Nama lain dari masa depan adalah perjuangan. Tercipta dari rasa takut atau kekhawatiran akan hidup yang tak menentu. Namun, esensi sejati dari hidup bukan di masa depan maupun di masa lalu, melainkan di masa kini. Meskipun tahu akan hal itu, manusia seringkali membayangkan masa lalu dan mengkhawatirkan masa depan. Hal tersebut memaksa manusia untuk bergerak, memujudkan keinginan-keinginan yang ada dalam pikiran dengan dalih memperbaiki hidup di masa depan. 
Keinginan akan selalu berkembang dan bertransformasi dari generasi ke generasi. Tidak jarang keinginan-keinginan tersebut diwariskan, sehingga berpotensi menciptakan gejolak laten. Membuat nalar individu memberontak, bergerak membangun aksi massa di jalanan. Dalam rangka membangun massa aksi ini, Sukarno dalam Indonesia Menggugat pernah berkata,” Kami memberikan rakyat kursus-kursus dan majalah-majalah agar rakyat mengetahui seluk-beluk perjuangan, mengetahui apa sebab ia berjuang, buat apa ia harus berjuang, dengan apa ia harus berjuang.” Artinya, agar rakyat tidak menginjaki jalan yang salah dan tidak pula seperti kambing, mengikuti saja tuntunan tanpa ikut memikir. 
Setiap peristiwa dalam hidup saling berkaitan. Keterkaitan tersebut tidak terjadi begitu saja, melainkan ada suatu penggerak dibelakang setiap apa yang tampak. Aksi turun ke jalan yang dipelopori mahasiswa mendapat respon yang beragam dari masyarakat. Ada yang mendukung,  tidak sedikit yang mencibir. Para pendukung tentu berpendapat, kalau bukan mahasiswa siapa lagi. Sedangkan yang mencibir beranggapan bahwa gerakan turun ke jalan hanya sekedar nostalgia masa lalu. Situasi dan tekanan jauh berbeda dengan reformasi masa lalu.
Terlepas dari opini yang berkembang, terlihat dengan jelas bahwa aksi yang tampaknya satu mempunyai beragam misi. Pertama, mahasiswa yang murni berdemo menuntut perbaikan pasal-pasal krusial pada revisi UU. Kedua, mahasiswa pro-khilafah ala HTI yang sejak lama telah menyusup ke kampus-kampus dan gencar buat tagar provokasi di medsos. Ketiga, tragedy demonstrasi Papua yang tak berkesudahan.
Kelompok pertama, mahasiswa yang murni berdemo sebagai respon atas RUU KUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, RUU Ketenagakerjaan, RUU Mineral dan Batu Bara, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual dan UU Komisi Pemberantasan Korupsi. Mahasiswa menuntut agar DPR melakukan pembahasan ulang terkait pasal-pasal bermasalah. Selain itu, mahasiswa menuntut agar presiden mengeluarkan perpu untuk mencabut UU KPK yang dianggap melemahkan tugas pemberantasan korupsi.
Kelompok kedua, massa pro-khilafah ala HTI yang memanfaatkan momentum untuk membuat kerusuhan dengan tujuan negara chaos. Apapun tuntutan demonstrasi, tidak terlalu penting bagi mereka. Tujuannya tetap mendirikan negara khilafah. Tagar #2019gantipresiden bertransformasi menjadi #turunkanjokowi. Tagar-tagar ini akan terus bermunculan siapapun presidennya. Hal tersebut membuat para pendukung Jokowi kembali unjuk gigi, kali ini dengan tagar #kamibersamajokowi dan #jokowitidaksendiri. Memang tidak semua oposisi bagian dari HTI yang telah resmi dibubarkan pemerintah. Namun, barisan sakit hati HTI akan terus memanfaatkan momentum untuk mengacau negara dan mendirikan negara khilafah palsu ala-HTI.
Kelompok ketiga, demonstrasi yang tak berkesudahan di tanah Papua. Berbagai opini berkembang, dari isi SARA hingga gerakan separatis. Aksi-aksi yang dilakukan mahasiswa di Papua disinyalir digerakkan oleh kelompok separatism untuk menunjukkan eksistensi mereka pada dunia. Aksi-aksi tersebut dilakukan ketika agenda Internasional sedang berlangsung. Dalam forum Internasional, Indonesia sering diserang negara-negara Asia Pasifik untuk melakukan referendum di Papua. Namun, hal tersebut ditolak oleh PBB dan Papua tetap menjadi bagian integral Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Presiden Jokowi akan bertemu dengan perwakilan mahasiswa untuk mendengarkan aspirasi mereka. Beragam peristiwa dan tragedi telah terjadi sepanjang aksi. Yang terpenting dalam sebuah aksi adalah seperti apa yang dikatakan Sukarno, mengetahui apa sebab ia berjuang, buat apa ia harus berjuang dan dengan apa ia harus berjuang. Karena berjuang sebagai wujud pelaksana kata-kata, yang tampaknya mati, tapi bergerak dalam hati dan diwujudkan dalam aksi. Salam Perubahan!
Bertempat di Auditorium Gedung I Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Prof. Dr. Edwin Paul Wieringa beri kuliah umum tentang Iluminasi Naskah Keraton. Pakar Filologi Indonesia dan Studi Islam Universitas Koln ini mempresentasikan hasil temuannya tentang iluminasi. Dalam kajian filologi, ada 2 cabang penelitian yaitu tekstologi yang mengkaji tentang isi teks dan kodikologi yang mengkaji naskah.

"Hiasan pada naskah Melayu lebih sedikit dibanding naskah Jawa atau Bali. Ada dua jenis hiasan dalam naskah, iluminasi dan ilustrasi. Iluminasi, sebagai hiasan pada halaman awal dan/atau akhir naskah, sedangkan ilustrasi, hiasan yang mendukung teks." Jelas Prof. Edwin. Naskah-naskah melayu di Perpustakaan Nasional berisikan gambar-gambar sederhana, sedangkan naskah-naskah di Perpustakaan Leiden, Royal Asiatik Society, SOAS dan British Library, memakai tinta emas dan warna-warnanya lebih memukau.

Keindahan gambar berwarna-warni diselang-seling dengan tinta emas dan perak pada surat-surat ini, yang ditulis pada alas naskah yang bertabur emas, menimbulkan kekaguman pada seni menggambar dan menulis pada zaman lampau. Reproduksi surat-surat indah ini dari masa lampau tergelar di dalam Pemeran Surat-surat Emas pada bulan September 1991 di Jakarta dan Yogyakarta. Memperlihatkan naskah-naskah berupa surat-surat menarik dari raja-raja di Indonesia kepada para pembesar Inggris dan Belanda, juga sebaliknya.
Prof. Azyumardi Azra mengatakan Islam wasathiyah hanya ada di Indonesia, Islam dengan corak yang melebur dengan budaya, toleran dan damai. Meskipun memang kerap terjadi konflik dan intoleransi yang mencatut nama agama, sebut saja konflik di Ambon, Poso dan beberapa kasus kekerasan yang menimpa saudara-saudara Kristen, Ahmadiyah dan Syiah. Atas pemaparan Prof. Azra di muka, saya tentu saja mengapresiasi, hanya saja kita jangan terlena dan apalagi jumawa. Masyarakat kita, semakin ke sini justru semakin mudah tersulut emosi berbahan bakar SARA yang secara tiba-tiba pun begitu mudah meledak. Kita harus terus memperkuat pertahanan persaudaraan kita, sebab virus-virus kebencian mengatasnamakan dan mencatut dalil-dali agama semakin marak dan anehnya diminati. 

Pemaparan berikutnya datang dari Kiai Agus Sunyoto berkapasitas sebagai Ketua Lesbumi PBNU. Beliau--dengan gaya pemaparan yang kalem--mengatakan bahwa telah banyak menemukan naskah-naskah kuno yang tersebar di sepanjang Majapahit, Demak, Mataram, Banten, Cirebon dan lainnya, tidak kurang dari 12.400 naskah. Hanya saja beliau menyayangkan yang bisa mengakses naskah-naskah tersebut (membaca) hanya 3 orang saja. Kali ini Kiai Agus fokus pada genealogi Pesantren sebagai lembaga pendikan Islam asli Indonesia. Pesantren muncul beriringan dengan lembaga-lembaga serupa di antaranya Padepokan, Dukuh, Peguron dan lain sebagainya. Beliau menjelaskan bahwa akar keilmuan dan tradisi Pesantren sangat mengesankan. Naskah-naskah kuno tesebut secara rinci banyak menjelaskan soal tata krama para santri di Pesantren tentang bagaimana adab menunduk di hadapan guru/kiai, tidak boleh duduk sejajar, tidak boleh bertanya, manut apa saja kata guru/kiai, tidak boleh makan dua kali dan seterusnya. 

Kiai Agus juga menemukan fakta dalam naskah-naskah kuno tersebut tentang ajaran poligami sampai 4 istri, kasta-kasta, dan lain sebagainya. Mendapati pemaparan dari Kiai Agus, saya agak kurang pas. Sebab kalau kita bandingkan dengan paradigma pendidikan kritis modern, maka akan terlihat perbedaan dan persoalan yang harus segera diperbaharui dalam sumber maupun ajaran Pesantren sejak dulu hingga sekarang. Ada kesan, bahwa Pesantren sejak dahulu mencerminkan realitas kehidupan feodal mirip seperti kerajaan, di mana bawahan harus tunduk kepada atasan. Saya meyakini, sekalipun pendidikan akhlak itu penting, mestinya tetap proporsional dan kritis. Ini tidak lain agar pendidikan di Pesantren lebih membebaskan dan menjunjung tinggi kreativitas. Syukurlah pada dewasa ini Pesantren menjelma menjadi lembaga pendidikan yang coraknya sangat beragam: mulai dari Pesantren Salaf, Pesantren Modern maupun Pesantren Semi Modern. 

Pemaparan "mengejutkan" datang dari Dr. Fachry Ali. Di awal pemaparannya beliau mengafirmasi pendapat Prof. Susanto Zuhri berkaitan dengan istilah Islam Bahari. Sebagai Islam yang harus dibenturkan dengan sejarah Indonesia masa awal. Dr. Fachry bahkan menuding bahwa Islam Nusantara ini justru perwujudan dari Mataramisme Islam. Beliau memahami Islam Nusantara dari buku yang ditulis oleh Dr. Syafiq Hasyim--bukan dari konsepsi yang kerap dilontarkan oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj. Entah kenapa Dr. Fachry lebih memilih dan memahami konsep Islam Nusantara Dr. Syafiq ketimbang dari Kiai Said. Pernyataan Dr. Fachry kemudian dipertegas dengan poin bahwa struktur berpikir Islam Nusantara adalah pengalaman kolektif santri. Saya menengarai sebetulnya di sinilah Dr. Fachry kembali ingin mengkritik Islam Nusantara sebagai konsep yang kurang kosmopolitan dan universal. 

Saya merasa bahwa pandangan-pandangan Dr. Fachry layak dipertimbangkan. Ini tidak lain agar gagasan Islam Nusantara tidak hanya menjadi kepentingan PBNU dan UNUSIA, melainkan menjadi garapan kita bersama. Sebab kalau tidak, gagasan Islam Nusantara hanya akan berhenti manakala Prof. KH. Said Aqil Siroj sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU. Betapa saya menyimak betul, bahwa dalam sepanjang Simposium Nasional Islam Nusantara berlangsung, para narasumber tamu malah banyak mengkritik ketidaktepatan Islam Nusantara. Padahal sejatinya para narasumber itu bertugas memperkuat konsep Islam Nusantara bukan malah menelanjangi. Saya melihat kalau bukan karena NU mayoritas dan hormat pada para kiai NU, Islam Nusantara bisa jadi akan dipreteli semakin serius oleh para narasumber tamu tersebut. 

Tibalah saatnya pemaparan dari KH. Yahya Cholil Staquf sebagai Katib Am PBNU. Saya menemukan Kiai Yahya yang diplomatis, di mana ternyata, "otak" di balik konsep Islam Nusantara PBNU adalah beliau. Bahkan beliau dengan terang-terangan menyatakan bahwa sejak Islam Nusantara hendak diluncurkan pada Muktamar NU yang sudah lampau, Kiai Yahya-lah "sutradara" di balik itu semua. KH. Ahmad Mustofa Bisri yang saat itu menjabat sebagai Pj Rais Am sepeninggal KH. MA Sahal Mahfudh, manakala hendak menyampaikan tausiyah iftitah Rais Am, redaksi tausiyahnya telah melalui editing Kiai Yahya. Tak terkecuali teks sambutan yang juga disampaikan oleh Prof. Dr. KH. Said Aqil, pemilahan redaksi, diksi dan analisanya adalah berkat tangan dingin Kiai Yahya. Saat itu saya berdecak dan terbelalak, posisi Kiai Yahya di PBNU luar biasa. Ternyata kendali PBNU ada di tangan Kiai Yahya. 

Kiai Yahya tampil lugas. Beliau mengatakan bahwa pertemuan dan konsep Islam Nusantara ini anti klimaks. Beliau juga mewanti-wanti jika pemaparannya akan cenderung melompat-lompat. Bahkan beliau sendiri masih bertanya-tanya: apakah Islam Nusantara ini bertujuan untuk memperkuat diri sendiri (NU) atau untuk menawarkan solusi? Tanpa tedeng aling-aling, Kiai Yahya menyatakan bahwa tidak perlu ada definisi Islam Nusantara yang baku. Islam Nusantara tidak usah didakwahkan, menurut beliau yang perlu didakwahkan itu nilai-nilai NU. Saya benar-benar terkejut menyimak pemaparan Kiai Yahya, sebab mau tidak mau, konseptualisasi Islam Nusantara akhirnya semakin absurd. Namun, Kiai Yahya memang bertanggungjawab atas pemaparannya, bahwa beliau menganggap bahwa Islam Nusantara itu hanyalah sebagai "strategi komunikasi" bukan sebagai konsep dan apalagi sebagai disiplin ilmu. Atas pemarapan Kiai Yahya inilah, saya cukup memahami bahwa pergulatan Islam Nusantara ini hanyalah sebagai kunci keberlangsungan NU untuk merespon zaman yang sifatnya tidak baku dan tidak formal. 

Akhirnya, saya masih berharap akan ada acara serupa yang lebih serius dan memang hal itu diungkapkan oleh Dr. Suaedy bahwa akan ada Simposium Internasional Islam Nusantara menjelang helatan akbar Muktamar NU ke 34 di Lampung, pada Oktober 2020 mendatang. Saya pikir, acaranya akan semakin menarik. Saya berharap jika dalam acara Simposium Inernasional nanti dihadirkan pula para Profesor Doktor ahli sejarah, sosiologi dan antropologi dari Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, Filipina dan lain sebagainya. Sebab atas gagasan Islam Nusantara PBNU dan UNUSIA ini harga diri dan keilmuannya dipertaruhkan, antara apakah gagasan ini akan terus dikembangkan atau akan berhenti di tengah jalan? Istilah Nusantara bagi saya kurang berkarakter jika dibandingkan dengan Indonesia. Maka sampai saat ini masih tetap keukeuh dengan Islam Indonesia ketimbang Islam Nusantara. Konsepsi Islam Indonesia sangat familiar dan kontekstual dengan berbagai pemikiran progresif tentang kesetaraan gender, pluralisme agama, seksualitas, kewirausahaan dan lain sebagainya.
Jakarta – Lembaga Dakwah PBNU melaksanakan Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU) bertempat di Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) Jalan Istana Yatim, Burangkeng, Setu, Bekasi (14/2). MKNU Lembaga Dakwah PBNU ini akan diikuti oleh kurang lebih 100 orang, terdiri dari Pengurus Lembaga Dakwah PBNU, LD-PWNU, dan LD-PCNU, serta elemen Nahdlatul Ulama lainnya, seperti Jatman, Ansor, Pergunu, Ibnu-IPPNU, PMII dll.

Pengasuh Pesantren Motivasi Indonesia (PMI) sekaligus Pengurus Lembaga Dakwah PBNU KH. Nurul Huta HM, mengatakan bahwa MKNU yang dilaksanakan oleh Lembaga Dakwah PBNU ini sangat spesial karena berbarengan dengan Harlah Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama pada tanggal 14 Februari 2020.

“MKNU Lembaga Dakwah PBNU ini sangat istimewa dan spesial karena dilaksankan bersamaan dengan harlah Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama. Semoga semua peserta mendapatkan barokahnya Mbah Hasyim Asy’ari, dan semua peserta MKNU menjadi menerus perjuangan Nahdlatul Ulama.” Ujarnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdltul Ulama (PBNU) membuka Madrasah Kader Nahdlatul Ulama (MKNU). Dalam sambutannya Sekjen PBNU KH. Helmy Faishal Zaini, menyampaikan rasa bangganya dan apresiasi terhadap Lembaga Dakwah PBNU dengan wajah baru yang telah mewarnai Nahdlatul Ulama secara nasional.

Sekjen juga mengatakan bahwa beliau baru saja pulang dari Korea Selatan dan Jepang untuk melantik PCINU. Dalam pelantikan PCINU di Korea Selatan di hadiri oleh 5000 warga Nahdliyyin.

“Luar biasa pelantikan PCINU Korea dihadiri oleh 5000 warga Nahdliyyin Korea. Warga Nahdliyyin dulunya belum punya masjid, tapi sekarang sudah mempunyai delapan masjid yang harganya berkisar antara 8 sampai 9 milyar. Masjid-Masjid yang dibeli warga Nahdliyyin Korea beragam lokasinya, ada juga yang lokasi berhimpitan dengan hiburan malam. Selain masjid yang dibeli ada juga masjid-masjid yang disewa.” Jelasnya.

Materi: http://www.mediafire.com/folder/ti8jo5odmr4by/MKNU

Saat lahir manusia bersifat lembut, tetapi saat ia mati akan menjadi keras. Keras adalah sahabat kematian, dan lembut adalah sahabat kehidupan. Demikianlah kata Lao Tsu, penggagas Taoisme itu seakan ingin mengatakan walyatalaththaf: berlaku lembutlah kamu! Kata yang disinyalir sebagai pertengahan Al-Quran itu, menyimpan sejarah panjang interaksi manusia. Bagaimana pun sejarah itu ditulis, aksara menjadi saksi bisu ketaksempurnaan manusia. Bumi terus berputar dan kehidupan harus terus bergerak.

Prinsip hidup adalah bergerak. Demikian gagasan Herakleitus (535-475 SM), filsuf  Yunani Kuno. Ketika pergerakan hidup dihentikan, kematian pun menjemput. Gerak sebagai prinsip hidup menjadi nyata dalam tubuh. Ketika gerak darah dihentikan, matilah manusia. Yang menarik, saat bergerak, darah juga berbagi. Ia membagikan oksigen dan dan zat gizi kepada sel-sel. Bergerak dan berbagi itu menghidupkan.

Dalam ajaran Islam mukmin yang cerdas adalah yang senantiasa mengendalikan diri. Bergerak melampaui diri yang kemarin, bukan diri yang lain. Menciptakan sebuah kebermaknaan dalam memahami arti sebuah penciptaan. Menjadi ada saja tidak cukup, karena setiap kelahiran memiliki makna, dan kehidupan adalah perjalanan merangkai makna.

Sebagaimana bumi dan matahari yang terus berputar dan tak pernah malas untuk bergerak. Rutinitasnya menciptakan keseimbangan alam. “Dan matahari berjalan di tempat peredarannya . . .” (QS. Yasin: 38).Kebermaknaan dalam penciptaan, terus bergerak menghadirkan kebermanfaatan dan perubahan. Sebagaimana uap air yang terus bergerak dalam siklus hidrologi. “Tidakkah engkau melihat bahwa Allah menjadikan awan bergerak perlahan, kemudian mengumpulkannya, lalu Dia menjadikannya bertumpuk-tumpuk, lalu engkau lihat hujan keluar dari celah-celahnya . . .” (QS. An-Nur: 43)

Dalam tradisi Kristen, merawat kehidupan dengan bergerak dan berbagi. Yesus memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan. Yesus meminta para murid menyuruh ribuan orang duduk berkelompok. Ia mendoakan roti dan ikan, lalu memberikannya kepada para murid untuk diteruskan kepada ribuan orang. Mulailah acara makan Bersama. Setelah semua makan, sisa makanan yang dikumpulkan 12 bakul. Injil menganjurkan untuk memberi dengan sukarela dalam rel kebenaran. “Setiap orang sebaiknya memberi sesuai dengan apa yang dia putuskan dalam hatinya, tidak dengan berat hati atau terpaksa, karena Allah mengasihi orang yang memberi dengan senang hati.” (Korintus 9: 7).Yesus berkata,”Lebih bahagia memberi daripada menerima.” (Kisah 20: 35).

Dalam ajaran Hindu mengajarkan bahwa laku cinta kasih meredam keangkuhan dan memurnikan jiwa. Naskah Arjunawiwaha tertulis,”Sasi wimba haneng ghata mesi banyu, Ndan asing suci nirmala mesi wulan, Iwa mangkana rakwa kiteng kadadining angembeki yoga kiteng sakala.” Bagaikan bayangan bulan pada tempayan berisi air, tapi hanya suci murni saja yang menampakkan bulan,seperti itulah Engkau pada yang tercipta, pada yang tekun mengamalkan yoga Engkau nyata.

Ajaran Hindu seakan menegaskan bahwa cinta kasih dan ketulusikhlasan adalah mutlak. Seseorang tidak akan bisa berkarma, beryadnya, bermeditasi dan melakukan ritual, namun masih menyimpan benci, dendam, iri hati dan amarah. Ekspresi religius yang berlandaskan cinta kasih melahirkan pribadi yang ramah. Bhagavadgita IX. 26 menyebutkan, Patram puspam phalam toyam, Yo me bhaktya prava-cchati, Tad aham bhaktyu-phrtam, Asnami prayatat-manah. Siapapun yang dengan kesujudan mempersembahkan pada-Ku daun, bunga, buah-buahan atau air persembahan yang didasari dengan cinta dan keikhlasan, Aku terima.

Apa yang tidak diinginkan diri sendiri, jangan dilakukan terhadap orang lain. Kalau ingin tegak, buatlah orang lain juga tegak. Jika ingin maju, buatlah orang lain juga maju. Ji shuo bu yi wu shi yi renji yi li er li ren, ji yi da er da ren. Kebijaksanaan dalam agama Konghucu ini seakan selaras dalam anjuran memberi kepada orang yang sedang berbuka puasa dalam Islam. 

مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5: 192. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih)


*Mahasiswa Pascasarjana Filologi Universitas Indonesia tinggal di www.ardiansyahbs.com

Jakarta Awardee Beasiswa LPDP Universitas Indonesia menyelenggarakan rapat kerja dan pelantikan pengurus baru. Bertempat di Auditorium Gedung Mochtar Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia,9/2), acara ini dihadiri oleh kurang lebih 50 pengurus terpilih, perwakilan lurah, dan pihak LPDP.




Perwakilan lurah yang hadir diantaranya dari kampus UGM, ITB, IPB dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sementara pihak LPDP kali ini diwakili oleh Ratna Prabandari yang membidangi pengelolaan alumni LPDP. Para perwakilan lurah dan perwakilan LPDP berdiskusi mensinergikan program untuk kemajuan Bersama.

“Berproseslah! Tidak hanya di dunia akademik, melainkan juga berorganisasi. Karena dengan berorganisasi kalian belajar berkomunikasi dan mengelola emosi.” Pesan Ratna Prabandari di hadapan para peserta. 

Kegiatan di kelurahan harapannya bisa melengkapi dan bersinergi dengan agenda besar LPDP dan Mata Garuda. Ke depan, LPDP akan berfokus pada pengelolaan alumni dan sinergitas antar-mereka.

SUBSCRIBE & FOLLOW