Pesona Karimunjawa



Semburat cahaya merah di ufuk timur, mengisahkan peradaban agung Nusantara. Angin laut sepoi-sepoi, menerbangkan rangkaian puja kepada Sang Khaliq. Ombak berdebur, mesin bersiul dan angin pun seakan bertutur, Yaa Hayyu Yaa Qayyum Yaa Dzaljalaali wal Ikraam amitnaa ‘ala diinil Islam.

Dinginnya malam bertahap pulang, berganti hangatnya sang surya. Hamparan laut luas bersua cahaya merah, menyelinap di antara bukit Karimunjawa, memancarkan karya agung Sang Ilahi. Menegaskan keindahan firman-Nya yang terjaga sepanjang masa. Wa asy-syamsi wa dhuhaa ha. Demi matahari dan sinarnya di pagi hari.

Pagi itu sebagai cahaya terakhir, cahaya perpisahan setelah kebersamaan kami selama sepuluh hari. Bahagia sekaligus haru, dini hari tadi kami harus berpisah dengan keluarga yang selama di sini menjadi orang tua kami. Dermaga kasih. Menyimpan memori kerinduan. Menyatukan beragam perbedaan. Menembus gelapnya lautan tanpa cahaya, dengan perahu nelayan sederhana. Hanya tampak pancaran cahaya remang di ujung samudera.

Gelap. Di bawah langit bertabur bintang, yang menyediakan sejuta harap. Dingin. Di tengah samudera, yang menenggelamkan penjajah musyrikin.  Mesra. Di atas perahu, yang menjadi saksi bisu perjuangan putra bangsa. Laut masih tampak muram. Hanya terdengar deburan ombak dan bisingnya mesin perahu.  Menyambut fajar, benang merah merajut langit, menjadi saksi manusia-manusia yang merindu. Terjaga di sepertiga malam. Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya.

Subuh. Berusaha memahami maksud hati penduduk laut. Sayup-sayup kalimat itu kuperdengarkan, mengobati kerinduan mereka kepada Tuhannya. “Allahu Akbar Allahu Akbar. Allaaahu Akbar Allaaahu Akbar. Asyhadu an-Laailaha illallah. Asyhadu an-Laailaha illallah. Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah. Asyhaduanna Muhammadan Rasulullah. Hayya ‘ala as-Shalah. Hayya ‘ala as-Shalah. Hayya ‘ala al-Falah. Hayya ‘ala al-Falah. Allahu Akbar Allaaahu Akbar. Laa Ilaaha Illallah.

Seakan menjadi kunci keindahan, gelapnya malam berangsur-angsur pergi. Dinginnya lautan segera bergerak menepi. Seakan mempunyai maksud hati yang sama, penghuni perahu merapat ke ujung perahu. Bercengkerama. Memadu kasih. Bermesraan dengan sang surya. Mendekap hangatnya persahabatan.

Tak berselang lama, gundukan pulau semakin tampak. Berangsung-angsur Pulau Karimunjawa semakin membesar, pertanda perjalanan ini akan segera berakhir. Aktivitas nelayan di kanan-kiri pun mulai tampak sibuk. Layar mengembang, jaring menyambar dan senyum ramah menyapa. Dermaga dan rumah panggung penduduk setempat semakin melengkapi kedamaian negeri ini. Tetesan merah darah perjuangan, berganti segarnya putih susu. Aku bersumpah atas negeri ini.

“Trooooooooooon…..Trooooooooooooon………” siginjai memberi tanda untuk segera berangkat. Kami berada di atas perahu nelayan, masih berjarak beberapa meter, melambaikan tangan agar kapal itu menunggu kami. Para penjaga dermaga pun bersuara tinggi, menghardik, sumpah-serapah dan apapun keluar dari mulutnya. Memerintahkan agar kami bergerak cepat, mengangkut barang bawaan ke dalam kapal.

Satu menit yang sangat berharga. Menyaksikan situasi tersebut, tanpa komando kami segera bergerak cepat. Aku melompat ke dermaga terlebih dahulu untuk membantu nelayan memasang tali, menyesuaikan perahu merapat ke dermaga. Binnar berlari dengan tergesa ke loket pembayaran. Sedangkan si muka masam tak henti-hentinya berkomat-kamit dengan nada tinggi. Sementara di sudut yang lain, seorang polisi mengabadikan suasana tegang pagi itu. Mungkin sebagai laporan atas keterlambatan pemberangkatan siginjai. Suasana pagi yang begitu indah beberapa menit yang lalu mendadak tegang. Semuanya bergerak, memindahkan barang bawaan dari perahu nelayan menuju kapal. “Lempar!” Untuk menyingkat waktu.

Napas terputus-putus. Gerakan pagi yang cukup membuat setiap dari kami berkeringat. Setelah memastikan barang tidak ada yang tertinggal, pintu kapal pun segera tertutup. Walau paling akhir, suasana cukup lengang, masih banyak pilihan tempat untuk kami. Sambil menyantap makanan, kami menikmati suasana di buritan kapal. Ketegangan beberapa menit yang lalu, membuat perut kami cukup terguncang.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Terasa baru kemarin kami berangkat dengan suasana kapal yang sangat ramai. Sambil rebahan di buritan kapal, aku teringat seorang teman yang baru kukenal di kapal ini. Waktu itu di ruang tengah, aku berusaha menenangkan perut yang mulai terasa mual, sedangkan dia dengan santainya menyaksikan deburan ombak dari jendela kapal. Tiba-tiba beberapa orang membentuk kerumunan di jendela kapal, seakan menyaksikan sesuatu dalam ombak. Aku terlambat. Setelah orang-orang membubarkan diri, dia yang berotot, berambut pirang dan berkulit putih kemerahan masih berdiri di sana. Aku pun bertanya kepadanya, dengan bahasa yang sama-sama kami mengerti.

“Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa, hanya deburan ombak yang meninggi.”
“Kamu berasal darimana?”
“Saya dari Belanda”
“Mereka semua temanmu?” Sambil memberikan kode ke arah orang-orang asing berkumpul.
“Ya, mereka semua temanku, tetapi kami dari negara yang berbeda. Kami belajar di tempat yang sama, salah satu kampus di Yogyakarta.”
“Apakah kalian belajar seni budaya Indonesia?”
“Tidak. Kami belajar dengan program studi yang berbeda-beda. Aku mengambil pogram studi ekonomi.”
“Sudah berapa tahun tinggal di Indonesia?”
“Aku baru 6 bulan tinggal di Yogyakarta.”
“Sudah bisa Bahasa Indonesia?”
“Sorry, saya tidak belajar Bahasa Indonesia, saya hanya tahu terima kasih, permisi, dan maaf.”
“Oh. Ok.”
Hening sesaat.
“Sudah berapa kali ke Karimunjawa?” Dia berbalik menanyaiku.
“Ini pertama kalinya aku ke Karimunjawa”
“Aku melihat kamu memakai pakaian yang sama dengan beberapa orang di sini, apakah mereka temanmu?”
“Ya, mereka teman-temanku. Kami berasal dari daerah yang berbeda-beda. Kami bertemu dalam program Ekspedisi Nusantara Jaya yang diselenggarakan oleh Kementerian Koordinator Maritim Republik Indonesia. Sebuah program untuk membantu sekaligus melaporkan kondisi kehidupan masyarakat di pulau-pulau yang jauh dari pusat pemerintahan”
“Itu program yang sangat bagus.”
“Ya, tentu.”
Sambil menikmati suasana di tengah laut, pembicaraan kami jeda sejenak.
“Sorry, siapa namamu?”
“Namaku Harun.”
“Serius? Namamu seperti nama yang digunakan orang-orang Islam”
“Ya, saya Muslim. Orang tuaku berasal dari Turki, namun tinggal di Belandamenjadi warga negara Belanda.”
Dia pun bercerita panjang lebar tentang keluarganya. Aku hanya menyimak dan sesekali meresponnya. Setelah dia menyelesaikan pembicaraannya, aku balik bertanya.
“Kamu bisa Bahasa Turki?”
“Ya, tentu”
Dengan terbata-bata, aku mencoba melafalkan bahasa yang hampir sama dengan Turki, Azerbaijan. Diajarkan oleh sahabat-sahabatku di negeri tepi Laut Kaspia itu: Arzu Moradova, Leyla Qarayeva, Aliyeva Ayshan, Fatma Yosifova, Pashayev Emil, Senuber dan Shikarli Tural. Terima kasih juga untuk Gulnar Babazade yang telah menyempatkan berkunjung ke rumah beberapa bulan yang lalu. Semoga bisa membalasnya suatu saat nanti.
“Ardi, aku mau ke sana dulu yaa.” 
“Oke, Harun. Thanks for sharing.”
***
Tanpa pengabdian, cinta hanyalah kata tanpa bukti. Dan tanpa cinta, pengabdian hanyalah perjalanan tanpa arti. Ekspedisi ini akan segera dimulai. Menulis kisah persahabatan di Kepulauan Karimunjawa. Keindahan laut terhampar luas mengharu-biru. Sementara burung-burung menari-nari di angkasa dan ikan-ikan merayu dalam samudera. Orang-orang berkumpul menyambut kedatangan siginjai di ujung dermaga.

Dengan sekejap, dermaga Karimunjawa dipenuhi oleh aktivitas manusia. Mulai dari pedagang yang memindahkan barang dagangannya, orang tua yang menyambut kedatangan putera-puterinya dari tanah rantau, dan para pebisnis yang menawarkan jasa homestay kepada para turis. Sedangkan kami mencari tempat transit untuk peristirahatan sementara dan berkumpulnya barang-barang donasi. Tepat di bawah pohon rindang kami melepas lelah, sambil menunggu angkutan yang akan membawa kami ke dermaga sebelah. Sahabat-sahabat pun memenuhi hajatnya masing-masing, salah satu di antaranya teh Shella yang berjalan menghampiri penjaja makanan.

Pandanganku kembali ke sekitar dermaga yang mulai sepi. Kerumunan manusia yang meramaikan dermaga beberapa menit yang lalu tiba-tiba lenyap. Hanya tampak petugas dermaga berbincang dengan seorang polisi dan tentara. Mataku terpejam merasakan sejuknya udara di bawah pohon rindang. Tiba-tiba kedamaian itu terganggu dengan suara perut yang berisik. Aku pun segera beranjak dari tempat duduk dan mencari makanan ringan. Mataku terfokus pada teh Shella yang dari tadi masih di tempat yang sama, di depan penjaja makanan yang berapi-api dalam berbicara. Aku pun menghampirinya dan mengikuti pembicaraan mereka. Ternyata eh ternyata ibu penjaja makanan bercerita dengan menggunakan bahasa Jawa, teh Shella yang asli Bandung tentu tidak biasa dengan bahasa ini. Sesekali aku pun nimbrung, merespon cerita ibu penjaja makanan. Setelah membeli beberapa makanan, kami pun kembali ke tim.

“Aku bingung dengan apa yang ibu itu bicarakan, mau kembali tapi ibu itu tidak memberikan jeda, jadi yaa didengarkan aja deh walau nggak paham he he he. Memangnya, ibu itu cerita tentang apa sih, mas?”

“Menurut keterangan ibu tadi, pulau yang akan kita kunjungi terkenal dengan pulau santet. Siapa saja yang datang ke pulau tersebut tidak akan kembali. Dulu pernah ada oknum polisi yang berniat jelek, akhirnya tenggelam di tengah laut. Tapi tenang, itu tidak akan terjadi jika kita selalu berbuat baik.”

2 comments:

  1. Pilihan kata dan kalimat pembahasannya ngegambarin wawasan yang begitu luas, keren

    ReplyDelete