Serat Jatiswara Edisi T. E. Behrend

Kesusastraan Jawa Baru pasca-pengislaman secara keseluruhan belum terpetakan dengan baik, meskipun telah dilakukan penelitian filologi dan kesusastraan selama setengah abad. Karya T. E. Behrend ini disusun sebagai langkah yang amat kecil ke arah pengertian tentang teks Jawa dengan jalan menelaah prinsip-prinsip organisasi atau struktur dasar yang diikuti dalam sekelompok teks yang saling berhubungan dengan korpus Jatiswara. Subjek langsung penelitian adalah struktur puisi dari segi metrum, pengisahan, leksikologi, dan transformasi sepanjang waktu, serta migrasinya melintasi Pulau Jawa dan pulau-pulau di luarnya.

 

Korpus Jatiswara kurang lebih 55 manuskrip yang mewakili 7 resensi yang berbeda. Semua teks tersebut sekitar 1000 halaman sebagai bahan mentah yang menjadi dasar untuk mempertajam analisis. Jatiswara relative tidak terjamah oleh peneliti Belanda, hubungan pertama orang Eropa dengan Jatiswara ditunjukkan dengan manuskrip koleksi Karl Schoemannyang merupakan guru dari anak-anak Gubernur Jenderal J.J. Rochussen (1845-1951). Koleksi A. B. Cohen Stuartyang dipinjamkan kepada Bataviaasch Genootschap terdapat suatu kopi lontar yang berisi teks Jatiswara. Sarjana lain yang berminat adalah Dr. W. Palmer van den Broek yang menyuruh buat Salinan dari Jatiswara resensi Solo selama menjabat kepala kweekschool.

 

Pada tahun 1892 dengan adanya katalog lengkap yang pertama mengenai manuskrip di Leiden, sebuah deskripsi Jatiswara dipublikasikan oleh A. C. Vreeede. Kemudian tambahan paling penting abad ke-19 adalah koleksi H. N. van der Tuuk. Dilanjutkan Pigeudpada tahun 1993 menerbitkan ikhtisar terkait Centini Jalalen yang terdapat kisah Jatiswara ditempel di bagian akhir. Dan Poerbatjaraka membedakan Jatiswara menjadi 2 resensi.

 

Korpus  Jatiswara

1. Resensi A, sebuah alih tanam syair asli, turunan dekatnya dari lahan Jawa ke lahan Sasak

2. Resensi B, satu manuskrip Leiden yang menunjuk ke versi Jawa Barat

3. Resensi C, tersimpan dalam satu manuskrip, Schoemann II

4. Resensi D, tersimpan dalam bentuk fragmen, 3 manuskrip di Museum Nasional Jakarta

5. Resensi E, terpelihara dalam delapan manuskrip yang mayoritas dalam koleksi Indonesia

6. Resensi F, menyimpang dari semua yang lain, dikarang di lingkungan Kraton Pangeran Adipati Anom Hamangkunagara III, kemudian Pakubuwana V

7. Resensi G, yang termuda, diciptakan di Yogyakarta dalam kurun waktu antara 1820 dan  1847

 

Berdasarkan prinsip-prinsip stema, sejarah teks korpus Centini berjalan parallel dengan sejarah teks korpus Jatiswara, dan berkali-kali keduanya berpotongan dengan saling bertukar materi secara langsung atau saling memberi benih yang membuahkan ragam kesastraan yang amat penting.

 

Beberapa ahli menganggap Suluk Jatiswara bagian dari Centini. Cerita korpus Jatiswara mengisahkan seorang pemuda pengembara yang menjadi nama syair tersebut, yaitu Jatiswara. Dalam perjalanan mencari saudara lelaki, Sajati, yang menghilang secara misterius, Jatiswara menjumpai ulama yang arif dan keramat, pertapa dan sebagai guru kharismatik dalam pesantren. Dengan setiap tokoh, ia terlibat dalam suatu dialog keagamaan. Pada hampir setiap pemberhentian, ia juga menjalin hubungan cinta dengan putri atau keponakan tokoh utama. Drama Jatiswara berlangsung jauh dari keraton raja, melainkan di sebuah desa dan pelabuhan pesisir utara Jawa. Ketika kembali ke daratan setelah bertemu dengan saudaranya yang bertapa di dasar, mereka dituduh sebagai penyebar agama menyimpang. Pada akhirnya, semua yang berniat tidak baik berbalik menjadi  keinginan untuk berguru kepada mereka.

 

Serat Jatiswara dibedakan menjadi 6 jenis adegan, diantaranya:

1.   Adegan lelampahan, mengisahkan pengembaraan Jatiswara dalam hutan belantara

2.   Adegan pitepangan, memasuki desa atau pesantren baru

3.   Adegan tetamuwan, Jatiswara disambut oleh pemuka desa

4.   Adegan rerasan ngelmi, pembicaraan keagamaan

5.   Adegan tilamwangi, pertemuan cinta pada tengah malam dengan putri

6.   Adegan pamitan, Jatiswara melanjutkan perjalanan mencari Sajati

 

Jatiswara adalah karya keagamaan, lebih dari 30% dari teks secara terang-terangan membicarakan teologi dalam arti umum. Diskusi seputar makna Islam dan bedanya dengan kakafiran, tempat Tuhan, nasib ruh setelah mati dan ibadah yang benar. 

 

Serat Jatiswara sebagai suluk. Suluk berarti jalan, kemudian mengalami perluasan makna menjadi kehidupan seorang pertapa. Secara harfiah, kata pertapa berasal dari kata tapas dalam Bahasa Sansekerta yang mempunyai arti, tapa, mati raga, pengendalian indra atau hawa nafsu, yoga. Jadi pertapa dapat diartikan orang yang melakukan tapas.

 

Berdasarkan pengertian bahwa suluk mengandung ajaran-ajaran yang bersifat mistik (Gibb dan Kraemers 1953: 551-552). Ajaran-ajaran semacam itu di dalam Serat Jatiswara, di antaranya terdapat pada pupuh II, 68-69. Diuraikan bahwa setelah melakukan perkenalan, Ki Saimbang mengakui ketidaktahuannya mengenai “makna usaha orang dalam kehidupan: surasaning kalakuhan urip ….. kesudahan akhir keberadaan ini ….. tempat Islam di dalamnya ….. dan awal dan akhirnya”, maka ia memohon penjelasan kepada Jatiswara. Jatiswara menjelaskan dengan rasa yang segan, ia juga menambahkan beberapa pokok, termasuk wahya paesan, perbedaan antara nyawa dan jisim; asal-mula sikap tubuh di dalam sholat (berdiri, rukuh, sujud, dan duduk), sehubungan dengan keempat anasir, empat jenis ikhram, sarengat, hakikat, tarekat dan makrifat-nya sholat dan asal mula anasir alam.  

 

Selepas sholat asar, Saimbang dan sanak saudaranya berkumpul lagi untuk mendengarkan uraian Jatiswara. Ia melewatkan sore itu dengan memberi penjelesan makna berbagai istilah Arab, termasuk iman; takid; makrifat; ngalimun; kadirun; basirun; samiyatun; mutakalimun;dan lain sebagainya.

No comments:

Post a Comment