Api Tauhid

PENULIS                          : Habiburrahman El Shirazy
CETAKAN                        : vii/2015
TEBAL                              : xxxvi/588
ISBN                                : 978 – 602 – 8997 – 95 – 9
                                       
Novel Api Tauhidini adalah novel roman dan sejarah. Sebuah tulisan yang bernada kritik dan saran bagi perbaikan umat kini yang cenderung mengikuti arus budaya Barat. Padahal kemunduran cahaya Islam dimulai dari keroposnya bangunan akidah dan akhlak kaum muslim. Fenomena ini disuguhkan penulis lewat kisah hidup tokohnya. Berawal dari perjuangan anak muda asal Lumajang, Jawa Timur, yang bernama Fahmi. Ia dan beberapa rekannya seperti Ali, Hamza, dan Subki, menuntut ilmu di Universitas Islam Madinah.

Dalam perjalanannya Fahmi, mahasiswa S2 harus menghadapi situasi yang cukup pelik, dalam urusan rumah tangga. Dia menikah dengan Nuzula anak seorang Kiai secara sirri. Karena suatu alasan, Nuzula meminta cerai setelah empat bulan pernikahan. Padahal mereka belum tinggal satu atap. Kyai Arselan, ayah Nuzula memaksa Fahmi untuk menjatuhkan talak. Fahmi depresi. Semua persoalan yang dialaminya itu tak pernah ia ungkapkan dengan teman-temannya. Kegalauannya itu ia tumpahkan dengan cara beri’tikaf di Masjid Nabawi, Madinah, untuk mengkhatamkan hafalan Al-Qur`an sebanyak 40 kali. Sayangnya, upayanya itu hanya mampu dijalani selama 15 hari. Memasuki hari-hari berikutnya, Fahmi pingsan. Ia tak sadarkan diri, hingga harus dibawa ke rumah sakit.

Sahabat-sahabatnya khawatir dengan kondisinya yang pemurung dan tidak seceria dulu. Hamza, temannya yang berasal dari Turki, mengajak Fahmi untuk berlibur ke Turki. Hamza berharap, Fahmi bisa melupakan masa-masa galaunya selama di Turki nanti. Untuk itulah, Hamza mengajak Fahmi menelusuri jejak perjuangan Said Nursi, seorang ulama besar asal Desa Nurs. Ulama terkemuka ini, dikenal memiliki reputasi yang mengagumkan. Berbagai peristiwa di balik runtuhnya khilafah terakhir Turki Ustmani yang mengubah wajah sejarah dan peta politik dunia hingga kini juga tersaji di sini.

Di Turki, Fahmi berkenalan dengan Aysel yang mengalami masa lalu kelam. Tafakkur Aysel akan hadirnya harapan baru membuat ia mengubah penampilannya seperti Emel, sepupunya. Aysel memakai cadar dan abaya, juga rajin shalat di awal waktu. Selama di Turki mereka melakukan perjalanan menyusuri sejarah hidup ulama bernama Said Nursi. Said Nursi adalah bukti keberkahan orang tuanya, Nuriye dan Mirza yang selalu menjaga kehalalan dalam setiap sendi kehidupan. Jejak kehidupan Said Nuris dimulai dari Istanbul, Kayseri, Gaziantep, Sanliurfa, Konya, Isparta, hingga Barla.

Syaikh Said Nursi sudah mampu menghafal 80 kitab karya ulama klasik pada saat usianya baru menginjak 15 tahun. Tak hanya itu, Said Nursi hanya membutuhkan waktu dua hari untuk menghafal Al-Qur`an. Sungguh mengagumkan. Karena kemampuannya itu, sang guru, Muhammed Emin Efendi memberinya julukan ‘Badiuzzaman’ (Keajaiban Zaman). Said Nursi juga gemar berpindah madrasah untuk menuntut ilmu.

Keistimewaan Said Nursi membuat iri teman-teman dan saudaranya. Ia pun dimusuhi. Namun, Said Nursi pantang menyerah. Semua diladeni dengan berani dan lapang dada. Tak cuma itu, rekan-rekan dan saudara-saudaranya yang iri dan cemburu akan kemampuannya, para ulama besar pun merasa terancam. Keberadaan Said Nursi membuat umat berpaling. Mereka mengidolakan Said Nursi. Pemerintah Turki pun merasa khawatir. Sebab, Said Nursi selalu mampu menghadapi tantangan dari orang-orang yang memusuhinya. Ia selalu mengalahkan mereka dalam berdebat.

Tak kurang akal, pejabat pemerintah pun diam-diam berusaha menyingkirkannya. Baik dengan cara mengusirnya ke daerah terpencil, maupun memenjarakannya. Ia pun harus berhadapan dengan Sultan Hamid II hingga Mustafa Kemal Atturk, pada masa awal Perang Dunia I. Selama 25 tahun berada di penjara, Said Nursi bukannya bersedih, ia malah bangga. Karena disitulah ia menemukan cahaya abadi ilahi. Ia menemukan Api Tauhid. Dan melalui pengajian-pengajian yang diajarkannya baik di masjid maupun di penjara, murid-muridnya selalu menyebarluaskannya kepada khalayak. Baik dengan cara menulis ulang pesan-pesan Said Nursi, maupun memperbanyak risalah dakwahnya. Murid-muridnya berhasil merangkum pesan dakwah Said Nursi itu dengan judul Risalah Nur. Murid-muridnya tidak ingin, Api Tauhid yang dikobarkan Said Nursi berakhir.

Ada lima pilar yang ditawarkan olehnya untuk menjawab tantangan zaman yang makin jauh dari nilai Islam yang terangkum dalam Risalah Nur. Kelima pilarnya yaitu persatuan hati, cinta bangsa, pendidikan, memaksimalkan daya upaya, hingga menghentikan pemborosan di pemerintahan. Turki menghilangkan identitas Islam dan budaya Asia yang melekat lewat bahasa, pakaian, juga agama. Turki membuat dinding pemisah untuk sains dan agama sehingga tidak bercampur. Padahal sains dan Islam tidak boleh dipisahkan, karena akan membuat kerancuan sehingga timbul sikap tak percaya bahwa Allah itu ada sebagai pencipta alam semesta dan seisinya. Kehidupan kesultanan Turki Utsmani yang jauh dari nilai Islam membuatnya tenggelam dari peradaban. Turki terpuruk dan terseret dalam kancah Perang Dunia I yang membuatnya rugi secara moril maupun materiil.

Lewat sejarah Perang Dunia I, banyak efek yang imbasnya sampai kini terasa. Seperti pembantaian di Kurdistan, pencaplokan wilayah Palestina oleh Zionis, penghapusan hukum Islam. Pelarangan aktivitas yang melibatkan agama Islam, seperti pelarangan adzan menggunakan bahasa Arab, hukum waris yang disamakan antara lelaki dan perempuan, hingga pembekuan masjid menjadi museum. Islamofobia mulai digencarkan sehingga umat Islam jauh dari ulama.

Lewat tokoh Fahmi yang hafal Al Qur’an, penulis menunjukkan keistimewaan para penghafal Al Qur’an. Fahmi mengalami keajaiban berkat kasih sayang Allah. Ada beberapa quote favorit dari Said Nursi. Ada pula doa-doa yang diwiridkan oleh Fahmi seperti doa nabi Yunus, doa mendengar pujian, dan doa masuk masjid Nabawi. Penulis menyisipkan ilmu fiqh seperti bahwa sepupu sebenarnya bukan mahram kecuali sepersusuan (117), kewajiban meminta kehalalan dari orang yang digosipkan (124), dan mahar potong kaki yang ditawarkan Emel akan menimbulkan pro dan kontra (553).

Ada kekurangan dalam novel ini. Tidak ada keterangan arti kata ghazi, darwis, pasha, dan efendi. Ada pula typo di beberapa halaman, seperti:
  1. pemerintaan : pemerintahan (347),
  2. ditangan : di tangan (348)
  3. masyarat : masyarakat (356)
  4. apapun : apa pun (388)
  5. ketera : kereta (412)
Ada pula inkonsistensi penggunaan kata ganti dalam kalimat:
Aku akan ikhtiar… Saya akan musyawarah…”(548)
“Baiklah, aku akan coba. Saya harus menemani…”(559)

            Label novel dewasa juga harus disematkan dalam novel ini karena ada dua interaksi Fahmi dan Nuzula sebagai pasangan halal. Karakter dalam novel ini digambarkan seperti manusia biasa dengan sifat abu-abunya. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa tidak ada manusia yang bersih di dunia ini. Jika ada dosa, maka bersegeralah untuk bertaubat pada-Nya.

Romansa cinta dalam balutan keshalihan menghadirkan keberkahan pernikahan berawal dari niat suci saat akad. Niat yang dilandasi ibadah akan membuatnya jauh dari godaan dunia. Kelezatan ilmu pun mampu menyingkirkan rasa rindu pada makhluk. Bila cahaya sudah menyinari hati, maka api tauhid akan menyala di dada para penjaga Al Qur’an. Novel ini layak dibaca bagi yang ingin meneladani kehidupan ulama besar, menggelorakan semangat Islam dan perbaikan diri sepanjang hayat.

No comments:

Post a Comment