO) dengan teknologi Gasifikasi Power Plant. Kerja sama ini telah dilakukan sejak 22 Oktober 2012, namun secara resmi pabrik beroperasi pada tahun 2021. PT. Sumber Organik selaku pengelola melaporkan perkembangan PLTSa kepada Pemkot Surabaya sebulan sekali.


Pengelolaan PLTSa Benowo dilakukan oleh perusahaan pemenang tender, yakni PT. Sumber Organik. Perusahaan ini membayar sewa tanah dan set lainnya kepada Pemkot Surabaya. Peserta lelang harus menyajikan teknologi dengan sistem Bangun Guna Serah selama (20 tahun). Setiap sampah yang masuk ke Surabaya ada tipping fee.

Cara kerja PLTSa ini adalah sampah dari dump truk ke area dumping dan menuju waste storage pit. Kemudian, sampah itu dimasukkan ke dalam gasifier atau alat pembakaran hingga menghasilkan flue gas. Hasil dari flue gas atau panas itu kemudian dimasukkan ke alat bernama secondary combustion chamber yang berfungsi meningkatkan suhu pembakaran. Proses selanjutnya ada di boiler yang berfungsi mengubah air menjadi uap. Setelah itu, tahapan terakhir berada di steam turbine generator yang berfungsi untuk mengubah uap menjadi energi listrik.

 

 

Dengan menggunakan teknologi gasifikasi, PLTSa Benowo mampu menghasilkan listrik dengan kapasitas 12 MW melalui pengolahan 1.000 ton sampah per hari. Dari kapasitas tersebut, sebesar 9 MW dijual kepada PLN, kemudian 2 MW digunakan untuk kebutuhan operasional PT. Sumber Organik (SO), dan sisa 1 MW sebagai redundant. Dengan kapasitas 9 MW ini PLN dapat melistriki sekitar 5.885 rumah tangga dengan daya 1300 VA di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Tujuan utama bukan lagi perihal untung rugi, tetapi bagaimana sampah tertangani sehingga memper-baiki lingkungan sekitar, listrik sebagai bonus. Untuk memperbaiki lingkungan, teknologi pengelolaan sampah harus ada Landfill Gas (FLG) Power Plant dan Gasification Power Plant.

Konsep pengolahan sampah yang dilakukan Pemkot Surabaya dilakukan dengan berbagai upaya, baik dengan memberdayakan komunitas melalui Bank Sampah, menciptakan klaster pengelolaan, maupun penggunaan teknologi modern.

 Jumlah sampah yang masuk di PLTSa Surabaya ini sekitar 1500-1700 ton perhari, dengan jenis sampah rumah tangga, bukan sampah pabrik atau industri. Sampah jadi seksi bagi investor jika jumlahnya minimal 500 – 1000 ton sampah. Sampah yang masuk harus melalui jembatan timbang. Proses penimbangan menunjuk pihak independen Surveyor Indonesia.

Musim kemarau sampah menyusut karena kandungan air berkurang. Jenis sampah yang dibutuhkan adalah sampah yang masih segar ditandai dengan adanya aroma yang tidak sedap (berbau), sehingga hisa dimanfaatkan sebagai apapun.

Proses Teknologi

PLTSa Surabaya menggunakan teknologi termal untuk mengubah sampah menjadi energi listrik. Proses ini melibatkan beberapa tahap:

1.    Pengumpulan dan Pemilahan Sampah: Sampah dikumpulkan dari seluruh kota dan dipilah untuk memisahkan bahan organik dan anorganik.

2.    Pengolahan Sampah: Sampah yang telah dipilah kemudian dihancurkan menjadi partikel-partikel kecil untuk mempermudah proses pembakaran.

3.    Pembakaran: Sampah yang telah dihancurkan dibakar dalam tungku khusus yang dirancang untuk mencapai suhu tinggi, sehingga dapat menghasilkan panas.

4.    Pembangkitan Listrik: Panas yang dihasilkan dari pembakaran digunakan untuk menghasilkan uap, yang kemudian menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik.

5.    Pengolahan Emisi: Gas sisa dari proses pembakaran diproses lebih lanjut untuk mengurangi emisi berbahaya sebelum dilepaskan ke atmosfer.

Manfaat dan Dampak

PLTSa Surabaya membawa berbagai manfaat dan dampak positif bagi kota dan masyarakatnya:

1.    Pengurangan Timbunan Sampah: Dengan mengolah sampah menjadi energi, volume sampah yang berakhir di TPA berkurang secara signifikan.

2.    Energi Terbarukan: PLTSa menyediakan sumber energi terbarukan yang dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

3.    Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca: Teknologi pengolahan emisi yang canggih membantu mengurangi pelepasan gas rumah kaca dan polutan lainnya.

4.    Peningkatan Kesadaran Masyarakat: Inisiatif ini juga mendorong masyarakat untuk lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan keberlanjutan lingkungan.

Tantangan dan Masa Depan

Meskipun PLTSa Surabaya telah menunjukkan banyak keberhasilan, terdapat tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah masalah pendanaan dan pemeliharaan teknologi yang memerlukan biaya besar. Selain itu, edukasi dan partisipasi aktif dari masyarakat juga menjadi kunci keberhasilan jangka panjang dari proyek ini.

Melihat ke depan, pemerintah kota Surabaya berencana untuk meningkatkan kapasitas PLTSa dan mengadopsi teknologi yang lebih efisien. Selain itu, upaya terus-menerus dalam mengedukasi masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah yang baik akan terus dilakukan. Dengan langkah-langkah ini, Surabaya diharapkan dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain di Indonesia dalam hal inovasi pengelolaan sampah dan energi terbarukan.

PLTSa Surabaya adalah contoh inspiratif bagaimana sebuah kota dapat mengatasi dua masalah besar sekaligus—sampah dan kebutuhan energi. Melalui teknologi inovatif dan dukungan masyarakat, PLTSa tidak hanya mengurangi timbunan sampah tetapi juga menyediakan sumber energi terbarukan yang berkelanjutan. Ini adalah langkah maju menuju masa depan yang lebih bersih dan hijau bagi Surabaya dan sekitarnya.

 

Post a Comment

0 Comments