Bogor – Bertempat di Astana Bogor (28/10), Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) gelar musyawarah nasional bertajuk Pemantapan Pembinaan Ideologi Pancasila. Acara ini diikuti oleh undangan yang merupakan perwakilan pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) setiap provinsi seluruh Indonesia.

Acara ini dibuka oleh pelaksana tugas Prof. Dr. Hariyono, M. Pd. Beliau menggantikan Yudi Latif Ph. D yang mengundurkan diri sejak Juni. Sebelumnya menjabat sebagai wakil BPIP dan pernah menjabat sebagai Deputi Bidang Advokasi. Acara ini juga dihadiri Dr. Rima Agristina, Sh, SE, MM selaku Deputi Bidang Pengendalian dan Evaluasi. Dalam setiap kesempatan, beliau mengajak agar senantiasa bersyukur, merawat dan mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam mewujudkan hidup yang lebih bermakna, damai, bahagia dan sejahtera.

Rangkaian acara ini diselenggarakan dalam rangka mensinergikan program pendidikan kultural Pancasila sampai akar rumput. Para paskibraka dan alumninya menjadi duta Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa di masyarakat. Tujuannya agar masyarakat Indonesia khususnya generasi muda tidak tertipu dengan ideology-ideologi yang berusaha mengganti Pancasila dan membuat kerusuhan di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salam Pancasila!

BEKRAF bekerja sama dengan Universitas Indonesia mendorong generasi muda untuk meningkatkan kreatifitas di dunia digital. BEKRAF memberikan pelatihan kurang lebih selama tiga bulan kepada para CEO atau founder yang telah bergerak minimal selama 2 tahun. Bentuk usaha rintisan tersebut beraneka macam, baik sosial maupun bisnis. Materi-materi tersebut bisa diunduh di bawah ini.

Opportunity Discovery
http://www.mediafire.com/file/memi8pfkgvdx35e/Bekup2019-Opportunity_Discovery.rar/file

Daily Social Startup Report
http://www.mediafire.com/file/exftwmfeeh60rtp/DailySocial_Startup_Report_2018.rar/file

Survey Apiji 2018
http://www.mediafire.com/file/c0mh4z3kiim9u0f/survey_apjii_2018.rar/file

Deck e-Conomy SEA 2018
http://www.mediafire.com/file/qj5l9akjnu6y9xs/Deck_e-Conomy_SEA_2018_by_Google_Temasek_JtMlO3o.rar/file

Good Founders
http://www.mediafire.com/file/msbvgwxjgxdlje0/Bekup2019-GoodFounders%2526team.rar/file

Value Prop Canvas Diagram
http://www.mediafire.com/file/k0zc5pmzjy9wvgg/Value_Prop_Canvas_Diagram_ACH_handout.rar/file

Concierge Experiment
http://www.mediafire.com/file/56czh274cgaxq89/D2.4_-_Concierge_Experiment.rar/file

e-Conomy SEA 2019
http://www.mediafire.com/file/6owwksj43jhy8vb/e-Conomy_SEA_2019_report.rar/file

Bisnis Founder Preparation
http://www.mediafire.com/file/rs1cuquosx58t2z/BEKUP_-_Bisnis_-_Founder_Preparation_1_-_Key_Metrics.rar/file

Explorative Interview
http://www.mediafire.com/file/lelrclm4z4t3kv2/Bootcamp_1_Hari_1_-_Explorative_Interview.rar/file

Pitch Experiment
http://www.mediafire.com/file/facin5tef4la8bt/Bekup2019-Pitch_Experiment.rar/file

Startuo Presentation 6
http://www.mediafire.com/file/z3p8cdkb8ldt4yg/Startup_-_Presentasi-6-team.rar/file

Business Model Empty
http://www.mediafire.com/file/h51wk0mr60a8m7b/the-business-model_empty.rar/file

Kantor Pengelolaan Produk Riset dan Inovasi Universitas Indonesia menyelenggarakan workshop bersama ENAGO. Sebagai upaya meningkatkan kualitas dan kuantitas publikasi mahasiswa. Berikut materi-materi workshop tersebut:

Enago Increase Your University's Research Output(W)
http://www.mediafire.com/file/7rry738nm1bxffj/Enago_Increase_Your_University%2527s_Research_Output%2528W%2529.rar/file

Challenges In Academic Writing_UI
http://www.mediafire.com/file/iahnsf5u0o8ov72/Challanges_In_Academic_Writing_UI.rar/file

Methods in Humanities_V3_UI
http://www.mediafire.com/file/yf6d8bxr8x8ig9d/Methods_in_Humanities_V3_UI.rar/file

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Saudara-saudara santri di seluruh tanah air yang saya banggakan. Dalam suasana memperingati Hari Santri tanggal 22 Oktober 2019, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, semoga rahmat, berkat, dan perlindungan-Nya senantiasa menyertai kita semua.

Saudara-saudara sekalian,
Presiden Joko Widodo melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri. Penetapan tanggal 22 Oktober merujuk pada tercetusnya "Resolusi Jihad" yang berisi fatwa kewajiban berjihad demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Resolusi jihad ini kemudian melahirkan peristiwa heroik tanggal 10 Nopember 1945 yang kita diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sejak Hari Santri ditetapkan pada tahun 2015, kita selalu menyelenggarakan peringatan setiap tahunnya dengan tema yang berbeda. Secara berurutan pada tahun 2016 mengusung tema "Dari Pesantren untuk Indonesia", tahun 2017 "Wajah Pesantren Wajah Indonesia", dan tahun 2018 "Bersama Santri Damailah Negeri".

Meneruskan tema tahun 2018, peringatan Hari Santri 2019 mengusung tema "Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia". Isu perdamaian diangkat berdasar fakta bahwa sejatinya pesantren adalah laboratorium perdamaian. Sebagai laboratorium perdamaian, pesantren merupakan tempat menyemai ajaran Islam rahmatanlilalamin, Islam ramah dan moderat dalam beragama. Sikap moderat dalam beragama sangat penting bagi masyarakat yang plural dan multikultural. Dengan cara seperti inilah keragaman dapat disikapi dengan bijak serta toleransi dan keadilan dapat terwujud. Semangat ajaran inilah yang dapat menginspirasi santri untuk berkontribusi merawat perdamaian dunia.

Saudara-saudara yang berbahagia
Setidaknya ada sembilan alasan dan dasar mengapa pesantren layak disebut sebagai laboratorium perdamaian. Pertama, kesadaran harmoni beragama dan berbangsa. Perlawanan kultural di masa penjajahan, perebutan kemerdekaan, pembentukan dasar negara, tercetusnya Resolusi Jihad 1945, hingga melawan pemberontakan PK! misalnya, tidak Jepas dari peran kalangan pesantren. Sampai hari ini pun komitmen santri sebagai generasi pecinta tanah air tidak kunjung pudar. Sebab, mereka masih berpegang teguh pada kaidah hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Kedua, metode mengaji dan mengkaji. Selain mendapatkan bimbingan, teladan dan transfer ilmu langsung dari kiai, di pesantren diterapkan juga keterbukaan kajian yang bersumber dari berbagai kitab, bahkan sampai kajian lintas mazhab. Tatkala muncul masalah hukum, para santri menggunakan metode bahsulmasail untuk mencari kekuatan hukum dengan cara meneliti dan mendiskusikan secara ilmiah sebelum menjadi keputusan hukum. Melalui ini para santri dididik untuk belajar menerima perbedaan, namun tetap bersandar pada sumber hukum yang otentik.

Ketiga, para santri biasa diajarkan untuk khidmah (pengabdian). Ini merupakan ruh dan prinsip loyalitas santri yang dibingkai dalam paradigma etika agama dan realitas kebutuhan sosial.

Keempat, pendidikan kemandirian, kerja sama dan saling membantu di kalangan santri. Lantaran jauh dari keluarga, santri terbiasa hidup mandiri, memupuk solidaritas dan gotong-royong sesama para pejuang ilmu.

Kelima, gerakan komunitas seperti kesenian dan sastra tumbuh subur di pesantren. Seni dan sastra sangat berpengaruh pada perilaku seseorang, sebab dapat mengekspresikan perilaku yang mengedepankan pesan-pesan keindahan, harmoni dan kedamaian.

Saudara-saudara sekalian,
Adapun alasan yang keenam adalah Lahirnya beragam kelompok diskusi dalam skala kecil maupun besar untuk membahas hal-hal remeh sampai yang serius. Dialog kelompok membentuk santri berkarakter terbuka terhadap hal-hal berbeda dan baru.

Ketujuh, merawat khazanah kearifan lokal. Relasi agama dan tradisi begitu kental dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Pesantren menjadi ruang yang kondusif untuk menjaga lokalitas di tengah arus zaman yang semakin pragmatis dan materialistis.

Kedelapan, prinsip Maslahat (kepentingan umum) merupakan pegangan yang sudah tidak bisa ditawar lagi oleh kalangan pesantren. Tidak ada ceritanya orang-orang pesantren meresahkan dan menyesatkan masyarakat. Justru kalangan yang membina masyarakat kebanyakan adalah jebolan pesantren, baik itu soal moral maupun intelektual.

Kesembilan, penanaman spiritual. Tidak hanya soal hukum Islam (fikih) yang didalami, banyak pesantren juga melatih para santrinya untuk tazkiyatunnafs, yaitu proses pembersihan hati. Ini biasanya dilakukan melalui amalan zikir dan puasa, sehingga akan melahirkan fiki.ran dan tindakan yang bersih dan benar. Makanya santri jauh dari pemberitaan tentang intoleransi, pemberontakan, apalagi terorisme.
Saudara-saudara yang berbahagia

Di samping alasan pesantren sebagai laboratorium perdamaian, keterpilihan Indonesia sebagai Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBS) sejak 2 Januari 2019 hingga 31 Desember 2020, dimana bargaining position Indonesia dalam menginisiasi dan mendorong proses perdamaian dunia semakin kuat dan nyata, menjadi momentum bagi seluruh elemen bangsa, terutama kalangan santri Indonesia agar turut berperan aktif dan terdepan mengemban misi dan menyampaikan pesan-pesan perdamaian di dunia internasional.

Saudara-saudara sekalian
Akhirnya kita juga patut bersyukur karena dalam peringatan Hari Santri Tahun 2019 ini terasa istimewa dengan hadirnya Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren. Dengan Undang-Undang tentang Pesantren ini memastikan bahwa pesantren tidak hanya mengembangkan fungsi pendidikan, tetapi juga mengembangkan fungsi dakwah dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Dengan Undang-Undang ini negara hadir untuk memberikan rekognisi, afirmasi, dan fasilitasi kepada pesantren dengan tetap menjaga kekhasan dan kemandiriannya. Dengan Undang-Undang ini pula tamatan pesantren memiliki hak yang sama dengan tamatan lembaga lainnya.

Dalam kesempatan yang berbahagia ini, saya ucapkan "Selamat Hari Santri 2019, Santri Indonesia untuk Perdamaian Dunia".

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bogor - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat melakukan penelitian folklor keagamaan yang ada di Nusantara, baik yang bersumber dari ajaran Islam dan ajaran agama lainnya.

Menurut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia Muhammad Zain, tema besar yang digali dari folklor-folklor tersebut adalah tentang moderasi atau harmoni dalam kehidupan beragama atau suku bangsa.

“Penelitian folklor yang dikumpulkan sudah banyak banget, jumlahnya ribuan,” ungkap Muhammad Zain di sela Seminar Hasil Penelitian Folklor Keagamaan Nusantara di Hotel Swiss Bell, Kota Bogor, Jawa Barat, Senin dan Selasa (14-15/10). Menurut Zain, folklor memiliki fungsi dalam melanjutkan tradisi intelektual dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tak hanya itu, folklor juga menunjukan kecerdasan otentik dalam sebuah bangsa.

“Dari ragam folklor, Indonesia kaya dengan budaya, kedua, kaya dengan imajinasi, dan mengandung pesan-pesan luhur. Foklor ini juga menunjukkkan kepada dunia bahwa orang Indonesia punya peradaban tinggi seperti Arab, India, China,” jelasnya.  Namun, kata Zain, saat ini folklor-folklor tersebut masih dalam bentuk arsip penelitian sehingga belum termanfaatkan dengan baik oleh masyarakat. Karena itu, pihaknya berencana mempublikasikannya dalam bentuk yang mudah diterima, terutama oleh generasi muda. 

Caranya kata dia, akan mengundang ahli bahasa, untuk memberikan saran penyajiannya agar tidak sia-sia.  “Saya minta dari sekian ribu folklor itu diseleksi sekitar 40 folklor yang kira-kira intinya inti, dipilih, disajikan dalam bentuk karikatur atau komik, dan kalau bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan bahasa Arab,” katanya.
Dalam seminar tersebut Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Republik Indonesia menyajikan hasil penelitian folklor di beberapa daerah yaitu Cirebon, Kuningan, dan Ciamis (Jawa Barat), Pati, Pekalongan (Jawa tengah), Yogyakarta, Aceh, Banyuwangi (Jawa Timur), Ambon (Maluku), Jambi, dan Bengkulu.

Seminar yang dibuka Kepala Lektur Khazanah Keagamaan, dan Manajemen Organisasi Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI Muhammad Zaid tersebut, dimulai dengan pemaparan penelitian Asep Saefullah di Cerebon, Kuningan, dan Ciamis. “Foklor adalah kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun secara lisan atau melalui contoh yang disertai gerak isyarat atau pembantu pengingat,” katanya.

“Foklor lisan adalah foklor yang berbentuk murni yang bentuknya terdiri atas, satu, bahasa rakyat, dua, ungkapan tradisional, tiga, pertanyaan tradisional, empat, sajak dan puisi rakyat, lima, cerita prosa rakyat, dan nyanyian rakyat,” jelas Asep menyampaikan definisi dari James Danandjaya dalam buku Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan lain-lain.

Menurut Asep foklor, di antaranya cerita rakyat dapat menjadi salah satu media menyampaikan pesan-pesan religius dan moral dari generasi tua kepada generasi muda. Di daerah Panjalu, Ciamis, misalnya, Asep menemukan cerita tentang Prabu Borosngora. Ia masuk Islam pada tahun 1537 di Makkah setelah ketemu Sayidina Ali. Pada pertemuan itu, Prabu Borosngoora diberi oleh-oleh sebuah pedang sakti, air Zamzam, dan jubah. “Air Zamzam yang dibawa dari Makkah itu kemudian sekarang menjadi Situ Lengkong yang hingga saat ini jadi cagar alam seluas 15 hektar,” katanya.

Foklor tersebut, menurut Asep, memiliki banyak makna, di antaranya adalah misi dari leluhur masyarakat Sunda di daerah Panjalu agar anak cucunya menjaga lingkungan hidup, salah satunya hutan yang menjadi cagar alam sekarang itu. Selain foklor yang bernuansa Islam, seminar tersebut menyajikan foklor dari agama-agama lain seperti katolik di Ambon. “Ambon kaya cerita rakyat, bahkan lebih kuat budaya lisannya daripada tradisi tulisnya. Namun, cerita rakyat Maluku sangat memprihatinkan, sudah banyak hilang,” ungkap Masmedia Pinem yang meneliti foklor Maluku, di antaranya Foklor Rasul Joseph Kam.
Sumber: www.nu.or.id

SUBSCRIBE & FOLLOW