Seorang filsuf Perancis, Blaise Pascal pernah menyatakan bahwa semua masalah kemanusiaan berasal dari ketidakmampuan manusia untuk duduk sendirian dalam sebuah ruang. Ketidakmampuan tersebut muncul dari kesadaran akan keterbatasan gerak dalam kebebasan bertindak. Menciptakan diskursus melalui asumsi-asumsi masyarakat yang membangun konsep suatu kultur, sehingga mempengaruhi perilaku dan kebiasaan masyarakat tertentu. 


Dalam Madness and Civilization, Michel Foucault mengembangkan konsep diskursus dalam menyingkap perubahan suatu masalah. Kegilaan di abad pertengahan dianggap memiliki kebijaksanaan batiniah, sedangkan pada abad ke-20 orang gila dianggap sakit sehingga membutuhkan perawatan. Kini di era milenial, ketika jarak dipandang sebelah mata dan ruang dianggap tak lagi bermakna, corona hadir menciptakan diskursus. Jarak menjadi sangat penting dan ruang menjadi tantangan.


Istilah corona bemakna mahkota, diambil dari bentuk fisik virus yang menyerupai mahkota. Coronavirus Disease2019 atau Covid-19 dikenal sebagai virus yang muncul pertama kali di Wuhan. Sejak 11 Maret 2020 Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organization (WHO), menetapkan keadaan pandemic akibat penyebaran virus ini yang meluas ke berbagai negara. Pandemic berasal dari Bahasa Yunani, pan yang berarti semua dan demos yang bermakna orang. Status sebuah penyakit menular akan ditingkatkan dari epidemic menjadi pandemic ketika penyebarannya sudah meluas melewati batas negara hingga benua dan dampak mematikannya membahayakan manusia dalam jumlah tak terhingga.


Akibat dari meluasnya virus ini, beberapa negara menerapkan isolasi atau lockdown agar penyebarannya tidak semakin meluas dan membahayakan manusia. Jalanan menjadi sepi, disinfektan mencegah infeksi dan manusia mengisolasi diri. Hal tersebut membuat udara bersih dari polusi dan air kanal terlihat jernih, bumi seakan terlahir kembali. Corona dianggap virus mematikan bagi manusia, namun menjadi vaksin efektif dalam membersihkan bumi.


Status pandemic bukan hal baru dalam sejarah umat manusia, sudah berulang kali situasi tersebut ada. Michael W. Dols dalam Plague in Early Islamic History, mengulas tiga pandemic besar yang menimpa umat manusia, yaitu: Wabah Yustinianus (Plague of Justinian) 541-542 M, Maut Hitam (Black Death)1347 – 1351 M dan Wabah Bombay (Bombay Plague)1896 – 1897 M. 

 

Ruang Beragama 

Pemerintah melalui kementerian, lembaga dan aksi berbagai pihak berusaha menanggulangi dampak Covid-19 sesuai standar kesehatan dunia. Tenaga medis sebagai garda terdepan dalam penanganan wabah ini masih berupaya menemukan vaksin yang dapat mengobati Covid-19. Otoritas kesehatan menghimbau agar masyarakat melakukan isolasi diri agar terhindar dari infeksi. Para dokter sepakat bahwa pola penularan Covid-19 ini adalah melalui kontak antar-orang baik secara langsung atau melalui media perantara. 


Oleh karena itu, pemerintah menyeru agar belajar dari rumah, bekerja dari rumah dan ibadah dari rumah selama 14 hari sampai krisis wabah mereda. Instusi pendidikan mengganti segala aktivitas belajar-mengajar secara online, otoritas perusahaan menjaga jarak pekerjanya dan Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa nomor 14 tahun 2020 tentang “Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19”.  Dalam fatwa itu MUI menyerukan untuk meniadakan salat Jumat dan ibadah berjamaah lainnya di masjid yang terletak di zona merah Covid-19 dan menggantinya dengan salat Zuhur di rumah masing-masing.


Terselip narasi dan aksi atas nama agama yang justru kontra produktif dengan logika dan edukasi para ahli medis berikan. ‘Saya lebih takut pada Tuhan, kalau sudah takdir-Nya di manapun akan mati’. Jangankan mematuhinya, sebagian kelompok kecil masyarakat justru menyeru menggalakkan gerakan salat berjamaah meski di tengah wabah. Di salah satu masjid, salat Jumat ditiadakan, tapi sekelompok kecil masyarakat tersebut tetap ke masjid untuk melakukan salat zuhur yang melibatkan kerumunan.


Virus Corona pun dinarasikan sebagai konspirasi iblis, jin dan setan untuk menjerumuskan manusia. ‘Kami tidak takut corona, kami lebih takut pada Tuhan’, ungkapan ini berkali-kali digelorakan. Sepintas tampak semangat beragama, tapi sesungguhnya menjauhkan dari esensi agama, yakni memuliakan manusia dan mencegah tersebarnya virus.


Agama datang untuk kemaslahatan. Fatwa telah tersampaikan atas dasar kemaslahatan umat, akankah umat masih mempercayai seruan sekelompok kecil masyarakat yang tidak bertanggung jawab dan bertingkah tanpa dasar ilmu? Kemaslahatan dapat tegak dengan terlindungnya tiga aspek, dharuriyah, hajiyah dan tahsiniyh. Dalam aspek dharuriyahterkandung lima keniscayaan yang harus dipelihara, yaitu agama, jiwa, keturunan, harta dan kehormatan.


Mendahulukan agama tanpa mempertimbangkan kerusakan dan kehancuran semua dimensi dharuri yang lain tidak dapat dibenarkanPenghentian sementara kegiatan keagamaan yang melibatkan massa dapat dipertanggungjawabkan secara syar’i. Keputusan tersebut berimbas bukan hanya melindungi nyawa saja, tetapi juga keturunan, menjaga harta dan juga memelihara kehormatan kemanusiaan dan agama.

 

Ruang Masa Lalu

Bangsa Eropa pernah mengalami masa kelam akibat sikap fanatik sebagian umat beragama menyikapi pandemic The Black Death.Saat otoritas Eropa kehabisan ide dalam mengatasi wabah, masyarakat putus asa. Mereka mulai mengaitkan bahwa umat Yahudi adalah pembawa petaka, hingga Tuhan pun murka. Narasi ini berhasil memprovokasi kelompok ekstrem dalam menafsir agama. Hal ini senada dengan narasi ‘corona sebagai azab’ yang digaungkan untuk membenci kelompok, golongan, ras atau negara tertentu.


Sumber-sumber Arab sesungguhnya telah mencatat dengan baik bagaimana Nabi Muhammad SAW dan para sahabat menyikapi pandemic. Sebagaimana Umar bin Khattab yang kembali ke Madinah dan membatalkan kunjungannya ke Damaskus yang sedang diserang wabah. Nabi dan orang-orang suci tidak kemudian menantang wabah atas nama tauhid atau bersikap sembrono atas kebodohan ‘hanya takut pada Allah’. 


Filolog Oman Fathurrahman kemudian menjelaskan bagaimana Ibnu Hajar al-‘Asqalani menulis kitab Badzl al-Ma’un fi Fadhl al-Tha’un. Ia menjauhi sikap pasrah dan menyerah pada takdir Allah. Memperlakukan pandemic sebagai inspirasi dan menuangkan pandangan keber-agama-annya dalam bersikap secara rasional dalam menghadapi wabah. Karya tersebut dipersembahkan untuk mengingatkan sesama tentang wabah yang mematikan. Sekaligus tidak ingin kematian ketiga putrinya sia-sia, Fatimah, Aliyah dan Zin Khatun yang sedang hamil. Mereka menjadi martir bagi nyawa manusia lainnya.


Karya al-‘Asqalani ini telah ditahqiqoleh seorang filolog bernama Ahmad Ishom Abd al-Qadir al-Katib. Ia mengulas detil tentang definisi tha’un(wabah) termasuk Black Death di Eropa, baik secara metafisis maupun medis, jenis-jenisnya, cara menghindarinya, hukum syahid bagi korban dan yang paling penting bagaimana beragama tanpa mengabaikan kemanusiaan dalam menyikapi wabah.

Setiap peristiwa dalam hidup menentukan keputusan. Keputusan yang diambil menentukan baik atau buruk dalam kehidupan, sehingga menimbulkan kebahagiaan atau kesedihan di masa yang akan datang. Tidak setiap yang baik menimbulkan kebahagiaan dan tidak setiap yang buruk menghasilkan kesedihan. Kebahagiaan dan kesedihan pada hakikatnya bermuara pada titik yang sama, sedangkan kebaikan atau keburukan tergantung bagaimana setiap hati memaknainya.   

Kebahagiaan yang didambakan banyak orang dan kesedihan yang tak diinginkan seorang pun, menjadi dua hal yang saling melengkapi. Kesedihan sebagai bagian dari kebahagiaan yang kurang disyukuri. Tidak berlebihan jika Ibnu Athaillah as-Sakandari menyatakan dalam kitabnya Al-Hikam bahwa hati mempunyai dua kondisi, syukur dan sabar. Jika seseorang kurang bersyukur atau lupa bagaimana cara bersyukur dalam setiap keadaan, maka hati harus bersiap menghadapi peristiwa-peristiwa yang membuatnya harus bersabar. Demikian juga Al-Ghazali yang menyatakan bahwa jika seseorang ragu-ragu, maka bertanyalah pada hatimu.

Hati seakan tercipta sebagai indikator kebenaran. Tidak sedikit tragedi atau peristiwa yang menyentuh hati sebagai akibat dari pemaknaan apa itu benar. Nama lain dari kebenaran itu sendiri adalah sumpah yang ditransformasikan dari kata-kata menjadi kenyataan. Sumpah sebagai upaya menguatkan hati dalam meneguhkan kebenaran kata-kata dan keyakinan hati. Hal itu menjadi tonggak perubahan ke arah yang lebih baik, ketika keyakinan dalam hati diungkapkan dengan kata-kata dan diwujudkan dalam tindakan.

Tertulis dalam sejarah perjalanan umat manusia bahwa aktor perubahan tersebut adalah pemuda. Budaya yang beragam dan keyakinan yang tak sama menuliskan pemuda dengan cara yang berbeda-beda. Kekuatan dan kesungguhan pemuda menjadi inspirasi dan awal dimulainya sejarah baru. Peradaban yang mengusung semangat perubahan dan pantang menyerah. Harapan yang menjadi penggerak dalam menciptakan hidup yang berkeadilan. 

Pemuda dilihat dari bagaimana mewujudkan sumpah dan memegang kata-kata. Untuk itu perlu bagi pemuda untuk membekali diri dengan wawasan, pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal merealisasikan sumpah. Banyak rintangan akan menghadang dan tantangan akan selalu ada, tapi kesungguhan dan pengalaman akan mengalahkan semua itu. Belajar dari banyak guru dan berguru dari satu tempat ke tempat yang lain sebagai upaya menambah wawasan dan meningkatkan keterampilan. Semangat untuk terus maju, karena pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan bangsa. Semangat tersebut sebagai spirit Surajaya. Perjalanan menjadi diri sendiri yang autentik, karena menjadi diri sendiri meski tak sempurna jauh lebih baik dari pada meniru orang lain secara sempurna. Kesadaran akan ketaksempurnaan dalam diri sebagai awal dimulainya perjalanan panjang spirit Surajaya.

Sumpah sebagai ekspresi kesungguhan. Pembuktian kebenaran akan kata-kata dan keyakinan dalam hati. Berbagai tradisi dan budaya menjadikan sumpah sebagai pondasi dasar akan kesetiaan. Tidak berlebihan jika dinyatakan bahwa sumpah akan membawa seseorang dalam kebaikan, tentu dalam konteks kebenaran. Mengajarkan akan pentingnya kesetiaan dan pengabdian.

Yesus menekankan pentingnya akan memegang sumpahTertulis dalam sabdanya:

“Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan. Tetapi Aku berkata kepadamu: Janganlah sekali-kali bersumpah, baik demi langit, karena langit adalah tahta Allah, maupun demi bumi, karena bumi adalah tumpuan kaki-Nya, atau pun demi Yerussalem, karena Yerussalem adalah kota Raja Besar. Janganlah juga engkau bersumpah demi kepalamu, karena engkau tidak berkuasa memutihkan atau menghitamkan sehelai rambut pun. Jika ya, hendaklah kamu katakan ya. Jika tidak, hendaklah kamu katakan tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5: 33-37)

Dari ayat ini Yesus mengajarkan akan ketegasan. Menunjukkan bahwa sumpah akan dipertanggungjawabkan di depan Tuhan. Tidak ada daya dan kekuatan dalam menjalankan atau membuktikan sumpah tanpa kuasa-Nya.

 

Sementara dalam ajaran Hindu, sumpah menjadi sesuatu yang tidak mudah. Ada pengorbanan yang harus dilalui dengan kerelaan dalam hati. Tertulis dalam kitab suci Veda:

“Drauya-yajnas tapo yajna, yoga yajnas tathapare, svadhyaya-jnana-yajnasca, yatayah samsita-vratah.”(Bhagavad-gita 4.28)

Para Yati, yang melakukan sumpah suci dengan tegas, ada yang mengorbankan harta benda sebagai persembahan suci yajna. Ada yang melaksanakan pertapaan berat mempraktikkan yoga, mempelajari secara pribadi kitab-kitab suci Veda, dan ada yang melaksanakan korban suci yajna dengan menyebarkan pengetahuan-pengetahuan suci.

Dalam ajaran Buddha, seorang Sakka harus mengambil tujuh sumpah. Ketujuh sumpah tersebut sebagai wujud syukur akan nikmat kehidupan. Pengabdian sebagai jalan menuju pencerahan pondasi kebenaran. Masyhur di antara para Sakka ayat berikut ini:

“Di Savatthi, para bhikkhu di masa lampau, ketika Sakka, raja para deva, adalah seorang manusia, ia mengambil tujuh sumpah, yang dengan memenuhinya ia memperoleh status sebagai Sakka. Apakah tujuh sumpah itu? Seumur hidupku, aku akan menyokong orang tuaku, menghormati saudara-saudara tuaku, berbicara dengan lembut, tidak berbicara yang bersifat memecah-belah, bersikap dermawan, tangan terbuka, gembira dalam berbagi dan bermurah hati, membicarakan kebenaran, serta terbebas dari kemarahan.” (493)

Sedangkan dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman dengan menunjukkan hal-hal penting melalui sumpah. Kalimat sumpah seakan menegaskan arti pentingnya hal tersebut dalam menjalani kehidupan. Allah bersumpah dalam banyak hal dalam Al-Quran, dengan dzat dan makhluk-Nya. Salah satu sumpah dengan makhluk diantaranya demi masa, demi waktu dhuha dan demi waktu malam. 

Waktu menjadi hal yang sangat penting dalam hidup. Tak bisa diulang atau diatur sedemikian rupa oleh manusia. Berjalan konstan tanpa perlambatan atau percepatan. Beruntung siapa saja yang menggunakan waktu dengan disiplin dan tak membiarkan waktu terbuang percuma. Maka tidak berlebihan jika Al-Ghazali menyatakan bahwa yang harus dihindari oleh pemuda adalah sendirian dan waktu luang.

Gadjah Mada sosok pemuda yang menggunakan hidupnya untuk belajar, berlatih dan menggunakan waktu secara disiplin. Sehingga ketika menerima amanah sebagai patih, menjadi sosok yang tangguh dalam merealisasikan sumpahnya. Mempersatukan seluruh wilayah Nusantara di bawah panji Merah-Putih. Sumpah Amukti Pallapa yang menjadi cikal bakal peradaban baru yang kini disebut sebagai bangsa Indonesia. 

Sumpah Amukti Pallapa menjadi ruh dan bertransformasi pada tanggal 28 Oktober 1928. Pemuda dari seluruh penjuru Nusantara bergerak, menyatukan suaranya untuk membangun spirit kesetaraan. Kesadaran akan persatuan dan kesadaran akan kesamaan kedudukan sebagai manusia. Tak perlu ada lagi penindasan, perampasan dan pertumpahan darah di bumi Nusantara. Semangat persatuan tersebut dikenal sebagai Sumpah Pemuda, bersumpah sebagai bangsa Indonesia dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan.

Pemuda sebagai penggerak dan pembawa perubahan. Dalam lembar sejarah manusia telah tertulis bahwa lahirnya suatu peradaban baru di muka bumi tak terlepas dari peran pemuda. Alexander Graham Bell bersama teman-temannya dengan berpacu teknologi, menggerakkan revolusi industry di Inggris. Penggulingan Raja Louis XVII dalam revolusi Perancis, digerakkan oleh pemuda. Perjuangan merebut kemerdekaan, peristiwa 10 November, dan perjalanan politik Indonesia, digerakkan oleh pemuda.

Spirit pantang menyerah menjadi identitas pemuda. Di belahan dunia manapun, dari Sumpah Amukti Pallapa hingga Sumpah Pemuda dan berujung Hari Kemerdekaan bangsa Indonesia, spirit pantang menyerah menjadi unsur utama lahirnya perubahan. Perang sudah berakhir, namun perubahan ke arah yang lebih baik harus terus menerus diusahakan. Dengan spirit pantang menyerah, pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. 

Surajaya sebagai spirit pantang menyerah yang harus dimiliki oleh setiap pemuda. Kata ini diabadikan menjadi nama stadion di Lamongan. Sebagai markas tim sepak bola kebanggaan masyarakat Lamongan. Jika ditelusuri lebih lanjut, nama ini diambil dari gelar yang diberikan Sunan Giri IV atau Sunan Prapen kepada Mbah Lamong. Masyarakat Lamongan mengenal Mbah Lamong dengan Rangga Hadi. Seorang santri cerdas yang dipercaya Sunan Prapen untuk memimpin wilayah keranggaan yang sekarang dikenal sebagai Kabupaten Lamongan.

Di samping itu, Surajaya juga ditemukan dalam manuskrip kuno. Manuskrip Kidung Surajaya sebagai salah satu naskah Merapi-Merbabu menceritakan tentang spirit pantang menyerah. Kisah perjalanan seorang murid lelana brata berkunjung dari guru satu ke guru yang lain untuk belajar. Perjalanan Surajaya juga bermakna thirtayatra yang bermakna seorang murid haruslah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mengasah keilmuannya.

Dalam Kidung Surajaya, diceritakanlah sosok Ki Singamada yang sedang bersedih karena orang tuanya, penguasa Majapahit telah meninggal. Untuk menghibur diri, berjalanlah Ki Singamada dari Kutaraja menuju gunung-gunung berhutan. Dalam perjalanan pengembaraannya tersebut Ki Singamada banyak bertemu dengan para guru yang memberikannya nasehat-nasehat.

Perjalanan Ki Singamada tidak dilalui dengan mudah. Dalam pengembaraannya Ki Singamada mengalami kisah asmara dengan Ni Tejasari, seorang bidadari yang turun dari kahyangan. Selain itu, Ki Singamada juga banyak pengagum dari kalangan perempuan. Ki Singamada juga bertemu dengan Ragasamaya, sosok yang menjadi penasehat dan penghibur sepanjang perjalanan. Di penghujung perjalanan, mereka berpisah, Ki Singamada melanjutkan tapa bratanya sedangkan Ragasamaya memilih menjadi petani. Pada akhirnya, Ki Singamada berhasil moksa, sedangkan Ragasamaya gagal karena pikirannya masih terikat duniawi. Cerita diakhir dengan kembalinya Ni Tejasari ke kahyangan yang disambut oleh para bidadari.

Sumpah sebagai representasi tekad dan wujud kesungguhan. Pembuktian kebenaran akan kata-kata dan keyakinan dalam hati. Berbagai tradisi dan budaya menjadikan sumpah sebagai pondasi dasar akan kesetiaan yang akan membawa seseorang dalam kebaikan dalam konteks kebenaran. Mengajarkan akan pentingnya kesetiaan dan pengabdian.

Pemuda dilihat dari bagaimana mewujudkan sumpah dan memegang kata-kata, sebagai penggerak dan pembawa perubahan. Dalam lembar sejarah manusia telah tertulis bahwa lahirnya suatu peradaban baru di muka bumi tak terlepas dari peran pemuda. Spirit pantang menyerah menjadi identitas pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. 

Surajaya sebagai spirit pantang menyerah yang harus dimiliki oleh setiap pemuda. Untuk itu perlu bagi pemuda untuk membekali diri dengan wawasan, pengetahuan dan keterampilan sebagai bekal merealisasikan sumpah. Banyak rintangan akan menghadang dan tantangan akan selalu ada, tapi kesungguhan dan pengalaman akan mengalahkan semua itu. Belajar dari banyak guru dan berguru dari satu tempat ke tempat yang lain. Kesadaran akan ketaksempurnaan dalam diri sebagai awal dimulainya perjalanan panjang spirit Surajaya.


Hari Jadi Lamongan dihitung sejak dilantiknya Ranggahadi sebagai adipati pertama daerah Lamongan oleh Sunan Giri IV atau Sunan Prapen pada tanggal 26 Mei 1569. Ranggahadi pada akhirnya dikenal sebagai Mbah Lamong yang bergelar Surajaya. Kini nama Surajaya diabadikan sebagai nama stadion di Lamongan, sebagai markas tim sepak bola PERSELA dengan supporter setianya LA mania dan penjaga gawang legendarisnya Khoirul Huda (1).


Sunan Prapen sendiri merupakan moyang dari cendekiawan muslim Nusantara, K.H. Ahmad Dahlan dari jalur ibu. Gerakan pembaharuan pendidikan sebagai langkah awal dalam menyebarkan cahaya Muhammadiyah dengan tafsir Al-Ma’unnya. Bukan tanpa tantangan, K. H. Ahmad Dahlan berdakwah dengan biola, pakaian dan fasilitas pendidikan ala penjajah dicerca oleh masyarakat muslim sekitar karena dianggap menyerupai orang kafir. Musholla tempatnya mengajar dan keahliannya dalam ilmu falak mendapatkan respon keras oleh para ulama’, terutama dalam hal arah kiblat. Mungkin karena K. H. Ahmad Dahlan waktu itu masih tergolong muda. Undhur maa qaala wa laa tandhur man qaala.


Kini Muhammadiyah tidak hanya cemerlang di bidang pengelolaan pendidikan, tetapi juga dalam bidang kesehatan. Ini tak lepas dari peran K. H. Ahmad Dahlan yang pernah bergabung dengan Budi Utomo, gerakan yang berusaha mengorganisir cendekiawan di Nusantara dan focus di bidang kesehatan. Budi Utomo diinisiasi oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan digerakkan oleh mahasiswa STOVIA (Sekolah Kesehatan Hindia-Belanda), diantaranya Sutomo, Tjipto Mangunkusomo dan Gunawan Mangunkusomo. 


Selain itu, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara juga pernah menjadi mahasiswa STOVIA, namun karena tidak bisa menyeimbangkan antara kuliah dan berorganisasi di Budi Utomo, Suwardi sakit-sakitan dan nilai kuliahnya menurun. Akhirnya, beasiswanya dicabut dan tidak lulus dari STOVIA. Selama masa sakitnya, Suwardi diurus oleh kakak pertamanya. Jarak dan keterbatasan ayahnya dalam penglihatan membuat kakak pertama Suwardi Suryaningrat menjadi ayah kedua baginya. 


Sementara itu, K. H. Hasim Asy’ari merupakan seorang ahli hadis, keturunan dari Joko Tingkir dari jalur ibu. Cinta tanah air sebagian dari iman adalah ijtihad beliau untuk membentengi masyarakat Nusantara dari gempuran pengaruh asing. Saripati cinta tanah air tersebut berwujud revolusi jihad yang diperingati sebagai Hari Santri 22 Oktober. Revolusi Jihad merupakan jawaban dari K. H. Hasyim Asy’ari atas permintaan Presiden Sukarno, menjawab ultimatum sekutu di Surabaya dalam pertempuran 10 November. Kini dikenang sebagai Hari Pahlawan, memperingati gerakan santri Laskar Hizbullah dalam melawan sekutu. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah. Lebih baik terus belajar dalam memperbaiki ketaksempurnaan diri, daripada hidup meniru orang lain secara sempurna.


Lamongan sebagai daerah wali mempunyai beraneka ragam budaya daerah. Sunan Drajad sebagai putera kandung Sunan Ampel dan adik dari Sunan Bonang, berdakwah menggunakan kesenian, menggubah sejumlah tembang tengahan macapat pangkur, memainkan wayang dan meninggalkan seperangkat gamelan yang disebut Singo Mengkok. Serta tujuh falsafah sebagai pepali yang dijadikan pijakan dalam kehidupan sehari-hari.


Selain itu, Lamongan juga dipenuhi perempuan cantik jelita. Tradisi egaliter menjadi warisan turun temurun yang menjadi cerita tutur sebagian masyarakat Lamongan. Perempuan yang mendatangi laki-laki dengan maksud “tertentu” dianggap sebagai bangsawan. Mereka dianggap melestarikan tradisi dan ikut prihatin terhadap meninggalnya dua putera kembar Adipati Lamongan akibat gagalnya pernikahan dan pembatalan janji. Singkat cerita, kisah tersebut diabadikan dengan gentong dan kipas kembar di halaman Masjid Agung Lamongan. Dan nama calan pengantin putera kembar Adipati Lamongan, puteri kembar Andansari dan Andanwangi diabadikan sebagai nama jalan.


Lamongan juga mempunyai gerakan 1821. Merupakan program pendidikan era milenial, bahwa warga Lamongan khususnya anak-anak pada jam 18.00 – 21.00 dihimbau untuk tidak menyalakan gadget dan televise. Melainkan meramaikan tempat ibadah untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Jika program ini benar-benar dijalankan, bukan hal yang mustahil akan muncul generasi-generasi hebat seperti Gadjah Mada.


Karakter Mada

Berbagai versi menyebutkan asal usul Gajah Mada. Cerita tutur yang berkembang di Lamongan, menyebutkan bahwa Jaka Mada terlahir di Pangimbang dan menghabiskan masa remajanya di daerah Mada. Wilayah tersebut merupakan jalan utama yang menghubungkan pelabuhan Tuban sebagai pusat perdagangan dengan pusat kerajaan. 


Mada dalam bahasa Jawa Kuna mempunyai banyak arti yaitu lembah, seks, amuk atau arogan. Dalam hal ini daerah Mada yang kini masuk wilayah administrasi merupakan daerah lembah. Sumber lain menyebutkan bahwa Gadjah Mada terlahir di tepi Sungai Brantas. Dahulu lebar Sungai Brantas kurang lebih 5 km, namun kini hanya tinggal beberapa meter karena oleh penjajah, di sekitar tepian sungai dijadikan perkebunan tebu.


Selain itu, Mada tergambar dari karakter warga Lamongan yang begitu ambisius dalam mencapai apa yang diinginkannya. Redaksi Palambongan, yang berarti daerah banjir, dalam sebuah prasasti menunjuk wilayah yang sekarang disebut Lamongan. Namun, agar tidak terjadi pertikaian antara anak permaisuri dan selir. Kerajaan memindahkan Wirabhumi dengan mengadakan bedol desa ke daerah timur yang sekarang dikenal sebagai Blambangan. Secara arti wilayah Blambangan di Banyuwangi tidak cocok karena jauh dari laut atau sungai sehingga tidak memungkinkan untuk terjadi banjir. Warga di wilayah Lamongan, sejak dulu merupakan pemberani untuk membela kerajaan. Oleh karenanya, banyak ditemukan prasasti-prasasti yang menunjukkan keistimewaan daerah ini. Jambore kebudayaan mengungkapkan hal ini. Sebagian sumber juga menyebutkan bahwa Raja Airlangga masa pendidikannya berada di wilayah Lamongan.


Pendidikan Gadjah Mada di Tanah Kelahirannya

Sang Amengku Bumi Gadjah Mada, tidak dilahirkan dalam lingkungan yang nyaman  dan berkecukupan. Jalan hidupnya penuh perjuangan, pengabdian dan pengorbanan. Jiwa raganya tegak. Langkahnya penuh makna. Karyanya nyata dan mampu mempersatukan Nusantara. Tokoh panutan yang lahir di Lamongan. Tokoh ideal generasi milenial, Gadjah Mada yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Jaka Mada. 


Sosok leluhur yang dikaburkan dari ingatan masyarakat Indonesia, membuat hilangnya kepercayaan diri dan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari nama pemberian orang tua milenial yang kebarat-baratan atau kearab-araban, juga generasi muda yang menggandrungi budaya luar, mulai dari K-Pop, cinema India, dan parahnya sebagian yang lain malu menggunakan adat budaya sendiri. 


Tempat kelahiran Gadjah Mada berada Dusun Cancing, Desa Sendangrejo yang sekarang masuk Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Di tempat ini ada situs Gunung Ratu yang dipuncaknya terdapat makam ibunda Mahapatih Gadjah Mada, Eyang Ratu Dewi Andong Sari. Selain itu juga ada makam prajurit bernama Kucing Condromowo dan Garangan Putih. Dan tidak jauh dari kompleks makam ada Sendang Sidowayah yang airnya tidak pernah surut dan jernih. Untuk menuju ke puncak, pengunjung harus melewati anak tangga yang cukup menanjak dan melelahkan.


Pak Jumain selaku juru kunci mengatakan bahwa situs Gunung Ratu baru dibuka tahun 1999. Beberapa tokoh nasional silih berganti mengunjungi tempat ini. Menurut keterangan Ki Agus Sunyoto, daerah ini merupakan perkampungan prajurit. Cancing pada zaman itu adalah nama krincingan emas yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur arah mata angin.


Dewi Andong Sari merupakan salah satu selir Raden Wijaya. Perhatian raja kepada Dewi Andong Sari membuat selir yang lain merasa cemburu. Dikirimlah Kucing Condromowo dan Garangan Putih untuk menyingkirkan Dewi Andong Sari dari istana. Sampai di gunung ini, dua pengawal itu tidak sampai hati mengakhiri riwayat Dewi Andong Sari. Di Sendang Sidowayah kedua pengawal tersebut memberikan kesempatan Dewi Andong Sari untuk mencuci muka dan membersihkan diri.


Gadjah Mada mengawali hidupnya dengan kebingungan. Dia memiliki kulit yang cerah, berbeda dengan masyarakat sekitar yang berkulit sawo matang. Pada zaman itu, orang asing dianggap kasta bawah. Warga pribumi yang berkulit sawo matang mempunyai kasta tertinggi dan lebih berhak mengambil peran di segala lini kehidupan. Apa yang dialami Gadjah Mada sebagai konsekuensi pernikahan pratiloma, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh wanita berkasta tinggi dengan lelaki berkasta rendah. Anak yang dilahirkan dari pernikahan ini mempunyai kasta tidak lebih tinggi dari ayahnya. 


Ibunda Gajah Mada merupakan keturunan Kertanegara yang berstatus bangsawan, namun menikah dengan seorang Mongolia yang berstatus orang asing atau ilalan. Sehingga anak yang dilahirkan dari pernikahan tersebut berstatus tidak lebih tinggi dari ayahnya (Jawikepatih). Dalam perjalanan hidupnya, Jaka Mada selalu menghindar ketika bertemu dengan orang-orang yang berasal dari kampungnya. Jaka Mada dianggap sebagai orang asing karena memiliki kulit lebih terang dari orang Jawa pada umumnya.


Kasta yang mayoritas dipahami sebagai sikap diskrimasi perlu ditinjau kembali sesuai konteksnya. Tatanan sosial pada zaman tersebut dikelompokkan sesuai dengan karakter manusia atau profesinya, diantaranya:

1.    Brahmana: orang-orang yang tidak punya ikatan dengan dunia dan boleh berbicara agama

2.    Ksatria: bangsawan atau orang-orang yang tidak boleh memiliki kekayaan pribadi, tapi dijamin hidupnya oleh negara

3.    Waisya: petani atau orang-orang yang hidup dengan merawat bumi 

4.    Sudra:  saudagar, pedagang, rentenir dll

5.    Candala: pemburu, tukang jagal, nelayan atau orang-orang yang mencari penghidupan dengan membunuh 

6.    Mleca/Ilalan: Orang asing 

 

Ketika raja melakukan invasi ke daerah, raja menikahi seorang gadis desa. Tidak sampai melahirkan, raja meninggalkan perempuan tersebut dengan kain dadar, kain yang menunjukkan bahwa keturunannya adalah keturunan raja. Padmi yang memberitahu Gadjah Mada bahwa kain yang dimilikinya sama dengannya.


Karir Gadjah Mada dimulai sebagai Patih Kahuripan, kemudan Patih Daha dan selanjutnya sebagai Mahapatih Mangkubumi. Gadjah Mada bukan orang sembarangan, dia menulis sendiri Prasasti Gadjah Mada untuk pembangunan sebuah candi. Gadjah Mada dikenal dengan seorang yang tidak mau istirahat sebelum tugas atau impiannya tertuntaskan. Gadjah Mada juga mampu menyempurnakan Kitab Hukum Majapahit yang digunakan generasi setelahnya. Kitab tersebut menjadikan inspirasi Belanda sehingga lulusan hokum Utrecth University akan mendapatkan Medali Gadjah Mada jika mampu menyelesaikan pendidikan jenjang doctoral. 


Selain itu, Gadjah Mada juga menulis buku Asta Dasa Kotamaning Prabu yang berisi 18 kriteria yang harus ada dalam sosok seorang pemimpin, yaitu: Wijaya, Mantriwira, Natangguan, Satya Bakti Prabu, Wagmiwak, Wicaksaneng Naya, Sarjawa Upasama, Dirosaha, Tan Satresna, Masihi Samasta Buwana, Sih Samasta Buwana, Negara Gineng Pratijna, Dibyacita, Sumantri, Nayaken Musuh, Ambek Parama Art, Waspada Purwa Arta, Prasaja. Terlepas dari semua itu, Gadjah Mada bukan tanpa celah. Dia lupa bahwa manusia tidaklah kekal, sehingga tidak mendidik generasi penerus yang mewarisi kemampuannya.


Titik yang kedua adalah Dusun Bedander Desa Sumbergondang Kecamatan Kabuh yang sekarang masuk wilayah administrasi Jombang. Berawal dari Jaka Mada diterima sebagai prajurit. Ketika Majapahit krisis, Jaka Mada diangkat sebagai pemimpin pasukan gajah.  Wilayah ini pernah menyelamatkan Raja Jayanegara yang kemudian diganti oleh adiknya Tribuanatunggadewi. Pada masa ini pemerintahan dipindah ke Bangsal dan Turi.


Titik ketiga Dusun Bowo Desa Cangkring yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan. Ditemukan batu andesit yang diperkirakan bekas bangunan suci. Prasasti Bluluk sekarang berada di museum nasional. Pada zaman Singosari,  daerah ini merupakan wilayah pertahanan untuk mengamati lalu lintas perdagangan. Wilayah sima atau perdikan karena memelihara bangunan suci.


Titik keempat berada di daerah Mada. Terdapat punden yang menunjukkan bahwa  Gadjah Mada beragama Kapitayan yang merupakan agama Jawa Kuna (sebelum Hindu-Buddha). Literatur belanda menunjukkan situs ini megalitik. Orang Jawa tidak mengenal dewa, melainkan melakukan ritual sembahyang untuk Taya. Dalam bahasa Kawi “Taya” bermakna kosong atau suwung. Maksudnya, orang Jawa sebisa mungkin mengosongkan hati dari keterikatan duniawi. Ditempat ini Gadjah Mada bertemu sosok yang tampak nggak waras yang selalu muncul ketika menghadapi kesulitan.


Penjajah mengetahui ketangguhan Jaka Mada, karya-karyanya dirahasikan dari warga pribumi. Penyebutan irlander kepada pribumi diambil dari penyebutan kasta ilalan, sebagai upaya politik untuk membangun opini bahwa warga pribumi dengan segala karakternya merupakan kasta rendah, sedangkan warga kulit putih (penjajah) dengan budayanya lebih superior dalam segala hal. 


Berdasarkan tatanan sosial tersebut, sampai sekarang Malaysia dan Brunei Darussalam sebagai negara di wilayah Nusantara tidak memperbolehkan penduduk pribuminya menjadi pelayan. Hanya orang-orang asing yang diizinkan menjadi pelayan di negara-negara tersebut. 

Data Buku

Judul: Loyalis Dinasti Ming di Asia Tenggara: Menurut Berbagai Sumber Asia dan Eropa

Penulis: Claudine Salmon

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Agustus 2020

Penerjemah: Jafar Suryomenggolo

Tebal: xi + 158 hlm.


Oleh: Tuty Enoch Muas

Dinasti Ming (1368-1644) memiliki posisi yang unik dalam sejarah Tiongkok. Dari segi kebangsaan, Tiongkok identik dengan bangsa Hansuku mayoritas di Tiongkokdan Dinasti Ming adalah dinasti terakhir bangsa Han dalam sejarah kedinastian Tiongkok. Dinasti Ming merupakan dinasti yang berjaya di antara dua dinasti penguasa Tiongkok non-Han. Pada1368 Zhu Yuanzhang mendirikan dinasti inisetelah  meruntuhkan kekuasaan dinasti Yuan yang merupakan bangsa Mongol. Pada 1644 kekuasaan Ming diambil alih bangsa Manchu,yang kemudian mendirikan dinasti Qing.     

 

Setelah berhasil mengonsolidasikan kekuatannya, Dinasti Ming menjalin hubungan yang cukup masif dengan bangsa-bangsa lain. Pelayaran Laksamana Zheng He yang demikian melegenda merupakan bagian dari kejayaan dinasti Ming. Karena itu,tidak mengherankan bila di saat keruntuhannya banyak loyalis Dinasti Ming relakeluar dari Tiongkok daripada diperintah oleh bangsa asing (Tartar).

 

Para loyalis itumencoba bertahan sebagai warga Dinasti Ming atau bangsa Han,setidaknya secara budaya. Sejarahinilah,antara lain,yang dapat kita temukan dalam buku yang ditulis oleh Claudine Salmon,yang terbitpertama kali tahun 2014 dengan judul Ming Loyalist in Southeast Asia: As Percieved through Various Asian and European RecordsEdisi bahasaIndonesia diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2020)dengan judul Loyalis Dinasti Ming di Asia Tenggara: Menurut Berbagai Sumber Asia dan Eropa(2020).

 

Claudine Salmon adalah seorang penulis dan peneliti yang telah puluhan tahun menekuni kajian diaspora Tiongkok,khususnya kelompok etnis Tionghoa di Indonesia. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia,dan sejumlah penghargaan telah diterimanya atas dedikasi dan karya-karyanya tersebut. 

 

Kaya data

Buku ini sepintas terlihat sederhana,karena hanya terdiri atas5 halaman pendahuluan, 3 bab pembahasan,dan 3,5 halaman kesimpulan. Namunbegitumembacanya,kita akanenggan melepaskannya sebelum tuntas. Terutamabagi mereka yang berminat terhadap Sinologi dan sejarah diaspora bangsa Tiongkok. 

 

Buku ini sangat enak dibaca. Data-datanyadiambil darisumber primer lewatstudi pustaka maupun studi lapangan.  Referensinya amat kaya dan akurat, lampirannya amat berharga, dan indeksnya lengkap. Tigaunsur terakhir membuat pembaca ingat lagi bahwa buku ini adalah karya ilmiah, hasil penelitian yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. 

 

Ketika membaca judul bab1dan bab 2,mungkin sesaat kita akan terhenyak, karena Salmon menggunakankata ‘pelarian Ming’. Makna kata pelariancenderung kontradiktifdengan kata ‘loyalis’ yang digunakan dalam judul buku. Untunglah di bagian pendahuluan,penulis mencantumkan definisi ‘loyalis dinasti Ming’. Salmon mengacu pada rumusan Lynn A. Struve (1979), yakni “dapat mencakup siapa saja yang mengubah pola dan tujuan hidupnya guna menunjukkan identifikasi diri yang tak berubah atas dinasti yang sudah runtuh. Istilah ini tidak melulu terbatas pada mereka yang bekerja untuk kebangkitan kembali Dinasti Ming ataupun mereka yang sungguh-sungguh bermaksud menentang Dinasti Qing.” 

 

Sebagaimana terungkap dalam berbagai buku sejarah Tiongkok, ketika kaisar terakhir Dinasti Ming, Chong Zhen, mangkat dan pasukan Manchu menguasai Beijing, perlawanan pengikut setia dinasti ini terus berlangsung. Terutama di wilayah selatan seperti Nanjing, Fujian,dan Zhejiang. Perlawananpaling lama dipimpin oleh Zhang Chenggong, yangdikenal juga sebagai Koxinga. Dia  bertahan di Taiwan hingga akhirnya ditaklukkan sepenuhnya oleh Qing pada 1683. 

 

Dalam masa perlawanan tersebut keadaan menjadi kacau, arus pengungsi yang keluar Tiongkok terus mengalir sehingga pada 1647 pemerintah Qing mengeluarkan undang-undang tentang larangan keluar wilayah Tiongkok. Siapa yang melanggar diancamhukuman penggal leher.

 

Buku ini mengawali pembahasan dengan mengurai secara kronologis arus imigran Tiongkok dalam rentang waktu 1644-1680-an ke wilayah Lautan Selatanatau Asia Tenggara.Salmon membaginya dalam empat kurun waktu 10 tahunanyaitu 1644-1650-an; 1660-an; 1670-an dan 1680-an. 

 

Datang bergelombang

Migran masing-masing gelombang memiliki karakteristik sendiri sesuaiperkembangan sosial, politik, ekonomi Tiongkok. Latar belakang pekerjaan mereka pun sangat beragam,mulai dari pejabat sipil maupun militer, cendekiawan, biksu, pedagang, pengrajin, hingga perompak. Berbeda dengan migran yang datang untuk berdagang atau yang didatangkan untuk menjadi buruh atau kulisecara individual, para loyalis Dinasti Ming umumnya berlayar bersama istri dan anak-anaknya.

 

Bahasan di bab 2semakin menarik,karena menyajikan bagaimana para ‘pelarian Ming’ beradaptasi dan bertahan di tempat baru.Mereka beradaptasi dengan kemampuan yang dimiliki dan tuntutan sistem sosial, politik, dan budaya negeri-negeri yang menerima mereka. Analisis dalam bab ini berbasis pada sumber yang beragam. 

 

Dalam konteks bahasa,terlihat jelas kerja keras Salmon untuk menghasilkan buku ini.  Misalnya,dalam menjelaskan nama tempat yang penyebutannya berbeda oleh bangsa yang berbeda, seperti nama Banteay Measatau Ha Tien. Nama tempat inidisebut berbeda dalam bahasa Sino-Viet, Siam, Khmer,dan Tionghoa (hlm. 53). 

 

Kandungan pengetahuan dalam bab sangat kaya. Terbagi dalam delapan sub-bab berdasarkan wilayah tempat para loyalis Ming bermukim, yaitu empat wilayah penyangga Tiongkoksekarang Vietnam, Kamboja, Laos, Siamdan empat wilayah Nusantara, yakni Melaka, Aceh, Banten, dan Batavia. Pembahasan dilakukan sangat konprehensif, bukanhanya mengungkap upaya adaptasi mereka besertatantangan dan peluangnya. Juga interaksi yang bersifat simbiosis mutualisme antara antara loyalis Ming sebagai pendatang dan penguasa maupun penduduk lokal. 

 

Terungkap, misalnya,sistem syahbandar ternyata sedikit-banyak memberi keuntungan kepada para pengungsi. Variasi adaptasi mereka di masing-masing wilayah membuat bahasan menjadi lengkap. Pola pembahasan seperti ini membuat unsur-unsur humanis menjadi sangat menonjol. Ini sepertitercermin dalam ungkapan “Meskipun banyak pengungsi dan loyalis Dinasti Ming tetap setia pada Dinasti Ming yang sudah jatuh, tampak jelas tidak ada hal praktis yang dapat mereka lakukan untuk itu.” (hlm. 91). Kutipan tersebut menunjukkan bahwa para loyalis seringkali terbentur pada pilihan antara idealisme dan realitas. Jugabagaimana dinamika loyalis Dinasti Ming menghadapi pilihan tersebut. Inilah bagian dari sajian menarik dan berharga buku ini. 

 

Kajian bab 2 juga mengantarkan pembaca untuk memahami mengapa sejumlah  pengungsi tersebut kemudian menjadi tokoh yang dihormati di negeri penerima.Bahkan ketokohannya diakui hingga secara anumerta. Dalam bab 3 dipaparkan dengan rinci berlandaskantemuan dalam sejumlah bangunan, naskah resmi yang ditulis oleh loyalis Dinasti Ming, prasasti, dan ingatan kolektif masyarakat,yang oleh penulis disebut sebagai ‘sejarah liar’. Di antaranya terungkap tokoh Chen Shangchuan, Mo Jiu, Mo Tianci, serta tokoh-tokoh lainnya dihormati di Vietnam dan wilayah penyangga Tiongkok. Atau tokoh Li Wenjing yang begitu membekas di Melaka—yang di dunia Melayu dikenal sebagai Pahlawan Li Kap—hingga ke pemikiran tentang Ponthiamas yang memengaruhi sejumlah pemikir Eropa pada abad ke-18.

 

Buku ini membuat catatan sejarah bangsa-bangsa di Asia Tenggara menjadi lebih lengkap dan membumi. Sebagai kajian budaya,karya Salmon ini berhasil mengangkat fakta dari kebudayaan jelata”—meminjamistilah Prof. Gondomono, Sinolog, Guru Besar di UI—untuk kemudiandisandingkan atau diverifikasi dengan catatan-catatan darikebudayaan agung

 

Sebagai kajian sejarahLoyalis Dinasti Ming di Asia Tenggaradapat disebut sebagai praktik dari metode strukturis,karena berhasil menunjukkan peran sebagianpara loyalis Dinasti Ming sebagai agen perubahan. Terutama dalam interaksinya dengan berbagai struktur yang melingkupinya.  

 

Buku ini sangat layak dibaca bukan hanya oleh diaspora Tiongkok yang ingin lebih tahu asal-usul dan peran para leluhurnya di negeri yang ditempatinya sekarang. Juga masyarakat umum yang ingin memahamikehadiran diaspora Tionghoa di lingkungan mereka.

 

*Penulis adalah dosen Sejarah Tiongkok di Program Studi Cina, Fakultas Ilmu Budaya UI.

 

SUBSCRIBE & FOLLOW