Bogor - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat melakukan penelitian folklor keagamaan yang ada di Nusantara, baik yang bersumber dari ajaran Islam dan ajaran agama lainnya.

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia Muhammad Zain, tema besar yang digali dari folklor-folklor tersebut adalah tentang moderasi atau harmoni dalam kehidupan beragama atau suku bangsa. 

“Penelitian folklor yang dikumpulkan sudah banyak banget, jumlahnya ribuan,” ungkap Muhammad Zain di sela Seminar Hasil Penelitian Folklor Keagamaan Nusantara di Hotel Swiss Bell, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin dan Selasa (14-15/10). Menurut Zain, folklor memiliki fungsi dalam melanjutkan tradisi intelektual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tak hanya itu, folklor juga menunjukan kecerdasan otentik dalam sebuah bangsa. 

“Dari ragam folklor, Indonesia kaya dengan budaya, kedua, kaya dengan imajinasi, dan mengandung pesan-pesan luhur. Foklor ini juga menunjukkkan kepada dunia bahwa orang Indonesia punya peradaban tinggi seperti Arab, India, China,” jelasnya.  Namun, kata Zain, saat ini folklor-folklor tersebut masih dalam bentuk arsip penelitian sehingga belum termanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Karena itu, pihaknya berencana mempublikasikannya dalam bentuk yang mudah diterima, terutama oleh generasi muda.  

Caranya kata dia, akan mengundang ahli bahasa, untuk memberikan saran penyajiannya agar tidak sia-sia.  “Saya minta dari sekian ribu folklor itu diseleksi sekitar 40 folklor yang kira-kira intinya inti, dipilih, disajikan dalam bentuk karikatur atau komik, dan kalau bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab,” katanya.

Dalam seminar tersebut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia menyajikan hasil penelitian folklor di beberapa daerah yaitu Cirebon, Kuningan, dan Ciamis (Jawa Barat), Pati, Pekalongan (Jawa tengah), Yogyakarta, Aceh, Banyuwangi (Jawa Timur), Ambon (Maluku), Jambi, dan Bengkulu.

Seminar yang dibuka Kepala Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Muhammad Zaid tersebut, dimulai dengan pemaparan penelitian Asep Saefullah di Cerebon, Kuningan, dan Ciamis. “Foklor adalah kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai gerak isyarat atau pembantu pengingat,” katanya.

“Foklor lisan adalah foklor yang berbentuk murni yang bentuknya terdiri atas, satu, bahasa rakyat, dua, ungkapan tradisional, tiga, pertanyaan tradisional, empat, sajak dan puisi rakyat, lima, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat,” jelas Asep menyampaikan definisi dari James Danandjaya dalam buku Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain. 

Menurut Asep foklor, di antaranya cerita rakyat dapat menjadi salah satu media menyampaikan pesan-pesan religius dan moral dari generasi tua kepada generasi muda. Di daerah Panjalu, Ciamis, misalnya, Asep menemukan cerita tentang Prabu Borosngora. Ia masuk Islam pada tahun 1537 di Makkah setelah ketemu Sayidina Ali. Pada pertemuan itu, Prabu Borosngoora diberi oleh-oleh sebuah pedang sakti, air Zamzam, dan jubah. “Air Zamzam yang dibawa dari Makkah itu kemudian sekarang menjadi Situ Lengkong yang hingga saat ini jadi cagar alam seluas 15 hektar,” katanya.

Foklor tersebut, menurut Asep, memiliki banyak makna, di antaranya adalah misi dari leluhur masyarakat Sunda di daerah Panjalu agar anak cucunya menjaga lingkungan hidup, salah satunya hutan yang menjadi cagar alam sekarang itu. Selain foklor yang bernuansa Islam, seminar tersebut menyajikan foklor dari agama-agama lain seperti katolik di Ambon. “Ambon kaya cerita rakyat, bahkan lebih kuat budaya lisannya daripada tradisi tulisnya. Namun, cerita rakyat Maluku sangat memprihatinkan, sudah banyak hilang,” ungkap Masmedia Pinem yang meneliti foklor Maluku, di antaranya Foklor Rasul Joseph Kam.

Bhur Buwah Swah
Engkau penguasa alam nyata, ghaib dan mahaghaib
(Maaliki yaumiddin)

Tat Sawitur Warenyam
Engkaulah satu-satunya yang patut hamba sembah
(Iyyaka na’budu)

Bhargo Dewasya Dimahi
Engkaulah tujuan hamba dalam semadhi
(waiyyaka nasta’iin)

Dhiyo Yo Nah Pracodayat
Terangilah jiwa hamba agar hamba berada di jalan yang lurus menuju engkau
(Ihdinash shirathal mustaqim)

Telah tertulis dalam lembar sejarah umat manusia bahwa melalui nyepi Sidharta Gautama memperoleh pencerahan, perawan suci Maria memperoleh kabar gembira akan kelahiran seorang anak lelaki, Muhammad SAW menerima perintah ‘membaca’ dalam Gua Hira’, dan kebudayaan Jawa mengajarkan bahwa untuk mencapai segala sesuatu haruslah seseorang melakukan ‘tapa’.

Ekspresi manusia dalam melakukan nyepi beraneka ragam. Dengan puasalah proses nyepi paling mudah dilakukan sesuai tuntunan agama dan titah Tuhan dalam kitab suci. Bukan sebuah kebetulan kata PUASA dekat dengan kata PUAS, alam seakan memberikan isyarat bahwa dengan pusalah kepuasan itu dapat dirasakan.

Beruntunglah siapa saja yang nyepi dengan sungguh-sungguh seperti orang-orang terdahulu. Mengasingkan hati dan pikiran dari kemelekatan dunia dengan melakukan Catur Brata Penyepian, yaitu:
1.      Amati Geni(mengendalikan api, listrik, amarah, atau hawa nafsu)
2.  Amati Lelanguan(mengendalikan indera pendengaran, music, tv, medsos dan keramaian)
3.      Amati Pakaryan(aktivitas sia-sia. Ngrasani, ngrumpi, adu domba, dengki, hasud)
4.      Amati Lelungan(bepergian)
                       

“Dan ceritakanlah kisah Maria di dalam Al-Kitab, ketika dia menyepi dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitul Maqdis).” (QS. Maryam 19: 16) 


PENULIS                          : Habiburrahman El Shirazy
CETAKAN                        IV/2015
TEBAL                              : vi + 690
ISBN                                : 978-602-0822-15-0


Novel Ayat-Ayat Cinta 2 ini adalah novel cinta dan perjuangan. Sebuah tulisan yang mengisahkan kesetiaan cinta dan perjuangan dakwah menyebarkan ajaran Islam yang penuh kasih, bukan kekerasan dan senjataKesetiaan cinta tokoh Fahri benar-benar diuji setelah hilangnya istri tercinta, Aisha. Sekaligus perjuangan dakwah yang penuh tantangan di tengah-tengah masyarakat non-Muslim.

Dalam perjalanannya Fahri, alumnus Universitas Al-Azhar Kairo melanjutkan studinya di Jerman. Kemudian sempat berlabuh di Pakistan dan akhirnya singgah di Britania Raya. Perjalanan kisah cintanya begitu indah di Jerman, sampai akhirnya Aisha ingin menulis novel tentang kehidupan anak di Palestina yang mengharuskannya melakukan riset lapangan dengan pergi ke Palestina, negeri yang tak henti-hentinya dirundung konflik, bersama temannya. Ingin rasanya Fahri menemani kepergian Aisha, tapi dia memilih untuk mengikuti ujian doktoralnya. Keputusannya itu harus dibayar dengan penyesalan karena Aisha tak lagi memberikan kabar, ditambah dengan ditemukannya mayat teman Aisha yang menemaninya ke Palestina. Keindahan kisah cintanya seakan runtuh dan berganti dengan rasa cemas dan khawatir. Hari-harinya hanya diisi dengan harapan dan usaha menemukan Aisha.

Perjuangan Fahri semakin kompleks di daratan Britania Raya. Harapan bertemu Aisha tetap bersemi dalam hatinya. Perjuangan menyebarkan Islam tak kalah menantangnya di negeri gereja ini. Fahri selalu berusaha menyampaikan Islam dengan kebaikan akhlak dan kelembutan kasih sayang. Kebaikannya tidak serta merta mulus. Keislamannya diuji dengan adanya berita negatif yang dikabarkan oleh media Inggris terhadap pengemis buruk rupa berjilbab, Sabina, di sekitar masjid. Setelah bermusyawaah dengan komunitas muslim, Fahri berinisiatif untuk merawat pengemis tersebut demi menjaga citra Muslim.

Fahri merawat Sabina dengan baik. Selama dalam perlindungan Fahri, Sabina mengalami berbagai peristiwa pelik. Mulai dari tawaran menikah dari Paman Halusi, sopir Fahri, hingga kecelakan kecil yang mengharuskan Sabina dirawat di rumah sakit. Sabina juga pernah berusaha kabur karena tidak enak hati merepotkan Fahri.

Kesabaran Fahri benar-benar di uji sebagai warga Muslim minoritas. Fahri mendapat tantangan dari tetangganya sendiri yang sangat membenci Islam. Teror tidak henti-hentinya diterima Fahri, coretan yang menganggap Muslim itu monster, teroris, setan, hampir setiap hari dia temukan di kaca mobilnya. Sampai akhirnya dia mengetahui bahwa yang menerornya adalah tetangganya, Keira. Selain itu adik Keira, Jason, seringkali mencuri coklat di minimarket milik Fahri. Akhirnya Jason tertangkap dan diberikan pilihan oleh Fahri, dilaporkan polisi atau menjadi sahabat baiknya. Tentu Jason memilih menjadi sahabat baik Fahri, dan mulai merubah pandangannya terhadap Islam. Dari sini Fahri juga mengetahui sebab Keira begitu memusuhi Islam, Keira kehilangan Ayah akibat bom London yang dikabarkan oleh media pelakunya adalah Muslim. Fahri pun memakluminya, hingga terbersit dalam hati untuk mengembalikan citra Islam. Fahri membiayai Keira dan Jason hingga meraih prestasi, sesuai apa yang diinginkannya. Keira sebagai musisi biola handal dan Jason sebagi pemain sepak bola profesional.

Ujian tak henti-hentinya menerpa Fahri. Kini datang dari tetangganya yang lain, Nenek Catrina. Perselisihan nenek Catrina dengan putra tirinya yang sekaligus komandan tentara Israel membuat Fahri turun tangan menyelesaikan konflik yang terjadi, hingga menyeretnya ke meja debat dan posisinya sebagai pengajar di Universitas Edinburgh terancam. Sementara itu pilihan agar Fahri menikah lagi selalu menghantui pikirannya. Kebimbangan meliputi hari-harinya Fahri pun menikah dengan Hulya dan menjadi pengganti gurunya dalam memberikan sanad Qira’ah Sab’ah di masjid ternama. Fahri juga memenangkan debat yang sangat bergengsi di daratan Britania Raya.

Selepas menikah dengan Hulya, Fahri masih saja terbayang oleh Aisha sehingga awal pernikahannya dengan Hulya tidak bahagia. Hulya pun meminta pendapat Sabina yang terbukti sangat manjur. Sampai suatu peristiwa terjadi yang mengharuskan Hulya dirawat di rumah sakit. Nyawanya tak tertolong dan kesedihan kembali menyelimuti Fahri. Sebelum meninggal Hulya berpesan agar wajahnya didonorkan kepada Sabina. Dalam proses pendonoran itu Fahri merasa ada keanehan pada diri Sabina. Fahri seakan melihat sosok Aisha dalam diri Sabina. Fahri pun menggeledah kamar Sabina dan menemukan fotonya bersama Aisha di Candi Borobudur. Di balik foto tersebut ada tulisan “Aku dan suamiku sebelum wajahku rusak.” Fahri meneteskan air mata dan seketika itu bergegas menuju rumah sakit. Sebelum operasi dimulai, Fahri meminta waktu kepada dokter untuk melihat bagian bahu Sabina. Tanda lahir itu meyakinkannya bahwa Sabina adalah Aisha, istrinya yang selama ini hilang. Selain wajah, Fahri meminta dokter untuk mengembalikan suara Sabina. Setelah operasi usai, Fahri segera menemui Aisha berwajah Hulya tersebut. Kerinduan setelah begitu lama tak berjumpa menjadi sangat mesra dengan cerita perjalanan Aisha yang begitu menyakitkan.

Terlepas dari isi cerita novel yang sangat menarik, ada beberapa kesalahan dalam pengetikan di beberapa halaman, seperti:
  1. Tanda koma seharusnya tidak ada (123 baris 9)
  2. menemput : menjemput (134 baris 3)
  3. peneliteian : penelitian (155 baris 7)
  4. da : dan (159 baris 8)
  5. sekias : sekilas (331 paragraf 3)
  6. sini : sisi (384 paragraf 2)
  7. depan : pekan (464 baris 8 dari bawah)
  8. tiba : tiga (565 baris 13)
  9. antar manusia : antarmanusia (572 baris 19)
  10. umar : umat (576 baris 18)
  11. ada : Anda (673 baris 3 dari bawah)
            Label novel dewasa juga harus disematkan dalam novel ini karena ada beberapa peristiwa yang menyangkut toleransi dan hubungan intim rumah tanggaKarakter dalam novel ini digambarkan dengan kuat dan nyata. Pergolakan kisah cinta dalam perjuangan dakwah Islam di negeri mayoritas non-Muslim yang harus diteladani.

            Toleransi dengan tidak mengabaikan identitas diri sebagai muslim sebagai pelajaran berharga. Novel ini menggambarkan bahwa Islam itu indah yang ditunjukkan oleh Fahri. Novel ini baik dibaca oleh kalangan Muslim untuk senantiasa memperbaiki diri, maupun non-Muslim yang ingin mengenal lebih jauh tentang keindahan Islam.

Ayat-Ayat Cinta 2

by on 05:51
PENULIS                            : Habiburrahman El Shirazy CETAKAN                          :  IV /2015 TEBAL                            ...
Pendekatan mutakhir dalam analisis budaya dari etnologi atau antropologi telah melibatkan berbagai disiplin ilmu. Hal ini terjadi pada symbol atau ritual pada budaya yang dimaknai berbeda dan tak sama oleh berbagai disiplin ilmu. Budaya sebagai teks menjadi wawasan bahwa kehidupan sosial diatur melalui tanda-tanda dan symbol-simbol, serta melalui representasi dan interpretasi. Sebagai konsep travelling yang disebarkan luas bahwa  budaya sebagai konstelasi teks. Menciptakan hal baru yang signifikan antara ilmu-ilmu sosial dan studi sastra .
Budaya sebagai teks awalnya terbukti menjadi metafora penting antara antropologi budaya dan studi sastr. Pada awalnya konsep ini masih berkaitan erat dengan penelitian etnografi dan kerangka semiotic antropologi budaya interpretative. Namun, sejak akhir tahun 1940-an telah dimanfaatkan untuk mencakup cakrawala yang lebih luas interdisipliner terhadap studi budaya.
Dalam studi sastra, gagasan budaya sebagai teks telah merangsang pembentukan perspektif baru yang produktif pada sastra sebagai teks budaya. Ini dipicu dengan terbukanya pemahaman tradisional dari teks yang tertutup, termasuk teks tidak stabil. Sebagai studi teks, studi sastra telah menunjukkan kecenderungan untuk mengambil ide kunci ini secara harfiah, dan dengan demikian telah mengadopsinya dengan relative tidak kritis. 
Salah satu titik awal yang mungkin untuk revisi kritis konsep budaya sebagai teks adalah pengamatan yang telah membuka perbandingan dan konektivitas antara disiplin ilmu. Dengan demikian, untuk memahami budaya yang tidak terbatas pada ruang budaya tunggal, perlu menggunakan hubungan semiotic budaya menyeluruh sebagai sumbu perbandingan. Budaya sebagai teks telah menjadi landasan bagi formasi tersebut.  
Kontekstualisasi menjadi salah satu metode untuk mengungkapkan interaksi antara teks, bentuk ekspresi dan koneksi budaya di persimpangan di mana mereka bertemu. Ini akan membuka cara-cara di mana teks-teks sastra yang terlibat dalam bentuk yang lebih luas dari representasi budaya dan pementasan di luar perbatasan tekstual.
Budaya sebagai teks didasarkan pada pemahaman budaya sebagai struktur makna di mana tindakan yang terus menerus diterjemahkan ke dalam tanda-tanda. Metafora ini digunakan untuk mengklaim tekstual tetap berarti. Pilihan terstruktur yang mengambil makna khusus dan menghasilkan efek hanya ketika digunakan. Apa yang muncul di sini adalah pemahaman yang berbeda, sebagai system heterogen dan terbuka.
Batas-batas konsep budaya sebagai teks telah didiskusikan dalam antropologi, sejarah dan ilmu-ilmu sosial dengan peningkatan signifikan. Kritik yang dominan adalah budaya sebagai produk, bukan budaya sebagai produksi, yaitu sebagai tindakan penciptaan. Teks harus dibaca sebagai pertunjukan budaya yang tidak hanya mewakili realitas, tetapi juga merupakan entitas. 
Meskipun studi sastra pada prinsipnya peduli dengan teks dan tidak pada praktek, justru praktek dilakukan di teks. Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang tingkat konstitusi praktek dalam teks-teks sastra, bukan hanya pada konstitusi makna. Budaya sebagai teks ternyata menjadi sebuah konsep perjalanan, membuat sebuah proses perlu diterjemahkan.
Studi sastra juga perlu melakukan lebih untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa objeknya tidak hanya merupakan teks budaya, tetapi juga memiliki nilai estetik. Meskipun semua upaya kontekstualisasi budaya, ada tuntutan bahwa keadilan haru dilakukan untuk kekhasan estetika teks sastra individu. Tidak hanya isi budaya yang tercermin melalui literature, tetapi juga struktur dan pola representasi estetika.

Tahap persiapan

Pertama-tama, buka tautan https://myaccount.google.com/email lalu lihat bagian “alternate emails”. Jika Anda belum pernah menambahkan alternate emails, maka akan kosong.


Pada halaman selanjutnya klik “add other email”, lalu ketikkan email yang ingin ditambahkan. 

Catatan: Alamat gmail tidak bisa digunakan sebagai alternate email. Solusinya, gunakan email selain gmail, lalu forward seluruh isinya ke email gmail yang Anda kehendaki.

Tunggu beberapa saat (kalau saya kemarin sekitar 2-12 jam) agar tersinkronisasi.

Kakawin Bhomantaka menceritakan tentang kematian Raja Bhoma dari kerajaan Trajutrisna. Nama aslinya adalah Naraka, ia dilahirkan  akibat senggama antara Dewi Bumi dengan Wisnu. Itulah sebabnya ia dinamakan Bhoma yang artinya Putra Bumi. Bhoma diberi kekuatan yang tak terkalahkan oleh Brahma, dengan kekuatan tersebut ia gunakan untuk menyerang para dewa. Para resi memohon kepada Kresna agar segera membantu para pertapa di pegunungan Himalaya. Mereka sangan menderita akibat serangan yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan raksasa. Mendengar permohonan tersebut, Kresna terharu dan berjanji akan mengutus putranya sendiri, Samba.

Kakawin Bhomantaka ini dibagi dalam beberapa babak, di bawah ini ringkasan kisahnya:
1. Pembukaan 1-2: Prabu Kresna dan Baladewa dalam ibu kota Dwarawati diperkenalkan
2. Kepergian Samba 3-13: Samba berjumpa dengan ibunya Jambawati dan menerima dharma seorang ksatria dari Raja, sebelum meninggalkan istana
3.   Dharmadewa dan Yajnawati 14-29: Kelahiran kembali dan pemberian pelajaran akan anitya
4.      Sang Putri dibawa ke Istana Bhoma 30-43
5.      Pernyataan Cinta Yajnawati 41-43
6.      Samba sukses melarikan Yajnawati 44-49
7.      Prabu Druma 50-72: Prabu Druma terusir dan berharap lindungan Kresna
8.      Pernyataan Perang Bhoma 73-84
9.      Perang di Rewataka 85-113
10.  Perang Akibatnya 114-118

Kakawin Bhomantaka sarat dengan ajaran-ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan kepada Tuhan (Hindu dan Buddha). Ajaran yang dibahas dalam kakawin ini mengenai anitya yang berarti ketidakkekalan atau fana. Ajaran ini terdapat pada pupuh 17 di mana Sang Gunadewa yang merupakan seorang putra pertapa yang mengajar tokoh Samba.

Kisah ini bukan merupakan happy ending karena kematian semua tokoh-tokohnya. Pesan yang disampaikan dalam kisah ini:
1.  Semua usaha dan keinginan manusia harus tunduk dengan keputusan Tuhan. Dalam ajaran Jawa disebut budhi dayaning manungsa, ora bakal bisa mbedah kuthaning pasti.
2.     Tidak ada yang mustahil, tergambar dari cerita kekalahan Arjuna oleh Bhoma
3.     Anjuran untuk selalu belajar
Iliad
Kisah Bhomantaka disejajarkan dengan kisah Iliad oleh peneliti. Iliad disusun sekitar tahun 750-700 SM, tetapi asal-usulnya berasal setidaknya dari lima abad sebelumnya, jauh di era Zaman Perunggu Mycenae, dunia yang secara harfiah dibangkitkan oleh Iliad. Orang-orang Mycenae telah mengenal tulisan, tetapi tampaknya hanya menggunakan tulisan untuk keperluan pembukuan birokrasi di istana negara mereka.
Ketika kerajaan mereka runtuh sekitar tahun 1.200 SM, penggunaan tulisan yang terbatas itu pun hilang. Jadi dari akhir Zaman Mycenae sampai era Homeros, para penyair yang menampilkan dan mengadaptasi epik secara lisan tetap mempertahankan tradisi itu agar tetap hidup, dan membawa kenangan atas dunia Mycenaean ke zaman baru.

Kisah Iliad karya Homeros berlatar di tengah-tengah Perang Troya, pada akhir Zaman Perunggu di Yunani. Tidak diketahui apakah Perang Troya pernah benar-benar terjadi. Orang Yunani kuno percaya bahwa Perng Troya berlangsung selama sepuluh tahun. 'Iliadsendiri menceritakan tahun kesepuluh perang, ketika kedua belah pihak sudah benar-benar muak berperang, dan pasukan Yunani sudah amat ingin pulang.

Iliaddimulai dengan perseteruan antara pemimpin pasukan Yunani, Raja Agamemnon dari Mykenai, dengan prajurit terhebat Yunani, Akhilles. Pasukan Yunan sempat memenangkan pertempuran dan membagi harta rampasan. Setiap orang memperoleh bagian, dan salah satu jarahan yang diperoleh Akhiles adalah seorang perempuan bernama Briseis untuk menjadi budaknya. Namun karena Briseis sangat cantik, Agamemnon juga menginginkannya. Ia pun merebut wanita itu dari Akhilles. Agamemnon beranggapan bahwa ia berhak melakukannya karena ia adalah pemimpin pasukan.

Akibat tindakan tersebut, Akhilles menjadi sangat marah sehingga ia tak mau lagi bertempur untuk pasukan Yunani. Ia hanya berdiam di tendanya. Tanpa bantuan Akhilles, pasukan Yunani pun mulai mengalami kekalahan. Akhirnya, sahabat Akhilles, Patroklos, memperoleh ide. Ia memakai baju zirah Akhilles dan pergi bertempur. Orang-ornag mengira bahwa ia adalah Akhilles. Sayangnya, dalam pertempuran itu Patroklos dibunuh oleh Hektor. Orang-orang pun kemudian menyadari bahwa itu bukanlah Akhilles.

Ketika Akhilles mengetahui bahwa Patroklos telah tiada, ia begitu berduka hingga akhirnya ia pun mau bertempur lagi. Pertama-tama, ia harus membalaskan dendanmnya terlebih dahulu. Ia melakukan pertarungan satu lawan satu melawan Hektor dan berhasil menang. Ia membunuh Hektor dan menyeret mayatnya dengan kereta perang hingga perkemahan pasukan Yunani. Ayah Hektor, Priamos, mendatangi perkemahan pasukan Yunani pada malam harinya. Ia meminta Akhilles mengembalikan jenazah putranya. Akhilles mengaulkan permintaan Priamos. Iliadberakhir di sini, namun kisah Perang Troya masih terus berlanjut.


Edisi Teks
Kakawin Bhomantaka juga disebut Kakawin Bhomakawya yaitu sebuah kakawin dalam Bahasa Jawa Kuna. Friederich, seorang ahli Jawa Kuna dari Prusia yang menerbitkan kakawin ini untuk pertama kalinya pada tahun 1852, menyebutnya sebagai kakawin Bhomakawya. Nama ini ada pada bait ketiga pupuh pertama kakawin. Namun pada kolofon-kolofon naskah-naskah nama yang disebutkan yaitu Bhomantaka. Selain itu dalam tradisi Jawa dan Bali, nama yang dikenal yaitu Bhomantaka.

Pada tahun 1944-1946 edisi Friederich diterjemahkan dalam Bahasa Belanda yang kemudian dalam penelitian ini disebut naskah F. Tahun 1946 mengecek naskah F, dua naskah tersedia di koleksi naskah oriental Perpustakaan Leiden, yang kemudian disebut naskah A dan B. Di tahun yang sama, terbit dalam edisi Bahasa Belanda oleh Teeuw berdasarkan naskah F. Kemudian tahun 2001 diterbitkan edisi teks dalam Bahasa Inggris dengan tambahan tiga naskah. Sehingga, teks Kakawin Bhomantaka edisi terbaru karya A. Teeuw dan S. O. Robson ini menggunakan enam naskah, yaitu: 
1.     Naskah Edisi Friederich sebagai naskah F
2.     Naskah A (Cod. Or. 5036) berupa lontar 106 lempir: Lombok Collection
3.    Naskah B (Cod. Or. Leiden 3735) berupa lontar 399 lempir: Van der Tuuk Collection
4.    Naskah C (Cod. Or. Leiden 4141) berupa paper manuscript 440 halaman: Van der Tuuk Collection
5.     Naskah D (Cod. Or. Leiden 22718) berupa lontar 161 lempir: Boman Gede
6.     Naskah E (Cod. Or. Leiden 23756) berupa lontar 178 lempir: Bali Timur
Antara naskah yang satu dengan yang lain dalam penelitian ini mempunyai keterkaitan. Naskah F berbeda dengan yang lain, namun peneliti tetap menyebutnya sebagai manuskrip meskipun secara teknik penelitian terdahulu tersebut tidak benar. Sementara itu, terdapat permasalahan tekstual di Canto 21. Naskah ABDF ditemukan ketidakteraturan, keunikan terlihat pada CE secara signifikan berlawanan dengan ABDF. Sulit untuk memutuskan bacaan mana yang lebih disukai. Terutama karena alas an praktis, peneliti memutuskan untuk menerima pembacaan ABCD.

Di sisi lain, naskah E sampai Canto 82 mempunyai varian dengan B, selebihnya hanya varian ejaan yang tidak signifikan. Keterkaitan spesial terjadi pada E dan F, dari Canto 83 dan seterusnya ada sejumlah kasus yang secara signifikan lebih tinggi di mana E memiliki varian yang sama dengan F, terhadap empat manuskrip lainnya.

Perbedaan ejaan hampir tidak pernah signifikan untuk membangun hubungan antara naskah. Tidak ada kemunculan kesalahan umum yang sering terjadi, sehingga membedakan dua atau lebih manuskrip dari yang lain. Dalam filologi klasik sebagai kriteria utama untuk menentukan hubungan antara naskah dan pada akhirnya membuat sebuah stemma atau silsilah naskah sebagai dasar edisi kritik.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran. Dalam kasus Bhomantaka ini tidak ada bukti bahwa satu manuskrip atau sekelompok manuskrip lebih mendekati keaslian dibanding yang lain. Peneliti menggunakan semua sumber naskah yang tersedia untuk memproduksi naskah baru. 

Kakawin ini merupakan yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuna, panjangnya 1492 bait. Menceritakan kisah peperangan antara Prabu Kresna dan sang raksasa Bhoma. Tidak diketahui kapan dan siapa penulisnya. Namun menurut P.J. Zoetmulder (1974) kakawin ini merupakan yang terpanjang yang berasal dari Jawa Timur dan disejajarkan dengan kakawin Arjunawiwaha untuk masa penggubahannya.

Bagi kakak para Pandawa, Bung Karna, ajining raga saka busana. Kehormatan fisik dari pakaiannya. Terbukti banyak orang berebut pakaian. Penjual pakaian dengan berbagai branding juga sangat menjamur di pasar-pasar modern bernama market. Bahasa gaulnya mall, atau biar nggak dibilang jadul sama Insinyur Tedjo, musti pakai super, supermarket. Hare gene gitu loh! Sekarang zamannya super, superdamai. Oleh karena itu, kita pun katanya jadi gaul kalau mainnya di supermarket.

Eh...eh... usut punya usut, acara superdamai juga ada bau-bau rebutan busana loh. Busana DKI Jakarta. Ops! Entahlah. Kesaktian shaolin diuji dengan berbagai jurus pencak silat. Siapa yang menang? Kita serahkan permasalahan ini kepada wasit ae yoo. Katanya biar dibilang bangsa yang beradab, super-beradab. He...he...he... Apa-apa ya harus pakai wasit dan pengadilan, eh si super jangan dilupakan. 

Hmmmm...aneh...Siapa yang aneh? Cak Nun, nggak mementingkan busana. Hla, kok bisa? Cak Nun lebih mementingkan isi BH dari pada BH itu sendiri. Kalau dipikir-pikir benar juga ya. Ha...ha...ha....Ah, itu kan Cak Nun. Nyatanya masih banyak yang rebutan busana. Hla, BH itu tergolong pakaian atau pelindung hayooo?!?!?! 

Kuy...kuy...kuy...ke rumahnya Bang Arjuna kuy!
Bagi Bang Arjuna, ­ajining diri saka lathi. Kehormatan diri dari lidah. Ketangkasan dalam berbicara atau kewaspadaan dalam berkata menentukan kehormatan seseorang. Kalau bukan karena lidah yang tak henti-hentinya menikmati al-maidah, kata damai, marketmannggak akan jadi jadul tanpa tambahan super, kan

 Banyak orang ngaji, hafal Al-Qur’an dan hadis, sinau tafsir, yoo ben disebut ustad, ceramah setiap hari, undangan di mana-mana, tapi korupsi? Menteri Agama menjadi tersangka kasus korupsi. Wah...wah...wah...hmmmmEh, jadul itu bro. Oh iya ya.

Beda lagi sama mahasiswa, pacakane kaya Arjuna. Belajar tanpa ketakutan dan kepura-puraan. Yang dicari keunggulan dan keahlian di bidangnya, bukan ijazah atau sekedar bisa cas cis cus, pinter debat tapi nol karya. Semboyannya talk less do more atau talk last do first. Benar kan itu mahasiswa? Makhluk super saat kuliah, tapi kebingungan setelah wisuda.

Gawat...darurat....Indonesia pecah. Gonjang-ganjing. Lebih berbahaya dari gonjang-ganjinge tanah rencong. Bukan karena polisi yang salah sangka, menarik bendera negera asal pemain asing Persipura yang merayakan kegembiraan setelah menjuarai turnamen kopi. Dikiranya bendera kelompok separatis. Sabar pak polisiiiii! Hormaaat grak! Tapi anehnya kok semakin banyak insiden bendera merah yaaa? Semacam ada pembiaran dari pemerintah, apa pemerintahnya yang sudah jadiiiiii.....

Teror bulan Desember. Aksi sweeping pakaian non-muslim oleh pasukan pengawal fatwa. Karepe umat muslim tidak boleh memakai busana non-muslim. Akhirnya Kangmas Jokowi memanggil Dhimas Tito Karnavian, karena anggotanya ada yang menggunakan fatwa sebagai dasar hukum untuk bertindak, dijadikan sebagai hukum positif.

Lha..dalaaah... apa hukum positif itu?
Kuy...kuy...kuy...ke markasnya Dhimas Tito Karnavian! Pasti paham masalah hukum positif.

Tapi, Dhimas Tito Karnavian kan lagi sibuk.
Sibuk nyapo to?
Sibuk mengamankan persiapan perayaan Natal atau sibuk mencari peneror laser kiper Thailand di leg pertama final AFF Suzuki Cup 2016 di stadion Pakansari lalu?

Di negeri antah berantah sudah banyak terjadi aksi teror. Paman Adolf Hitler pekarangan rumahnya sudah porak-poranda akibat terorisme. Beda lagi di teras rumahnya Sultan Muhammad Al-Fatih, terjadi penembakan Duta Besar Rusia. Oh, Rusia! Bukannya Rusia itu negara yang tergabung dan terlibat perseteruan di konflik Suriah? Lohiyo ta?

Cerita lain di Nusantara, serem tapi lucu. Aksi penangkapan teroris malah jadi tontonan. Itu bom, bukan bakso granat loh. Bom panci seberat tiga kilogram yang diperkirakan daya ledaknya bisa mengalahkan bom berteknologi tinggi buatan Paman Sam dan Masha and the bear.

Teror juga dialami Mas Kurnia Meiga. Teror kepercayaan. Tapi teror itu tidak cukup ampuh untuk membunuh karakter bermainnya. Buktinya? Mas Kurnia Meiga jadi kiper terbaik selama turnamen Piala AFF Suzuki Cup 2016 kemarin looooo.

Hmmmmm..... Dhimas Tito sibuk. Terus tanya siapa?
Pye, kalau tanya Kangmas Jokowi?
Oh, iya! Tapi bukannya Kangmas Jokowi ngurus pesawat hercules TNI yang jatuh di Wamena ya?
Hah! TNI lawan Hercules?
Bukaaaaaan! Anggota TNI yang mengendarai pesawat hercules nabrak salah satu gunung di wilayah Wamena.
Haaaaaaaa?!?!?!?!?!!!
Lha terus tanya siapa?

Kan masih ada wakil rakyat, mereka pasti tahu. Kalau nggak tahu, buat apa mewakili kita?! Kalau sekedar tidur ketika rapat, jalan-jalan ke luar negeri, mengulur waktu biar dapat anggaran lebih, kita yang nggak kuliah juga bisa. 

Merasa bersalah, Rama Ma’ruf Amin mengunjungi keponakannya, Dhimas Tito Karnavian. Meninjau kembali fatwa yang telah dikeluarkan dan membahas aksi sweeping yang telah dilakukan sekelompok orang. Menindak tegas siapa saja yang melakukan kekerasan.

Hlaaa, terus? 
Lebih penting mana, busana apa isinya? Busana yang mempengaruhi iman atau iman yang mempengaruhi busana?

Ingat! Tidak semua orang bisa memahami dirinya sendiri, tapi banyak orang yang berusaha mempengaruhi orang lain untuk mengikuti dirinya. Contohnya yaaa Kanjeng Dimas Taat Pribadi

Jaman edan. Banyak orang pamer kesaktian, tapi tidak peduli dengan benar atau salah, yang penting bisa selfie. Lantas mana yang lebih sakti, Bung Karna atau Bang Arjuna? Hayoooo pilih manaaaa.......
***
Demikian dialog Kang Tris dengan dirinya sendiri. Bekal batinnya sudah cukup mengimbangi fisiknya yang renta tetapi masih kuat membelah bukit Warung Penceng, menggembala kambing. Seringnya menyaksikan pemberitaan aksi teror dan penangkapan terduga teroris, cukup membuatnya hati-hati dengan orang asing. Juga lembaga asing berlabel pribumi, berteriak asing kepada lembaga asing. Asing teriak asing, hmmmmmm.....
Pagi yang cerah itu bertepatan dengan Hari Bela Negara, hari memperingati semangat melawan Agresi Militer Walondo II di Nusantara. Peristiwa yang diyakini sebagai pemersatu bangsa. Hla, bukannya hanya Timnas bal-balan Indonesia yang bisa mempersatukan bangsa? Hohoho... huuuooong wilaheng.... Kesaktian Kanjeng Dimas Taat Pribadi tidak bisa menggandakan gol Timnas Indonesia ke gawang Thailand. Andai Kanjeng masih bebas, he...he...he....he....he.......

Para peramal amatir juga musti kecewa. Ilmu othak athik mathuk tidak menjadi kenyataan. Timnas Indonesia yang berlambang burung garuda diprediksi akan mengalahkan Timnas Thailand  yang mempunyai lambang gajah. Final berlangsung di bulan maulid, bulan di mana Kanjeng Nabi Muhammad dilahirkan ke dunia yang ketika itu terjadi usaha penghancuran Ka’bah. Tetapi dengan gagahnya, burung-burung ababil bisa memporak-porandakan pasukan gajah pimpinan Abrahah. Daaaaan, kenyataannyaaaaa, untuk kelima kalinya Timnas Indonesia harus puas di posisi runner up. Burung garuda dan ababil ya sudah jelas bedanya toh leeee....leKok disama-samakan. Hmmmmmm.....


Masih ingat sinetron Jono dan Lono? Kembar tapi beda. Kita itu sama, Indonesia, tapi beda suku bangsa, agama, dan adat istiadat. Menggunakan perbedaan itu untuk gotong-royong. Bukan untuk saling lapor. Bhinneka, ya, bhinneka, tapi mbok ya jangan kebablasan. Akidah agama kok dicampur-campur. Agama jangan disamakan dengan es campur. Teroris, ya, teroris. Itu kejahatan. Bukan karena teroris itu berjenggot dan berpeci, lantas disangka Islam itu ajaran kejahatan. Setelah penduduk Rohingya terusir dari tanahnya, masih menyangka Islam itu teroris?

T E R O R

by on 02:10
Bagi kakak para Pandawa, Bung Karna,  ajining raga saka busana.  Kehormatan fisik dari pakaiannya. Terbukti banyak orang berebut pakaian. Pe...
Talkshow bertajuk livee in peace oleh Biksu Ajahn Brahmali asal Australia bertempat di Wihara Buddhayana Dharmawira Center Surabaya (1/3). Acara ini sekaligus peluncuran buku baru beliau berjudul “Murnikan Batinmu Sendiri” yang diterbitkan oleh Ehipassiko Foundation.

Ajahn Brahmali lahir di Norwegia pada 1964. Setelah menamatkan gelar sarjana teknik dan finansial, beliau mulai latihan spiritual di Amaravati dan Chithurust Monasteries, Inggris. Pada 1994 beliau pindah ke Serpentine, Australia dan menjadi murid utama Ajahn Brahm.

Beliau piawai mengajar bahasa Pali, Sutta, Vinaya, dan meditasi. Ceramahnya yang penuh ceria, cinta, cendekia membuat ajaran Buddha menjadi jernih dan dipahami banyak kalangan. Ajahn Brahmali aktif mengajar ke berbagai negara, termasuk ke Indonesia sejak 2013.

Acara ini merupakan yang pertama dari rangkaian 6 hari di 6 kota Indonesia. Surabaya menjadi tuan rumah pertama sebelum Ajahn Brahmali menuju Semarang, Jakarta, Bogor, Gorontalo dan berakhir di Makassar.

Sebagai pembuka ceramahnya disampaikan oleh Ajahn Brahmali bahwa di dalam bahasa Pali, Sura berarti alcohol/minuman keras dan Baya adalah takut. Jadi Surabaya bermakna takut akan minuman keras.  Diharapkan orang Surabaya benar-benar takut akan minuman keras.

Dalam ceramahnya Ajahn Brahmali mengatakan perlunya kita melepaskan segala yang ada untuk dapat menerima dengan baik semua anugerah yang diberikan. Beliau mencontohkan ketika seorang biksu terkenal di Thailand berjalan tidak sesuai dengan yang telah direncanakan, karena api pembakaran menjadi besar, maka biksu kepala biara membiarkan hal tersebut terjadi dengan “kepasrahan total”.

Demikian juga ketika sebuah wihara di Australia harus terbakar habis setelah pembangunan bertahap selama 8 tahun, kepala biara juga melakukan kepasrahan total. Terjadilah apa yang harus terjadi, aka nada pesan dan makna yang dapat dipetik dari setiap kejadian.

Dalam acara peluncuran buku dan ceramah ini juga diadakan bazar yang dilakukan dengan penjualan barang, makanan dan minuman di lantai dasar. Saya hadir bersama grup meditasi praktik zen.

SUBSCRIBE & FOLLOW