Rumeksa ing Wengi (Sunan Kalijaga)



When you feel alone in the rigors of the world. Feeling hopeless and difficulties. You are not alone. Life is not what we want. Not in accordance with the dream we expect. Face with a calm heart and keep moving. Rest assured God is with us.

Ana kidung rumeksa ing wengi
Ada nyanyian mengalun tulus di malam hari

Teguh ayu luputa ing lara
Anak-anakku terhindarlah dari sakit

Luputa bilahi kabeh
Terhindarlah, pasrahkanlah pada Tuhan semua

Jin setan datan purun
Jin pengganggu (bahkan) sungkan untuk datang

Paneluhan tan ana wani
Ilmu hitam tidak ada yang berani

Niwah panggawe ala
Begitu juga arwah yang ingin berbuat jahat

Gunaning wong luput
Kiriman guna-guna dari orang khilaf

Kaya geni atemahan tirta
Seperti api bertemu air

Maling adoh tan ana ngarah ing mami
Pencuri menjauh taka da yang akan mendekat

Guna duduk pan sirna
Harus tunduk dan hilang

Sakehing lara pan samya bali
Semua sakit pasti sembuh

Sakeh ngama pan sami mirunda
Sebanyak-banyak penyakit setelah tanggal lima pergi

Welas asih pandulune
Belas kasih pendahulunya

Sakehing braja luput
Semua senjata luput

Kadi kapuk tibaning wesi
Seperti senjata tajam yang jatuh ke lautan

Sakehing wis tawa
Semua bisa tertawa (anak) / Semua racun (menjadi) tawar

Sato galak tutut
Anjing galak jadi jinak, nurut seperti burung perkutut

Kayu aeng lemah sangar
Pohon tua tanah belum terjamah

Songing landhak guwaning wong lemah miring
Sarang landak guanya orang tanah miring

Myang pakiponing merak
Sampai sarang merak

Pagupakaning warak sakalir
Dihabiskan naga serakah

Nadyan arca myang segara asat
Hingga batu sampai lautpun kering

Temahan rahayu kabeh
Satu tubuh selamat semua

Apan sarira ayu
Menjadi jiwa yang indah

Ingideran kang widadari
Dikelilingi bidadari

Rineksa malaekat
Disaksikan malaikat

Lan sagung pra rasul
Dan sebanyak para rasul

Pinayungan ing Hyang Suksma
Dipayungi Yang Maha Esa

Ati Adam utekku baginda Esis
Hatiku Nabi Adam dan otakku Nadi Sits

Pangucapku ya Musa
Ucapanku adalah Nabi Musa

Napasku nabi Ngisa linuwih
Napasku Nabi Isa yang teramat mulia

Nabi Yakub pamiryarsaningwang
Nabi Yakub pendengaranku

Dawud suwaraku mangke
Nanti Nabi Daud/King David menjadi suaraku

Nabi Brahim nyawaku
Nabi Ibrahim nyawaku

Nabi Sleman kasekten mami
Nabi Sulaiman menjadi kesaktianku

Nabi Yusuf rupeng wang
Nabi Yusuf menjadi rupaku

Edris ing rambutku
Nabi Idris menjadi rambutku

Baginda Ngali kuliting wang
Sahabat Ali menjadi kulitku

Abu Bakar getih daging Ngumar singgih
Abu Bakar darahku dan Umar dagingku

Balung baginda Ngusman
Sedangkan Usman sebagai tulangku

Sumsumingsun Patimah linuwih
Sumsumku adalah Fatimah yang amat mulia

Siti Aminah bayuning angga
Siti Aminah sebagai kekuatan badanku

Ayup ing ususku mangke
Nanti Nabi Ayub di ususku

Nabi Nuh ing jejantung
Nabi Nuh di dalam jantungku

Nabi Yunus ing otot mami
Nabi Yunus di dalam ototku

Netraku ya Muhammad
Mataku ialah Nabi Muhammad

Pamuluku Rasul Pinayungan Adam Kawa
Air mukaku Rasul dalam lindungan Adam dan Hawa

Sampun pepak sakathahe para nabi
Maka lengkaplah semua para Nabi

Dadya sarira tunggal
Telah menjadi satu jiwa


Sebuah tembang yang biasa dilantunkan oleh Jenderal Besar Panglima Sudirman ketika menghadapi kesulitan, terdesak oleh musuh atau tidak punya pilihan. Ketika hari mulai gelap, dan para prajurit mulai kelelahan. Untuk meyakinkan hati bahwa Allah pasti menjaga kita dari musuh, baik yang tampak maupun yang tak tampak.

Pada zaman dahulu, orang tua selalu menyenandungkannya ketika hari mulai gelap. Sambil memberikan pendidikan pertama melalui metode dongeng, menceritakan kearifan Nusantara dengan berkisah. Jika para orang tua lupa bagaimana mendongeng dan mengelus rambut anak sebelum tidur, maka jangan salahkan guru jika sekolah menghasilkan para pembohong dan penipu di atas sana.


No comments:

Post a Comment