Genealogi Pesantren dalam Manuskrip Tantu Panggelaran


Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam di Indonesia. Beragam peristiwa dan beribu kisah membersamai perjalanannya di Nusantara. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga yang mandiri, lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat, serta indigenous culture yang berakar dari kearifan lokal. Memadukan sumber ajaran Ilahi menjadi peragaan individual yang disemaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keberadaannya yang unik di tengah masyarakat menjadi nomenklatur yang terus dibicarakan. Pesantren dalam percaturan pendidikan dunia dibahas dalam pertemuan Paris dan Heinrich Boll Stiftung di Berlin. Berlanjut dalam pertemuan di Universitas Brunei Darussalam yang membicarakan peran sosial pesantren ketika terjadi bencana alam dan sosial. Kemudian Seoul dan Tokyo membicarakan hal yang sama terkait hak atas pendidikan dan hak asasi manusia (Abd. A’la 2007: 7).

Pesantren semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia ketika mendapatkan pengakuan negara melalui UU 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa,
Pendidikan pesantren adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan pesantren dengan berbasis kitab kuning, dirasah Islamiyah dengan pola pendidikan muallimin, atau dirasah Islamiyah yang terintegrasi dengan sekolah/madrasah.
Undang-Undang ini meneguhkan kekhasan pesantren yang sejak lama telah mendasarkan diri pada tiga ranah utama dalam membentuk pribadi ke arah yang lebih baik, yaitu: faqahah (kecukupan atau kedalaman pemahaman agama), thabiah (perangai, watak atau karakter)dankafaah (kecakapan operasional).

Kekhasan pesantren menjadi sub kultur yang melahirkan budaya tersendiri (Asmuki 2009: 10). Budaya tersebut terangkum dalam semboyan pesantren yang dituntut adaptif dalam merespon perkembangan zaman, dengan tanpa kehilangan jati diri dalam melestarikan kearifan lokal. Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Ini yang membedakan pesantren dengan institusi pendidikan lain di seluruh dunia. Meskipun institusi pendidikan Islam ada di berbagai tempat, namun pola pendidikan pesantren dengan ciri khasnya bisa dikatakan hanya ada di Indonesia.

Melacak akar sejarah bagaimana kekhasan pesantren terbentuk penting dilakukan. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, kekhasan pesantren yang terbentuk tidaklah berdiri sendiri. Konteks budaya Nusantara turut mempengaruhi terbentuknya model pendidikan pesantren. Kedua, terdapat banyak jenis pesantren atau institusi pendidikan agama yang menggunakan nomenklatur pesantren. Hal ini perlu dicermati karena pesantren bukan sekedar institusi pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai keIslaman, melainkan juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam menjaga, merawat dan mencintai tanah air. Tidak hanya ahli dalam ilmu agama Islam, tetapi juga melahirkan sosok yang mempunyai jiwa nasionalisme. 

Dari latar belakang dan tujuan tersebut, artikel ini menjelaskan genealogi pesantren dalam manuskrip Tantu Panggelaran, baik secara mikro maupun makro. Bahwa genealogi pesantren berakar dari adat budaya Nusantara yang tertulis di berbagai manuskrip yang secara tidak langsung mempengaruhi corak atau pola pendidikan pesantren. Manuskrip yang menceritakan tentang pola pendidikan tersebut salah satunya dalam manuskrip Tantu Panggelaran. 

Tantu Panggelaran menceritakan tentang makrokosmus dan mikrokosmos. Hubungan antara alam dan manusia yang saling melengkapi, menjaga keseimbangan jalannya kehidupan. Tantu Panggelaran merupakan manuskrip Jawa tertua yang menceritakan mitologi Jawa, tentang proses penciptaan dunia, terbentuknya gunung, desa, negara, pertapaan, mandala sebagai proses menyeimbangkan Pulau Jawa. Hingga proses terbentuknya kesempurnaan hidup manusia yang secara tidak langsung merupakan kesempurnaan dunia Jawa.

Naskah ini telah disunting oleh Pigeud untuk pertama kalinya pada tahun 1924 di Leiden. Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan naskah ini dilakukan oleh Turita Indah Setyani (2011) berjudul “Meniti Sinkretisme Teks Tantu Panggelaran”. Sementara itu Ahmad Baso (2018) menulis “Sejarah Lahirnya Pesantren Berdasarkan Naskah Babad Cirebon Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia”. Penelitian yang berkaitan dengan pesantren juga dilakukan Mustopa (2019) tentang “Genealogi Multikulturalisme Pesantren dan Dinamikanya”.

Penelitian ini akan membahas tentang genealogi pesantren dalam manuskrip Tantu Panggelaran. Genealogi dikembangkan oleh Michel Foucault untuk menganalisis sejarah pembentukan pengetahuan yang dalam hal ini adalah pesantren. Harapannya, pembaca semakin memahami bagaimana pola pesantren terbentuk yang tercatat dalam manuskrip Tantu Panggelaran. Tujuannya agar pembaca mampu membedakan pesantren secara konseptual dengan lembaga pendidikan Islam yang mengatasnamakan pesantren, namun tidak membentuk nilai-nilai kepesantrenan yang sesungguhnya. Unduh

Post a Comment

0 Comments