P U N C A K K E J A Y A A N



Semua rumah memancarkan sinar warnanya gilang-cemerlang. Menandingi bulan dan matahari, indah tanpa umpama. Negara-negara di Nusantara dengan Daha bagai pemuka. Tunduk menengadah, berlindung di bawah kuasa wilwatikta. (Negarakertagama Pupuh XII)

Begitulah makna ayat ke 6 pupuh XII Kakawin Negarakertagama. Karya tulis karangan Empu Prapanca. Sapa Empu Prapanca kuwi? Seorang pujangga masyhur era kerajaan Majapahit. Tapi ada yang bilang Empu Prapanca itu nama pena Raja Hayam Wuruk. Apaaaaaaa? Seorang raja juga seorang pujangga?!?!?!?! Yayaya..... itulah raja yang cerdas, tidak hanya mampu sebagai pemimpin politik tetapi juga mampu berkarya.

Memangnya ada raja yang nggak cerdas? Tentu ada. Ciri-cirinya, pemimpin politik yang tidak menghargai karya, anti-kritik, menangkap siapa saja yang mengritik dirinya dan memusnahkan karyanya. Karya ya dihantam dengan karya, kok dimusnahkan dengan kekuasaan. Kafir loe...! Loe yang kapir...! Yang bener tuh pakek “v”, bukan “p”. Cover... Coveeer... Undercover...! Paham gak loe...!

Gitu  aja kok repot...!
Sudah...sudaaaaaah..! Sabdo Paloooooon...! Budak Angooooon....! Jangan berdebat masalah bahasa, mau nasib kalian seperti saya? Gegara Manunggaling Kawula Gusthi, saya harus merelakan jasad saya dimusnahkan. Sumber masalah itu ada pada bahasa dan salah penempatan. Solusinya, kalian harus memahami apakah suatu hal itu menjadi wasilah (sarana) atau ghoyah (tujuan).

Ingat mbah Dahlan?! Bagaimana beliau mengajarkan surat Al-Ma’un secara berulang-ulang hingga santrinya protes? Bagaimana beliau dikafirkan hanya karena menggunakan meja dan kursi untuk pendidikan yang pada waktu itu meniru Walondho? Empati terhadap fakir miskin menjadi motivasi untuk membangun pusat kesehatan dan pendidikan patut diteladani. Sebuah cahaya yang sangat terang benderang di bumi Nusantara.

Mereka yang membenci hanya melihat wasilah, tertipu dengan bahasa, kulit, tidak memahami maksud dan tujuan. Makanya, Al-Qur’an  jangan hanya dihafal, tetapi juga dipahami. Jangan hanya dilafalkan, tetapi juga diamalkan. Pahamilah! Hafalan itu tingkatan paling dasar dalam proses pembelajaran, ada tingkatan-tingkatan yang harus dilalui selanjutnya. Apalagi hafalan supaya dihormati dan bisa nulis gelar el-hafid di pesbuk. Hmmmmmm, trus merasa apa yang telah dikatakannya selalu benar dan mereka yang nggak hafal selalu salah gitu? Duh...duh...duuuuuuh... bahaya ini...

Kalau sudah begitu, teriak-teriak dengan lantang, kembali pada Qur’an Hadis. Memangnya, siapa yang mau meninggalkan Al-Qur’an dan Hadis, ­heh?   Orang-orang seperti ini ingin menjauhkan kita dari para guru yang telah bertahun-tahun di pesantren, mempelajari ilmu Al-Qur’an dan tentu paham ilmu Bahasa Arab. Bukan seperti mereka yang lulusan pesantren kilat dan pedomannya hanya terjemahan. Paling pool ya mbah google.

Tujuan para makhluk adalah Sang Khaliq. Karena makhluq sifatnya terbatas, maka sarana untuk mencapai Sang Khaliq diekspresikan dengan berbagai hal. Perbedaan ekspresi itu tidak sepatutnya diperdebatkan, apalagi sebagai sumber kebencian. Jangan yaaa.....Tahlilan, istighotsah, slametan, tingkepan, nyadran, talqin, wiridan dikeraskan, biji tasbih, tongkat khutbah, ziarah, peringatan maulid nabi, haul, itu semua juga wasilah.

Tahlilan, slametan, tingkepan, nyadran, itu adalah model pendidikan agar senantiasa bersedekah, melawan sistem dajjal: kapitalisme. Sistem dilawan dengan sistem. Sedekah sembunyi-sembunyi kan lebih utama? Sembunyi berarti sendirian, koen bisa lari cepat tapi tak bisa bertahan lama. Tapi ingat! Tidak dibenarkan jika sedekah menjadi gaya hidup foya-foya mencari popularitas, pamer pada tetangga dan ingin dianggap kaya.

Tahlilan. Tahlil kan bacaan Laa ilaha illallah, kenapa kok pakek bacaan-bacaan lain? Ben tahan lama dan besar. Husssss. Berkatnya yang besar. Kecenderungan manusia itu cepat bosan, makanya tahlilan itu metode sedekah yang sangat ampuh biar bertahan lama. Perkara doa itu sampai atau tidak, diterima atau tidak, itu urusan Tuhan. Hancurlah perekonomian dunia jika tidak ada tahlilan, berbagi kepada sesama secara berjamaah. Sama seperti azan, kiamatlah dunia ini jika tidak ada seorang pun yang mengumandangkan azan.

Begitulah dua matahari kembar berdakwah. Mbah Hasyim menggunakan metode kualitatif, dari budaya ke tauhid. Sedangkan Mbah Dahlan menggunakan metode kuantitatif, dari Al-Ma’un ke realitas sosial. Apapun metodenya, baik kualitatif maupun kuantitatif, tujuannya ya sama: penelitian.

Oooooooo...Ngoten toh..!!!
Talqin, istighotsah dan wirid yang dikeraskan itu juga metode pendidikan sebagai pembelajaran bagi yang masih hidup dan belum mengetahui serta malu bertanya, agar senantiasa ingat pada Allah SWT. Sedangkan ziarah kubur, peringatan maulid nabi, haul, biji tasbih dan tongkat khutbah, sebagai metode pendidikan sejarah. Pembelajaran bagi yang hidup. Tanpa sejarah, kebanggaan atas kejayaan masa lalu akan musnah. Akibatnya, tidak ada kerja keras untuk mengembalikan kejayaan itu. Kelompok separatis akan bertebaran di mana-mana dan orang tua hanya menjadi mitos masa lalu. Para pendahulu yang seharusnya diingat sepanjang massa, hanya menjadi cerita fiktif belaka.Tidak adanya rasa kepemilikan antarsesama, itulah sumber pertikaian, awal kehancuran suatu negeri dan akan muncul peradaban yang benar-benar baru. Entah lebih beradab atau bahkan tak punya adab. Hooo...ho...ho...

Cukup-cukup Syekh...! Pelajaran hari ini sudah cukup. Jangan banyak-banyak, biar nggak salah paham. Harga cabe tambah mahal. Kawula badhe kerja riyen. Urang juga Syekh! Urang badhe kerja heula. Pajak dokar dinaikkan, harga rumput ya makin mahal. Ini namanya merakyat? Blusukan membusuk, dari otoriter menuju sosialis-komunis.

***

Karena ditinggal Sabdo Palon dan Budak Angon, Syekh Siti Jenar kembali bersemedi. Manunggaling Kawula Bal-balan. Dalam pertapaannya, Syekh Siti Jenar menyaksikan Culo dan Baya lagi seneng bisa bermain bal-balan. Ayo bal-balaaan...! Horeee bal-balaaan...!

Hmmmmmmm....Khan...Khan...Khan....
Banyak pesepak bola pindah ke negeri Khubilai Khan. Pancet ae. Sejak zaman Singashari nggak pernah berubah, padahal dulu sudah dipermalukan. Raja kok dipermalukan? Jangan-jangan ini berita hoax? Ah...kau ini bercanda, berita hoax kan sudah di amankan di rezim sarungan ini. Bahkan yang bukan hoax tapi berasa pedas sepedas harga cabe, pasti dimusnahkan juga.

Kembali ke laptop..!
Dulu Kubilai Khan ini dipermalukan Kertanegara, Raja Singashari. Utusannya datang ke Pulau Jawa niatnya menuntut upeti, tetapi pulang-pulang malah  wajahnya rusak dan telinganya hilang. Duh...duh...duuuh...

Akibatnya, ekspedisi besar-besaran mengarah ke tanah Jawa. Ketika itu Adipati Kediri, Jayakatwang, telah membunuh Kertanegara. Jayakatwang memberikan ampunan kepada Raden Wijaya, menantu Kertanegara, karena menyerahkan diri dan mau mengabdi kepada Jayakatwang. Raden Wijaya pun diberi hutan Tarik dan membangun desa bernama Majapahit. Ketika ekspedisi besar-besaran itu sampai di tanah Jawa, Raden Wijaya bersekutu untuk menghancurkan Jayakatwang. Setelah Jayakatwang ditumpas, Raden Wijaya berbalik menyerang sekutunya dan mengusirnya dari tanah Jawa.

Kaya dalam kemiskinan. Terang dalam kegelapan. Yang dinanti muncul dari timur. Mahapatih Gajah Mada. Jawa memang ditakdirkan untuk menguasai dunia, tapi tidak untuk menjajah. Ngemong. Menguasai dengan prinsip Mamayu Hayuning Bawono. Tanpa siapa pun, Gajah Mada dan keturunannya, Jawa, akan tetap hidup. Mangan gak mangan sing penting kumpul. Tanah ajaib dengan kereligiusannya cukup menghidupi manusia, bahkan memanusiakan manusia.

Untuk menjadi pengemong atau pengasuh yang baik, harus pinter njawani. Ngluru ilmu kanthi lelaku. Mereka yang belajar di luar negeri atau sedang/akan ke luar negeri adalah dalam rangka belajar njawani, menjadi pengasuh yang baik. Mereka tidak akan lupa dengan tanah bersejarah dan bahasa Jawa. Menggunakan bahasa Jawa ketika bertemu dengan saudaranya di mana pun berada. Tanah Jawa satu-satunya tempat kembali. Sumpah Palapa harus diwujudkan, tanggung jawab seluruh keturunannya. Masa depan kita adalah doa, harapan, impian dan cita-cita para pendahulu kita yang belum tertunaikan.

Penghinaan yang butuh pembuktian. Air mata yang harus dihapuskan. Pembunuh yang harus dimusnahkan. Dan hutang yang harus dibayar. Alwa’du dainun.

Lho...lho...lho...Bahasa apa itu tadi Syekh?” Sabdo Palon membangunkan Syekh Siti Jenar dalam semedinya.

“Bahasa Sang Pengemong Sejati. Pembawa cahaya dari tanah Arab. Dialah pembawa resep ilmiah. Tidaklah dia diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak. Yang Terpuji. Njawani. Ilmu Ngemong.”

“Tapi Syekh, dia bukan dari kaumku, Jawa.”
“Itulah kenapa kita membutuhkannya. Tanah Jawa telah selamat walau tanpa resep itu, tapi kita tidak akan sampai dalam kemanunggalan.”
“Kemanunggalan itu bagaimana Syekh?”

Sabdo Palon terbangun, mimpinya seperti kenyataan. Sedikit banyak mengganggu pikirannya, bertemu dengan tokoh yang tidak pernah ditemui sebelumnya. Perjanjian pun dibuat dengan penyebar agama Islam.

“Orang-orang putih boleh leluasa beroperasi di tanah Jawa, setidaknya hingga 500 tahun ke depan.”

Setelah kesepakatan diteken, Syekh Subakir alias Ajisaka mengibaskan tangannya. Dalam sekejap, Kutaraja, ibukota Majapahit hilang dari pandangan. Dan sekarang, 500 tahun itu telah berlalu, Majapahit akan kembali bangkit, entah dalam bentuk fisik ataupun spirit.

Islam Nusantara bukan hal baru. Itulah tradisi ngemong, ilmu njawani yang telah disempurnakan, diilmiahkan dan tersebar secara terpuji. Benteng perdamaian. Kebudayaan Nusantara, ajaran keselamatan, budaya yang menyejukkan. Jawa, sebagai pewaris, representasi Indonesia, akan menjadi suatu kekuatan dan pusat dunia. Mempersatukan seluruh dunia dalam kedamaian, di bawah payung Neo-Majapahit: Indonesia.

No comments:

Post a Comment