Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan Book Review


Buku Perang Suara: Bahasa dan Politik Pergerakan karya Hilmar Farid adalah sebuah karya sejarah yang mengulas peran bahasa dalam politik pergerakan nasional Indonesia di awal abad ke-20. Buku ini diterbitkan oleh Komunitas Bambu pada tahun 2023, setelah 30 tahun lamanya menjadi skripsi penulisnya.

Buku ini terbagi menjadi empat bab. Bab pertama membahas tentang teori-teori tentang hubungan antara bahasa dan politik. Bab kedua membahas tentang perkembangan media cetak di Hindia Belanda, khususnya surat kabar. Bab ketiga membahas tentang penggunaan bahasa dalam surat kabar-surat kabar pergerakan nasional. Bab keempat membahas tentang reaksi pemerintah kolonial terhadap penggunaan bahasa dalam surat kabar-surat kabar pergerakan nasional.

Buku ini memberikan perspektif yang menarik tentang peran bahasa dalam politik pergerakan nasional. Hilmar Farid menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi yang netral, melainkan merupakan medan perang bagi gagasan-gagasan. Pertentangan antara kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat pada kemunculan, perkembangan hingga hilangnya kosakata tertentu.

Buku ini juga menunjukkan bahwa surat kabar memainkan peran penting dalam penyebaran gagasan-gagasan pergerakan nasional. Surat kabar menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk menjangkau massa yang luas. Surat kabar juga menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk membangun identitas nasional.

Surat kabar memainkan peran penting dalam penyebaran gagasan-gagasan pergerakan nasional. Surat kabar menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk menjangkau massa yang luas. Surat kabar juga menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk membangun identitas nasional.

Hilmar Farid menunjukkan bahwa surat kabar menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk menyebarkan gagasan-gagasan modern, seperti nasionalisme, patriotisme, demokrasi, dan hak asasi manusia. Surat kabar juga menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk mengkritik pemerintah kolonial dan menyuarakan tuntutan-tuntutan rakyat pribumi.

Surat kabar juga menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk membangun identitas nasional. Surat kabar menggunakan bahasa Indonesia untuk menjangkau massa yang luas. Surat kabar juga menggunakan bahasa Indonesia untuk mengekspresikan ide-ide tentang persatuan dan kesatuan bangsa.

Berikut adalah beberapa contoh peran surat kabar dalam penyebaran gagasan-gagasan pergerakan nasional:

  • Surat kabar Soeara Oemoem (1901-1903) menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk mengkritik pemerintah kolonial yang represif.
  • Surat kabar Sinar Hindia (1903-1918) menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk menyebarkan gagasan-gagasan modern, seperti nasionalisme dan demokrasi.
  • Surat kabar Medan Prijaji (1906-1912) menjadi sarana bagi pergerakan nasional untuk membangun identitas nasional.

Secara umum, buku ini merupakan karya yang penting dan bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah pergerakan nasional Indonesia. Buku ini memberikan perspektif yang baru tentang peran bahasa dalam politik pergerakan nasional.

Salah satu kelebihan buku ini adalah perspektif baru yang ditawarkannya tentang peran bahasa dalam politik pergerakan nasional. Hilmar Farid menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi yang netral, melainkan merupakan medan perang bagi gagasan-gagasan. Pertentangan antara kekuatan-kekuatan sosial dalam masyarakat dapat dilihat pada kemunculan, perkembangan hingga hilangnya kosakata tertentu.

Misalnya, kemunculan kosakata "nasionalisme" dan "patriotisme" dalam bahasa Indonesia merupakan refleksi dari perkembangan gagasan-gagasan modern di Hindia Belanda. Kosakata-kosakata ini digunakan oleh pergerakan nasional untuk mengekspresikan ide-idenya tentang kemerdekaan dan persatuan.

Analisis yang mendalam dan komprehensif

Buku ini juga memberikan analisis yang mendalam dan komprehensif tentang peran bahasa dalam politik pergerakan nasional. Hilmar Farid menggunakan berbagai sumber data, termasuk surat kabar, majalah, buku, dan dokumen-dokumen pemerintah. Data-data ini digunakan untuk menganalisis penggunaan bahasa dalam pergerakan nasional dari berbagai aspek, termasuk aspek ideologi, politik, dan budaya. Analisis ini menunjukkan bahwa bahasa memainkan peran penting dalam setiap aspek pergerakan nasional. Bahasa digunakan untuk mengekspresikan ide-ide, membangun identitas, dan mengorganisir massa.

Data yang kaya dan akurat

Buku ini juga kaya akan data yang akurat. Hilmar Farid memberikan kutipan-kutipan yang relevan dari sumber-sumber primernya. Kutipan-kutipan ini memberikan gambaran yang jelas tentang bagaimana bahasa digunakan dalam pergerakan nasional.

Sebaliknya, pemerintah kolonial juga menggunakan bahasa untuk mempertahankan kekuasaannya. Pemerintah kolonial menggunakan bahasa untuk menyebarkan propaganda dan menanamkan rasa takut pada rakyat pribumi. Perspektif ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya berperan sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai alat politik. Bahasa dapat digunakan untuk membentuk kesadaran dan identitas, serta untuk mengontrol dan memanipulasi opini publik.

Secara keseluruhan, buku ini merupakan karya yang penting dan bermanfaat bagi siapa saja yang tertarik dengan sejarah pergerakan nasional Indonesia. Buku ini memberikan perspektif yang baru tentang peran bahasa dalam politik pergerakan nasional. Buku ini juga menunjukkan peran penting surat kabar dalam penyebaran gagasan-gagasan pergerakan nasional.

Post a Comment

0 Comments