Islam, Prancis, dan Komodifikasi Agama


Pada masa lalu, Prancis telah memberikan inspirasi pada dunia Islam. Para reformis menerjemahkan dan menerbitkan berbagai karya tulis. Penerjemahan dilakukan sebagai upaya mengambil kembali ilmu pengetahuan yang membuat dunia Islam berjaya. Ilmu pengetahuan menjadikan peradaban Islam bercahaya, dan seakan berpindah ke Barat ketika dunia Islam mengalami kemunduran. Surat kabar al-Waqa’i al-Mishriyah, majalah al-Urwatul Wutsqa dan al-Manar menjadi media massa yang mengibarkan spirit kebebasan berpikir, pembaruan keagamaan  dan pengetahuan modern. 


Prancis pasca-revolusi menegaskan diri sebagai negara sekuler dengan semboyan liberte(kebebasan), egalite (persamaan), fraternite (persaudaraan). Semboyan ini menjadi landasan masyarakat Prancis dalam berbagai bidang, salah satunya majalah Charlie Hebdo. Majalah yang penuh kontroversial ini dikenal publik dunia karena menyuarakan hak kebebasan berekspresi dengan menerbitkan kartun Nabi Muhammad. Rencana tersebut mendapat banyak kritik dan mengakibatkan serangan pada kantor majalah tersebut pada tahun 2015. Dimulainya persidangan atas pelaku penyerangan tersebut dewasa ini membuat redaksi menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad sebagai simbol perlawanan terhadap kekerasan dan menegaskan hak kebebasan berekspresi.

 

Seorang guru sejarah, Samuel Paty, menjadi korban pemenggalan setelah menunjukkan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad kepada para muridnya. Kejadian ini membuat Presiden Prancis Emmanule Macron berpidato dan mengecam peristiwa tersebut. Ia dengan tegas mendukung kebebasan berekspresi dan menghubungkan Islam dengan aksi terorisme atau ekstrimisme dalam pidatonya. Pidato tersebut membawa gelombang protes masyarakat dunia dan pemimpin negara Islam. Kampanye boikot produk dan penusukan penjaga konsulat Prancis sebagai bentuk protes terhadap pidato Presiden Prancis.

 

Islam dan Prancis

Interaksi dunia Islam dan Prancis telah berlangsung cukup lama dalam sejarah dunia. Beberapa tokoh Islam tercatat pernah singgah untuk belajar dan mengembangkan pemikirannya di Prancis. Keterhubungan tersebut tak terlepas dari pendudukan Prancis atas wilayah-wilayah Islam. Mesir sebagai pusat kebudayaan Islam terbesar, jatuh dalam kolonialisasi Prancis ketika pemerintahan dunia Islam berpusat di Turki. Napoleon Bonaparte tidak hanya membawa pasukan, tetapi juga ilmuwan dalam berbagai bidang dan mendirikan lembaga ilmiah Institut d’Egypt.

 

Kejatuhan Mesir sebagai bagian integral dari pemerintahan dunia Islam terjadi karena banyak faktor. Faktor utama penyebab kemunduran Islam menurut Hilmi (2017), diakibatkan oleh terlenanya umat Islam dengan kejayaan masa lalu dan disibukkan dengan masalah-masalah agama yang menyebabkan terjadinya perselisihan antar-madzhab. Para pemimpin banyak menyalahgunakan kekuasaan dengan berfokus pada kesenangan pribadi dan mengabaikan kesejahteraan rakyatnya. Hal tersebut diperparah dengan kekalahan angkatan perang Turki dalam pertempuran melawan kekuatan bangsa Eropa. 

 

Pemikiran Islam pada masa itu bersifat taqlid. Diskusi dan dialog menjadi sesuatu yang asing dalam pengkajian Islam. Filsafat dan logika dianggap tabu. Metode pembelajaran berbasis hafalan di luar kepala. Kondisi ini menyebabkan Muhammad Abduh tidak begitu tertarik mendalami agama karena tidak adanya kebebasan intelektual dalam proses pembelajaran. Kedatangan Prancis bagi sebagian kalangan dianggap membuka mata masyarakat Mesir untuk bangkit menuju modernisasi di berbagai bidang.

 

Karo (2017) dalam penelitiannya tentang Modernisasi Pendidikan Islam di Mesir menyebutkan beberapa tokoh yang memelopori pembaharuan Islam di Mesir, antara lain: Muhammad Ali Pasya, Rifa’ah Badawi at-Tahtawi, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha dan lain-lain. Napoleon Bonaparte memberikan inspirasi dan berhasil meyakinkan para reformis pentingnya ilmu-ilmu modern dan sains. Para tokoh tersebut membangun sekolah-sekolah modern sebagai jalan alternatif memasukkan ilmu-ilmu sains.

 

Muhammad Ali Pasya, The Founder of Modern Egypt, mengirimkan 300 pelajar ke Paris. Setelah menjalani tugas belajar, mereka ditugaskan untuk menerjemahkan buku-buku Eropa dalam bahasa Arab dan mengajar di sekolah-sekolah Mesir dengan ide-ide baru yang mereka dapatkan di Paris. Tokoh reformis lain, Rifa’ah Badawi at-Tahtawi, setelah masa studinya di Prancis diberikan posisi penting sekembalinya ke Mesir. Ia menyusun buku sosial politik berjudul Tarikh al-Ibriz ila Talkhis Baris.Selain itu, ia juga menjadi pimpinan surat kabar al-Waqa’i al-Mishriyahyang memuat sains dan pengetahun modern.

 

Muhammad Abduh bersama rekannya Jamaluddin Al-Afghani, mendirikan majalah al-Urwatul Wutsqa.Majalah tersebut membawa spirit kebebasan berpikir dengan membuka kembali ijtihad ulama. Rasyid Ridha, murid Muhammad Abduh, mempunyai kemampuan cemerlang dalam memahami segala pandangan. Hal ini membawanya pada majalah al-manaryang berisi pemikiran-pemikiran Islam cemerlang. Ia melanjutkan spirit kebebasan berpikir, pembaruan keagamaan dan tafsir Al-Quran.

 

Komodifikasi Agama

Komodifikasi dapat dimaknai sebagai apapun yang dimaksudkan untuk ditukar. Menjadikan objek tertentu sebagai komoditi bernilai jual. Dalam konteks ini, kartun Nabi Muhammad sebagai komoditas untuk dijual, baik ditukar dengan prinsip kebebasan berekspresi maupun nilai ekonomi. Penggambaran Nabi Muhammad secara fisik telah disebutkan dalam berbagai riwayat, namun para ulama menurut Prof. Dr. K.H. Quraish Shihab melarang visualisasi sosok Nabi Muhammad untuk menghindari kesalahan dan pengkultusan secara berlebihan.

 

Hal serupa dilakukan oleh Sultan Hamengkubuwana IX (ayah dari Sultan Yogyakarta sekarang). Dalam keterangannya pada Simposium Internasional Budaya Jawa di Hotel Royal Amabarrukmo Yogyakarta, Sultan Hamengkubuwana X menceritakan sosok ayahnya yang menerima tawaran pembuatan patung atau monumen untuk mengabadikan jasa-jasanya. Tawaran tersebut ditolak untuk menghindari pengkultusan terhadap sesama makhluk.

 

Komodifikasi dengan obyek apapun seringkali terjadi. Indonesia sebagai negara yang menjadikan agama sebagai dasar kehidupan ber-Pancasila, masyarakatnya tak jarang mengkomodifikasi agama. Konflik agama yang terjadi seringkali berlatar belakang pada kepentingan ekonomi dan politik tertentu. Namun, masyarakat Indonesia mempunyai memori kolektif untuk terbebas dari komodifikasi agama. Islam datang di bumi Nusantara oleh berbagai kalangan, mulai dari saudagar hingga pemuka agama. Masyarakat Nusantara tidak menerima Islam dari para saudagar, melainkan para wali yang berfokus pada ilmu pengetahuan dan pengajaran agama. 

 

Hal ini terjadi karena struktur sosial yang mengatur masyarakat Nusantara waktu itu. Pemuka agama tidak boleh memperkaya diri (bisnis), namun menjadi akses utama dalam hal pengajaran agama dan ilmu pengetahuan. Struktur sosial yang menghindarkan para pemuka agama mengkomodifikasi simbol-simbol agama untuk kepentingan ekonomi dan kesenangan pribadi. Bagaimana dengan para pemuka agama di masa kini? Nabi Muhammad berfokus pada dakwah Islam ketika menerima wahyu dan menjadi Rasul. 

 

Fatalisme membuat dunia Islam kehilangan cahaya ilmu pengetahuan. Gerakan protes terus berlanjut, namun mari menjadikan peristiwa ini sebagai autokritik bagi dunia Islam. Mengurangi debat kusir, perselisihan antar-madzhab dan pertentangan antar-organisasi Islam dengan menghidupkan kembali cahaya Islam melalui ilmu pengetahuan. Melakukan riset dan penelitian ilmiah secara berkelanjutan, mencetak generasi Islam yang cerdas dan berakhlak.

No comments:

Post a Comment