Ksatria Imitasi dan Pecundang Sejati


Seorang ksatria yang menampakkan keahliannya ketika tidak dalam keadaan terdesak atau dibutuhkan adalah seorang pecundang. Dia akan terombang-ambing dengan pengakuan orang lain, karena tidak melakukan suatu hal berdasarkan keinginannya. Orang seperti akan terseok-seok dan bahkan terhempas dari kontestasi umat manusia. Salah satu cirinya dia selalu yang pertama memberikan janji dan senjatanya ada pada sekutunya, karena dia sendiri tidak mempunyai kemampuan.

Ini anugerah atau bencana. Hampir setengah tahun menahan rasa rindu, mungkin kali ini sudah sampai pada waktunya. Bukan karena apa atau siapa, tetapi kebiasaanlah yang membuat hati terperanjat. Banyak bertebaran bunga dengan keelokannya masing-masing, tetapi tak membuat saya ingin memetiknya. Hanya sebagai ungkapan kekaguman kepada sang Illahi Tetapi tepat pada bunga yang satu ini, saya tak mau hanya menyaksikannya namun juga tak ingin memetiknya. Saya hanya ingin membelinya dan merawatnya di surga. Sebagai stimulus dalam menjajaki tangga-tangga kema’rifatan.

Sementara itu, dari berbagai petualangan yang telah kuarungi selama ini, saya dapatkan sebuah kesimpulan yang menarik. Seseorang hanya akan mencintai satu hal dan akan menekuninya sebagai yang satu. Satu, sebagai syarat keberhasilan apapun. Dan kemunafikan adalah penghancur dari segala jenis hubungan. Oleh karena itu, betapa jelas rasa sebuah karya yang murni untuk kebaikan umat dan karya yang ditujukan untuk hal-hal yang materialistic.





Surabaya, 8 April 2015

No comments:

Post a Comment