The Paradise: Tan Hana Dharma Mangrwa

 Keberhasilan tidak diukur dari pengakuan orang lain atas karya kita. Namun sesungguhnya keberhasilan adalah buah dari benih yang kita tanam dengan penuh cinta. Dimana pun cinta itu berlabuh, maka kebermanfaatan akan selalu tumbuh. Cinta hanyalah kata tanpa bukti, jika kebersamaan tak memberikan arti. Dan kebersamaan tak akan bermakna tanpa pengabdian dengan penuh cinta.

(Manuskrip Accra)

 

Harta yang paling berharga bagi bangsa Indonesia adalah Pancasila. Saripati nilai luhur yang menjadi pandangan hidup dalam mengolah kekayaan alam dan budaya. Senyuman menjadi wujud syukur rakyat dalam hidup bermasyarakat. Hidup dalam kesetaraan bahwa tidak ada yang lebih superior antar-sesama manusia. Sadar bahwa hanya ada satu kekuatan yang menguasai seluruh alam semesta, tak bisa diumpamakan dan digambarkan oleh akal: Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Sebagai falsafah hidup bangsa, Pancasila bukanlah sekedar berisi nilai-nilai yang hanya ada dalam ruang-ruang imajinasi, melainkan (harus) menjadi praksis hidup keseharian. Secara subyektif, niai-nilai Pancasila menjadi praktik hidup setiap anak bangsa, sedangkan secara objektif, nilai-nilai tersebut terlembaga dalam setiap kebijakan yang ditetapkan di negeri ini. 

Kelima nilai dalam Pancasila; ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan merupakan prinsip hidup yang berkelindan dalam aktivisme warga bangsa. Idealisasi dan realisasi nilai Pancasila dalam praktik hidup ini meniscayakan keluhuran kebudayaan yang dimiliki oleh (tradisi) berkehidupan kebangsaan di negeri ini. Implementasi dari nilai Pancasila dalam keseharian akan memberikan warna yang indah dalam suasana kehidupan berbangsa dan bernegara. Yakni, bangsa yang relijius dan berkebudayaan dalam membangun interaksi antar-sesama. 

Mempraktikkan nilai Pancasila dalam keseharian membuat warga bangsa akan menjadi agamis di satu sisi, sekaligus manusiawi di sisi lainnya. Karenanya, tidaklah tepat jika nilai Pancasila dipertentangkan dengan nilai-nilai agama, karena dalam Pancasila sesungguhnya merupakan objektivikasi praktik beragama dalam konteks berkehidupan kebangsaan. Justru melalui praktik berpancasila, nilai-nilai objektif ajaran agama ditemukan di sana. 

Pancasila bukanlah agama, melainkan kesepakatan hidup bernegara dalam keberagaman dan keber-agama-an. Kesantunan beragama dan keindahan Nusantara menyatu dalam senyum penduduk tanah surga, The Paradise. Dari gunung ke laut wajah tersenyum di mana saja sebagai identitas kultural dalam bersikap, bertindak dan bertutur. Senyuman sebagai bahasa universal untuk mempertahankan tradisi-tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Adaptif dengan setiap kemajuan tanpa kehilangan jati diri dalam ‘menjadi’.

 

Bahasa dan budaya yang menjadi batasan umat manusia, tidak lagi menjadi halangan untuk bersahabat. Nilai kebajikan yang terkandung dalam budaya lain dan tersimpan dalam bahasa tertentu akan menyatu dalam keindahan budaya Nusantara. Penyalahgunaan logika sebagai pangkal perdebatan seringkali menyebabkan permusuhan tak berdasar. Maka sebenarnya, puncak kecerdasan masyarakat yang tinggal di tanah gemah ripah loh jinaweadalah keindahan berbudaya. Indah tanpa menjelekkan, menang tanpa mengalahkan dan beragama tanpa mengafirkan. Nilai-nilai tersebut menjadi karakter, ciri khas atau tipologi masyarakat Nusantara. 

 

Nilai Pancasila telah mengakar dalam kehidupan jauh sebelum Pancasila dicetuskan. Nilai yang berasal dari rakyat, bukan ciptaan atau karangan seorang tokoh tertentu. Oleh karena itu kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, sebagai sumber kebijaksanaan hasil dari permusyawaratan. Bahwa segala masalah, pengambilan keputusan atau penyelesaian sengketa diselesaikan dengan musyawarah untuk mencapai mufakat.

 

The Paradise Tan Hana Dharma Mangrwamembawa kita untuk menemukan bagaimana praktik berpancasila dalam keseharian itu terjadi dan titik temu agama-agama. Realitas keseharian warga bangsa Indonesia –sesungguhnya- telah memberikan bukti bagaimana nilai-nilai Pancasila dilahirkan: melalui praktik hidup. Warga bangsa dari Sabang sampai Merauke, dari Rote sampai Miangas telah banyak memberikan teladan dalam mempraktikan nilai-nilai Pancasila. Berbagai kisah teladan yang memberikan inspirasi makna kehidupan begitu apik dikisahkan oleh penulis. Melalui tuturan sederhana tapi penuh makna. 

Buku ini tidaklah bicara panjang lebar tentang bagaimana melahirkan nilai Pancasila, melainkan langsung memberikan bukti bahwa Pancasila sudah lama lahir dalam objektivikasi keseharian kehidupan social mereka. Wujud paling konkret dari kelahiran Pancasila adalah melalui panggung kehidupan keseharian. Tak harus disampaikan dalam berbagai kajian literature sal Pancasila, buku ini sudah cukup ‘cerdas’ menunjukkan bukti nyata kelahiran nilai-nilai Pancasila dalam ruang pergaulan warga bangsa Indonesia. 

Buku ini seolah memberikan suatu renungan penting bagi kita apakah sebagai warga bangsa yang mengaku ber-Pancasila pernah melahirkan Pancasila dalam wujud “model-model” yang berupa strategi-strategi, sistem-sistem, struktur- struktur, pemimpin dan rakyat, sikap dan perilaku, sarana-sarana dan suasana pendukung lainnya sehingga tercipta keadilan sosial atau justru sebaliknya. 

Sebagai sebuah sistem nilai, Pancasila memberikan koridor bagaimana kehidupan berbangsa dan bernegara ini dijalankan. Pancasila pernah menjadi common value dan common denominator bagi kebangsaan yang begitu majemuk. Tidak bisa dibayangkan bagaimana pluralitas kebangsaan bisa dijaga dan diarwat ketika common valae ini dibangun hanya berdasar dari unsur-unsur primordial maupun agama tertentu yang dominan. 

Pancasila merupakan value (nilai) yang menjadi prinsip dasar berkehidupan berkebangsaan Indonesia. Melahirkan Pancasila dalam keseharian adalah mempraktikkannya sebagai laku kehidupan bersama setiap warga bangsa. Pancasila itu jiwa bangsa kita, yang harus menjiwai setiap praktik social dan praktik beragama kita dalam ruang public yang bernama Indonesia. Sebagai sebuah ‘jiwa’, maka ber-Pancasila itu keseharian kita. Ber-Pancasila itu praktik hidup kita. Jika kita kian jauh dari jiwa kita, maka kita akan jadi manusia dan warga bangsa yang terasing dari jiwanya. Semakin terasing dari Jiwa Bangsa, kita semakin jauh dari sifat dasar kealamiahan sebagai warga bangsa Indonesia. 

The Paradisehadir sebagai wujud Tan Hana Dharma Mangrwa.Negeri yang kaya akan keanekaragaman alam, sosial dan budayanya. Percikan surga di muka bumi. Luhur budinya dan santun akhlaknya sebagai implementasi akan keyakinan kepada Yang Esa, satu-satunya kebenaran dan kekuatan yang menguasai alam semesta. The Only One, The Paradise. Selamat membaca!

No comments:

Post a Comment