Hikayat Banjar memberikan banyak inspirasi bagi banyak orang. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana upaya mereka dalam mengulas naskah. Upaya tersebut ditandai dengan adanya beragam penelitian dengan judul yang berbeda. Tentu, setiap penelitian mempunyai kelebihan masing-masing, kelebihan tersebut menjadi pelengkap antara satu penelitian dengan penelitian lain sehingga memberikan wawasan yang komprehensif bagi generasi selanjutnya. Namun, apa yang membuat mereka tertarik mengungkap naskah ini? Tercatat sejak awal abad ke-19, cerita ini menarik perhatian sarjana-sarjana Eropa.


Hikayat Banjar bertransformasi dalam berbagai judul penelitian. Bermula dari Sir Stamford Raffles yang meminta salinan naskah ini kepada Sultan Pontianak, ternyata naskah milik sultan juga merupakan salinan yang didapat dari kota Waringin. Setelah proses penyalinan selesai, naskah diberikan kepada John Crawfurd selaku Residen di Yogyakarta. Karena Raffles telah kembali ke Eropa, J. Crawfurd menyimpannya untuk dirinya sendiri. Pada tahun 1845, koleksi manuskrip miliknya dijual ke Museum British London.

 

Hikayat Banjar dipertuturkan hingga sekarang merujuk pada dua sumber, yaitu resensi I dan resensi II. Dua sumber tersebut diturunkan dari 8 naskah koleksi Indonesia dan 12 naskah koleksi Eropa. Teks yang disunting dalam Hikayat Bandjar merupakan Resensi I yang berisi 9 naskah yang berusaha mmbandingkan varian dan karakteristiknya. 

 

Penerbitan pertama yang membincangkan secara terperinci ialah Contibution to the History of Borneo (Sumbangan kepada Sejarah Borneo) oleh J. Hageman tahun 1857. Merujuk pada Resensi I dengan beberapa perbedaan tanggal dan penyebutan Lambung Mangkurat sebagai mangkubumi.Penerbitan kedua tahun 1860 oleh A. van der Ven dengan judul Notes on the Realm of Bandjarmasin (Catatan Tentang Kerajaan Bandjarmasin). Mengandung Resensi II dengan peta Kalimantan Tenggara.

 

Penerbitan ketiga oleh  J. Hageman pada tahun 1861 dengan judul Historical Notes on Southern Borneo (Nota-nota Sejarah Tentang Kalimantan Selatan). Memberikan penjelasan tentang silsilah keturunan dinasti Banjar. Selanjutnya, tahun 1877 FSA de Clerq menerbitkan Earliest History of Bandjarmasin(Sejarah Terawal Bandjarmasin). Kemudian tahun 1899, J.J. Meyer menerbitkan Contibution to our Knowledge of the History of the former Realm of Bandjar (Sumbangan kepada Pengetahuan Kita tentang Sejarah Bekas Kerajaan Banjar). Merupakan gabungan dari unsur-unsur Resensi I dan II dan beragam tradisi lisan.

 

Temuan terakhir hingga kini disertasi tentang The Chronicle of Bandjarmasin oleh A.A. Cense tahun 1928. Menjelaskan ringkasan secara terperinci kedua versi utama hikayat tersebut. Kedua versi utama Hikayat Bandjar diperbandingkan untuk pertama kali.

 

Melalui pendetan historis, membandingkan antara Resensi I dan Resensi II dengan cerita-cerita Melayu dan Jawa lain, diantaranya: Salasilah Kutai, Cerita Sukadana, Sejarah Melayu, Hikayat Marong Mahawangsa, Hikayat Raja-Raja Pasai, Hikayat Acheh.

 

Peneliti tidak menentukan hubungan yang tepat antara kedua versi ini, tetapi setidaknya telah memperlihatkan kepada semua pelajar. Maka, penelitian selanjutnya perlu kiranya memperhatikan hubungan yang tepat antara kedua versi naskah.

Habibie and Ainun 3 is film that aired after Habibie’s death. Unlike the previous two films, this third film shows Habibie’s grandchildren listening to the inspirational story of Habibie & Ainun’s journey. This article discusses the film Habibie & Ainun 3 in their struggle to realize their goals. The third film, which tells the life story of Habibie & Ainun, focuses on how to maintain love in realizing ideals as a way to build the nation and country.


Habibie & Ainun’s meeting was based on each other’s admiration for the principle of love for the country. Therefore, researchers are interested in analyzing the representation of nationalism that Habibie & Ainun have as spirits in their educational journey to realize their dreams. This research uses descriptive method with semiotic analysis. The sign that represents nationalism in this film is an object in John Fiske’s semiotic analysis with The Codes of Television theory. 


Data collection techniques in this study were sign analysis and literature study. The result of this research is that the ideology of nationalism that is owned by Habibie & Ainun is represented by speaking, behaving and acting. In the learning process, increasing competence is directly proportional to the spirit of nationalism, serving the country. Unduh

Dalam penelitiannya, Willem van der Molen menemukan tiga sumber manuskrip Kunjarakarna dari Jawa versi prosa. Ketiga manuskrip disebut dengan A, H dan K. A tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden dengan nama codex LOr 2266, dan berupa naskah nipah bertuliskan tinta dengan jumla lempir 53 berukuran 30 x 3,5 cm. 
H adalah naskah lontar, tersimpan dalam Museum Nasional di Jakarta dengan nomor 187. Setelah autopsy tahun 1976 sekarang hanya dapat dibaca dari microfilm. Naskah mempunyai 36 lempir dengan teks yang ditulis dengan pisau penulis. Menurut Cohen Stuart, panjangnya 47,5 cm. Ada Salinan dari naskah ini dalam tulisan Jawa Baru, disimpan dalam koleksi naskah Museum Nasional dengan nomor CS 160 Dari Salinan tersebut disalin kembali dan dimiliki Profesor Teeuw di Leiden.
K juga disimpan dalam koleksi naskah Museum Nasional di Jakarta sebagai naskah lontar 53. Keterangan pada autopsy tahun 1976 dari naskah ini dikutip dari katalog. Jumlah lempirnya 39 dengan teks yang digoreskan. Menurut Cohen Stuart, jumlah lempirnya 47. Ukuran panjang yang diberikan antara 47 sampai 49 cm. Menurut Poerbatcaraka naskah panjangnya 43 cm dengan lebar 3,5 cm. Naskah K terbagi dalam dua bagian, teks Kunjarakarna dan fragmen dari teks yang tidak dikenal. Fragmen tersebut mengisi tiga halaman lebih. Meskipun bagian dari kodeks K, bila dilihat tidak menyatu dengan naskah K sebagai buku tulisan tangan, ukuran dan warna lempir serta bentuk aksara berbeda.

Inventarisasi Naskah
Metode penelitian filologi ada beberapa macam tahapan. Tahapan yang pertama ialah pengumpulan data yang berupa inventarisasi naskah. Pengumpulan data dilakukan dengan studi katalog dan studi lapangan (Djamaris, 2002: 10). Studi pustaka dilakukan dengan membaca dan memahami katalog naskah yang terdapat di museum, kraton maupun perpustakaan. Dengan membaca dan memahami katalog, dapat dicari, dicermati, dan ditentukan naskah yang dikehendaki untuk digarap, karena di dalam katalog tertera gambaran umum naskah mengenai jumlah naskah, tempat dimana naskah disimpan, nomor naskah, ukuran naskah, tempat dan tanggal penyalinan naskah, dan sebagainya.
Beberapa katalog naskah Jawa di antaranya Katalog Naskah Vreede, Katalog Juynboll, Katalog Brandes, Katalog Naskah Poerbatjaraka, Katalog Pigeaud, Katalog Ricklefs-Voorhoeve, dan Katalog Girarded-Soetanto (Suyami, 1996: 221). Dari beberapa katalog di atas akan memudahkan peneliti dalam menentukan naskah yang diinginkan, karena dalam katalog juga dikelompokkan menurut jenis naskah, seperti jenis piwulang, sejarah, maupun agama.
Pengumpulan data yang kedua, yaitu studi lapangan. Studi lapangan, yaitu dilakukan dengan melihat secara langsung terhadap naskah yang akan dijadikan sumber data penelitian. Studi lapangan dilakukan di museum-museum, perpustakaan, dan perorangan sebagai penyimpan/kolektor naskah. Setelah melakukan inventarisasi naskah melalui studi katalog maupun studi lapangan, selanjutnya mendeskripsikan naskah dan teks yang dipilih sebagai sumber data penelitian.
Dalam penelitian Willem van der Molen, inventarisasi naskah dilakukan berdasarkan studi katalog Museum Nasional Jakarta dan Perpustakaan Universitas Leiden, dipilihlah naskah Kunjarakarnasebagai sumber data penelitian. Setelah naskah yang akan diteliti sudah dipilih berdasarkan studi katalog, selanjutnya melakukan pengamatan langsung di lokasi. Setelah melakukan pengamatan naskah yang diteliti secara langsung dan sudah melihat kondisi naskah, maka ditetapkan naskah Kunjarakarnasebagai sumber data penelitian.

Kakawin Bhomantaka menceritakan tentang kematian Raja Bhoma dari kerajaan Trajutrisna. Nama aslinya adalah Naraka, ia dilahirkan  akibat senggama antara Dewi Bumi dengan Wisnu. Itulah sebabnya ia dinamakan Bhoma yang artinya Putra Bumi. Bhoma diberi kekuatan yang tak terkalahkan oleh Brahma, dengan kekuatan tersebut ia gunakan untuk menyerang para dewa. Para resi memohon kepada Kresna agar segera membantu para pertapa di pegunungan Himalaya. Mereka sangan menderita akibat serangan yang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan raksasa. Mendengar permohonan tersebut, Kresna terharu dan berjanji akan mengutus putranya sendiri, Samba.

 

Kakawin Bhomantaka ini dibagi dalam beberapa babak, di bawah ini ringkasan kisahnya:

1. Pembukaan 1-2: Prabu Kresna dan Baladewa dalam ibu kota Dwarawati diperkenalkan

2. Kepergian Samba 3-13: Samba berjumpa dengan ibunya Jambawati dan menerima dharma seorang ksatria dari Raja, sebelum meninggalkan istana

3.   Dharmadewa dan Yajnawati 14-29: Kelahiran kembali dan pemberian pelajaran akan anitya

4.      Sang Putri dibawa ke Istana Bhoma 30-43

5.      Pernyataan Cinta Yajnawati 41-43

6.      Samba sukses melarikan Yajnawati 44-49

7.      Prabu Druma 50-72: Prabu Druma terusir dan berharap lindungan Kresna

8.      Pernyataan Perang Bhoma 73-84

9.      Perang di Rewataka 85-113

10.  Perang Akibatnya 114-118

 

Kakawin Bhomantaka sarat dengan ajaran-ajaran yang berhubungan dengan kepercayaan kepada Tuhan (Hindu dan Buddha). Ajaran yang dibahas dalam kakawin ini mengenai anitya yang berarti ketidakkekalan atau fana. Ajaran ini terdapat pada pupuh 17 di mana Sang Gunadewa yang merupakan seorang putra pertapa yang mengajar tokoh Samba.

 

Kisah ini bukan merupakan happy ending karena kematian semua tokoh-tokohnya. Pesan yang disampaikan dalam kisah ini:

1.  Semua usaha dan keinginan manusia harus tunduk dengan keputusan Tuhan. Dalam ajaran Jawa disebut budhi dayaning manungsa, ora bakal bisa mbedah kuthaning pasti.

2.     Tidak ada yang mustahil, tergambar dari cerita kekalahan Arjuna oleh Bhoma

3.     Anjuran untuk selalu belajar


Iliad

Kisah Bhomantaka disejajarkan dengan kisah Iliad oleh peneliti. Iliad disusun sekitar tahun 750-700 SM, tetapi asal-usulnya berasal setidaknya dari lima abad sebelumnya, jauh di era Zaman Perunggu Mycenae, dunia yang secara harfiah dibangkitkan oleh Iliad. Orang-orang Mycenae telah mengenal tulisan, tetapi tampaknya hanya menggunakan tulisan untuk keperluan pembukuan birokrasi di istana negara mereka.

Ketika kerajaan mereka runtuh sekitar tahun 1.200 SM, penggunaan tulisan yang terbatas itu pun hilang. Jadi dari akhir Zaman Mycenae sampai era Homeros, para penyair yang menampilkan dan mengadaptasi epik secara lisan tetap mempertahankan tradisi itu agar tetap hidup, dan membawa kenangan atas dunia Mycenaean ke zaman baru.

 

Kisah Iliad karya Homeros berlatar di tengah-tengah Perang Troya, pada akhir Zaman Perunggu di Yunani. Tidak diketahui apakah Perang Troya pernah benar-benar terjadi. Orang Yunani kuno percaya bahwa Perng Troya berlangsung selama sepuluh tahun. 'Iliadsendiri menceritakan tahun kesepuluh perang, ketika kedua belah pihak sudah benar-benar muak berperang, dan pasukan Yunani sudah amat ingin pulang.

 

Iliaddimulai dengan perseteruan antara pemimpin pasukan Yunani, Raja Agamemnon dari Mykenai, dengan prajurit terhebat Yunani, Akhilles. Pasukan Yunan sempat memenangkan pertempuran dan membagi harta rampasan. Setiap orang memperoleh bagian, dan salah satu jarahan yang diperoleh Akhiles adalah seorang perempuan bernama Briseis untuk menjadi budaknya. Namun karena Briseis sangat cantik, Agamemnon juga menginginkannya. Ia pun merebut wanita itu dari Akhilles. Agamemnon beranggapan bahwa ia berhak melakukannya karena ia adalah pemimpin pasukan.

 

Akibat tindakan tersebut, Akhilles menjadi sangat marah sehingga ia tak mau lagi bertempur untuk pasukan Yunani. Ia hanya berdiam di tendanya. Tanpa bantuan Akhilles, pasukan Yunani pun mulai mengalami kekalahan. Akhirnya, sahabat Akhilles, Patroklos, memperoleh ide. Ia memakai baju zirah Akhilles dan pergi bertempur. Orang-ornag mengira bahwa ia adalah Akhilles. Sayangnya, dalam pertempuran itu Patroklos dibunuh oleh Hektor. Orang-orang pun kemudian menyadari bahwa itu bukanlah Akhilles.

 

Ketika Akhilles mengetahui bahwa Patroklos telah tiada, ia begitu berduka hingga akhirnya ia pun mau bertempur lagi. Pertama-tama, ia harus membalaskan dendanmnya terlebih dahulu. Ia melakukan pertarungan satu lawan satu melawan Hektor dan berhasil menang. Ia membunuh Hektor dan menyeret mayatnya dengan kereta perang hingga perkemahan pasukan Yunani. Ayah Hektor, Priamos, mendatangi perkemahan pasukan Yunani pada malam harinya. Ia meminta Akhilles mengembalikan jenazah putranya. Akhilles mengaulkan permintaan Priamos. Iliadberakhir di sini, namun kisah Perang Troya masih terus berlanjut.


Edisi Teks

Kakawin Bhomantaka juga disebut Kakawin Bhomakawya yaitu sebuah kakawin dalam Bahasa Jawa Kuna. Friederich, seorang ahli Jawa Kuna dari Prusia yang menerbitkan kakawin ini untuk pertama kalinya pada tahun 1852, menyebutnya sebagai kakawin Bhomakawya. Nama ini ada pada bait ketiga pupuh pertama kakawin. Namun pada kolofon-kolofon naskah-naskah nama yang disebutkan yaitu Bhomantaka. Selain itu dalam tradisi Jawa dan Bali, nama yang dikenal yaitu Bhomantaka.

 

Pada tahun 1944-1946 edisi Friederich diterjemahkan dalam Bahasa Belanda yang kemudian dalam penelitian ini disebut naskah F. Tahun 1946 mengecek naskah F, dua naskah tersedia di koleksi naskah oriental Perpustakaan Leiden, yang kemudian disebut naskah A dan B. Di tahun yang sama, terbit dalam edisi Bahasa Belanda oleh Teeuw berdasarkan naskah F. Kemudian tahun 2001 diterbitkan edisi teks dalam Bahasa Inggris dengan tambahan tiga naskah. Sehingga, teks Kakawin Bhomantaka edisi terbaru karya A. Teeuw dan S. O. Robson ini menggunakan enam naskah, yaitu: 

1.     Naskah Edisi Friederich sebagai naskah F

2.     Naskah A (Cod. Or. 5036) berupa lontar 106 lempir: Lombok Collection

3.    Naskah B (Cod. Or. Leiden 3735) berupa lontar 399 lempir: Van der Tuuk Collection

4.    Naskah C (Cod. Or. Leiden 4141) berupa paper manuscript 440 halaman: Van der Tuuk Collection

5.     Naskah D (Cod. Or. Leiden 22718) berupa lontar 161 lempir: Boman Gede

6.     Naskah E (Cod. Or. Leiden 23756) berupa lontar 178 lempir: Bali Timur

Antara naskah yang satu dengan yang lain dalam penelitian ini mempunyai keterkaitan. Naskah F berbeda dengan yang lain, namun peneliti tetap menyebutnya sebagai manuskrip meskipun secara teknik penelitian terdahulu tersebut tidak benar. Sementara itu, terdapat permasalahan tekstual di Canto 21. Naskah ABDF ditemukan ketidakteraturan, keunikan terlihat pada CE secara signifikan berlawanan dengan ABDF. Sulit untuk memutuskan bacaan mana yang lebih disukai. Terutama karena alas an praktis, peneliti memutuskan untuk menerima pembacaan ABCD.

 

Di sisi lain, naskah E sampai Canto 82 mempunyai varian dengan B, selebihnya hanya varian ejaan yang tidak signifikan. Keterkaitan spesial terjadi pada E dan F, dari Canto 83 dan seterusnya ada sejumlah kasus yang secara signifikan lebih tinggi di mana E memiliki varian yang sama dengan F, terhadap empat manuskrip lainnya.

 

Perbedaan ejaan hampir tidak pernah signifikan untuk membangun hubungan antara naskah. Tidak ada kemunculan kesalahan umum yang sering terjadi, sehingga membedakan dua atau lebih manuskrip dari yang lain. Dalam filologi klasik sebagai kriteria utama untuk menentukan hubungan antara naskah dan pada akhirnya membuat sebuah stemma atau silsilah naskah sebagai dasar edisi kritik.

 

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran. Dalam kasus Bhomantaka ini tidak ada bukti bahwa satu manuskrip atau sekelompok manuskrip lebih mendekati keaslian dibanding yang lain. Peneliti menggunakan semua sumber naskah yang tersedia untuk memproduksi naskah baru. 

 

Kakawin ini merupakan yang terpanjang dalam Sastra Jawa Kuna, panjangnya 1492 bait. Menceritakan kisah peperangan antara Prabu Kresna dan sang raksasa Bhoma. Tidak diketahui kapan dan siapa penulisnya. Namun menurut P.J. Zoetmulder (1974) kakawin ini merupakan yang terpanjang yang berasal dari Jawa Timur dan disejajarkan dengan kakawin Arjunawiwaha untuk masa penggubahannya.

Kesusastraan Jawa Baru pasca-pengislaman secara keseluruhan belum terpetakan dengan baik, meskipun telah dilakukan penelitian filologi dan kesusastraan selama setengah abad. Karya T. E. Behrend ini disusun sebagai langkah yang amat kecil ke arah pengertian tentang teks Jawa dengan jalan menelaah prinsip-prinsip organisasi atau struktur dasar yang diikuti dalam sekelompok teks yang saling berhubungan dengan korpus Jatiswara. Subjek langsung penelitian adalah struktur puisi dari segi metrum, pengisahan, leksikologi, dan transformasi sepanjang waktu, serta migrasinya melintasi Pulau Jawa dan pulau-pulau di luarnya.

 

Korpus Jatiswara kurang lebih 55 manuskrip yang mewakili 7 resensi yang berbeda. Semua teks tersebut sekitar 1000 halaman sebagai bahan mentah yang menjadi dasar untuk mempertajam analisis. Jatiswara relative tidak terjamah oleh peneliti Belanda, hubungan pertama orang Eropa dengan Jatiswara ditunjukkan dengan manuskrip koleksi Karl Schoemannyang merupakan guru dari anak-anak Gubernur Jenderal J.J. Rochussen (1845-1951). Koleksi A. B. Cohen Stuartyang dipinjamkan kepada Bataviaasch Genootschap terdapat suatu kopi lontar yang berisi teks Jatiswara. Sarjana lain yang berminat adalah Dr. W. Palmer van den Broek yang menyuruh buat Salinan dari Jatiswara resensi Solo selama menjabat kepala kweekschool.

 

Pada tahun 1892 dengan adanya katalog lengkap yang pertama mengenai manuskrip di Leiden, sebuah deskripsi Jatiswara dipublikasikan oleh A. C. Vreeede. Kemudian tambahan paling penting abad ke-19 adalah koleksi H. N. van der Tuuk. Dilanjutkan Pigeudpada tahun 1993 menerbitkan ikhtisar terkait Centini Jalalen yang terdapat kisah Jatiswara ditempel di bagian akhir. Dan Poerbatjaraka membedakan Jatiswara menjadi 2 resensi.

 

Korpus  Jatiswara

1. Resensi A, sebuah alih tanam syair asli, turunan dekatnya dari lahan Jawa ke lahan Sasak

2. Resensi B, satu manuskrip Leiden yang menunjuk ke versi Jawa Barat

3. Resensi C, tersimpan dalam satu manuskrip, Schoemann II

4. Resensi D, tersimpan dalam bentuk fragmen, 3 manuskrip di Museum Nasional Jakarta

5. Resensi E, terpelihara dalam delapan manuskrip yang mayoritas dalam koleksi Indonesia

6. Resensi F, menyimpang dari semua yang lain, dikarang di lingkungan Kraton Pangeran Adipati Anom Hamangkunagara III, kemudian Pakubuwana V

7. Resensi G, yang termuda, diciptakan di Yogyakarta dalam kurun waktu antara 1820 dan  1847

 

Berdasarkan prinsip-prinsip stema, sejarah teks korpus Centini berjalan parallel dengan sejarah teks korpus Jatiswara, dan berkali-kali keduanya berpotongan dengan saling bertukar materi secara langsung atau saling memberi benih yang membuahkan ragam kesastraan yang amat penting.

 

Beberapa ahli menganggap Suluk Jatiswara bagian dari Centini. Cerita korpus Jatiswara mengisahkan seorang pemuda pengembara yang menjadi nama syair tersebut, yaitu Jatiswara. Dalam perjalanan mencari saudara lelaki, Sajati, yang menghilang secara misterius, Jatiswara menjumpai ulama yang arif dan keramat, pertapa dan sebagai guru kharismatik dalam pesantren. Dengan setiap tokoh, ia terlibat dalam suatu dialog keagamaan. Pada hampir setiap pemberhentian, ia juga menjalin hubungan cinta dengan putri atau keponakan tokoh utama. Drama Jatiswara berlangsung jauh dari keraton raja, melainkan di sebuah desa dan pelabuhan pesisir utara Jawa. Ketika kembali ke daratan setelah bertemu dengan saudaranya yang bertapa di dasar, mereka dituduh sebagai penyebar agama menyimpang. Pada akhirnya, semua yang berniat tidak baik berbalik menjadi  keinginan untuk berguru kepada mereka.

 

Serat Jatiswara dibedakan menjadi 6 jenis adegan, diantaranya:

1.   Adegan lelampahan, mengisahkan pengembaraan Jatiswara dalam hutan belantara

2.   Adegan pitepangan, memasuki desa atau pesantren baru

3.   Adegan tetamuwan, Jatiswara disambut oleh pemuka desa

4.   Adegan rerasan ngelmi, pembicaraan keagamaan

5.   Adegan tilamwangi, pertemuan cinta pada tengah malam dengan putri

6.   Adegan pamitan, Jatiswara melanjutkan perjalanan mencari Sajati

 

Jatiswara adalah karya keagamaan, lebih dari 30% dari teks secara terang-terangan membicarakan teologi dalam arti umum. Diskusi seputar makna Islam dan bedanya dengan kakafiran, tempat Tuhan, nasib ruh setelah mati dan ibadah yang benar. 

 

Serat Jatiswara sebagai suluk. Suluk berarti jalan, kemudian mengalami perluasan makna menjadi kehidupan seorang pertapa. Secara harfiah, kata pertapa berasal dari kata tapas dalam Bahasa Sansekerta yang mempunyai arti, tapa, mati raga, pengendalian indra atau hawa nafsu, yoga. Jadi pertapa dapat diartikan orang yang melakukan tapas.

 

Berdasarkan pengertian bahwa suluk mengandung ajaran-ajaran yang bersifat mistik (Gibb dan Kraemers 1953: 551-552). Ajaran-ajaran semacam itu di dalam Serat Jatiswara, di antaranya terdapat pada pupuh II, 68-69. Diuraikan bahwa setelah melakukan perkenalan, Ki Saimbang mengakui ketidaktahuannya mengenai “makna usaha orang dalam kehidupan: surasaning kalakuhan urip ….. kesudahan akhir keberadaan ini ….. tempat Islam di dalamnya ….. dan awal dan akhirnya”, maka ia memohon penjelasan kepada Jatiswara. Jatiswara menjelaskan dengan rasa yang segan, ia juga menambahkan beberapa pokok, termasuk wahya paesan, perbedaan antara nyawa dan jisim; asal-mula sikap tubuh di dalam sholat (berdiri, rukuh, sujud, dan duduk), sehubungan dengan keempat anasir, empat jenis ikhram, sarengat, hakikat, tarekat dan makrifat-nya sholat dan asal mula anasir alam.  

 

Selepas sholat asar, Saimbang dan sanak saudaranya berkumpul lagi untuk mendengarkan uraian Jatiswara. Ia melewatkan sore itu dengan memberi penjelesan makna berbagai istilah Arab, termasuk iman; takid; makrifat; ngalimun; kadirun; basirun; samiyatun; mutakalimun;dan lain sebagainya.

Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia menggelar seminar nasional naskah dalam kajian antardisiplin pada Era 4.0. Seminar yang dibuat atas beberapa kelompok kecil diskusi dan panel ini berlangsung di FIB UI, Depok, Selasa-Rabu (5-6/11). Kepala Departemen Ilmu Susastra FIB UI Dhita Hapsarani menyampaikan urgensi kajian filologi di era kekinian, terutama dalam kaitannya dengan tren industri 4.0. Padahal, kajian filologi dinilai oleh sebagian orang sudah selesai.

 

"Kita bersyukur kepada tuhan atas kesempatan waktu yang diberikan untuk seminar dua hari ini. Terima kasih kepada Ibu Ikram yang terus bergairah dalam berbagi ilmu. Konon filologi tidak banyak peminatnya, tetapi kita tahu betapa pentingnya ilmu itu," kata Dhita dalam pembukaan seminar di auditorium Gedung I FIB UI. 

 

Ia menambahkan bahwa revolusi industry 4.0 berkaitan erat dengan tren teknologi informasi yang ditandai dengan kemudahan dan kecepatan penyampaian informasi. Hal ini berdaya guna bagi kajian filologi terkait digitalisasi dan kegiatan pernaskahan lainnya. "4.0 tren. Memang naskah terkait masa lalu, tetapi pengelolaan, distribusi, dengan penggunaan teknologi informasi terkini," kata Dhita. 

 

Seminar ini diselenggarakan oleh Laboratorium Filologi Departemen Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia, PPKB FIB UI, dan Masyarakat Naskah Nusantara (Manassa). Kepala Pusat Pengembangan dan Pelindungan Bahasa dan Sastra Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan Gufron Ali Ibrahim juga menyinggung pendayagunaan teknologi digital untuk kegiatan pernaskahan.

 

 "Satu hal saja yang sampaikan, seperti yang telah disinggung Kepala Departemen Susastra FIB UI, yaitu bagaimana pemanfaatan teknologi digital oleh akademisi dalam kegiatan pernaskahan di Indonesia," kata Gufron Ali. Manajer Pendidikan FIB UI Nurni Wahyu Wuryandari yang menyampaikan sambutan atas nama Dekan FIB UI mengatakan bahwa dirinya termasuk salah seorang sarjana yang awal-awal sekali memanfaatkan teknologi digital untuk kegiatan pernaskahan Cina kuna. 

 

"Saya asal dari prodi Cina, meneliti naskah Cina kuna yang memuat informasi Nusantara sejak abad kedua sampai abad Dinasti Ching. Saya bersyukur atas pemanfaatan digital. Justru di sini manfaat filolog yang mengangkat catatan masa lalu," kata Nurni di hadapan peserta seminar yang terdiri atas pelbagai bidang dan disiplin.





Sumber: https://www.nu.or.id/

Bertempat di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Edwin Paul Wieringa beri kuliah umum tentang Iluminasi Naskah Keraton. Pakar Filologi Indonesia dan Studi Islam Universitas Koln ini mempresentasikan hasil temuannya tentang iluminasi. Dalam kajian filologi, ada 2 cabang penelitian yaitu tekstologi yang mengkaji tentang isi teks dan kodikologi yang mengkaji naskah.

"Hiasan pada naskah Melayu lebih sedikit dibanding naskah Jawa atau Bali. Ada dua jenis hiasan dalam naskah, iluminasi dan ilustrasi. Iluminasi, sebagai hiasan pada halaman awal dan/atau akhir naskah, sedangkan ilustrasi, hiasan yang mendukung teks." Jelas Prof. Edwin. Naskah-naskah melayu di Perpustakaan Nasional berisikan gambar-gambar sederhana, sedangkan naskah-naskah di Perpustakaan Leiden, Royal Asiatik Society, SOAS dan British Library, memakai tinta emas dan warna-warnanya lebih memukau.

Keindahan gambar berwarna-warni diselang-seling dengan tinta emas dan perak pada surat-surat ini, yang ditulis pada alas naskah yang bertabur emas, menimbulkan kekaguman pada seni menggambar dan menulis pada zaman lampau. Reproduksi surat-surat indah ini dari masa lampau tergelar di dalam Pemeran Surat-surat Emas pada bulan September 1991 di Jakarta dan Yogyakarta. Memperlihatkan naskah-naskah berupa surat-surat menarik dari raja-raja di Indonesia kepada para pembesar Inggris dan Belanda, juga sebaliknya.

SUBSCRIBE & FOLLOW