Gerakan 1821 Joko Tingkir, Sunan Drajat dan Egaliterian Perempuan Lamongan dalam Peringatan Hari Jadi Kabupaten Lamongan ke-449



Hari Jadi Lamongan dihitung sejak dilantiknya Ronggohadi sebagai adipati pertama daerah Lamongan oleh Sunan Giri IV atau Sunan Prapen pada tanggal 26 Mei 1569. Ronggohadi pada akhirnya dikenal sebagai Mbah Lamong yang bergelar Surajaya. Kini nama Surajaya diabadikan sebagai nama stadion di Lamongan, sebagai markas tim sepak bola PERSELA dengan supporter setianya LA mania dan penjaga gawang legendarisnya Khoirul Huda (1).

Sunan Prapen sendiri merupakan moyang dari cendekiawan muslim Nusantara, K.H. Ahmad Dahlan dari jalur ibu. Gerakan pembaharuan pendidikan sebagai langkah awal dalam menyebarkan cahaya Muhammadiyah dengan tafsir Al-Ma’unnya. Bukan tanpa tantangan, K. H. Ahmad Dahlan berdakwah dengan biola, pakaian dan fasilitas pendidikan ala penjajah dicerca oleh masyarakat muslim sekitar karena dianggap menyerupai orang kafir. Musholla tempatnya mengajar dan keahliannya dalam ilmu falak mendapatkan respon keras oleh para ulama’, terutama dalam hal arah kiblat. Mungkin karena K. H. Ahmad Dahlan waktu itu masih tergolong muda. Undhur maa qaala wa laa tandhur man qaala.

Kini Muhammadiyah tidak hanya cemerlang di bidang pengelolaan pendidikan, tetapi juga dalam bidang kesehatan. Ini tak lepas dari peran K. H. Ahmad Dahlan yang pernah bergabung dalam Budi Utomo, gerakan yang berusaha mengorganisir cendekiawan di Nusantara dan focus di bidang kesehatan. Budi Utomo diinisiasi oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan digerakkan oleh mahasiswa STOVIA (Sekolah Kesehatan Era Penjajahan), diantaranya Sutomo, Tjipto Mangunkusomo dan Gunawan Mangunkusomo.

Selain itu, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara juga pernah menjadi mahasiswa STOVIA, namun karena tidak bisa menyeimbangkan antara kuliah dan berorganisasi di Budi Utomo, Suwardi sakit-sakitan dan nilai kuliahnya menurun. Akhirnya, beasiswanya dicabut dan tidak lulus dari STOVIA. Selama masa sakitnya, Suwardi diurus oleh kakak pertamanya. Jarak dan keterbatasan ayahnya dalam penglihatan membuat kakak pertama Suwardi Suryaningrat menjadi ayah kedua baginya. Suwardi Suryaningrat, sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan.

Tidak dipungkiri jika pengelolaan pendidikan dan kesehatan menjadi yang terdepan bagi Muhammadiyah. Salah satu tokoh yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dua periode yaitu Prof. Dr. K. H. Muhammad Sirajuddin Syamsuddin, MA atau lebih akrab dengan Din Syamsuddin. Beliau juga pernah menjabat sebagai Ketua Majlis Ulama Indonesia. Berbagai prestasi kepemimpinan dan akademisnya ini menurut saya berkat barokah dari doa K. H. Hasyim Asy’ari yang sangat fenomenal di kalangan para santri, yaitu: “Siapa saja yang mau mengurusi NU, saya anggap santriku. Siapa yang jadi santriku, maka aku doakan khusnul khatimah beserta keluarganya.” Prof Din Syamsuddin sendiri di masa mudanya pernah berjasa dan mengurusi NU, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) Kab. Sumbawa.

K. H. Hasim Asy’ari merupakan seorang yang ahli hadis, keturunan dari Joko Tingkir dari jalur ibu. Cinta tanah air sebagian dari iman adalah ijtihad beliau, untuk membentengi masyarakat Nusantara dari gempuran pengaruh asing. Saripati cinta tanah air tersebut berwujud revolusi jihad yang diperingati sebagai Hari Santri 22 Oktober. Revolusi Jihad merupakan jawaban dari K. H. Hasyim Asy’ari atas permintaan Presiden Sukarno, menjawab ultimatum sekutu di Surabaya dalam pertempuran 10 November. Kini dikenang sebagai Hari Pahlawan, memperingati gerakan santri Laskar Hizbullah dalam melawan sekutu. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah. Lebih baik terus belajar dalam memperbaiki ketaksempurnaan diri, daripada hidup meniru orang lain secara sempurna.

Integrasi agama dan negara inilah yang disampaikan K. H. Syaifuddin Zuhri dari Malang dalam ceramahnya memperingati Hari Jadi Lamongan yang diselenggarakan dalam konsep doa bersama bupati dan masyarakat Lamongan (15/7). Bupati Lamongan, H. Fadeli, MM, dalam sambutannya menjelaskan tentang program atau gerakan 1821. Bahwa warga Lamongan khususnya anak-anak pada jam 18.00 – 21.00 dihimbau untuk tidak menyalakan gadget dan televisi pada jam tersebut. Beliau juga menambahkan akan segera melaunching program “Desaku Pintar.” 


Lamongan sebagai daerah wali mempunyai beraneka ragam budaya daerah. Sunan Drajat sebagai putera kandung Sunan Ampel dan adik dari Sunan Bonang, berdakwah menggunakan kesenian, menggubah sejumlah tembang tengahan macapat pangkur, memainkan wayang dan seperangkat gamelan yang disebut Singo Mengkok. Serta tujuh falsafah sebagai pepali yang dijadikan pijakan dalam kehidupan sehari-hari.


Selain itu, Lamongan juga dipenuhi perempuan cantik jelita. Tradisi egaliter menjadi warisan turun temurun yang menjadi cerita tutur sebagian masyarakat Lamongan. Perempuan yang mendatangi laki-laki lebih dahulu dengan maksud “tertentu” dianggap sebagai bangsawan. Mereka dianggap melestarikan tradisi dan ikut prihatin terhadap meninggalnya dua putera kembar Adipati Lamongan akibat gagalnya pernikahan dan pembatalan janji. Singkat cerita, kisah tersebut diabadikan dengan gentong dan kipas kembar di halaman Masjid Agung Lamongan. Dan nama calan pengantin putera kembar Adipati Lamongan, puteri kembar Andansari dan Andanwangi diabadikan sebagai nama jalan.


Selamat Hari Jadi Lamongan ke-449…!!!

No comments:

Post a Comment