Merdeka atau Terpenjara?


Hal yang paling membahagiakan dalam hidup ini ialah ketika orang lain mampu menemukan jati diri sehingga mampu berprestasi dan menghasilkan sebuah karya. Sahabat yang memberikan saran dalam membuat keputusan itu tentu orang yang paling bahagia ketika mendengar, melihat dan menyaksikan teman sharing-nya mampu melakukan banyak hal. Terlepas apa peran kita dalam hal itu. Kita tentu lebih baik untuk tidak mengaku dan menjauhkan pengakuan itu dalam diri sejauh-jauhnya. Meletakkan hal itu dalam keranjang sampah.

Dalam perjalanan mengukir sejarah, tentu setiap orang menginginkan hal terbaik untuk dirinya. Tetapi dalam mengusahakan dalam proses ukiran tersebut, banyak orang yang menafikan bagaimana kondisi lingkungan yang sedang atau akan terjadi. Seperti halnya ketika di tanah suci, mencium hajar aswad adalah kesunnahan dan keinginan setiap jamaah, tetapi ketika dalam proses mencapai keinginan tersebut tidak melakukan hal terbaik untuk sekelilingnya, maka hal itu tidak bisa dibenarkan. Sama halnya dalam proses untuk menggapai cita-cita, tidak dibenarkan jika tanpa melakukan hal terbaik terhadap orang-orang disekitarnya. Bisakah kita maju tanpa menyingkirkan orang lain?  Mampukah kita naik tanpa menjatuhkan orang lain? Dan bukankah lebih baik berbahagia tanpa menyakiti orang lain?

Tentu hal dasar yang harus dilakukan sebelum melakukan banyak hal ialah melakukan koreksi terhadap diri sendiri. Orang yang mampu memberikan banyak hal adalah mereka yang telah menuntaskan dirinya sendiri. Kita harus benar-benar menjadi orang merdeka sebelum memerdekakan banyak orang. Merdeka secara jasmani dan rohani. Memastikan tidak ada penindasan dalam diri. Penindasan dasar yang harus diwaspadai adalah penindasan waktu dan pikiran. Waktu dengan komandan kemalasan dan pikiran dengan komandan “cinta”.

Maju tanpa menyingkirkan orang lain akan terwujud apabila orientasi kita adalah waktu, bukan popularitas, jabatan atau kekayaan. Kunci kesuksesan – nonmaterial – adalah bagaimana seseorang memanfaatkan waktu semaksimal mungkin. Tidak ada waktu sedetik pun untuk melakukan hal-hal syubhat, apalagi sampai ke yang haram Na’udzubillah. Sementara itu kemerdekaan pikiran juga harus kita perjuangkan. Menjadi manusia bebas dengan batasan tidak mengganggu kebebasan orang lain. Melakukan berbagai hal tanpa pengaruh dari orang lain, tentu sesuai dengan norma.

Dalam bingkai pemuda, banyak orang yang terperangkap dan terpenjara pikirannya dalam pemaknaan cinta. Memang cinta adalah salah satu pilar atau dasar kebenaran, tetapi pemaknaan cinta kontemporer jauh seperti yang diharapkan. Alih-alih menjadi pilar kebenaran, cinta dalam konteks kekinian adalah sumber dari keharaman. Bukan berarti cinta itu hal yang harus diingkari, tetapi bagaimana mengembalikan pemaknaan cinta menjadi pilar kebenaran. Sebagai dasar prinsip orang merdeka. Tanpa cinta hidup bagaikan berjalan di kebun yang tak berbunga, gersang dan tanpa keindahan. Maka seorang yang cerdas ketika membangun istana cinta akan bersumpah kepada dirinya sendiri. Tidak akan menyentuh secara sengaja sesuatu yang dicintainya itu, sebelum ada ikatan suci yang menjadikannya satu. Jika sumpah itu dilanggar, itulah tanda perpisahan di antara mereka, kecuali jika Tuhan mempersatukannya kembali dalam cinta yang sesungguhnya.

Dalam memperjuangkan semua itu, hal yang harus dihindari adalah purbasangka. Keragu-raguan harus tetap ada untuk memperoleh esensi, apa yang sebenarnya. Cara yang terbaik adalah komunikasi. Semuanya akan tergambar dalam proses komunikasi. Maka budaya ngopi selayaknya dibudidayakan, sebagai perilaku sila keempat Pancasila. Membentuk generi muda yang siap berjuang dan berkarya untuk Negeri.






Surabaya, 14 April 2015

No comments:

Post a Comment