Makanan Sebagai Kode Simbolik


Makanan bisa menjadi kode budaya suatu masyarakat tertentu. Sahlins menjelaskan bahwa sumber makanan bisa menunjukkan status sosial. Pada budaya masyarakat Amerika, bisa dilihat dari sumber makanan dan perlakuan kepada hewan. Orang Amerika lebih tertarik makan daging sapi atau babi, dari pada makan daging anjing atau kuda. Ini berkaitan dengan perlakuan orang Amerika terhadap hewan-hewan tersebut.

Beda halnya dengan masyarakat Nusantara. Tempo dulu, jenis profesi atau mata pencaharian menunjukkan hirarki golongan masyarakat tertentu, sementara sekarang perbedaan tersebut ada pada brand atau tempat makanan tersebut disediakan. Hal ini menarik untuk dilihat lebih mendalam alasan mengapa hal tersebut bisa terjadi.

Setiap budaya memiliki nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Banyak faktor yang mendasari adanya perbedaan-perbedaan tersebut antar-kebudayaan di seluruh dunia. Masyarakat Amerika tidak memakan anjing dan kuda, melainkan lebih memilih sapi atau babi. Bagi masyarakat Amerika, anjing sangat membantu dalam berbagai hal. Bahkan tidak jarang anjing menjadi kawan majikannya, tinggal, bermain dan tidur dalam satu tempat.

Sementara kuda, tidak jauh berbeda dengan anjing. Kuda sebagai hewan yang ditunggangi, dirawat dan diberikan kasih. Hal tersebut menciptakan stratifikasi sosial hewan dalam masyarakat Amerika. Anjing dan kuda seakan-akan lebih terhormat dari pada hewan lain di Amerika, sebab masyarakat Amerika memberikan hal khusus kepada anjing dan kuda. Hal tersebut membuat masyarakat Amerika menganggap tabu makan makanan yang bersumber dari hewan yang dikasihinya.

Di Nusantara, tercipta stratifikasi sosial yang tidak jauh berbeda. Pada zaman dahulu perbedaan status sosial dilihat dari bagaimana cara seseorang mencari makan, mata pencaharian atau profesi. Seorang pertapa yang fokus pada agama dan mengesampingkan dunia dianggap sebagai status sosial tertinggi. Di bawahnya ada para ksatria yang hidupnya mengabdi untuk negara, kekayaannya dibatasi namun hidupnya dijamin oleh negara. Di bawahnya lagi ada pedagang, yang mengambl untung dengan barang atau jasanya. Kemudian, ada masyarakat yang mata pencahariannya mengambil manfaat dari hasil bumi. Selanjutnya, ada masyarakat yang mata pencahariannya dengan berburu atau membunuh hewan. Dan yang paling bawah adalah masyarakat yang hidup sebagai orang asing di suatu wilayah.

Stratifikasi masyarakat Nusantara tersebut sudah tidak berlaku di zaman sekarang. Menyisakan perbedaan bahwa orang yang mengabdikan diri kepada negara dianggap lebih tinggi statusnya. Selain itu yang sangat mencolok adalah budaya konsumerisme dan inferior. Mayoritas masyarakat Nusantara zaman sekarang menganggap sesuatu yang datang dari luar lebih baik dari pada pribumi. Barang yang sama dijual di tempat yang berbeda dengan harga jauh lebih mahal menciptakan stratifikasi sosial dalam masyarakat. Contohnya, secangkir kopi yang dijual di kaki lima dianggap lebih rendah dari pada secangkir kopi yang sama dengan harga jauh lebih mahal di sebuah café.

Dari hal tersebut dapat disimpulkan bahwa makanan menjadi identitas atau penanda budaya karena lingkungan, kebiasaan, dogma, politik dan hal-hal lain yang membuat masyarakat di suatu daerah dengan budaya tertentu akan berbeda dengan masyarakat di daerah lain dengan budaya yang berbeda.

No comments:

Post a Comment