Reviewing Film ‘Les Petits Mouchoirs’ bersama Institut Francais Indonesia Cinema


Every year, Max, a successful restaurant owner, and Vero, his eco-friendly wife invite a merry group of friends to their beautiful beach house to celebrate Antoine’s birthday and kick-start the vacation. But, this year, before they all leave Paris, their buddy Ludo is hurt in a serious accident, which sets off a dramatic chain of reactions and emotional responses. The eagerly anticipated vacation leads each of the protagonist to raise the little veils that for years they have draped over what bothers and upsets them. Pretenses become increasingly hard to keep up. Until the moment when the truth finally catches up with them all. So much for the drama, it’s a mind-blowing story of friendship torn between sincerity and lies. This tattered acquaintance is regrettably fixed up by the tragic loss of their very best friend.


Nonton bareng film tentang persahabatan bersama Institut Francais Indonesia Cinema berlangsung meriah (18/8). Sebuah film yang menceritakan persahabatan sekelompok orang di Perancis. Menggambarkan kebiasaan, pergaulan dan budaya warga Perancis yang ‘bebas’. Guillaume Canet sebagai penulis scenario dan Ne Le Dis A Personne sebagai sutradaranya.


Film berlangsung lebih dari dua jam, berbahasa Perancis dengan subtitle bahasa Inggris. Cerita berawal dari Ludo (Jean Dujardin) yang berpesta sampai pagi di suatu club. Angle kamera tak lepas mengikutinya sampai ia keluar menaiki skuternya dan tiba-tiba ia terlibat kecelakaan. Para sahabatnya rame-rame menjenguknya dan baru diketahui bahwa mereka berencana berlibur bersama. Mereka merundingkan apakah rencana liburan harus diteruskan atau tidak. Dari sinilah personalitisatu per satu sahabat Ludo dibeberkan.

Mereka memutuskan untuk tetap melanjutkan rencana liburan. Sesampainya di sana, timbul masalah-masalah baru. Max menjadi gampang marah. Lea tak jadi bergabung dalam liburan dan memutuskan hubungan dengan Eric, yang mencoba menutuo-nutupi absennya Lea. Antoine tetap tidak berhenti membicarakan tentang Juliette. Sedangkan Marie mengiyakan seorang temannya, Franck, untuk menemuinya dalam liburan.

Adegan yang disuguhkan dalam film ini mengalir natural. Letak kekuatan yang perlu diacungi jempol adalah jalinan cerita yang simple dan tidak artifisial, sehingga membuat kita bisa merefleksikan diri jika hal ini terjadi pada diri kita. Walaupun dengan begitu banyak karakter, tempo tidak terlalu dibuat buru-buru untuk mengenalkan masing-masing karakter.

No comments:

Post a Comment