Diponegoro’s Childhood and Upbringing Some Preliminary Reflections


1.      A deep appreciation of nature
2.   An understanding and experience of different environments and social milieu (village, court, trade/commerce, religious schools, ets)
3.    An ability to communicate and mix with ease with people from all walks of life particularly farmers
4.      Training in careful administration and scrupulousness with money/pesantren education
5.     A deep root of faith/awareness of the many levels of existence/spiritual testing (asceticism)
6.      A sense of ease and openness of heart (keikhlasan)

Demikian poin-poin yang disampaikan Profesor Peter Carey tentang Diponegoro. Perkenalannya dengan Diponegoro berawal dari sebuah lukisan yang tak jelas identitasnya di Oxford. Perjalanan panjang keingintahuannya mengantarkannya dalam sebuah perjalanan panjang ke tanah Jawa sampai sekarang. Menurutya, pendidikan sekelas Oxford atau Harvard sekalipun, tidak akan lengkap sebelum seseorang menjalankan laku spiritual Jawa sesuai dengan agamanya masing-masing. Diponegoro menjadi lakon hidup yang cukup menarik, peperangan ideologi pertama menjadi fokus penelitiannya. Diponegoro, musyid Thariqah Syattariyah dengan identitas sawo keciknya. Orang besar tidak besar begitu saja, melainkan berasal dari wong cilik. Semua orang bisa menjadi besar ketika sudah mampu menjawab 3 pertanyaan, siapa saya, dari mana dan mau kemana.

No comments:

Post a Comment