Surabaya – Lembaga Khusus Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur mengadakan Halal bi Halal virtual pada Sabtu, 30 Mei 2020 pukul 14.00 WIB. Halal bi Halal ini diikuti oleh segenap pengurus dan jajaran dewan peneliti yang tersebar di daerah masing-masing.

Halal Bi Halal dipandu oleh Ning Kholida Ulfi Mubaroka, narasumber Kiswah Female TV9. Acara dibuka dengan membaca ummul Quran dan sambutan oleh KH. Ma'ruf Khozin selaku Ketua Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur. Kemudia istighotsah dipimpin oleh KH. Dr. Afifuddin Dimyathi, Lc, MA. Dan doa dipimpin oleh KH. Faris Khoirul Anam, Lc, MA.

Ramah tamah diisi dengan pengarahan oleh para ketua. Suasana pandemi diharapkan segenap pengurus tetep produktif dan berkhidmah kepada umat. Gerakan-gerakan yang telah dilakukan semoga dilakukan secara sistematis dan terstruktur, serta dilakukan secara istiqomah.

الاستماع إحدى المهارة من المهارات التي لابد أن يملكها الطلاب في تعليم اللغة العربية، ونعرف أن مهارة الاستماع أهم مهارة في تعليم اللعة لأن الاستماع أول عنصر في التعليم اللغة. حقيقة اللغة هي الة الكلام. فعالية الكلام تأثر بالصوت المقبول. وبعض وسيلة التعلمية في تعليم الاستماع والكلام هي مكروميديا فلاش. هذه الوسيلة هي برنامج لتعلم اللغات على جهاز الكمبيوتر باستخدام أسطوانة التفاعلية(CD Interaktif). هذه الطريقة تسهل المستخدم في تعليمه لأنها تكمل بالأصوات والفيديو و الصور.والمنهج التعليمي في برنامج أسطوانة التفاعلية يستخدم والصور والأصوات والتعرف على الاستماع والكلام.وهذه الوسيلة ليست مجردة لتعلم الاستماع والكلام فقط بل لتعلم المهارات الأخرى في تعليم اللغة. وفي بحثه يريد الباحث أن يعرف فعالية استخدام أسطوانة التفاعلية في ترقية مهارة الاستماع والكلام لطلاب الفصل العاشر بالمدرسة الثانوية الحكومية الإسلامية لامنجان. وطريقة البحث التي استخدم الباحث هي الطريقة و الكمية بالقضايا البحث: 1). كيف كفائة الطلاب في مهارة الاستماع والكلام في الفصل العاشر بالمدرسة الثانوية الحكومية الإسلامية لامنجان، 2) كيف تطبيق استخدام أسطوانة التفاعلية لترقية مهارة الاستماع والكلام ، 3).كيف فعالية استخدام أسطوانة التفاعلية لترقية مهارة الاستماع والكلام . وأما بنود البحث في هذا البحث منها: 1). الملاحظة، 2). المقابلة، 3). الوثائق، 4). الاستبيان، 5). الاختبار. تدل نتائج البحث على أن استخدام أسطوانة التفاعلية فعال بالنظر إلى التحليل الذي قام به الباحث باستخدام الرمزTtestويستنتج أن نتيجة (3,225)T Hitungأكبر من (2,021)T Tabelوهذا يدل على مردود الفرضية السلبية. وأما نتيجة-2( .Sig )Tailed0,003 وهو أصغر من 0،005 ومستوى الدلالة 0،003 أصغر من 0،005 والتفسير منه أن الفرضية السلبية مردودة والفرضية الإيجابية مقبولة.
لذلك استخدام أسطوانة التفاعلية له علاقة قوية وبسيطة في ترقية مهارة الاستماع والكلام .

Pesantren merupakan salah satu institusi pendidikan Islam di Indonesia. Beragam peristiwa dan beribu kisah membersamai perjalanannya di Nusantara. Pesantren sebagai lembaga tafaqquh fiddin, lembaga yang mandiri, lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat, serta indigenous culture yang berakar dari kearifan lokal. Memadukan sumber ajaran Ilahi menjadi peragaan individual yang disemaikan dalam kehidupan bermasyarakat.

Keberadaannya yang unik di tengah masyarakat menjadi nomenklatur yang terus dibicarakan. Pesantren dalam percaturan pendidikan dunia dibahas dalam pertemuan Paris dan Heinrich Boll Stiftung di Berlin. Berlanjut dalam pertemuan di Universitas Brunei Darussalam yang membicarakan peran sosial pesantren ketika terjadi bencana alam dan sosial. Kemudian Seoul dan Tokyo membicarakan hal yang sama terkait hak atas pendidikan dan hak asasi manusia (Abd. A’la 2007: 7).

Pesantren semakin mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia ketika mendapatkan pengakuan negara melalui UU 18 Tahun 2019 tentang Pesantren dan Pendidikan Keagamaan. Undang-Undang tersebut menyebutkan bahwa,
Pendidikan pesantren adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh dan berada di lingkungan pesantren dengan mengembangkan kurikulum sesuai dengan kekhasan pesantren dengan berbasis kitab kuning, dirasah Islamiyah dengan pola pendidikan muallimin, atau dirasah Islamiyah yang terintegrasi dengan sekolah/madrasah.
Undang-Undang ini meneguhkan kekhasan pesantren yang sejak lama telah mendasarkan diri pada tiga ranah utama dalam membentuk pribadi ke arah yang lebih baik, yaitu: faqahah (kecukupan atau kedalaman pemahaman agama), thabiah (perangai, watak atau karakter)dankafaah (kecakapan operasional).

Kekhasan pesantren menjadi sub kultur yang melahirkan budaya tersendiri (Asmuki 2009: 10). Budaya tersebut terangkum dalam semboyan pesantren yang dituntut adaptif dalam merespon perkembangan zaman, dengan tanpa kehilangan jati diri dalam melestarikan kearifan lokal. Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik. Ini yang membedakan pesantren dengan institusi pendidikan lain di seluruh dunia. Meskipun institusi pendidikan Islam ada di berbagai tempat, namun pola pendidikan pesantren dengan ciri khasnya bisa dikatakan hanya ada di Indonesia.

Melacak akar sejarah bagaimana kekhasan pesantren terbentuk penting dilakukan. Setidaknya ada dua alasan. Pertama, kekhasan pesantren yang terbentuk tidaklah berdiri sendiri. Konteks budaya Nusantara turut mempengaruhi terbentuknya model pendidikan pesantren. Kedua, terdapat banyak jenis pesantren atau institusi pendidikan agama yang menggunakan nomenklatur pesantren. Hal ini perlu dicermati karena pesantren bukan sekedar institusi pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai keIslaman, melainkan juga menanamkan nilai-nilai kebangsaan dalam menjaga, merawat dan mencintai tanah air. Tidak hanya ahli dalam ilmu agama Islam, tetapi juga melahirkan sosok yang mempunyai jiwa nasionalisme. 

Dari latar belakang dan tujuan tersebut, artikel ini menjelaskan genealogi pesantren dalam manuskrip Tantu Panggelaran, baik secara mikro maupun makro. Bahwa genealogi pesantren berakar dari adat budaya Nusantara yang tertulis di berbagai manuskrip yang secara tidak langsung mempengaruhi corak atau pola pendidikan pesantren. Manuskrip yang menceritakan tentang pola pendidikan tersebut salah satunya dalam manuskrip Tantu Panggelaran. 

Tantu Panggelaran menceritakan tentang makrokosmus dan mikrokosmos. Hubungan antara alam dan manusia yang saling melengkapi, menjaga keseimbangan jalannya kehidupan. Tantu Panggelaran merupakan manuskrip Jawa tertua yang menceritakan mitologi Jawa, tentang proses penciptaan dunia, terbentuknya gunung, desa, negara, pertapaan, mandala sebagai proses menyeimbangkan Pulau Jawa. Hingga proses terbentuknya kesempurnaan hidup manusia yang secara tidak langsung merupakan kesempurnaan dunia Jawa.

Naskah ini telah disunting oleh Pigeud untuk pertama kalinya pada tahun 1924 di Leiden. Penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan naskah ini dilakukan oleh Turita Indah Setyani (2011) berjudul “Meniti Sinkretisme Teks Tantu Panggelaran”. Sementara itu Ahmad Baso (2018) menulis “Sejarah Lahirnya Pesantren Berdasarkan Naskah Babad Cirebon Koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia”. Penelitian yang berkaitan dengan pesantren juga dilakukan Mustopa (2019) tentang “Genealogi Multikulturalisme Pesantren dan Dinamikanya”.

Penelitian ini akan membahas tentang genealogi pesantren dalam manuskrip Tantu Panggelaran. Genealogi dikembangkan oleh Michel Foucault untuk menganalisis sejarah pembentukan pengetahuan yang dalam hal ini adalah pesantren. Harapannya, pembaca semakin memahami bagaimana pola pesantren terbentuk yang tercatat dalam manuskrip Tantu Panggelaran. Tujuannya agar pembaca mampu membedakan pesantren secara konseptual dengan lembaga pendidikan Islam yang mengatasnamakan pesantren, namun tidak membentuk nilai-nilai kepesantrenan yang sesungguhnya. Unduh

SUBSCRIBE & FOLLOW