Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional, Ponpes Darul Ihsan selenggarakan studi kebangsaan menauladani spirit kebangsaan pahlawan dan para santri yang berjuang melawan penjajahan (25/10). Kegiatan ini bertujuan untuk mendidik generasi muda agar senantiasa mengingat sejarah dan membekali santri supaya tidak mudah terprovokasi oleh kelompok yang menggunakan agama sebagai tameng politik.

Fundamentalisme sebagai gerakan atau paham yang 'seakan-akan' berupaya untuk kembali kepada apa yang diyakini sebagai dasar atau fundamen. Paham ini sering berbenturan dan menganggap kelompoknya lebih murni dari kelompak lain bahkan dalam lingkungan agamanya sendiri. Seringkali mereka mencoba meraih kekuasaan politik untuk memaksakan apa yang dianggapnya benar. Simbol-simbol agama seakan-akan menjadi symbol pergerakannya sehingga siapa pun yang berusaha melawan gerakannya dianggap melawan agama secara umum. Pengikutnya biasanya tidak mempunyai pemahaman agama yang mumpuni atau menggunakan pola piker (eksakta) untuk memahami agama. Saya menyebutnya orang-orang yang tertipu.


Sedangkan cosmopolitan adalah paham yang menyatakan bahwa semua manusia merupakan satu komunitas tunggal yang memiliki moralitas sama. Nilai-nilai inklusif membuat paham ini diterima di semua kalangan dan mampu menyesuaikan diri dalam menghadapi setiap perubahan. Semboyannya, mempertahankan budaya lama yang baik dan mengambil budaya baru yang lebih baik.


Situs yang menjadi tujuan pertama perjalanan ini adalah kompleks pemakaman Gus Dur. Lokasinya terletak di Pesantren Tebuireng, Jombang. Di kompleks ini ada banyak makam, namun setidaknya ada tiga tokoh yang jalan hidup dan pemikirannya perlu diteladani yaitu K. H. Hasyim Asy’ari selaku deklarator Resolusi Jihad sebagai penggerak para santri melawan penjajahan. Beliau mengintegrasika antara agama dan negara, nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.

Kemudiaan sosok Gus Dur yang seorang Kiai juga seorang Presiden. Cara belajarnya sangat menarik untuk diteladani oleh generasi muda. Dan juga Mbah Ali Maksum seorang ahli falak penyusun kitab Amtsilah Tashrifiyah yang fenomenal di kalangan pesantren. Ketiga tokoh tersebut sebagai inspirasi generasi milenial untuk melanggengkan aksi bela tauhid berwujud tahlilan.

Perjalanan dilanjutkan menuju situs Bung Karno, Blitar. Di sini ada tiga tempat yang harus dikunjungi oleh para peziarah, yaitu museum, perpustakaan dan pesarean. Museum menyimpan barang-barang yang berhubungan dengan Bung Karno. Yang menarik bagi saya dari sekian ratus koleksi museum ini adalah tulisan terakhir Bung Karno di sebuah kain menggunakan tinta darah, yang bertuliskan: “Pertahankan revolusi di atas relnya yang asli”. Manuskrip kuno dan karya tulis Bung Karno yang tersimpan dalam perpustakaan menjadi rujukan yang tak boleh ditinggalkan. Dan pesarean sebagai wahana refleksi diri bahwa tidak ada kekuatan satu pun kecuali Yang Esa.


Tidak jauh dari kompleks pemakaman Bung Karno, ada Istana Gebang yang dulu menjadi tempat tinggal Bung Karno. Dalam kutipan yang tertempel di pintu masuk rumah ini menuliskan Bung Karno selalu mengunjungi rumah ini untuk mengunjungi ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai. Sejauh perjalanan seorang anak, maka tempat kembali adalah kepada Sang Ibu. Perjalanan selanjutnya dilanjutkan ke kompleks Candi Penataran. Luas candi ini menjadi yang terbesar di Jawa Timur dan menjadi icon kebudayaan.


Perjalanan bukan sekedar perpindahan tanpa arti, melainkan menjaga momentum hijrah dalam hati.


Aku tak bermimpi tentang pahala
Walaupun perjuangan harus bertaruh nyawa
Yang kudamba hanyalah kedaulatan negara
Tidak terbatas kemerdekaan dalam raga
Tetapi harus menjelma dalam jiwa

T A Y A

by on 15:59
Aku tak bermimpi tentang pahala Walaupun perjuangan harus bertaruh nyawa Yang kudamba hanyalah kedaulatan negara Tidak terbatas k...


Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Provinsi Jawa Timur menyelenggarakan pembinaan instruktur Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan di Hotel Grand Whiz, Trawas, Mojokerto pada tanggal 16-17 Oktober 2018. Agenda ini dihadiri oleh seratus peserta yang terdiri dari ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik representasi tiap kota, pengurus Forum Kerukunan Umat Beragama Jawa Timur, para akademisi dan kader Bela Negara.


Acara dibuka oleh Bapak Cahyo mewakili ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Jawa Timur. Kemudian materi sesi pertama disampaikan oleh Prof. Anita Lie, MA, Ed.D dengan tema Penguatan Peran Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan dilanjutkan oleh Ucu Martanto, S. IP, MA terkait substansi PERDA Penguatan Toleransi Kebhinnekaan.


Keesokan harinya, materi sesi kedua yang disampaikan oleh ketua Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Banyuwangi tentang pengalaman Pusat Pendidikan dan Wawasan Kebangsaan Kab. Banyuwangi dalam mengimplementasikan peran dan fungsinya. Dilanjutkan penjelasan tentang implementasi pendidikan wawasan kebangsaan dalam menjaga NKRI oleh purnawirawan ‘polisi tanpa seragam’ AKBP Drs. Joko Wiswoto.

Setelah mengikuti acara ini, para peserta diharapkan menjalankan roda pembinaan di wilayahnya masing-masing. Menjalankan peran dan fungsi Pusat Pendidikan Wawasan Kebangsaan sesuai dengan maksud dan tujuannya selama ini. Di penghujung acara, narasumber mengutip sebuah quote, “Agama dan Nasionalisme adalah dua kutub yang tidak berseberangan. Nasionalisme adalah bagian dari agama dan keduanya saling menguatkan.”

Kearifan local tak boleh terpental
Menghadapi kehidupan yang kian mengglobal
Memperkuat jati diri dengan ketahanan mental
Terhadap pengaruh negative menjadi kebal
Membentengi generasi muda dari paham radikal
Atas nama ustad padahal pembual
Yang tak mendapat tempat secara konstitusional



Kita hidup di dunia kata-kata,
Tidak ada dunia di luar dunia kata-kata.
(Jacques Derrida)


Peristiwa sosial, politik, sastra dan sebagainya tidak pernah lepas dari unsur bahasa sebagai medianya, sebab bahasa merupakan sarana seseorang mengungkapkan ide, berpikir, menulis, berbicara dan mengapresiasi karya. Di sisi lain, pembicaraan tentang interpretasi terhadap teks untuk dicari maknanya terkait erat dengan hermeneutika. Hermeneutika teks dalam konteks diri manusia dengan relasi sosialnya dan dalam relasi berbahasa dan berelasi sistem tanda itulah dirumuskan ‘siapa aku/diri ini dan siapa diri yang lain itu?’


Dalam bahasa Yunani adalah hermeneutikos, berasal dari kata hermeneuo yang artinya menafsir. Kata ini diambil dari kata Hermes, yaitu nama dewa Yunani yang tugasnya mebawa berita-berita kepada manusia. Dalam bahasa Ibrani adalah pathar, yang artinya menafsir. Kata ini paling umum digunakan dalam menafsirkan mimpi berwujud simbol yang artinya tidak jelas. Dalam bahasa Arab ada istilah tafsir, takwil, tarjim dan tadabbur. Tafsir bermakna penjelasan , takwil bermakna alih makna yang bisa diterima akal, tarjim bermakna alih bahasa dan tadabbur bermakna merenungkan.

Ilmu yang mempelajari teori-teori, prinsip-prinsip atau aturan-aturan dan metode-metode penafsiran. (L. Berkhof). Seni yang menguji kemampuan untuk mengaplikasikan prinsip-prinsip penafsiran. Ilmu yang mempelajari keseluruhan proses penafsiran, terutama dalam dimensi spiritual bagi kepentingan pertumbuhan rohani penafsir. Eksegesis: penerapan prinsip. Eksposisi: penguraian hasil eksegesis. Tujuan mempelajari hermeneutic diantaranya: Sebagai pengetahuan, sebagai alat, untuk pertumbuhan rohani, sebagai tindakan preventif dan untuk tujuan eksposisi.

Aliran-aliran dalam penafsiran atau penyelidikan naskah terus berkembang seiring perkembangan zaman. Metode penafsiran dari kelompok-kelompok tertentu mengikuti aliran-aliran tertentu. Diantara aliran-aliran yang timbul dan berkembang tersebut akhirnya dapat digolong-golongkan sebagai berikut:
1.      Metode Alegoris
2.      Metode Mistis
3.      Metode Perenungan
4.      Metode Rasional
5.      Metode Literal


Sedangkan tokoh-tokoh hermeneutic diantaranya:
´ Friedrich Ernst Daniel Schleiermacher (1768 - 1834) Jerman
Romantisis. Ia yang  memperluas pemahaman hermeneutika dari sekedar kajian teologi menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Dalam upaya memahami wacana ada unsur penafsir, teks, maksud pengarang, konteks historis dan konteks kultural.
´ Wilhelm Dilthey (1833 - 1911) Jerman
Metodis. Proses pemahaman bermula dari pengalaman, kemudian mengekspresikannya. Pengalaman hidup manusia merupakan sebuah neksus struktural yang mempertahankan sebagai sebuah kehadiran masa kini.
´ Edmund Husserl (1889 - 1938) Ceko
Fenomenologis. Proses pemahaman yang benar harus mampu membebaskan diri dari prasangka, dengan membiarkan teks berbicara sendiri. Oleh sebab itu, menafsirkan sebuah teks berarti secara metodologis mengisolasikan teks dari semua hal yang tidak ada hubungannya , termasuk bias-bias subjek penafsir dan membiarkannya mengomunikasikan maknanya sendiri pada subjek
´ Martin Heidegger (1889 - 1976) Jerman
Dialektis. Pemahaman sebagai  sesuatu yang muncul dan sudah ada mendahului kognisi. Oleh sebab itu, pembacaan atau penafsiran selalu merupakan pembacaan ulang atau penafsiran ulang.
´ Hans-George Gadamer (1900 - 2002) Jerman
Dialogis. Pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis, bukan metodologis. Artinya, kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode, tetapi melalui dialektika dengan mengajukan banyak pertanyaan. Dengan demikian, bahasa menjadi medium sangat penting bagi terjadinya dialog.
´ Jurgen Habermas (1929) Jerman
Kritis. Pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horison pemahaman adalah kepentingan sosial yang melibatkan kepentingan kekuasaan interpreter. Setiap bentuk penafsiran dipastikan ada bias dan unsur kepentingan politik, ekonomi, sosial, suku dan gender.
´ Paul Ricoeur (1913) Perancis
Simbolis. Ada perbedaan interpretasi antara teks tertulis dan percakapan. Makna tidak hanya dimbil menurut pandangan hidup pengarang, tetapi juga menurut pengertian pandangan hidup dari pembacanya.
´ Jacques Derrida (1930) Aljazair
Dekonstruksionis. Setiap upaya menemukan makna selalu menyelipkan tuntutan bagi upaya membangun relasi sederhana antara petanda dan penanda. Makna teks selalu mengalami perubahan tergantung konteks dan pembacanya.

Sejarah perkembangan hermeneutic berikut ini:
Ilmu Hermeneutik adalah ilmu yang cukup baru, dikenal sekitar tahun 1567 M. Namun demikian prinsip-prinsip Hermeneutika sebenarnya sudah dikenal sejak zaman diaspora, yaitu masa pembuangan bangsa Israel. Oleh karena itu untuk mempelajari sejarah hermeneutik harus kembali paling tidak lima abad sebelum Isa Al-Masih lahir:
A.     Hermeneutik Yahudi
B.      Hermeneutik Apostolik
C.      Hermeneutik Bapak-Bapak Gereja
D.     Hermeneutik Abad Pertengahan
E.      Hermeneutik Reformasi
F.      Hermeneutik Pasca-reformasi
G.     Hermeneutik Modern

Sang Amengku Bumi Gadjah Mada, tidak dilahirkan dalam lingkungan yang nyaman  dan berkecukupan. Jalan hidupnya penuh perjuangan, pengabdian dan pengorbanan. Jiwa raganya tegak. Langkahnya penuh makna. Karyanya nyata dan mampu mempersatukan Nusantara. Tokoh panutan yang lahir di Lamongan. Tokoh ideal generasi milenial.

Ekspedisi Gajah Mada merupakan perjalanan napak tilas masa kecil Gadjah Mada yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai Joko Modo. Pagi sebelum perjalanan napak tilas ekspedisi Gajah Mada di tanah kelahirannya (8.10), saya berdiskusi dengan Ki Agus Sunyoto di rumah dinas Bupati Lamongan. Beliau menjelaskan panjang lebar tentang kondisi yang memprihatinkan bangsa Indonesia yang tidak memiliki sosok pemimpin sejati.

Sosok leluhur yang dikaburkan dari ingatan masyarakat Indonesia, membuat hilangnya kepercayaan diri dan rasa bangga menjadi bangsa Indonesia. Hal itu bisa dilihat dari nama pemberian orang tua milenial yang kebarat-baratan atau kearab-araban, juga generasi muda yang menggandrungi budaya luar, mulai dari K-Pop, cinema India, dan parahnya sebagian yang lain malu menggunakan adat budaya sendiri.

Ekspedisi dimulai dari Pendopo Lokatantra Kabupaten Lamongan. Panitia memberikan arahan kepada peserta agar berkendara secara rapi. Ekspedisi ini akan dikawal oleh pihak kepolisian menggunakan mobil patwal. Bendera merah putih yang dipasang dan sirine mobil memecah konsentrasi setiap penduduk. Sepanjang perjalanan, rombongan ekspedisi mendapat penghormatan dari penduduk.


Titik pertama tujuan ekspedisi adalah tempat kelahiran Gadjah Mada, yaitu Dusun Cancing, Desa Sendangrejo yang sekarang masuk Kecamatan Ngimbang Kabupaten Lamongan. Di tempat ini ada situs Gunung Ratu yang dipuncaknya terdapat makam ibunda Mahapatih Gadjah Mada, Eyang Ratu Dewi Andong Sari. Selain itu juga ada makam prajurit bernama Kucing Condromowo dan Garangan Putih. Dan tidak jauh dari kompleks makam ada Sendang Sidowayah yang airnya tidak pernah surut dan jernih. Untuk menuju ke puncak, pengunjung harus melewati anak tangga yang cukup menanjak dan melelahkan.


Pak Jumain selaku juru kunci mengatakan bahwa situs Gunung Ratu baru dibuka tahun 1999. Beberapa tokoh nasional silih berganti mengunjungi tempat ini. Menurut keterangan Ki Agus Sunyoto, daerah ini merupakan perkampungan prajurit. Cancing pada zaman itu adalah nama krincingan emas yang digunakan untuk mengetahui dan mengukur arah mata angin.

Dewi Andong Sari merupakan salah satu selir Raden Wijaya. Perhatian raja kepada Dewi Andong Sari membuat selir yang lain merasa cemburu. Dikirimlah Kucing Condromowo dan Garangan Putih untuk menyingkirkan Dewi Andong Sari dari istana. Sampai di gunung ini, dua pengawal itu tidak sampai hati mengakhiri riwayat Dewi Andong Sari. Di Sendang Sidowayah kedua pengawal tersebut memberikan kesempatan Dewi Andong Sari untuk mencuci muka dan membersihkan diri.


Gadjah Mada mengawali hidupnya dengan kebingungan. Dia memiliki kulit yang cerah, berbeda dengan masyarakat sekitar yang berkulit sawo matang. Pada zaman itu, orang asing dianggap kasta bawah. Warga pribumi yang berkulit sawo matang mempunyai kasta tertinggi dan lebih berhak mengambil peran di segala lini kehidupan. Apa yang dialami Gadjah Mada sebagai konsekuensi pernikahan pratiloma, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh wanita berkasta tinggi dengan lelaki berkasta di bawahnya. Anak yang dilahirkan dari pernikahan ini mempunyai kasta tidak lebih tinggi dari ayahnya.

Kasta tinggi yang diterima Dewi Andong Sari karena Dewi Andong Sari adalah cucu Raja Kertanegara. Ketika raja melakukan invasi ke daerah, raja menikahi seorang gadis desa. Tidak sampai melahirkan, raja meninggalkan perempuan tersenut dengan kain dadar, kain yang menunjukkan bahwa keturunannya adalah keturunan raja. Padmi yang memberitahu Gadjah Mada bahwa kain yang dimilikinya sama dengannya.

Karir Gadjah Mada dimulai sebagai Patih Kahuripan, kemudan Patih Daha dan selanjutnya sebagai Mahapatih Mangkubumi. Gadjah Mada bukan orang sembarangan, dia menulis sendiri Prasasti Gadjah Mada untuk pembangunan sebuah candi. Gadjah Mada dikenal dengan seorang yang tidak mau istirahat sebelum tugas atau impiannya tertuntaskan. Gadjah Mada juga mampu menyempurnakan Kitab Hukum Majapahit yang digunakan generasi setelahnya. Kitab tersebut menjadikan inspirasi Belanda sehingga lulusan hokum Utrecth University akan mendapatkan Medali Gadjah Mada jika mampu menyelesaikan pendidikan jenjang doctoral.

Selain itu, Gadjah Mada juga menulis buku Asta Dasa Kotamaning Prabu yang berisi 18 kriteria yang harus ada dalam sosok seorang pemimpin, yaitu: Wijaya, Mantriwira, Natangguan, Satya Bakti Prabu, Wagmiwak, Wicaksaneng Naya, Sarjawa Upasama, Dirosaha, Tan Satresna, Masihi Samasta Buwana, Sih Samasta Buwana, Negara Gineng Pratijna, Dibyacita, Sumantri, Nayaken Musuh, Ambek Parama Art, Waspada Purwa Arta, Prasaja. Terlepas dari semua itu, Gadjah Mada bukan tanpa celah. Dia lupa bahwa manusia tidaklah kekal, sehingga tidak mendidik generasi penerus yang mewarisi kesaktiannya.

Titik yang kedua adalah Dusun Bedander Desa Sumbergondang Kecamatan Kabuh yang sekarang masuk wilayah administrasi Jombang. Berawal dari Joko Modo diterima sebagai prajurit. Ketika Majapahit krisis, Joko Modo diangkat sebagai pemimpin pasukan gajah.  Wilayah ini pernah menyelamatkan Raja Jayanegara yang kemudian diganti oleh adiknya Tribuanatunggadewi. Pada masa ini pemerintahan dipindah ke Bangsal dan Turi.

Titik ketiga Dusun Bowo Desa Cangkring yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Bluluk Kabupaten Lamongan. Ditemukan batu andesit yang diperkirakan bekas bangunan suci. Prasasti Bluluk sekarang berada di museunm nasional. Pada zaman Singosari,  daerah ini merupakan wilayah pertahanan untuk mengamati lalu lintas perdagangan. Wilayah sima atau perdikan karena memelihara bangunan suci.

Titik keempat berada di daerah Modo. Terdapat punden yang menunjukkan bahwa  Gadjah Mada beragama Kapitayan yang merupakan agama Jawa Kuna (sebelum Hindu-Buddha). Literatur belanda menunjukkan situs ini megalitik. Orang Jawa tidak mengenal dewa, melainkan melakukan ritual sembahyang untuk Taya. Dalam bahasa Kawi Taya bermakna kosong atau suwung. Maksudnya, orang Jawa sebisa mungkin mengosongkan hati dari keterikatan duniawi. Ditempat ini Gadjah Mada bertemu sosok yang tampak nggak waras yang selalu muncul ketika menghadapi kesulitan.


Percik jingga di ufuk barat
Seakan menjadi saksi bisu
Perjalanan jiwa-jiwa yang tenang
Menghamba dalam keharibaan-Nya
Setetes tinta kugoreskan
Mengharap cinta yang kian pudar
Dalam perebutan apa itu benar
Tidak kah kita saksikan
Apa yang tampak terkadang menipu
Dan apa yang tak tampak sebenarnya ada
Dalam lorong-lorong perjuangan
Menjaga keheningan hati
Di negeri nan subur
Zamrud Khatulistiwa


Tanah raja
Menyimpan banyak rahasia
Melahirkan banyak Jawara
Menemukan banyak saudara

Tanah raja
Kau boleh berbuat apa saja
Kau boleh beragama apa saja
Kau bisa makan apa saja

Tanah raja
Kesadaran diri sebagai batasan
Seduluran sebagai tugas para utusan
Petilasan sebagai wujud penghormatan

Tanah raja
Amukti Pallapa syarat kemenangan
Sugih Tanpa Bondo tujuan kemenangan
Digdaya Tanpa Aji cara meraih kemenangan
Mamayu Hayuning Bawana jalan menuju kemenangan
Menang Tanpa Ngasorake prinsip para pemenang

Tanah Raja

by on 17:00
Tanah raja Menyimpan banyak rahasia Melahirkan banyak Jawara Menemukan banyak saudara Tanah raja Kau boleh berbuat apa saja...

Tumenggung Surajaya merupakan gelar yang diberikan Sunan Giri IV alias Sunan Prapen kepada Rangga Hadi yang dikenal masyarakat sekitar sebagai Mbah Lamong. Pemberian gelar tersebut menjadi babak baru perubahan status wilayah karanggaan menjadi kadipaten yang sekarang dikenal dengan Lamongan. Perubahan keranggaan menjadi kadipaten, memberikan kedaulatan untuk melakukan perlawanan membela diri jika sewaktu-waktu diserang asing. Rangga Hadi dengan gelar Tumenggung Surajaya menjadi adipati pertama wilayah Lamongan tepat pada tanggal 26 Mei 1569 atau 10 Dzulhijjah 976 H.

Dalam masa pertumbuhannya, Hadi adalah sosok yang cerdas. Terlihat semenjak remaja, dia selalu mendatangi orang-orang pintar untuk belajar dan memperdalam ilmunya. Pertemuannya dengan Sunan Prapen seperti air mineral yang menghapus dahaga dalam kekeringan. Pada mulanya Hadi tidak berniat menuju Giri Kedaton. Dia berniat menuju bekas wilayah pusat pemerintahan Majapahit.

Dari tanah kelahirannya, di tengah hutan yang sekarang dikenal dengan Dusun Cancing, Desa Sendangrejo, Kecamatan Ngimbang, Hadi bertekad untuk berkelana dan meninggalkan desanya menuju Trowulan untuk mempelajari khazanah bekas kekuasaan dan kekuatan Majapahit. Namun di tengah perjalanan, Hadi bertemu dengan para pedagang di Desa Pamotan yang sekarang masuk Kecamatan Sambeng. Pedagang-pedagang tersebut ternyata berasal dari Mapel (Gresik) menyusuri sebuah sungai (Kali Lamong) yang bermuara di Segara Madu.

Pedagang-pedagang tersebut memberikan informasi kepada Hadi bahwa di Mapel, tepatnya di perbukitan Giri ada seorang wali yang memiliki kesaktian luar biasa. Mendengar kabar tersebut, Hadi membatalkan niatnya menuju Trowulan dan berniat berguru kepada Kanjeng Sunan Giri. Dengan tekad yang kuat, berjalanlah Hadi selangkah demi selangkah menuju perbukitan Giri. Sesampainya di hadapan Kanjeng Sunan Giri, Hadi menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya. Diterimalah Hadi sebagai salah satu santri Kanjeng Sunan Giri.

Hadi adalah santri yang cerdas. Tekadnya untuk belajar, membuat Hadi cepat menyerap dan menguasai ilmu Agama Islam dan ilmu-ilmu lainnya yang diajarkan Sunan Giri, termasuk ilmu pemerintahan. Karena itulah Hadi menjadi santri kesayangan dan kepercayaan Sunan Giri.

Berdasarkan catatan sejarah, wilayah kekuasaan Sunan Giri pada masa Kerajaan Demak mencakup wilayah Keranggaan (Kranggan) Lamongan. Ketika Demak dilanda perang saudara, Ario Penangsang terbunuh oleh Hadi Wijaya alias Mas Karebet atau Joko Tingkir. Mas Karebet adalah putra dari Ki Ageng Pengging, murid Syekh Siti Jenar yang dihukum mati oleh Raden Patah karena dituduh memberontak.

Hadiwijaya kemudian memimpin pemerintahan dengan gelar Sultan Hadiwijya dan memindahkan pusat pemerintahan ke Pajang. Semenjak saat itu, Sultan Hadiwijaya dikenal sebagai Sultan Pajang. Pemindahan pusat pemerintahan dari Demak ke Pajang ternyata dikemudian hari memberikan efek negative. Wilayah-wilayah yang dulu di bawah naungan Demak yang kini dikuasai Sultan Hadiwijaya sebagai Sultan Pajang menjadi tidak aman dari invasi bangsa-bangsa asing. Spanyol dan Portugis sangat perkasa di lautan sedangkan Pajang tidak berdaya. Ini sebuah ancaman bagi pesisir utara Jawa Timur, Sunan Prapen tidak ingin pelabuhan Mapel dikuasai penjajah.

Melihat kondisi tersebut, Sunan Prapen khawatir dengan tidak adanya pemerintahan yang kuat akan mengganggu aktivitasnya dalam menyebarkan dakwah Islam. Untuk memperkuat wilayah Kasunanan Giri di sebelah barat, Sunan Prapen mengutus Hadi untuk menjalankan tugas di wilayah yang dimaksud. Sunan Prapen memberikan gelar Rangga kepada Hadi sehingga dikenal sebagai Rangga Hadi.

Hadi pun berangkat meninggalkan Kasunanan Giri menyusuri sebuah sungai dan mendarat di Pamotan. Kemudian Hadi melanjutkan perjalanan darat sampai di Gondang dan berakhir di Kenduruan. Dari tempat ini, Rangga Hadi menjalankan tugasnya. Dalam menjalankan tugasnya sekaligus menyebarkan dakwah Islam, Rangga Hadi sangat dekat dengan rakyat. Rakyat beranggapan bahwa Rangga Hadi sangat pandai ngemong rakyat sehingga rakyat memberikan sebutan kepadanya Kyai Lamong atau Mbah Lamong. Sungai yang menjadi saksi perjalanannya pun dinamai Kali Lamong.

Di sisi lain, Kasultanan Pajang semakin lama semakin melemah. Kasultanan Pajang tak mampu membendung invasi asing yang telah menguasai perairan Laut Jawa. Melihat kondisi yang cukup mengkhawatirkan itu, Kasunan Giri meningkatkan status Kranggan Lamongan menjadi kadipaten. Harapannya Lamongan dapat membela diri jika sewaktu-waktu diserang penjajah asing.

Tumenggung Surajaya wafat pada tahun 1607 Masehi. Beliau dimakamkan di wilayah kekuasaannya sebagai Tumenggung, sehingga daerah itu disebut dengan nama Tumenggungan yang sekarang menjadi nama kelurahan. Dan nama Surajaya digunakan sebagai nama stadion markas club sepak bola PERSELA yang berjuluk Laskar Joko Tingkir.

Seputar Tokoh:
Sunan Prapen sendiri merupakan moyang dari cendekiawan muslim Nusantara, K.H. Ahmad Dahlan dari jalur ibu. Gerakan pembaharuan pendidikan sebagai langkah awal dalam menyebarkan cahaya Muhammadiyah dengan tafsir Al-Ma’unnya. Bukan tanpa tantangan, K. H. Ahmad Dahlan berdakwah dengan biola, pakaian dan fasilitas pendidikan ala penjajah dicerca oleh masyarakat muslim sekitar karena dianggap menyerupai orang kafir. Musholla tempatnya mengajar dan keahliannya dalam ilmu falak mendapatkan respon keras oleh para ulama’, terutama dalam hal arah kiblat. Mungkin karena K. H. Ahmad Dahlan waktu itu masih tergolong muda. Undhur maa qaala wa laa tandhur man qaala.

Kini Muhammadiyah tidak hanya cemerlang di bidang pengelolaan pendidikan, tetapi juga dalam bidang kesehatan. Ini tak lepas dari peran K. H. Ahmad Dahlan yang pernah bergabung dengan Budi Utomo, gerakan yang berusaha mengorganisir cendekiawan di Nusantara dan focus di bidang kesehatan. Budi Utomo diinisiasi oleh dr. Wahidin Sudirohusodo dan digerakkan oleh mahasiswa STOVIA (Sekolah Kesehatan Penjajah), diantaranya Sutomo, Tjipto Mangunkusomo dan Gunawan Mangunkusomo.

Selain itu, Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara juga pernah menjadi mahasiswa STOVIA, namun karena tidak bisa menyeimbangkan antara kuliah dan berorganisasi di Budi Utomo, Suwardi sakit-sakitan dan nilai kuliahnya menurun. Akhirnya, beasiswanya dicabut dan tidak lulus dari STOVIA. Selama masa sakitnya, Suwardi diurus oleh kakak pertamanya. Jarak dan keterbatasan ayahnya dalam penglihatan membuat kakak pertama Suwardi Suryaningrat menjadi ayah kedua baginya. Sosok yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan.

Sedangkan Joko Tingkir menurunkan K. H. Hasim Asy’ari dari jalur ibu, seorang yang ahli hadis bergelar Hadratussyaikh. Cinta tanah air sebagian dari iman adalah ijtihad beliau, untuk membentengi masyarakat Nusantara dari gempuran pengaruh asing. Saripati cinta tanah air tersebut berwujud revolusi jihad yang diperingati sebagai Hari Santri 22 Oktober. Revolusi Jihad merupakan jawaban dari K. H. Hasyim Asy’ari atas permintaan Presiden Sukarno, menjawab ultimatum sekutu di Surabaya dalam pertempuran 10 November. Kini dikenang sebagai Hari Pahlawan, memperingati gerakan santri Laskar Hizbullah dalam melawan sekutu. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup terjajah. Lebih baik terus belajar dalam memperbaiki ketaksempurnaan diri, daripada hidup meniru orang lain secara sempurna.

Lamongan sebagai kota wali mempunyai beraneka ragam budaya daerah. Sunan Drajad sebagai putera kandung Sunan Ampel dan adik dari Sunan Bonang, berdakwah menggunakan kesenian, menggubah sejumlah tembang tengahan macapat pangkur, memainkan wayang dan meninggalkan seperangkat gamelan yang disebut Singo Mengkok. Serta tujuh falsafah sebagai pepali yang dijadikan pijakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karakter pengembara dalam ngelmu yang dilakukan Ranggahadi atau Mbah Lamong pada masa mudanya menginspirasi dan menjadi ciri khas karakter orang Lamongan. Gajah Mada dengan puasanya yang dikenal sebagai Sumpah Pallapa juga terlahir di Lamongan, walaupun jauh sebelum wilayah ini disebut Lamongan. Terlepas dari baik-buruk seorang tokoh, orang-orang berikut ini juga terlahir di Lamongan dan telah meninggalkan desanya sejak remaja: Amrozi, Ali Ghufron, Ali Imron (Bomber Bali I), Arif Petak (Bomber Poso), Siswanto (bergabung dengan ISIS), Hafidz Abdurrahman (Deklarator HTI).

SUBSCRIBE & FOLLOW