Budaya Sebagai Teks

Pendekatan mutakhir dalam analisis budaya dari etnologi atau antropologi telah melibatkan berbagai disiplin ilmu. Hal ini terjadi pada symbol atau ritual pada budaya yang dimaknai berbeda dan tak sama oleh berbagai disiplin ilmu. Budaya sebagai teks menjadi wawasan bahwa kehidupan sosial diatur melalui tanda-tanda dan symbol-simbol, serta melalui representasi dan interpretasi. Sebagai konsep travelling yang disebarkan luas bahwa  budaya sebagai konstelasi teks. Menciptakan hal baru yang signifikan antara ilmu-ilmu sosial dan studi sastra .
Budaya sebagai teks awalnya terbukti menjadi metafora penting antara antropologi budaya dan studi sastr. Pada awalnya konsep ini masih berkaitan erat dengan penelitian etnografi dan kerangka semiotic antropologi budaya interpretative. Namun, sejak akhir tahun 1940-an telah dimanfaatkan untuk mencakup cakrawala yang lebih luas interdisipliner terhadap studi budaya.
Dalam studi sastra, gagasan budaya sebagai teks telah merangsang pembentukan perspektif baru yang produktif pada sastra sebagai teks budaya. Ini dipicu dengan terbukanya pemahaman tradisional dari teks yang tertutup, termasuk teks tidak stabil. Sebagai studi teks, studi sastra telah menunjukkan kecenderungan untuk mengambil ide kunci ini secara harfiah, dan dengan demikian telah mengadopsinya dengan relative tidak kritis. 
Salah satu titik awal yang mungkin untuk revisi kritis konsep budaya sebagai teks adalah pengamatan yang telah membuka perbandingan dan konektivitas antara disiplin ilmu. Dengan demikian, untuk memahami budaya yang tidak terbatas pada ruang budaya tunggal, perlu menggunakan hubungan semiotic budaya menyeluruh sebagai sumbu perbandingan. Budaya sebagai teks telah menjadi landasan bagi formasi tersebut.  
Kontekstualisasi menjadi salah satu metode untuk mengungkapkan interaksi antara teks, bentuk ekspresi dan koneksi budaya di persimpangan di mana mereka bertemu. Ini akan membuka cara-cara di mana teks-teks sastra yang terlibat dalam bentuk yang lebih luas dari representasi budaya dan pementasan di luar perbatasan tekstual.
Budaya sebagai teks didasarkan pada pemahaman budaya sebagai struktur makna di mana tindakan yang terus menerus diterjemahkan ke dalam tanda-tanda. Metafora ini digunakan untuk mengklaim tekstual tetap berarti. Pilihan terstruktur yang mengambil makna khusus dan menghasilkan efek hanya ketika digunakan. Apa yang muncul di sini adalah pemahaman yang berbeda, sebagai system heterogen dan terbuka.
Batas-batas konsep budaya sebagai teks telah didiskusikan dalam antropologi, sejarah dan ilmu-ilmu sosial dengan peningkatan signifikan. Kritik yang dominan adalah budaya sebagai produk, bukan budaya sebagai produksi, yaitu sebagai tindakan penciptaan. Teks harus dibaca sebagai pertunjukan budaya yang tidak hanya mewakili realitas, tetapi juga merupakan entitas. 
Meskipun studi sastra pada prinsipnya peduli dengan teks dan tidak pada praktek, justru praktek dilakukan di teks. Untuk menjelaskan lebih lanjut tentang tingkat konstitusi praktek dalam teks-teks sastra, bukan hanya pada konstitusi makna. Budaya sebagai teks ternyata menjadi sebuah konsep perjalanan, membuat sebuah proses perlu diterjemahkan.
Studi sastra juga perlu melakukan lebih untuk mengingatkan dirinya sendiri bahwa objeknya tidak hanya merupakan teks budaya, tetapi juga memiliki nilai estetik. Meskipun semua upaya kontekstualisasi budaya, ada tuntutan bahwa keadilan haru dilakukan untuk kekhasan estetika teks sastra individu. Tidak hanya isi budaya yang tercermin melalui literature, tetapi juga struktur dan pola representasi estetika.

No comments:

Post a Comment