Kemunculan Islam Dalam Kesarjanaan Revisionis


PENULIS                          : Mun’im Sirry
CETAKAN                        : I/2017
TEBAL                              : x + 332
ISBN                                : 978 – 602 – 1326 – 62 – 6

Dalam pengantarnya, penulis memulai dengan mengutip pernyataan sarjana Inggris dalam karyanya yang menyatakan bahwa Muhammad SAW adalah sosok fiktif. Kata Muhammad telah popular dalam sastra klasik pra-Islam sebagai sebuah gelar.
Alih-alih mendapatkan jawaban, buku ini akan membuat pembaca semakin bertanya-tanya terkait kehidupan beragama yang selama ini dijalani. Mengajak pembaca untuk bertransformasi dari beragama secara keturunan menjadi beragama dengan pengetahuan., melengkapi keyakinan teologis dengan akademis. Hadirnya buku ini seakan berpesan agar umat tidak mudah terprovokasi dengan oknum-oknum yang mengatasnamakan agama untuk kepentingan pribadi, harta, kekuasaan, atau hal-hal kecil lainnya.
Kita tidak benar-benar tahu sosok Muhammad SAW yang historis, jika tidak mengetahui secara meyakinkan sosok ‘Yesus Historis’. Begitu pun sebaliknya, kita tidak benar-benar tahu sosok Yesus Historis, jika tidak mengetahui secara meyakinkan sosok ‘Muhammad SAW Historis’.
Jika dilanjutkan, kita tidak benar-benar tahu ajaran Muhammad SAW, jika tidak mengetahui secara meyakinkan kitab Injil. Dan begitu pun sebaliknya, kita tidak benar-benar tahu ajaran Yesus Kristus (Yunani) atau Isa Al-Masih (Arab), jika tidak mengetahui secara meyakinkan kitab Al-Quran.
Secara khusus penulis tidak menganjurkan membaca buku ini bagi 2 jenis pembaca, yaitu: pembaca yang mudah tersinggung manakala pemahaman konvensional terhadap ajaran agama dipertanyakan dan pembaca yang menelan mentah-mentah setiap analisis at face value.
Islam berkembang secara gradual, sehingga memahami Islam tidak bisa secara sepotong-sepotong. Bermula dari munculnya kelompok yang menyatakan diri sebagai reformis, menginginkan Islam seperti generasi awal dan menganggap beberapa yang ada sekarang bukan bagian dari Islam. Sehingga muncullah slogan kembali kepada Al-Quran dan Hadis yang tampaknya benar, serta kelompok takfiri yang tidak hanya membahayakan negara, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan.
Buku ini membahas kemunculan Islam dari tiga aspek, biografi Nabi, sejarah Al-Quran dan ekspansi kekuasaan dari sudut pandang kesarjanaan revisionis yang mempersoalkan narasi tradisional yang sudah menjadi master narrative dan menawarkan suatu penjelasan alternative.
Bab I secara khusus mendiskusikan berbagai persoalan terkait sumber-sumber untuk merekonstruksi Islam awal. Tiga problem dasar yang inheren dalam sumber-sumber Muslim tradisional dianalisis secara detail. Yaitu kitab-kitab yang ditulis belakangan, jauh dari peristiwa terjadi. Sehingga buku ini memetakan berbagai tipologi pendekatan terhadap sumber-sumber tradisional.
Bab II membahas berbagai teori tentang kemunculan Islam awal yang ditawarkan oleh sarjana-sarjana tradisionalis dan revisionis. Penulis lebih condong pada model kesarjanaan jalan tengah, dan tesis-tesis revisionis moderat ini dikembangkan ke dalam bidang-bidang yang lebih spesifik, seperti kajian Al-Quran.
Bab III mendiskusikan Al-Quran dalam periode formatif. Perjalanan Al-Quran dari yang tak berbentuk berupa hafalan-hafalan hingga berupa mushaf. Juga perjalanan teks Al-Quran dari tak berhuruf hingga bertitik dan berharakat. Keterkaitan dengan kitab sebelumnya dan peristiwa-peristiwa yang merujuk ke situasi yang sama.
Bab IV mengembangkan argument terakhir dalam ranah kajian biografi Nabi . Merekonstruksi Muhammad SAW yang historis, bukan sejarah yang diidealisasikan dan diglorifikasikan, dikenal dengan istilah salvation history.
Bab V mendiskusikan proses kristalisasi Islam menjadi agama sebagaimana kita saksikan sekarang menyusul penaklukan dan ekspansi kekuasaan politik dan territorial. Bab ini mendiskusikan berbagai teori tentang motif dan modal kesuksesan ekspansi awal dengan menggabungkan bukti-bukti historis dalam tradisi Muslim dan non-Muslim.
Dalam bab penutup, penulis menjabarkan bagaimana situasi Islam di masa awal, bukan situasi di masa literature-literatur utama ditulis kerena penulisan literature itu jauh setelah peristiwa Islam di masa awal terjadi.

No comments:

Post a Comment